16 April 2010

namamu zia

ZIA AHMAD SYIFA..
RS PELNI Petamburan, 13 April 2010 pukul 02.05, kau terlahir ke dunia

02 Februari 2009

Ambonku Pergi untuk Selama-lamanya.. (2)

Kejamnya Lalat-Lalat Rumah Sakit...!

Dua minggu sudah istriku tercinta Shelvia Jaflaun terbujur kaku di TPU Cikoko, Pancoran, Jakarta Selatan. Senin, 19 Januari 2009 pukul 05.30, menjadi hari terakhirmu menatap dunia dengan segala warna kelabunya. Sesal itu seperti tak pernah lekang oleh waktu. Mungkin orang2 melihat aq sudah bisa tertawa, bercanda, tapi tidak di hatiku. Aq masih saja menangis jika mengingat kepergianmu yang tak pernah disangka. Aq tak ingin menggugat takdir Yang Kuasa. Yang aq sesalkan, ternyata ribuan fakta yang pernah aq tulis tentang buruknya pelayanan rumah sakit di Jakarta, bukan isapan jempol belaka.

DISKRIMINATIF! kata2 itu yang selalu saja muncul ketika aq menulis perlakuan yang diberikan kepada kaum papa. Itu pula yang akhirnya menimpaku saat mencoba mencari asa agar kau tetap bisa hidup mendampingiku. Mungkin tampangku memang miskin hingga diperlakukan seperti kaum papa. Yah, aq memang menyadari aq memang bukan kelompok kaum berduit. Selain diriku, mungkin ada juga ribuan warga DKI yang lain yang merasakan kejamnya sifat kebinatangan pekerja rumah sakit itu. Hati kapitalis, otak borjuis. Ini rumah sakit pemerintah bung!.. kalian dibayar dengan uang rakyat. Rumah sakit yang kalian jadikan tumpuan hidup disubsidi Rp 350 miliar dari dana APBD yang diambil dari peluh keringat masyarakat. Apa kalian ga tahu? atau pura2 ga tahu? atau memang kalian sudah terkontaminasi dengan nafsu untuk bisa mengeruk keuntungan terhadap setiap pasien yang dicekam kepanikan!..

Hingga saat ini pun masih kurasakan sesak di dada saat mengingat hari2 yang melelahkan menghadapi orang2 brengsek di rumah sakit. Pelayanan buruk, diskriminatif, perawat dan suster yang judes tak berperasaan ditambah harga resep selangit yang harus ditebus setiap saat pasien akan ditangani. Tanpa menggugat takdir, secara teknis aq ingin menyatakan, istriku korban dari kebobrokan manusia rumah sakit Jakarta. Ya Allah, jika aq boleh meminta, sadarkanlah mereka dengan petunjuk-Mu agar para dokter, perawat, suster dan petinggi2 rumah sakit ada sedikit hati dan punya perasaan untuk bisa merawat mahkluk2mu yang tengah terbaring mencari asa kehidupan. Atau boleh juga Kau beri pelajaran melalui pengalaman yang menyakitkan. Bahwa menjadi korban diskriminasi itu rasanya menyesakkan dada. Apa para dokter, perawat, suster tak pernah merasakan itu semua hingga sampai tak punya hati! aq sebenarnya ingin mengumpat satu per satu kepada mereka... astagfirulah hal adhim.

Ya Allah! maafkan hamba-Mu ini
Hanya Engkau Yang bisa memberiku petunjuk
Hanya kepada Engkau aq berharap
Hanya kepada Engkau aq bersimpuh
Hanya kepada Engkau kupasrahkan semua yang kumiliki

Saat kutermenung sendiri mengenangmu

25 Januari 2009

Ambonku Tlah Pergi untuk Selama-lamanya... (1)

Akhir penyesalan..


Sampai detik ini aq masih tak percaya Ambonku tlah pergi untuk selama-lamanya. Senin, 19 Januari 2009 pukul 05.30, di ruang ICU RSUD Koja tiba2 jantungmu berhenti berdetak. Aq masih tak percaya kau tlah tiada. Kenapa kau meninggalkanku Ambonku. Kenapa kau tinggalkan Najwa malaikat kecilmu. Kenapa..! kenapa..kenapa..! Shelvia Jaflaun namamu. Perempuan keturunan Ambon campuran darah Belanda. Setelah menikah 2006 lalu, aq selipkan nama Zahra di tengah namamu agar kau menjadi harum seperti bunga. Shelvia Zahra Jaflaun.

Aq tak pernah menyangka smua berjalan begitu cepat. Aq masih merasa baru kemarin aq mencintaimu. Baru kemarin qta menikah. Baru kemarin qta menghabiskan bulan madu. Lalu malaikat kecil yang kau harapkan sejak lama hadir ke dunia. Najwa Syifa kuberi nama si mungil itu. Dengan bibir kering dan gemetar, kau masih sempat menerangkan arti Najwa Syifa kepada orang-orang yang menjengukmu di lantai 8 kamar 508 RSUD Koja, Jakarta Utara. Kau sebut Najwa Syifa sebagai rahasia Tuhan yang diturunkan untuk menjadi obat. Obat bagi keluarga. Obat bagi kita berdua. Tapi kenapa kau pergi..

Sampai saat inipun aq masih tak percaya kau telah tiada. Setiap saat aq mengingatmu, aq selalu bertanya, kenapa semua itu berjalan terlalu cepat. Kenapa kau pergi. Kenapa kau tak bernafas lagi. Kenapa smua serba terlambat. Baru dua tahun kau mendampingiku. Yah, cuma dua tahun. Tak lebih. Kau hanya menikahiku untuk melihatmu terbujur kaku lalu ditimbun tanah merah di TPU Cikoko. Sudah puluhan tahun aq tak pernah menangis istriku. Sehebat apapun cobaan itu, aq coba untuk tegar. Tapi kenapa saat kau tiada, aq begitu terpukul. Kesedihan yang tak terkira. Aq merasa kembali menjadi sebatang kara. Tangisku akan kembali meledak ketika kuingat Najwa masih terlalu dini untuk kau tinggalkan. Siapa yang kan mendekapnya selepas kau pergi istriku. Siapa yang kan memberi kasih sayang seperti yang kau berikan.
Jika di alam sana ada internet dan kau bisa buka blog ini, bacalah secara berulang kali agar kau tahu betapa aq tak mau kau tinggalkan. Aq memang ikhlas melepasmu karena itu sudah menjadi kehendak-Nya. Tapi yang aq sesalkan kenapa harus sekarang. Saat Najwa baru saja terlahir ke dunia. Saat malaikat kecil yang kau damba-dambakan telah hadir ke dunia. Kenapa tidak nanti saja kau pergi saat Najwa sudah dewasa. Saat malaikat kecil kita sudah sukses. Sekolah setinggi-tingginya, menjadi dokter gigi lalu menikah. Bukankah kau menginginkan punya anak tiga istriku...ambonku.. cintaku... baru kuberikan satu, kenapa kau buru-buru pergi.

Sebenarnya, di ruang ICU ketika dokter menyatakan kecil kemungkinan kau bisa bertahan, aq masih bisa berfikir rasional. Aq masih cukup tegar. Tapi setelah menyadari bahwa ketika saat-saat terakhirmu tak ada satupun keluarga yang menungguimu, memberi semangat untuk tetap bertahan dan mendoakanmu, aq merasa diiris-iris sembilu. Perih, pilu, tragis dan sangat ngenes. Itu pula yang membuatku sangat terpukul. Aq menangis sejadi2nya. Meskipun tanpa suara dan hanya air mata yang terus menetes tak henti2nya.
Menjelang malaikat mencabut nyawamu di ruang ICU lantai 3, hanya aq, sam sama mbak arie yang sudah empat hari empat malam menungguimu sepanjang waktu tanpa lelah. Aq menangis sesenggukan. Dalam dada terasa sesak ada yang menyumbat. Pilu. Pilu sekali.. sambil menangis setengah marah, kakmino, opi, ina, tante lena, tante fora, kaktutik aq telponin satu per satu. Kenapa saat terakhirmu saja keluarga masih sibuk dengan urusannya masing2. Ini Jakarta bung. Yah, ini memang Jakarta. Tapi apakah rasa kemanusiaan itu harus terkalahkan dengan egoisme pribadi. Apalagi, yang tengah meregang nyawa itu adalah saudaranya sendiri, keluarganya sendiri...
Kerja? smua orang juga kerja. Aq juga kerja.. cari duit buat bayar rumah sakit.. nungguin sepanjang malam di rumah sakit.. kawan Sam yang jelas2 ga ada hubungan darah juga nungguin sepanjang malam juga kerja. Tapi rela meninggalkan kerja karena rasa kemanusiaan itu masih ada. Bahkan, bukan hanya tenaga yang sudah banyak dia curahkan. Tapi juga biaya. Uang jutaan yang tak terhitung jumlahnya.

Di depan ruang ICU aq terus menangis sambil telpon semua yang bisa dihubungi. Kesedihan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Sedih karena melihat nyawa istriku melayang tanpa ada satupun kluarga yang sigap. Bukankah Minggu siang dokter dah bilang nyawa istriku pernah hilang lalu muncul lagi. Jika nafas pernah hilang, artinya ada kemungkinan bakal hilang lagi. Kenapa kluarga hanya datang sebentar lalu pergi lagi. Nungguin kek. doain kek. toh cuman sekali seumur hidup. Bukankah saat dirawat di RS Budi Kasih Ambarawa keluarga Jakarta memaksa agar kau bisa dirawat di sini. Tapi setelah permintaan itu aq penuhi, tak ada satupun yang benar2 konsisten memberimu perhatian penuh. Apa harus terus ngandalin kaktutik? bukankan dia dan keluarganya tlah cukup membantu biaya rumah sakit dan beli obat yang harganya melangit? wajar jika aq tak terlalu berharap. Bantuan itu sudah cukup berarti. Tanpa harus ikut nungguin di rumah sakit, bagiku tak masalah. Tapi bagaimana dengan keluarga jaflaun yang lain? atau trah ngelyaratan yang lain? atau keluarga2 ambon-jakarta yang lain?
Minggu malam memang keluarga sudah datang semua ketika dokter menyatakan kondisi istriku tambah kritis. Tapi begitu malam mulai merayap, satu per satu keluarga pergi semua. Yang tersisa tinggal kami bertiga. Aq, sam sama mbak arie. Air mataku terus mengalir tak bisa kutahan. Aq duduk lemas tak tahu harus berbuat apa. "Pak dipanggil dokter ke ruang ICU," terdengar suara membuyarkan lamunan dan kesedihanku.
Di dalam ruangan, istriku masih terbujur kaku di atas ranjang. Bedanya selang2 infus sudah tak membelit lagi. Sekujur tubuh ditutup dengan kain. "Tolong diisi lengkap data istrinya pak untuk surat kematian," kata perempuan yang duduk di depanku. Setelah mengisi data lengkap, perempuan itu kembali menyodorkan satu kertas yang berisi daftar tagihan biaya perawatan selama di ICU dan obat2an tambahan yang harus segera dibayar sebelum jenazah bisa dibawa pulang. "Bapak selesaiin dulu di bagian administrasi lalu kembali lagi ke sini," katanya singkat. Sambil menengok jasad kaku istriku, aq melangkah keluar ruangan.

Di lantai bawah, tagihan itu tidak aq langsung bayar. Aq masih belum bisa menahan kesedihanku. Karena sejak meninggal pukul 05.30, sampai pukul 08.00 belum ada satupun keluarga istriku yang nongol. Sementara ibu dan maskin yang baru datang dari kampung masih terjebak kemacetan lantaran Kelapa Gading pagi itu banjir. Semua kendaraan harus lewat tol. Tiap detik aq lihat arloji yang berjalan sangat lambat. Aq semakin pilu. Dengan apa aq harus membayar tagihan. Duit bantuan yang dikasih Pak Prijanto Wagub DKI Sabtu (17/1) siang Rp 2 juta sudah terpotong Rp 1,5 juta untuk nebus obat. Tinggal tersisa Rp 500 ribu. Kenapa keluarga tak kunjung datang. Aq cari tempat yang tidak ramai lalu lalang orang. Setelah itu aq telpon Pak Sekda Muhayat. Aq bilang Epi dah ga ada. Aq bilang ga ada orang di rumah sakit. Aq hanya sendirian menanggung kepiluan. Setelah bilang itu, lalu aq menangis sejadi2nya. "Sudah ga papa. Yang sabar, yang tabah Ak. Tuhan pasti memberi jalan yang terbaik," kata Pak Muhayat singkat.

Pukul 08.30, ibu dan maskin akhirnya sampai juga di rumah sakit. Ibu langsung menubrukku lantas menangis. Mungkin kasihan melihatku. Lalu aq antar ke ruang jenazah yang terletak di lantai 1 paling pojok. "Ini Epi bu. Epi dah ga ada," kataku membuka kain yang menutupi wajah istriku. Karena tak kuat, aq akhirnya kembali menangis. Ibu justru aq lihat lebih sedih. Sambil membisikkan lafal thoyyibah la ilaha illallah, ibu mengusap rambut di kening istriku. Tangisnya sesenggukan terasa sangat berat. Tidak beberapa lama, willy, istrinya dan dua anaknya Fadli dan Imar datang. Pukul 08.45, kakmino dan opi sampai rumah sakit. Aq langsung ajak Sam ke depan untuk nyelesain administrasi. Setelah dihitung ternyata cuma Rp 5 juta. Aq langsung ke ATM. Cek saldo ternyata ada Rp 1,5 juta dan aq ambil smua. Duit itu dikirim mas tir redaktur indopos jkt ry yang datang pagi2 sebelum ibu datang. Alhamdulilah. Setelah digabungin ama yang dari orang2 sampai juga Rp 5 juta. Aq langsung suruh sam untuk bayar. Sekaligus biaya ambulan Rp 150 ribu.

Ambulance meluncur menyisir kemacetan Ibukota menuju kontrakan mungilku di Cikoko, belakang Menara Saidah Cawang. Aq, sam naik sepeda motor di belakangnya. Maskin diboncengin fora suaminya opi. Sampai di rumah, sudah banyak petugas Satpol PP dan Dishub yang berkerumun di jalan depan kontrakan. Suara motor BM petugas meraung2 di sekitar kampung mencari alamatku. Kebetulan saat sms ke semua orang, termasuk Gubernur, Wagub, Sekda, Asisten, Kepala Dinas dan seluruh pejabat DKI, aq tulis alamat sesuai KTP yang kebetulan itu alamatnya kakmino. Berulang kali petugas memastikan alamatku yang banyak orang melayat adalah Shelvia Jaflaun istriku. Aq bilang ya ini kontrakanku. "Untuk memastikan saja pak. Soalnya pejabat DKI mau datang," kata petugas Dishub yang datang ke rumah.

Pukul 10.00, Pak Rinta orang humas tiba di kontrakan langsung tanya jenazah mo dikubur di mana. Aq bilang yang dekat rumah. Kalau bisa di TPU Cikoko saja. Lalu aq diajak ke makam sama Pak Rinta. Setelah aq cek, kata petugas makam ga ada yang kosong. "Gimana makam dah beres belum," kata Pak Muhayat dari telpon. "Sedang dipersiapkan pak," jawab Pak Rinta. Karena ga ada yang kosong, Kepala Dinas Pemakaman lalu ditelpon. "Masih ada yang kosong. Kepala TPU Cikoko Pak Abdurrohim nanti yang kesitu," kata suara dari telpon. Karena perintah dari atas harus beres, akhirnya plang papan TPU dibongkar dan digeser. Sebab, kalau tidak di situ, tak ada tempat lain yang kosong. "Ya udah, bongkar saja plangnya. Saya yang tanggungjawab," kata Pak RW 03 ngasih dukungan. Saat ribut cari tempat makam yang kosong, Hp bututku berbunyi. Katanya Pak Sekda Muhayat sudah nyampe rumah. Aq buru2 balik.
Entah mengapa, air mata yang tadi sudah mengering kembali jatuh ketika melihat Pak Muhayat. Aq langsung salamin dan memeluknya. Aq merasa Pak Muhayat telah menjadi teman sekaligus orangtua yang memberi dukungan bagi anaknya. "Yang sabar Ak. Kamu harus kuat. Tabah. Si kecil masih membutuhkanmu," katanya memberi semangat.
Dengan duduk di kursi depan rumah, aq lalu bercerita seputar sakitnya Epi dan perlakuan rumah sakit yang sangat diskriminatif. Yang selalu bilang ICU penuh, harus dirujuk ke RS Puri Indah yang DPnya Rp 20 juta atau RS Thamrin yang DPnya Rp 15 juta. Meskipun kenyataannya ICU RSUD Koja ada tiga yang kosong. "Ini ga bener. Terlepas meninggalnya Epi sudah menjadi kehendak-Nya, jika pelayanannya seperti itu jelas tidak bener. Ini harus dibenahi," katanya. Dalam kesempatan itu juga aq cerita kalau perawat, suster sangat judes dan tidak berperikemanusiaan. Karena ada kesibukan, Pak Muhayat akhirnya pamit dan tidak bisa ikut mengantar ke makam. "Terima kasih banyak Pak Muhayat, atas semua dukungan, bantuan dan doanya," kataku kemudian.

Awalnya, aq rencanakan jenazah istriku akan dikubur pukul 14.00. Namun, Pak Rinta bilang Pak Prijanto Wagub mo datang pukul 15.30. Akhirnya aq putuskan menunggu. Skalian nanti Pak Pri yang nglepas. Pukul 15.30, rombongan Wagub tiba di kontrakan. Masih menggunakan seragam PNS warna hijau, mantan Aster TNI AD itu langsung berdiri di depan pintu. Aq langsung menyalaminya sambil sesenggukan meneteskan air mata. Lalu aq memeluknya. Sementara jenazah Epi dah dibawa keluar untuk segera diberangkatkan. Kaktutik aq suruh menjadi MC pelepasan. Setelah sambutan perwakilan dari keluarga Jaflaun, Pak Wagub lalu memberikan sambutan skaligus melepas jenazah diberangkatkan ke makam. "Semua yang ada di dunia ini adalah milik-Nya. Tidak ada yang abadi. Karena milik-Nya, kapanpun bisa diambil-Nya. Bagi Aak, saya harap bisa sabar, tabah dan bisa mengasuh anaknya yang masih berumur 6 bulan. Semoga menjadi anak yang sholehah," kata Wagub lalu mengakhiri sambutan.
Setelah itu, rombongan menuju masjid pancasila yang terletak di sebelah rumah. Wagub dan pejabat teras lainnya ikut nyolati di masjid. Tidak beberapa lama, jenazah langsung dibawa pakai ambulan ke makam TPU Cikoko. Andi menantunya tante Lena bertugas azan di liang lahat. Petugas lalu menguruk galian. Air mataku tak henti2nya menetes.
Setelah liang lahat membentuk gundukan, pak ustad memulai memimpin zikir bersama. Sambil tertunduk, air mataku terus keluar tak mampu kutahan. Ada penyesalan yang tiada tara. Sekitar setengah jam, zikir telah selesai. Tapi para pengantar masih berkerumun. Lalu aq taburkan bunga sambil menangis. Lalu kuputuskan untuk zikir lanjutan sendiri. Dalam lamunanku aq melihat istriku terbang dibawa dua orang bersayap. Dia hanya menoleh ke arahku lalu hilang ditelan awan.

Semoga kau damai di sisi-Nya istriku. Aq kan selalu mendoakanmu setiap saat aq mengingatmu. Doakan juga agar ayah bisa mengasuh Najwa hingga dewasa menjadi anak yang sholehah.

Mungkin ini adalah akhir sebuah penyesalan...
Tapi aq berharap, ini bukan benar2 sebuah penyesalan. Karena mungkin gusti Allah punya rencana lain demi kebaikanmu, kebaikan orang2 yang kau tinggalkan.. dan aq kan selalu belajar untuk bisa menerima itu semua..

Jelang 7 hari sejak kau tinggalkan. Cikoko, 24 Januari 2009

07 Januari 2009

Ya Allah, Kemana Harus Kucari Rahasia Obat-Mu

Jumat (1/1) siang, Mbak Nul, Masaris n Ida datang dari Jogja menjenguk istriku di Ambarawa. Kebetulan aq baru saja datang dari Jakarta. Sekitar habis jumatan, Masaris sharing bagaimana kalau Epi dibawa ke rumah sakit saja untuk pemulihan fisiknya. Toh, yang nempel ikut dia sudah pergi. Meskipun kadang sering datang dan pergi lagi. Kata pae, tiap malam kadang kelambu kamar sering bergerak sendiri meski tak ada angin. Ada seperti bayangan sedang mengintip keluar. Tapi setelah dicek ke dalam kamar tidak ada siapa2. Istriku masih tidur nyenyak. "Kuncinya neng awakmu le. Kalau kamu sholat malamnya kuat. berkakas itu ga bakalan berani ikut istrimu. Klo ngandalin dia juga susah. Suruh pantang makanan ga mau. Yang ga boleh malah dimakan. Suruh zikir juga ga mau. Suruh di mushola saja ga mau. Gimana mau sembuh," kata pae cerita seputar istriku selama aq tinggal di Jakarta.
Jika fisiknya agak pulih, rencananya istriku akan dibawa berobat ke Mbah Zarkoni. gurunya pae di Grabakan. Biar berkakas bisa disikat habis dan ga balik2 lagi. Setelah itu tinggal penyembuhan fisiknya. "Tapi kalau memang yang penyakit non fisik dah bisa diatasi atau diatasi sambil jalan. Bagaimana kalau Epi dibawa ke rumah sakit saja. Biar ada kejelasan seberapa sakitnya, seberapa sembuhnya," usul masaris siang itu.
Aq bilang ga papa kalau ada yang bantu biaya rumah sakit. Minimal 50 persen. Sisanya aq yang nyariin. Lalu aq putuskan telpon bapak/ibu di Tuban. Tanya bagaimana jika Epi dibawa ke rumah sakit untuk cek perlu rawat inap atau cukup berobat jalan. Katanya ga papa. Klo terpaksa harus nginap, biaya tar dicariin. Sebab, duit pinjam dari Opi adiknya istriku Rp 400 ribu ama pinjam dari Pak Rinta orang humas pemprov Rp 500 ribu sudah habis untuk akomodasi selama di Ambarawa sebelum masuk rumah sakit.
Aq akhirnya lega dan bersedia jika Epi dibawa ke rumah sakit setelah Ibu Tuban kasih lampu hijau. Tapi bukan di Jakarta. Di Ambarawa saja. Soalnya dari sisi fisik, istriku belum memungkinkan jika dibawa ke Jakarta naik kereta.

***
Dengan naik dokar (andong), istriku aq papah naik angkutan tradisional itu. Di kursi belakang ditemani Ida. Masaris dan zenar duduk dekat pak kusir. Sementara aq, mamat, pae naik motor binter menuntun dari depan pelan2 menyisir pematang sawah yang dikitari rawa pening itu. Begitu masuk UGD, petugas langsung memeriksa berdasarkan keluhan. Aq langsung bilang sakit diabetes. Keluhan lain demam menggigil, batuk, sesak nafas, sering muntah dan kaki lemas. "Gulanya 155 mas. Normalnya 117," kata perawat singkat lalu menawarkan agar istriku rawat inap.
Setelah disodori rincian biaya rumah sakit masing-masing kelas, aq pilih kelas 3. Itung2 murah. Setelah tempat disiapkan, istriku langsung diboyong ke ruangan paling atas. Sore itu ruangan Ratih E berukuran 6x6 di lantai 2 penuh sesak. Pasien aq lihat ada 5 orang. Tapi pengunjungnya itu, masya Allah. Kayak pasar. Untuk bisa lewat saja susah. Satu orang pasien yang antre jenguk ada 10 sampe 15 orang.
Istriku bilang ga mungkin bisa istirahat tenang jika kondisinya seperti itu. Aq langsung ke ruang resepsionis tanya apa masih ada kelas 2 yang kosong. Katanya penuh. Tinggal kelas 1 dan VIP. "Sewa kamar Rp 150 ribu per hari. Biaya penanganan biasa Rp 800 ribu, penanganan khusus Rp 1,3 juta ditambah biaya obat2an atau jika ada keperluan tambahan. Kalau mau diambil, nanti pasien langsung dipindah," kata petugas jaga. Aq bilang Ok ga papa di kelas 1. Pukul 06.00, istriku dah bisa menempati ruang Anjani E yang terletak di lantai 1 paling belakang. Satu kamar hanya ada 2 orang. Lumayanlah ga terlalu ramai. Soal biaya tar dipikir belakangan.

***
Magrib itu, masaris, mbaknul, ida, zenar terpaksa balik jogja. Karena masaris ada tugas kampus. Pae pulang ke rumah. Aq tinggal di rumah sakit sendiri nungguin istriku. Sambil ketak ketik berita, aq tungguin istriku. Kebetulan jumat masih masuk. karena PNS libur aj, jadi ga harus ke balaikota. Kondisi istriku semakin lemah. Jika sebelumnya bisa jalan, begitu masuk rumah sakit langsung drop fisiknya. Jalan sempoyongan, kalau diajak ngomong agak ga nyambung. Suruh makan atau minum obat agak susah. Aq tambah stres karena suster hanya ngantar obat digeletakin begitu saja. "Ini obatnya pak. Diminum setelah makan,". "Ini makanannya pak,". "Ini air panasnya pak,". Kata2 itu selalu saja mluncur tanpa tindakan. Hanya digeletakin di kursi ato meja. Jika pelayanannya seperti itu, tentu harus ada yang nungguin setiap saat. Untuk memastikan makanan disantap dan obat diminum. Apalagi, tiap saat juga istriku harus bolak-balik ke kamar mandi. "Kalau ditinggal, siapa yang tenteng2 infus ke kamar mandi,". aq stres berat malam itu. Semua aq sms telfonin suruh nyariin orang yang bisa jaga di rumah sakit. Ibu Tuban baru bisa dateng hari senin. Sementara tiket argo anggrek sudah aq beli Rp 390 ribu berangkat minggu dini hari karena esoknya aq harus masuk kerja. Aq telfon kluarga Jakarta, smua bilang sibuk. Opi adik kandung istriku mau cariin orang di Jogja, tapi tak kunjung ada kabarnya. Ina adik istriku paling bontot juga bilang ga bisa nemenin mau balik Ambon karena takut bisnis perdananya hilang. Kakmino malam itu telpon agar istriku dibawa ke Jakarta saja. Aq bilang kondisi fisik ga memungkinkan kalau naik kereta. Kecuali jika pakai mobil.

***
Malam itu aq merenung2. Apa langkah jangka pendek yang bisa aq lakukan. Setelah pae menyerah cari orang ga ketemu, kluarga Jakarta juga ga ada yang bisa datang, aq putuskan telpon Ibu Tuban agar bisa datang esok harinya. Agar sore sudah sampai rumah sakit dan gantian nungguin istriku. "Biayanya gimana. Kalau berangkat sekarang, biaya rumah sakit carinya kapan?," kata Ibuku dari telfon. Aq bilang biaya rumah sakit tar aj dipikirin. Yang penting datang dulu ke Ambarawa. Soalnya aq dah bolos kerja dan harus segera balik Jakarta. Sekaligus cari biaya rumah sakit. Sementara kondisi istriku drop banget. Makan minum obat, ke kamar mandi harus selalu dikawal. Malam itu harapanku tinggal ke mbak po yang ikut di rumah pae. Minimal bisa nunggu sampe Ibu Tuban dateng. Astagfirullah hal adhim. Tanpa alasan yang jelas, mbak po malam itu menolak dimintain bantuannya untuk jaga istriku. Meskipun hanya semalam. Aq pun pasrah. Membiarkan tiket kereta Rp 390 ribu hangus dan terpaksa balik ke rumah sakit. Untungnya mas tir redaktur ngerti dan mengijinkan aq ga masuk kerja lagi.
Esoknya, Senin (5/1) sore, Ibu Tuban dan Ida adik kandungku datang ke Ambarawa. Aq langsung buru2 meluncur ke Stasiun Tawang untuk ikut kereta Senja Utama menuju Jakarta. Sebelum meninggalkan rumah sakit, Ibu berpesan agar aq jangan stres dan bisa bersabar. Gusti Allah pasti akan memberi jalan. Semua musibah pasti ada hikmahnya. Aq disarankan agar tetap jaga stamina agar tidak ikut sakit. Jakarta-Ambarawa bukan jarak yang dekat. Kalau aq terus mondar mandir, fisik bisa drop. "Kasian Najwa kalau kamu sakit. Siapa nanti yang cariin biaya rumah sakit kalau kamu sakit," kata Ibu berbisik di depan pintu tempat istriku dirawat. Aq setengah mo menangis. Aq coba menahan agar air mata tidak sampai menetes. Kucium tangan Ibuku dan buru2 kabur agar kereta tidak telat.

***
Kususuri sepanjang jalan di Ambarawa tuk cari ATM. Arloji aq lihat sudah pukul 18.15. Padahal, bus terakhir ke Semarang pukul 18.30. Dapat ATM depan pasar ternyata rusak. Padahal, di dompet sama sekali aq ga pegang duit. Setengah putus asa, aq terus berlari kecil menyisir kanan kiri jalan siapa tahu ada ATM. Tapi setiap ada ATM, mesin rusak. Astagfirullah, ada apa lagi ini. Keluhku. Sementara Fauzi, muridnya pae yang mau bareng ke semarang sudah telpon2 agar aq buruan biar ga telat ngejar kereta pukul 20.00. "Pae, ATM rusak sedanten. Kulo mboten mbeto duit. Mboten gadah ongkos naik bis ke Stasiun Tawang," kataku akhirnya memutuskan telpon pae yang berada di rumah sakit. Setelah telpon, aq terus menyusuri jalanan di Ambarawa. Akhirnya di ujung jalan, depan alfa mart ketemu atm mandiri. ternyata bisa ngluarin uang. Alhamdulillah. aq langsung lega. Pada saat yang bersamaan, pae tiba di tempatku dan langsung mengantarkanku ke tempat Fauzi yang menunggu di pertigaan. Jam menunjukkan pukul 18.30. Lima menit menunggu, bus terakhir melintas. Aq langsung naik. Bus berjalan sangat lambat karena sambil cari penumpang. Bahkan sempat ngetem. Fauzi yang kerja di TNI AD itu sempat marah2 agar tidak ngetem lama2. Bus akhirnya meluncur dan tiba di Stasiun Tawang pukul 20.15. Bunyi kereta mo berangkat terdengar keras. Aq berlari sekencang2nya. Beli tiket langsung naik. Kebetulan kereta masih persiapan meluncur.
Selasa (6/1) subuh, aq nyampe di Jakarta. Fauzi muridnya pae yang kerja di TNI AD yang nemenin selama perjalanan di kereta ga mau diajak mampir rumah. Alasannya, pagi itu ada apel. Sampai rumah, Sam ternyata ada di rumah lagi tidur pulas. Nungguin sejak kemarin.

***
Setelah tidur sebentar, pukul 10.00, aq mluncur ke balaikota tuk liputan. Alhamdulillah, satu hari masuk kerja, ternyata temen2 liputan di balaikota tahu musibah yang menimpa keluarga kecilku dan bersedia saweran. Dari hasil patungan terkumpul Rp 500 ribu. "Ini ak dari temen2. Moga cepat sembuh istrimu. Yang sabar," kata pak Jaber dari nonstop yang mewakili temen2 seraya menyodorkan amplop warna coklat. Aq bilang ga usah pak Jaber, aq dah cukup ngrepotin temen2. Dulu waktu anakku lahir dan terpaksa dicesar, temen2 sudah cukup membantu. "Udah ga papa," katanya meninggalkan amplop di depanku.
Pukul 19.30, aq mo cabut dari presroom. Karena kakmino kakaknya istriku telpon pingin ketemu. Karena kluarga istriku pengin tahu bagaimana kondisi sebenarnya istriku. Saat aq mo nyalain motor, pak haji darul panggil2. Ternyata mo ngasih bantuan dari koordinatoriat wartawan balaikota untuk biaya rumah sakit istriku. "Yang sabar ya ak. Ini ada titipan," katanya sambil mengeluarkan uang Rp 4 juta. Alhamdulillah. Serasa aq pingin menangis malam itu. Terima kasih kawanku smua. You are my family. Trima kasih Gusti Allah. Sepanjang perjalanan pulang aq tak henti2nya mengucap syukur seraya berdoa agar istriku cepat sembuh n bisa cepat kluar rumah sakit. Cobaan itu terasa berat kutanggung.
Sampai di rumah nenek di Cikoko, ketemu kakmino dan langsung cerita seputar kondisi istriku terakhir. Waktu mo pamit pulang, Kakmino nyodorin uang Rp 500 ribu. Katanya titipan dari Kak Tutik untuk tambahan biaya rumah sakit. Alhamdulillah. Malam itu aq tak henti2nya mengucap syukur. Malam itu juga aq telfon pae Ambarawa dan bilang besok biaya rumah sakit langsung ditransfer. Paginya, Ibu yang jagain istriku di rumah sakit juga aq bilangin biaya rumah sakit Rp 5 juta langsung ditransfer. kalau kurang agar dicarikan tambahin sambil aq nyari2 lagi. Sambil nanyain kondisi terakhir, aq bilang agar smua kluarga ikut bantu doa moga2 minggu2 ini istriku bisa keluar rumah sakit. Agar biaya cukup dan tidak membengkak. "Dari hasil tes darah dan ronsen, kata Pak Susanto (ahli penyakit dalam), istrimu cuma kena bronkitis. Penyakit lain tidak ada. Mungkin minggu2 ini bisa dibawa pulang. Tapi pak Susanto bilang harus ada yang jamin," kata pae dari telpon. "Ga papa pae. Jumat besok aq ke Ambarawa lagi," jawabku. "Ga usah le. Mengko nek wis kondisinya membaik awakmu tak kabari. Kalau kamu ga bisa ke sini, pae yang akan nganter ke Jakarta. Awakmu konsentrasi kerja ae," kata pae lalu memutus telpon.
Ya Allah, sembuhkanlah istriku. Aq tahu ini adalah cobaan. Peringatan kalau aq malas untuk bersujud kepadamu. Malam yang seharusnya waktu untuk mengingat-Mu justru aq malah tidur terlelap.
Jika aq boleh curhat ya Allah, itu karena fisikku ga mau diajak kompromi. Lelah seharian liputan dan selalu ketiduran hingga pagi menjelang. Dalam hati kecilku, keinginan untuk selalu memutar tasbih di tengah malam yang sunyi selalu menyala2 dan tak pernah padam. Di atas motor di tengah kemacetan Jakarta pun aq selalu menyebut nama-Mu. Karena hanya Engkau yang pantas untuk selalu diingat. Hanya Engkau yang pantas untuk selalu disebut nama-Nya. Karna, hanya Engkau yang bisa dijadikan tempat bertumpu segala harapan.

Malam sunyi, di presroom balaikota usai ngetik brita, 7 Januari 2009.

23 Desember 2008

Duh Gusti Allah, Sembuhkanlah Istriku

Selasa, 23 Desember 2008. Memasuki hari kedua di Ambarawa, istriku sudah menunjukkan progres report yang menggembirakan. Jika waktu datang praktis tak bisa jalan, sejak tadi malam sudah mulai bisa jalan. Dari kamar tidur ke kamar mandi mau berjalan bolak balik sendiri tanpa dituntun. Panas tubuhnya juga mulai turun pelan2. Wajah yang pucat juga mulai berangsur normal tak sepucat saat baru tiba Senin subuh lalu. Sebab, ibu istrinya Pae selalu maksa agar istriku menghabiskan makan yang disuguhkan dan minum air putih sebanyak2nya. Alhamdulillah, satu piring bisa habis. Pepaya, jeruk dll juga dimakan dengan lahap. Meskipun batuknya masih terdengar sesekali memecahkan kesunyian malam. Begitu bangun tadi pagi, aq langsung paksain agar berjemur di halaman rumah. Kaki menapak di tanah bergantian di rumput. Dengan cara itu saraf kaki sekaligus bisa terefleksi. Jika malam, telapak kaki juga aq pijit untuk menetralkan urat saraf yang terjepit. Air Ampel yang disediain Pae aq suruh minum. Sebelum dipijit dan usai dipijit serta setelah makan. Air Ampel itu diambil dari masjid Sunan Ampel Surabaya. Biasanya, Pae menggunakan air tersebut untuk ngobati para pasien. Mulai dari penyakit fisik hingga non fisik. Dengan air itu pula, Pae berusaha membantu orang memecahkan persoalan mulai pertengkaran rumah tangga hingga masalah yang dihadapi para pejabat elit. Percaya atau tidak, sumber air Ampel diyakini memiliki jalur secara langsung dengan air zam-zam di Makah. Sebenarnya, air di sumber2 lain juga memiliki jalur serupa. Namun, tidak setiap saat. Hanya pukul 03.00 dini hari hingga sebelum subuh. Secara ilmiah, aq belum sempat menelusuri kebenarannya. Di kalangan kedokteran, tidak ada perbedaan pendapat soal air. Semuanya sepakat, air memang memiliki peran menyembuhkan. Sebab, mampu membantu metabolisme tubuh.
Selain berusaha mengobati secara fisik, tiap malam Pae menggenjot zikir untuk menetralkan hawa negatif yang ada. Usai memijit telapak kaki istriku lalu menyuruh minum air, aq ikut gabung sholat dan memutar tasbih. Pukul 01.00 sudah bisa selesai, merokok satu batang, minum kopi lalu aq putuskan istirahat di kamar sebelah. Najwa sendiri aq lihat sudah terlelap di pelukan mamanya.
Di Ambarawa memang suasananya beda dengan Jakarta. Dengan dikitari deretan perbukitan, areal sawah yang menghijau dan rawa pening yang menghampar, praktis kota kecil yang dikenal luas dengan Tugu Palagannya itu hawanya sangat dingin. Tidak hanya malam hari, tapi juga saat siang. Matahari hanya sesekali muncul lalu tertutup awan kembali.
Tadi malam aq cukup kedinginan. Lupa ga bawa jaket pelapis dan celana tebal. Dengan hanya pakai celana pendek, aq terpaksa tidur meringkuk kedinginan hingga pagi menjelang.
Dengan hawa yang sejuk dan suasana tenang, aq berharap bisa membantu secara psikologis upaya penyembuhan istriku. Minimal, perempuan keturunan Ambon itu bisa istirahat dengan tenang. Sebab, malaikat kecilku telah dijaga oleh istrinya Pae. Mulai memandikan, menemani untuk bercanda hingga menggendong jika nangis. Hanya jika istriku kangen dan teriak2 panggil Najwa baru si kecil di sandingkan di pelukannya untuk disusui.
Pagi2, Ida adik kandung yang kuliah di Jogja sms akan menjenguk ke Ambarawa jika tugas2 kuliah dah kelar. Masaris malamnya juga sms ngasih saran agar suplai gizi bisa tercukupi. Sebab, aktivitas menyusui membutuhkan tenaga ekstra.
Kawan Sam dari Bogor tadi pagi juga telpon kaget setelah membaca blog. Katanya kok dadakan ke Ambarawanya. Beberapa kawan liputan kemarin juga sms dan telpon tanyain kok seharian ga nongol di Balaikota. Aq bilang izin dulu bentar nganter istri ke Ambarawa. "Wahai kawanku semua, saudaraku smua, aq hanya mengharapkan doa kalian smua. Moga2 Gusti Allah ngasih kesembuhan istriku, menjaga istri, si kecilku dari segala penyakit dan mara bahaya". Aq rela berkorban apapun demi kesembuhannya. Jika ada dokter, paramedis, atau apapun namanya yang bisa menyembuhkan istriku, dengan apapun caranya, ilmiah, non ilmiah, atau tidak masuk akal sekalipun aq sangat berterimakasih. Yang penting istriku bisa sembuh. DUH Gusti Allah, sembuhkanlah istriku. Angkatlah penyakitnya dan turunkanlah obat untuknya. Hanya kepada Engkau kami berserah diri. dan hanya kepada Engkau pula kami minta pertolongan. Tiada kekuatan apapun yang bisa menandingi Kekuatan-Mu. dan tiada apapun yang bisa mencegah jika Engkau berkehendak.

Rawa Pening, 23 Desember 2008

22 Desember 2008

Kereta Menuju Ambarawa

Suara gemuruh gerbong melintas di atas rel baja terus terdengar sepanjang perjalanan. Arloji aq lihat pukul 22.30. Entah sampai mana aq tak tahu. Dari cendela, yang terlihat hanya gelap. Lampu-lampu kecil yang jauh di sana terlihat samar-samar. Aq kembali ke bangku no 15 C dan 15 D yang terletak di barisan sebelah kiri. Malaikat kecilku aq lihat terlelap di atas bangku lusuh kereta. Mungkin Najwa tengah menikmati mimpi indahnya. Sementara istriku Shelvia Jaflaun terlihat makin tak berdaya menopang tubuhnya yang tengah diterpa sakit. Dengan menggelar kain sarung di bawah bangku, aq sarankan untuk pejamkan mata biar ada sedikit tenaga saat turun dari kereta pukul 03.00 dini hari nanti.
Pandanganku mencoba menyisir setiap bangku yang diisi para penumpang. Rata-rata sudah pada terlelap dalam mimpinya masing-masing. Petugas yang menawarkan kopi, rokok, nasi goreng, hilir mudik setiap saat. Aq tak menghiraukan mereka yang mencoba curi-curi pandang kepadaku. Aq terus menulis blog ini sambil menjaga Najwa di atas bangku agar tidak terjatuh jika sewaktu-waktu bergerak tiba-tiba.
Kereta Fajar Utama terus melaju untuk bisa mengantarkan penumpang tepat waktu ke Semarang. Lewat kereta ini pula aq mencoba mencari asa bagi kesembuhan istriku yang tengah dilanda penyakit aneh sejak kepindahan kontrakanku dari Ulujami ke Cawang dua bulan lalu. Perempuan keturunan Ambon yang tinggi gempal itu kini makin kurus dan pucat. Konsultasi dan berobat ke berbagai dokter telah aq lakukan. Tapi keinginanku untuk mengetahui apa penyakit istriku gagal. Hasil pemeriksaan negatif. Termasuk hasil ronsen minggu lalu di RS AURI juga negatif. Aq sudah lelah mencari pengobatan ke dokter ilmiah atau pengobatan alternatif.
Demi kesembuhan istriku, aq terpaksa ambil cuti tiga hari untuk bisa ke Ambarawa. Niat itu sangat kuat ketika Kakmino, kakak iparku juga melihat keanehan penyakit yang diderita adiknya. Sorot mata dan tingkah laku yang ditunjukkan istriku lain dari biasanya. Tatapan kosong dan tindak tanduk seorang renta yang telah bungkuk.
Nyonya Klementin yang sudah berumur dan tinggal di Bekasi juga terkaget ketika dijenguk ama istriku. Dia bilang ada yang menempel di punggungnya. Aq sendiri baru sadar penyakit istriku tak wajar dua pekan terakhir. Saat Fauzi, muridnya Pae yang tugas di Mabes TNI AD beberapa waktu lalu ketemu di Balaikota dan melihat keanehan dalam diri istriku. Fauzi yang pangkatnya baru balok kuning dua di pundaknya itu awalnya mo minta saran atas kepindahan tugasnya. Tapi justru berbalik ngasih saran agar sakitnya istriku ditelaah lebih lanjut. "Coba smsin pae di Ambarawa," katanya setelah aq bercerita hasil pemeriksaan semua dokter negatif.
Setelah dikasih saran itu, aq langsung sms pae di Ambarawa. Pukul 22.30, pae balas sms. Isinya perintah agar aq bisa sholat malam lalu memutar tasbih. "Deloen le mengko bengi. Tak bantu soko kene. Memang ono sing ga wajar. Sakno bojomu nek ngono terus," kata pae melalui sms.
Karena saking capeknya liputan, tanpa sadar aq tertidur pulas. Padahal aq janji pukul 00.00 atau pukul 01.00 tengah malam akan sholat malam. Pukul 03.00 aq terkaget ketika istriku membangunkanku sambil mengeluh kakinya sakit ga bisa digerakkan. Badannya kepanasan sambil batuk2. Aq teringat perintah Pae. Lalu aq ambilkan air putih agar diminum istriku. Dalam kulkas aq ambil jeruk dan kubuatkan susu coklat agar bisa diminum untuk tambah tenaga. Lalu aq tinggal sholat dan berzikir. Begitu sampai setengah perjalanan, Masya Allah, baru kali ini aq menemui makhluk Gusti Allah segalak itu. Bulu kudukku berdiri. Badanku merinding. Tasbih terasa begitu berat aq putar. Seorang nenek tua renta berambut putih menunjuk2 ke arahku sambil teriak marah besar. Aq jadi emosi. Ingin kuteriak saat itu juga agar makhluk itu bisa kembali ke tempatnya dan tidak mengganggu istriku. Toh selama ini qta saling hidup berdampingan dan tak saling mengganggu. "Jika tak mau main kasar. Saya yang minta tolong agar sudi kiranya menjauh dari istriku," kataku kemudian. Dia bilang mau kembali ke tempat asalnya jika diantar.
Usai berzikir, aq keluar rumah sambil menyalakan rokok sebatang. Lalu aq telepon Pae di Ambarawa. "Pae nek piyambaan kulo mboten sanggup. Sing derek Epi niku ketua geng teng kontrakan lama," kataku via telepon. "Yo le. Iku ga tandinganmu. Bojomu cepet2 gowo mrene. Mengko tak antere no nggone mbah zarkoni," kata Pae lalu memutus percakapan.
Setelah malam itu, Kakmino ke rumah. Pukul 21.00 tiba2 telepon. Saat mengaji di rumah katanya listrik padam berulang kali. Padahal ga nyalain apa2. Lalu terlihat bayangan terbang keluar rumah. Mendapat informasi, aq langsung buru2 pulang. Aq lalu sms Pae. Aq bilang kata Kakmino makhluk yang nempel di punggung istriku dah keluar. Lalu aq disarankan ambil air dari Ampel. Lalu dikasih minyak dan dikasih bacaan sahadat 7 kali, fatihah 7 kali dan al ihlas 7 kali. Lalu disiramkan di depan dan belakang rumah.
Aq memang sudah bosan dengan segala hal yang berbau mistis. Kakiku lumpuh selama tiga bulan saat SMA kelas 2 dulu bagiku sudah cukup. Aq tak mau ada dendam. Setiap perbuatan jahat, biarlah Gusti Allah yang membalasnya. Tak perlu tahu siapa yang berbuat jahat pada istriku, yang penting istriku bisa kembali sembuh.
Benar apa kata kawan Sam. Terkadang, qta perlu kembali ke zaman yang paling tradisional sekalipun untuk sejenak mencari kearifan yang tak mampu ditembus oleh rumus2 ilmiah.

Pukul 24.00 tengah malam. Dalam Kereta Fajar Utama menuju Semarang, 22 Desember 2008.

01 Desember 2008

Perempuan dari Tanah Seberang

Perempuan dari Tanah Seberang

Kehidupan malam di Ibukota kembali menggeliat begitu sang surya kembali ke peraduannya. Sisi lain kehidupan malam di kota besar mulai tampak. Di sebuah tempat karaoke yang terletak di bilangan Jakarta Pusat, mobil-mobil mewah mulai berdatangan. Setiap mobil datang di pintu masuk, rata-rata yang turun anak usia tanggung. Mereka rombongan lebih dari dua orang. Dengan gaya perlente namun santai, remaja-remaja itu terlihat dari kelas atas. Pakai celana pendek, t-shirt warna cerah dan bersepatu. Di tangan kanannya menggenggam sebuah telepon selular. Model-model N 90 atao experia keluaran terbaru.
Begitu tiba, mereka langsung masuk ke lobi dan terus naik ke lantai dua. Perkiraanku, mereka telah sering datang ke tempat tersebut. Itu terlihat dari sikapnya yang tak terlihat canggung. Seorang petugas keamanan menegur. Rupannya, salah satu dari mereka ada yang membawa tas. "Mas dititipkan di pos keamanan saja tasnya," kata pria berbadan tegap sambil menenteng HT. "Tar langsung ke atas ye. Room dah diboking," kata salah satu dari mereka yang berjalan paling depan memberi aba-aba temennya yang harus turun kembali ke bawah untuk menitipkan tasnya. Sejenak, petugas keamanan menyuruh membuka isi tasnya. "Isinya apa mas," kata petugas keamanan. Setelah memastikan isi dalam tas bukan barang yang membahayakan, tas langsung diletakkan di ruang keamanan yang letaknya persis di pintu masuk. Lantas, remaja tanggung itu menyusul kawan-kawannya di lantai atas. Jakarta memang rawan usai eksekusi Amrozi Cs beberapa waktu lalu. Ancaman bom memang tak pernah berhenti. Mulai dari hotel, apartemen, mall, kedutaan, kantor pemerintah hingga fasilitas publik.
Di pintu masuk lantai atas, sebuah lorong panjang terlihat membujur. Lampu redup menghiasai sepanjang koridor tersebut. Di pintu masuk, sisi kanan dan kiri terpasang sebuah meja dan kursi tempat untuk transaksi. Seperti model kasir jika di pusat perbelanjaan. Perempuan-perempuan muda yang jumlahnya sekitar lima orang berdiri di samping kiri kanan pintu mengeluarkan senyum ramah sedikit nakal. Perempuan-perempuan itu menggunakan pakaian yang sangat seksi. Rok hanya sampai pangkal paha. Sementara belahan dadanya seperti didesain agar sedikit terlihat. Putih mulus dan menyembul mengundang gairah. "Silakan mas," sapa manja salah satu perempuan. Jika setiap tamu yang datang belum boking room terlebihdahulu, begitu sampai di pintu lantai atas itu akan langsung melakukan transaksi. Sewa room sekaligus pesan perempuan pendamping jika menginginkan.
Menyusuri sepanjang koridor, setiap room berdiri seorang perempuan. Dari baju yang dipakai, perempuan ini sepertinya mendapat tugas yang berbeda. Bukan sebagai penghibur, tapi service room jika ada tamu yang pesan minuman, makanan atau keperluan lainnya.
Memasuki salah satu room, ruangan ukuran 7x5 meter menghampar. Kursi dipasang memutar bentuk huruf U. Di tengahnya meja kecil berjajar. Di barisan paling depan, 3 unit TV terpasang berikut asesorisnya. TV yang paling tengah ukurannya paling besar. Di samping kiri dan kanannya hanya ukuran 21 inci. Dari layar tampak stasiun HBO tengah memutar sebuah film action. Sementara yang satunya life report CNN. "Disamain aj mas. Buat karaoke semuanya," salah salah sorang tamu meminta kepada operator. Di tempat itu, tamu tidak memilih lagu sendiri lewat keyboard di meja atau remote kontrol. Tapi melalui reques kepada operator.
Para tamu mulai memesan kudapan beserta minuman yang tertera di daftar yang diletakkan dalam meja. "Tiga picher mbak, kentang, rokok malboro, jarum ama sampoerna. Jangan lupa air mineralnya," kata salah satu tamu. Usai perempuan service room meninggalkan ruangan, musik mulai berdentum. Lampu ruangan mulai diganti yang redup. Asap rokok mulai mengepul. Habis satu lagu, perempuan service room sudah masuk kembali membawa pesanan. Gelas-gelas yang berisi es mulai dituang minuman. Teriakan salah seorang tamu yang tengah menyanyikan lagu membahana. Tampak begitu menghayati terlihat dari gerakan tubuhnya. Jika melihat ekspresinya, barangkali nyanyian, tamu tersebut tengah mengeluarkan kegundahan hatinya. Stres akibat kerjaan di kantor, bertengkar ama bininya di rumah atao barangkali habis putus ama pacarnya. Raut muka kegundahan itu semakin terlihat ketika menyanyikan lagi bintang di langit padi. Begitu lagu usai, sepuluh perempuan muda bertubuh seksi masuk ruangan. Satu orang yang dipanggil mami ira menyuruh perempuan-perempuan dibalut pakaian seksi itu berjajar di depan para tamu. Kaki jenjang, kulit putih mulus tanpa ada bekas luka sedikitpun terlihat hingga pangkal paha. Sebagaian ada yang memperlihatkan belahan payudaranya. Di pinggangnya sebelah kanan tertulis nomor urut dengan huruf besar. Ada 350, 200, 300, 400, 575. "Silakan mas mo pilih yang mana," kata mami ira. Para tamu memelototkan matanya memandangi satu per satu perempuan penghibur tersebut tanpa berkedip. Dari ujung kaki hingga ujung kepala. Pemandangan itu persis di tempat pelacuran gang dolly Surabaya. Bedanya, jika di gang dolly, perempuan dipajang di sebuah ruangan persis aquarium yang dilapisi kaca riben. Para tamu bisa melihat secara leluasa perempuan mana yang akan dipilih. Tapi si perempuan tidak bisa melihat tamunya. Di tempat karaoke itu, antara tamu dan perempuan penghibur saling berhadap-hadapan secara langsung. "300...350..400..," kata para tamu memberi aba-aba pilihannya. Tiga perempuan muda seksi yang dipilih langsung menghampiri pria yang menunjuknya. Sementara perempuan-perempuan yang tidak dipilih para tamu langsung keluar ruangan.
Malam semakin larut. Dari musik syahdu berganti musik yang menimbulkan hasrat berjingkrak. Semua turun melantai. Perempuan yang dipilih para tamu langsung berkenalan sekadar basa basi. Musik terus berdentum. Kepulan asap rokok membumbung memenuhi ruangan seperti tak mampu disedot exhaus yang tertempel di dinding paling ujung. Suara tawa lepas menghiasi setiap minuman keras yang dituang dan beradu menimbulkan suara benturan kecil. Tiga perempuan muda yang masing-masing bernama Nia, Fany dan Dewi itu sudah terlelap bersama pelukan mesra para tamu. "Kalau belum puas di sini bisa dilanjut di luar mas. Syaratnya tinggalkan bon dikasir. Cuma Rp 400 ribu. Kalau tips kencan di luar tergantung kesepakatan aj," kata perempuan yang dipanggil temen2nya Fany itu to the point.
Itu lantaran jika hanya mengandalkan menemani para tamu di tempat karaoke, pemasukan dianggap tidak cukup. Berbeda jika ada yang boking ke luar, dari bos besar dapat bonus, dari pelanggan dapat tips hasil servisnya. Dalam satu malam, maksimal bisa menemani tujuh orang tamu. Itupun dari persaingan yang cukup ketat. Jika dalam semalam, setelah berulang-ulang dipajang tapi tak laku, omelan bos akan menjadi menu dini hari sebelum perempuan malam itu diizinkan meninggalkan lokasi. "Saya sih baru mas di sini. Baru dua bulan. Tapi karena setiap hari selalu tertekan, rasanya seperti sudah bertahun-tahun," kata Fany.
Tekanan yang dirasakan perempuan asal Padang itu bukan hanya dari bos. Tapi juga sesama perempuan penghibur lainnya. Untuk bisa "nyambi" bersama tamu terkadang harus makan hati. Jika satu cewek diboking sementara yang lain tidak, adu urat syaraf bakal terjadi. "Baru kemarin malam kami bentrok gara2 ada tamu yang boking salah satu dari kami. Tapi yang lain ga diajak. Daripada ada yang iri, akhirnya dibatalin," tuturnya.
Dituturkan Nia, di tempat karaoke tersebut ada 30 perempuan penghibur. Jika masih baru, kupu-kupu malam itu akan dipelihara dengan baik. Tinggal di apartemen mewah dan digaji tinggi. Rata-rata, satu malam Fany dan sejawatnya yang masih baru bisa mengantongi Rp 2 juta. Itu belum termasuk jika ada tamu yang boking keluar. Untuk tetap menjaga kecantikan para perempuan penghibur yang baru tersebut, tiap usai pulang dari tempat karaoke pukul 05.00 pagi, bos besar yang dipanggil mami Ira akan melakukan absen. Memastikan "stok" barunya kembali ke kandang. Petugas keamanan yang disewa mami Ira juga akan memeloloti apakah piaraan bosnya itu aman sampai penjara emasnya atau belum. Jika ada yang terlihat layu, mami Ira langsung mengeluarkan perintah dadakan. "Seringnya habis kerja gini, bos menyuruh kami ke rumahnya. Kami tidak bisa menolak. Karena kalau tidak didamprat habis," akunya. Lalu di rumah mami tersebut, daun muda itu dimandiin, dilulur, dipijat agar kecantikan dan kemulusan tubuh tetap terjaga. Untuk urusan satu ini, mami Ira memang tak mau kelewatan. Sebab, besar kecilnya omset tergantung kiprah stok-stok baru tersebut.
Perlakuan itu sangat berbeda dengan perempuan lain yang yang telah lama direkrut. Mereka diberi kebebasan asal tetap menyetor kepada bos. "Kalau kami yang baru-baru ini kayak dipenjara. Kemana-mana tidak boleh. Gerak-gerik selalu diawasi. Pulang kerja harus langsung pulang ke apartemen. Emang sih sewa apartemen sudah dibayar bos, tapi tetap saja rasannya seperti dipenjara," keluhnya lalu menghisap rokok di tangan kanannya dalam-dalam.
Setelah menenggak satu gelas minuman, Fany kembali bertutur. Dia bersama tiga temannya termasuk stok baru. Mereka "disekap" di sebuah apartemen "M" di Jakarta Barat. Tidak hanya dalam bergaul dengan orang luar yang dilarang keras, untuk bisa sekadar refresing keluar jalan-jalan di luar jam kerja juga dilarang. Jika libur hari Minggu, tetap saja harus mengkal di tempat karaoke meskipun tidak melayani tamu.
Perasaan untuk memberontak bisa lepas dari tempat tersebut terkadang muncul jika perlakuan sang bos sudah keterlaluan. Namun, niat itu kembali pupus jika teringat bahwa untuk kembali pada kehidupan normal sudah tidak mungkin. Apalagi, kehidupan malam yang ditekuninya itu awalnya sebagai pelarian setelah dijodohkan orangtuanya dengan orang yang tidak dicintai di kampung halamannya.
Lari dari kampung halaman di Padang, Fany mencoba mengadu nasib di Jakarta. Suatu ketika di sebuah mall di bilangan Jakarta Pusat, Fany bertemu dengan mami Ira yang menawarkan pekerjaan sebagai pelayanan di tempat karaoke. Lantaran terdesak kebutuhan hidup setelah lama menganggur, tawaran itu akhirnya diterima. "Jadi dengan kondisi terpenjara seperti itu kami hanya bisa pasrah aj mas. Jangan untuk cek kesehatan untuk memastikan positif atau ga, untuk sekedar menghirup udara segar saja kami dilarang. Apalagi persaingan di antara perempuan di sini juga sangat ketat. Salah menempatkan diri dikit bisa berabe," katanya.
Dari hati yang paling dalam, Fany tetap berharap suatu ketika bisa keluar dari kehidupan malam. Itu setelah cukup mampu mandiri untuk membuka usaha sendiri atau dapat pekerjaan baru yang lebih baik. Lantaran untuk menekuni kehidupan malam, banyak resiko yang harus diambil. Tidak hanya rawan dari sisi kesehatan rentan tertular penyakit HIV/AIDS atau penyakit seksual lainnya, tapi juga rentan dari sisi keamanan.

(Tulisan ini aq terbitin di Indopos untuk menyambut hari HIV/AIDS se-dunia yang jatuh pada 1 Desember. Versi koran setelah diedit aq beri judul: Melihat Sisi Terdalam Perempuan Malam yang Dituding Penyebar HIV/AIDS: Disekap di Apartemen, Usai Kerja Dimandikan dan Dilulur)

Saat hujan mengguyur, Menara Saidah, 1 Desember 2008

21 November 2008

Gemericik Air yang Menakutkan


Tengah malam pukul 23.28, maskoko cawang sms. "Kondisi cawang mencapai 1 m lebih.pintu air katulampa 16O .depok 24O manggarai 75O.kemungkinan banjir lebih dari kemarin,". Pagi buta, Najwa malaikat kecilku teriak-teriak meracau tak jelas. Ternyata bangunin qta yang masih terlelap.
Tiba2 dari luar rumah terdengar suara teriak memanggil2 najwa. "Najwa bangun, banjir..banjir..,". Aq langsung terbangun. Karena itu suara bude rasimin yang punya kontrakan. Aq langsung bangun keluar rumah untuk mengecek halaman belakang. Air mengalir dengan deras. Suara gemericik tak henti2nya menabrak dinding2 batu drainase yang dibangun di belakang rumah persis. Air terus mengalir memenuhi pelataran halaman belakang rumah sebelah.
Shelvia Jaflaun istriku langsung aq suruh ajak Najwa keluar. Sementara aq langsung mengemasi seluruh barang yang ada dalam rumah. Smua diangkatin ke tempat yang lebih tinggi. Yang ga mungkin diangkat ke atas kayak lemari, kasur, mesin cuci langsung aq seret kluar rumah satu per satu. Kabel listrik langsung aq cabut, meja ditinggiin agar tv tidak sampai kena air. Hampir sharian aq kemas2, jam menunjukkan pukul 12 siang. Air mulai deras mengalir ke dalam rumah melewati dapur. Lambat tapi pasti.
Rumahnya rendi yang di sebelah masih juga tertutup. Setelah airnya mulai beranjak baru datang dan mulai bingung untuk angkat2 barang. Suaminya sendiri tak jelas kemana perginya. Bersama pakde, aq bantu2 angkat2 sembari ngecek di belakang rumah. Air terus mengeluarkan suara gemiricik. Tanah kosong yang berada di samping rumah telah penuh air dan mulai masuk di dapur rumah sebelah.
Setelah memastikan semua barang aman, aq langsung mencarikan taksi untuk mengevakuasi Najwa kecilku ama istriku ke Cawang untuk berlindung sementara di rumah kakaknya. Hampir tiga hari aq mondar mandir balaikota-cawang untuk liputan dan jenguk anak dan istriku. Setelah ga pulang dua hari, aq putuskan untuk pulang. Bude bilang banjir sudah surut. Apalagi ada pae ambarawa yang datang ke jakarta, ga mungkin aq ajak nginap di rumah orang. Terpaksa malam itu aq putuskan pulang. Smua tampak lusuh dan berantakan.
Banjir yang menimpa kontraanku memang sudah tak terhitung lagi. Sejak Desember 2007 lalu hingga April 2008, hampir setiap Jumat sore selalu saja Sungai Pesanggrahan meluap. Baru surut Sabtu sorenya. Praktis, waktu liburku hanya untuk membantu istriku evakuasi. Kebetulan saat itu Najwa belum lahir. Jadi, meski ada beban, tidak seperti saat ini. Jika dihitung, satu bulan bisa banjir sampai empat kali.
Entah berapa kali aq bilang ke Gubernur DKI Fauzi Bowo. Jika banjir di kampung Ulujami karena ada bangunan elit di bantaran kali. Akibatnya, rawa-rawa yang dulunya jadi daerah resapan, kini berubah menjadi perumahan elit. "Nanti akan saya cek. Kalau benar melanggar pasti dibongkar," katanya.
Entah berapa lama, setelah banjir tak pernah datang lagi dan terlupakan, tiba-tiba ada telepon berdering yang menanyakan di mana letak perumahan elit di bantaran Sungai Pesanggrahan. "Bapak siapa," tanyaku. "Saya petugas P2B kecamatan mas. Saya disuruh ngecek katanya ada bangunan di bantaran kali," jawabnya. "Tapi setelah saya cari-cari kok ga ada,". "Loh, bapak kan petugas kecamatan situ. Kok sampe ga tahu di daerahnya ada bangunan elit. Izinnya bagaimana," jawabku lagi setengah protes. Lalu, melalui telepon, aq pandu petugas itu sampai di lokasi. "Ya mas, ada. dah ketemu," katanya kemudian.
Telepon pun langsung diputus. Setahun sejak kejadian itu, kabar aksi yang mau membongkar bangunan elit di bantaran kali pun hanya isapan jempol belaka. Justru yang ada klarifikasi. "Saya sudah cek. ternyata izinnya lengkap," kata Kepala Dinas P2B Hari Sasongko.
Loh kok?....(jangan bilang ada tikus berkeliaran..)
Sesuai peraturan, bantaran kali harus bebas dari bangunan. Ketentuan tersebut berlaku untuk semua bangunan di DKI. Apakah itu bangunan elit atau bangunan biasa. Idealnya, lebar sungai antara 55 meter hingga 60 meter. Tapi saat ini tinggal 6 meter. Lalu apakah dibenarkan jika lantas DIBETON!..Sebenarnya, warga ikhlas kebanjiran jika aturan itu ditegakkan. Jika bangunan elit di bantaran kali sudah dihancurkan, tapi masih tetap banjir, bolehlah pejabat berkilah 'itu karena mereka tinggal di dataran rendah'.
Sesuai Permen PU no 63 tahun 1993 tentang
Garis Sepadan Sungai, Daerah Manfaat Sungai, Daerah Penguasaan Sungai, dan Bekas Sungai dinyatakan, sungai yang memiliki tanggul tengah kota harus mempunyai sepadan sungai 3 meter yang diukur dari kaki tanggul. Sungai yang memiliki tanggul di luar kota harus mempunyai sepadan sungai 5 meter dari kaki tanggul. Sungai besar tanpa pengaman memiliki sepadan sungai 100 meter serta Sungai kecil tanpa pengaman memiliki sepadan sungai 50 meter. "Tidak hanya di bantaran Kali Pesanggrahan bangunan elit berdiri, di bantaran Kali Krukut juga banyak. Aneh, kok bisa ya mereka dapat izin," kata Direktur Eksekutif Walhi Jakarta Slamet Daroyni.
Karena untuk menyelamatkan malaikat kecilku, aq terpaksa hengkang dari Kampung Ulujami dan pindah kontrakan di Cawang, Jakarta Timur. Memang, terkadang apapun bisa dikalahkan dengan segepok rupiah. Barangkali, keadilan pun kini sudah menjadi barang yang murah meriah karena diperjualbelikan.
Bagi kalian yang menjadi korban ketidakadilan, angkatlah tangan kiri ke atas sambil mengepal. Lalu mari kita lantunkan lagu perjuangan itu. "Mereka dirampas haknya..tergusur dan lapar..Tuhan, relakan darah juang kami...

Menara Saidah, 21 November 2008

09 November 2008

Kemenangan Obama dan Eksekusi Amrozi Cs

Aq hanya ingin ngasih judul itu karena dua peristiwa itu berlangsung dalam satu rangkaian bersamaan. Kemenangan Obama yang jadi simbol kemenangan kaum minoritas. Sekaligus harapan baru bagi perubahan iklim perpolitikan dan kebijakan Amerika dan dunia di masa mendatang. Karena juga munculnya aksi terorisme di Indonesia tak lepas dari aksi untuk menentang kebijakan Amerika yang dianggap timpang dan selalu mengekspansi negara2 Islam dan menganggap ajaran Islam telah menciptakan para teroris.

***
Kemenangan Obama menuju Gedung Putih yang disambut meriah jutaan warga dunia. Tak terkecuali anak2 sekolah di berbagai kota di Indonesia. Seperti SD Menteng yang karena saking meriahnya hingga dikutip New York Time headline halaman utama. Maklum saja, kemenangan kaum "the black skin" yang tertindas selama ratusan tahun dianggap kemenangan bagi semua. Dunia sudah bosan dengan aksi2 rejim Bush yang selalu menebarkan teror. Ribuan bahkan jutaan umat manusia tewas sia2 akibat kebijakan yang tidak pro kemanusiaan itu. Palestina, Afganistan, Lebanon dan seluruh negara timur tengah pernah merasakan betapa menyakitkan imbas dari perang yang diklaim untuk menjaga perdamaian dunia itu. Tidak hanya negara Islam yang akhirnya menjadi benci, tapi juga negara2 komunis macam Rusia ato negara2 Eropa. Bahkan, paska penyerbuan Irak, warga Amerika sendiri semakin sadar bahwa peperangan yang ditebarkan Bush adalah sebuah kesalahan. Dan rame2 mereka mengutuk elit pemegang kebijakan negeri Paman Sam itu. Apalagi staf ahli gedung putih membeberkan fakta bahwa penyerbuan ke Irak ternyata bukan karena di negeri seribu malam itu telah ditemukan senjata pemusnah umat manusia. Alasan yang digembor2kan Bush di hadapan senat dan negara2 sekutunya itu tak lebih hanya kebohongan belaka. Senjata pemusnah itu tak benar2 ada. Tapi ribuan tentara telah dikirimkan. Ribuan peluru kendali telah diluncurkan. Ribuan umat manusia akhirnya menjadi korban. Tak terkecuali juga para tentara yang dikirimkan. Ribuan perempuan Amerika menjadi janda. Ribuan anak2 menjadi yatim piatu hanya karena orangtuanya menjadi bagian dari tim eksekutor kebijakan yang salah. "Stop war in Irak". Kata2 itu tak pernah lekang disuarakan ribuan aktivis pecinta kedamaian. Termasuk para janda yang suaminya meninggal di medan perang dan anak2 yatim yang kehilangan ayahnya. Peperangan hanya menebarkan kebencian, peperangan hanya menabur penderitaan tak ada habisnya.
Akhirnya, setelah sekian lama keluarga Bush menguasai Gedung Putih, masyarakat dunia menjadi lelah. Warga Amerika menjadi lelah. Tampilnya sosok Obama dianggap angin baru bagi perubahan Amerika dan dunia. Tapi apa benar begitu? pada saat semua orang histeris keadilan bakal datang, kedamaian bakal tiba setelah pria kulit hitam itu menguasai gedung putih, aq justru bertanya sekali lagi. Apa benar?
Boleh dong beda pendapat. Keraguan itu muncul karena ada kata2 Obama yang menjadi slilit. "Saya memang akan menarik pasukan dari Irak. Tapi saya akan menambah pasukan ke Afganistan,". What the hell is this?.. Tidaklah disebut perubahan jika pemimpin Amerika hanya berganti kulit. Perubahan hanya akan terjadi jika ada paradigma baru pemimpin Amerika. Begitu kata Ketua Parlemen Iran Ali Larijani yang dirilis sejumlah media internasional seperti AP, AFP dan CNN.
Obama memang jagonya pasar modal. Anjloknya ekonomi Amerika yang berimbas pada ekonomi dunia banyak yang optimistis bakal selesai setelah Obama naik ke Gedung Putih. Tapi bagaimana dengan kebijakan perang...perang...perang...yang dibenci semua orang itu, yang ternyata masih belum akan berhenti itu?..bagi yang tahu jawaban ini, silakan jawab...boleh dong qta berpikir beda.

***
Mari sejenak kita tinggalkan soal Obama. Eksekusi Amrozi CS. Tadi pukul 00.00, TV One dan Global TV live soal eksekusi trio bomber Bali I 12 Oktober 2002 itu. Lapas Nusakambangan, Serang, Banten tempatnya Imam Samudra dan Lamongan tempatnya Amrozi menjadi perhatian utama sorotan kamera. Dari layar kaca TV seorang reporter melaporkan Amrozi CS telah dibawa keluar dari Lapas pukul 23.00 untuk dieksekusi. Tapi hingga pukul 00.30 belum ada kabar apakah benar sudah dieksekusi atau belum lantaran jasad kaku para bomber belum sampai di klinik lapas yang sudah disiapkan. Di Serang, simpatisan Amrozi CS dari JI berduyun2 datang dengan meneriakkan kata2 kecaman yang diiringi gema suara takbir. Sementara di Lamongan, ribuan aparat kepolisian dari Polwil Bojonegoro tengah malam didatangkan untuk menjaga rumah Amrozi dan seluruh titik rawan di Lamongan. Malam itu, suasana rumah Amrozi sendiri sunyi senyap. Ponpes sendiri telah dinyatakan tertutup bagi kalangan wartawan. Sehari sebelumnya, para tetangga, simpatisan, kiai, ulama hingga tokoh partai datang silih berganti ke rumah bomber Bali I yang menunggu ajal untuk memberi dukungan moril kepada keluarganya.
Belum juga laporan dari TV memastikan Amrozi CS sudah dieksekusi atau belum, sebuah pesan singkat masuk di HP bututku. Jam dinding aq lihat sudah pukul 02.15 dini hari. Isinya begini: "Teman2, pagi ini jam 9 akan ada doa bersama dr teman2 Yayasan Anand Ashram,serentak d beberapa kota,atas eksekusi mati amrozi cs.Doa ini brtujuan agar arwah mrk d ampuni & d terima Tuhan Yang Maha Kuasa & agar tindakan seperti mereka tdk trulang lagi d Indonesia tercinta.Kt jg mndoakn bg para korban agar tenang & damai.tks,". Sms itu ga aq edit biar persis seperti aslinya yang dikirim. Begitu bangun tidur, hampir seluruh stasiun TV menyiarkan Amrozi CS telah dieksekusi pukul 00.15 dinihari. Jasadnya langsung diterbangkan ke rumah duka di Serang dan Lamongan. Suasana riuh menyambut jasad bomber tersebut. Teriakan takbir para simpatisan tak henti2nya diselingi kata2 trio bomber bukan teroris tapi mujahid.

***
Jika melihat suasana tersebut dan tidak tahu latarbelakang kenapa ketiganya dieksekusi mati, orang akan bertanya2. Mereka itu sebenarnya siapa sih. Pahlawan atau penghianat? bukankah tujuannya memborbardir Amerika. Tapi kenapa yang jadi korban warga setempat. Jika yang jadi korban turis asing, toh mereka juga tidak tahu menahu dan tidak ada kaitannya dengan kebijakan politik. Lalu kenapa harus dikorbankan? Apakah mereka tidak berpikir bagaimana nasib para anak yatim piatu yang orangtuanya tewas akibat bom yang mereka ledakkan. Siapa yang akan mengurus mereka, bagaimana masa depan anak2 tak berdosa itu tumbuh tanpa orangtua? wahai para martir, di mana hati nuranimu? bukankah Alquran dan ucapan Nabi Muhammad SAW telah sangat jelas. "Tidaklah diterima sholat seseorang jika menyia-nyiakan anak yatim". Lalu bagaimana dengan anak yatim di Bali? akibat bom, mereka tidak saja diciptakan menjadi yatim, tapi juga disia-siakan setelah menjadi yatim. Jihadul akbar, jihadun nafsi. Jihad yang paling besar adalah jihad melawan hawa nafsu. Nafsu untuk membunuh, merusak, atau menebar teror. Justru, disebut jihad jika seseorang mampu menebar kedamaian. Afsus salam bainakum. Sebarkanlah salam di antara sesamamu. Salam bukan hanya diartikan secara sempit dengan mengucapkan assalamualaikum. Salam lebih diartikan bagaimana seseorang bisa menjaga keselamatan sesamanya. Menjaga dan membantu. Mengentaskan kemiskinan, memberantas pengangguran, menjaga anak yatim, menularkan ilmu pengetahuan atau skill. Bukankah agama itu rahmatan lil alamin!

***
Ada dua kelompok besar ketika Amrozi CS dieksekusi mati. Pertama para korban. Jelas mereka mengecam keras aksi pengeboman itu dan menuntut agar trio bomber segera dihukum mati. Jika tidak, pemerintah dianggap lelet, ga punya sikap, ga pro kemanusiaan dan sebagainya. Kelompok lainnya, tindakan eksekusi mati yang dijatuhkan kepada trio bomber salah kaprah. Pemerintah dianggap kaki tangan Amerika. Ato kepanjangan tangan negara kafir. Isu teroris tak lebih hanya pesanan politik Amerika. Agar Indonesia tidak diembargo atau tidak diblacklist oleh Amerika layaknya Irak yang berujung munculnya klaim sahnya sebuah penyerbuan. Mengorbankan segelintir orang demi menjaga hubungan dengan Amerika (untuk tidak menyebut dunia) dianggap lebih nasionalis. Bahkan, ada kabar yang beredar, setiap ada penangkapan, Amerika bakal memberi bonus 100 juta US dolar. Tapi bukankah itu zaman Bush yang menyatakan Islam telah menciptakan para teroris. Tapi bagaimana jika kepemimpinan telah berganti kepada Obama yang dianggap kemenangan kaum minoritas, kemenangan kaum tertindas? wahai para martir, haruskah kalian tetap akan menebarkan teror sementara elit Amerika telah berganti? kebijakan politiknya barangkali? semoga jawabannya TIDAK alias cukup sudah pengeboman itu.
Dua sisi itu selalu muncul di dua kelompok yang bersebarangan. Para korban bom dan para simpatisan bomber yang dieksekusi mati. Dua2nya tak lebih hanya menebarkan kebencian satu sama lain. Jika mata dibalas dengan mata, yang ada hanya dendam. Lalu jika begitu, kapan negeriku ini akan damai?..

***
Aq sebenarnya ingin berpikir, eksekusi mati yang dilakukan pemerintah bukannya memutus mata rantai para teroris. Justru, eksekusi mati itu semakin mengobarkan dendam para simpatisan atau pengikut Amrozi CS. Eksekusi mati dianggap luka yang harus dibalas. Apalagi, media memblow up besar-besaran. Jika anda melihat suasana di rumah Imam Samudera di Serang atau Amrozi di Lamongan akan tampak betapa eksekusi itu telah memancing emosi. Teriakan takbir yang tak henti2nya, blokade pengikut Amrozi di pintu gerbang masjid atau pemakaman dengan tidak mengizinkan aparat memasuki areal tersebut adalah bukti nyata yang betapa amarah itu telah tersulut.
Sinyal itu jelas terlihat dari pernyataan Menlu Australia Stephen Smith yang melarang warganya berkunjung ke Indonesia dengan alasan dikhawatirkan ada aksi balasan dari kelompok atau simpatisan Amrozi CS. Bahkan sejak kabar Amrozi CS akan dieksekusi, para pengikutnya sudah berancang2 akan meledakkan sejumlah gedung yang menjadi pusat keramaian. Bukti nyata pada 23 Oktober lalu dengan ditemukannya 3 kg bahan peledak beserta alat2 lain di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Pelakunya yang bernama Wahyu itu siap akan meledakkan depo pertamina dan membalas elit negeri ini yang memerangi terorisme. Lagi2, kekerasan akan selalu dibalas dengan kekerasan. Teori spiral kekerasan itu memang tak pernah lekang oleh waktu.
Bagiku, untuk menghentikan terorisme di negeri ini tidak perlu ada hukuman mati yang bisa menyulut amarah para martir2 lain. Atau justru menciptakan martir2 baru. Apalagi tayangan media memblow up tak henti2nya. Justru, jika mau menghentikan terorisme, setelah pelaku ditangkap, hukumlah seumur hidup. Diasingkan ke tempat terpencil jauh dari jangkauan media dan masyarakat dan dijaga ketat. Dengan begitu, para teroris telah mati secara sosial. Terputus hubungan komunikasi dengan pengikutnya dan masyarakat luas. Tidak ada ekspose besar2an oleh media yang bisa menyulut amarah para pengikutnya atau menciptakan para martir2 baru.
Sementara untuk pencegahan dini, seluruh pemuka agama, rohaniwan harus bergerak secara intensif ke masyarakat menjelaskan apa sebenarnya inti agama itu. Termasuk menggandeng sejumlah ponpes yang ditengarai berhaluan garis keras agar secara sadar elit agama setempat juga bersedia memberi pemahaman kepada santrinya bahwa tidak ada agama yang mengizinkan adanya kekerasan. Jika itu dilakukan secara terus menerus, massal dan massif, bisa menjadi alat rekayasa sosial pencegah terorisme secara ampuh. Untuk bisa mencegah terorisme bukan dengan cara hukuman mati, tapi bagaimana mencuci kembali otak mereka, pikiran mereka dengan ajaran yang pro kemanusiaan, ajaran yang pro terhadap kedamaian. Ajaran tanpa kekerasan.
Dan kunci terakhir yang juga sangat menentukan, pemerintah juga harus konsisten dalam menegakkan keadilan. Jangan hanya kaum miskin, kelompok bawah di luar sistem yang diberangus, tapi juga elit2 politik jika terbukti bersalah juga harus dibabat habis. Intinya, jangan lagi ada diskriminasi.
Kemudian, dari sisi sosial, pemerintah harus memprioritaskan bagaimana memperkecil jurang kesenjangan antara yang kaya dan miskin. Pemberian kesempatan kerja seluas2nya bagi warga miskin, minoritas harus diutamakan. Pemberdayaan masyarakat bagi kelompok yang tidak mampu harus terus dilakukan hingga mereka bisa mandiri dari segi ekonomi. Yang lebih penting lagi, kebijakan yang tidak berpihak masyarakat banyak harus dihentikan.
Karena, kesenjangan itu juga bisa memicu tumbuh suburnya bom2 waktu yang bisa menjelma menjadi apapun. Apakah itu terorisme, premanisme hingga kerusuhan sosial.
Bukankah itu yang telah diterapkan Eropa. Buktinya mereka mampu mencegah munculnya aksi terorisme meskipun hukuman mati telah dihapuskan. Karena hukuman mati itu sendiri juga dianggap budaya jahiliyah yang mengebiri hak asasi manusia yang paling dasar. Yakni hak untuk hidup. Maka, negara yang pro kemanusiaan pun tak heran jika menghapuskannya. Karena, itu juga bisa mencegah aksi balas dendam atau aksi kekerasan susulan jika yang ditangkap merupakan pemimpin yang memiliki massa dalam jumlah besar. "Mencegah itu lebih baik daripada mengobati".

01 November 2008

Penguasa Yang Gagap Versus Penguasa Yang Tanggap


Selama dua hari kemarin, Kamis (30/10) dan Jumat (31/10), Wagub Prijanto marah2 ke temen2 yang liputan di balaikota. Tapi aq yang menjadi sasaran. Gara2nya, temen2 mengecam Pemprov DKI yang dianggap melanggar kebebasan pers dengan dikeluarkannya kebijakan setiap pertanyaan yang diajukan kepada Gubernur, Wagub, Sekda serta jajaran di bawahnya harus melalui sms atau fax yang dikirimkan satu hari sebelumnya. Maksimal pukul 20.00 sudah harus masuk. Kontan saja arahan Wagub itu mendapat kecaman keras. Masalahnya, dalam surat edaran nomor 1993/079.32 itu, tidak dijelaskan kapan pertanyaan bisa dijawab. Esok harinya, atau harus menunggu seminggu kemudian. "Wajarlah kita protes. Justru poin itu yang seharusnya dijelaskan. Bukannya itu inti arahan dari Wagub," kata temen2 protes.
Memang, untuk menertibkan liputan di balikota, Wagub DKI menginginkan sistem seperti di Istana Presiden atau Wapres. Setiap usai kegiatan atau ada pertanyaan langsung digelar jumpa pers. Duduk satu meja dalam sebuah ruangan. Bisa 15 menit atau setengah jam. Jika Gubernur, Wagub, Sekda berhalangan bisa diwakilkan. "Tapi Kepala Biro Humas (Pak Purba) gagal menerjemahkan arahan Wagub. Wajar jika anak2 berang. Bukankah Wagub dah bilang setelah pertanyaan dikirim via sms malam harinya, lalu disepakati ketemu di mana jam berapa," kata temen2 marah besar.
Ujung2nya, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo terkena imbasnya. "Maaf saya tidak bisa menjawab pertanyaan temen2. Dilarang humas," kata Foke lantas ngeloyor begitu saja.
Pak Purba yang berusaha memberikan klarifikasi di press room malah gagal dan justru emosi. Begitu juga Kabag Media Massa Pak Yuswil. Pak Purba bilang, tidak ada larangan door stop. Jika ada yang mau door stop silakan saja. Tapi jika benar diperbolehkan, kenapa Gubernur jadi bersikap ketus seperti itu. "Barangkali saja Gubernur lagi sakit perut. Jadi enggan untuk menjawab pertanyaan," kata Pak Purba gelagapan menjawab sekenanya. Tentu saja jawaban Pak Purba dianggap bukan sebuah solusi dan tidak menjawab inti persoalan.

Gara2 sikap itu, Pemprov dikecam habis2an. Semua ikut mengecam. Mulai pengamat hingga praktisi pers. Termasuk Wakil Ketua Dewan Pers Sabam Leo Batubara. Sikap itu dianggap melanggar UU Pers no 40. Pasal 18 menyebutkan, barang siapa yang menghalangi atau melarang kinerja wartawan untuk memperoleh informasi dapat dikenakan hukuman pidana penjara selama dua tahun atau denda sebesar Rp 500 juta.
Rabu (29/10), atau keesokan harinya, temen2 mencoba yang terakhir kalinya untuk tetap door stop Gubernur. Jika tetap ditolak, siap2 saja untuk diboikot. Tapi niat baik temen2 disambut Gubernur. Usai melantik pengurus lembaga tilawah DKI, temen2 menunggu di depan ruang Balai Agung. Dengan langkah pelan, Foke mendekati kami. "Bagaimana! apa yang bisa saya jawab," katanya dengan suara pelan. Suasana pagi itu terasa sangat kaku. Baik Pak Fauzi Bowo maupun temen2 terasa ada jarak. Masing2 takut2 kalau2 menyinggung satu sama lain. Setelah selesai menjawab seluruh pertanyaan, Foke nyeletuk. "Ga usah lewat sms juga ga papa. Kalau mau tanya, tanya aja. Saya sih ga masalah kalau ada yang mo tanya langsung," katanya seraya melirik Pak Purba yang berada di sampingnya. Nah Lo...? kok bisa beda antara Gubernur dan Kepala Biro Humas..
Usai rapat paripurna di DPRD, Wagub Prijanto akhirnya mengambil inisiatif agar temen2 ke ruang rapat BPUT. Di ruang itu, semua diam. Lalu aq berinisiatif mengawali pertanyaan seputar revisi perda hasil hutan. Setelah suasana agak cair, temen2 pun mulai ikut mengajukan pertanyaan satu per satu.
"Kalau seperti ini kan enak. Ngobrol di ruang AC, dijawab dengan jelas, lengkap. Enak ga Ak!," kata Wagub tiba2 bertanya kepadaku. Spontan aq jawab. "Enak Pak Wagub," kataku singkat. "Kalau enak kenapa kmrn ditolak. Melanggar kebebasan pers lah. Kita itu niatnya baik. Biar kalian tidak keleleran di tangga. Biar elit dikit kayak di Istana Presiden. Kalian itu bukan wartawan kecamatan yang duduk lesehan di lantai. Ini Ibukota!," kata Wagub menerangkan panjang lebar. "Siap Pak Wagub. Kmrn salah paham. Soalnya Pak Purba tidak menjelaskan ada jadwal pertemuan seperti ini. Temen2 tahunya hanya suruh kirim pertanyaan via sms tanpa tahu kapan akan dijawab," jawabku.
Sebelumnya, kesalahpahaman memang pernah terjadi. Saat Kepala Humas masih dipegang Pak Arie Budiman. Aq sempat dilabrak habis. Katanya dia ditelpon sekda sambil marah2. "Kamu dibayar berapa sama orang belakang mau2nya ngutip," kata pak arie membuyarkan hari liburku. Saat itu aq menulis soal dugaan korupsi Rp 800 miliar di Dispenda. Kebetulan yang ngasih data pak Dani Anwar orang PKS. Sementara PKS merupakan lawan seteru Fauzi Bowo-Prijanto saat Pilkada. Kontan saja dibilang begitu aq marah besar. "Kalau gue dibayar, silakan cek ke Pak Dani. Kalau dia benar ngasih duit, saya bayar bapak dua kali lipat dibanding gaji kepala biro yang bapak terima," kataku kesal. "Saya nulis soal dugaan korupsi karena itu program pak fauzi bowo. Transparansi dan keterbukaan. Bukankah itu yang gubernur inginkan. Kalau Pak Arie marah, besok saya akan bilang ke gubernur kalau pak arie tidak mendukung program gubernur," kataku kesal.
Memang, sejak kepemimpinan DKI dipegang Foke, semua jadi sangat sensitif. Tidak seperti dulu saat Bang Yos. Yah, ga papa.. namanya juga pejabat.. angkuh itu biasa. Aji mumpung, mumpung lagi pegang kekuasaan...sementara gue ni siapa? tak lebih hanya rakyat jelata..yang mencoba cari tahu masih ada keadilankah di negeri ini..

Ulujami, 1 November 2008

30 Oktober 2008

Sakit Itu Bukan Mistis

Sejak istriku sakit mulai Minggu (26/10) kemarin, aq jadi terbebani. Antara mikir liputan dan menjaga perempuan Ambon itu. Belum lagi anakku Najwa Syifa yang selalu atraktif ogah terus2an dibiarkan di atas kasur. Maunya gerak sana, gerak sini. Kakinya nendang2 tanpa henti. Mulut mungilnya terus saja ngoceh tanpa habisnya. Sementara mamanya tak bisa berbuat banyak untuk meladeninya. Jika sudah capek bergerak dan tak ada yang meladeni, biasanya Najwa langsung rewel. Jika sudah begitu, istriku hanya bisa beri ASI sambil terbaring lemas di atas tempat tidur. Soalnya, badannya menggigil, lalu kepanasan, kepalanya terasa pening. Jika tidak dikontrol, seharian pasti ogah2an untuk makan. "Gimana mau sembuh kalau makan aj ga mau. Orang sakit bisa sembuh kalau suplai gizi tercukupi. Paling penting lagi, cairan harus terjaga. Makanya minum air putihnya banyakin. Jangan nurutin mulut yang pahit. Yang penting masuk perut," kataku berceramah panjang.
Soalnya, setelah aq buka2 situs di internet, gejala panas dingin kepala pening bisa jadi gejala DBD. Tapi kulit istriku aq lihat tidak ada tanda2 kemerah2an. Aq hanya bisa menebak2 sakit apakah istriku gerangan. Sebelum sempat ke dokter, aq hanya memastikan cairan dalam tubuh istriku harus tetap terjaga. Begitu pelajaran yang sempat aq ambil saat dulu sering liputan di IDI. Istriku memang agak bandel. Untuk pergi ke dokter aj alasannya buanyak banget. ga mau berangkat karena inilah itulah. Ada aj alasannya. Kemarin aq paksa ke dokter jery tapi alasannya ujan ga berhenti2. Aq bilang ya udah ga papa. Tapi awas kalo besok ga berangkat. Kataku sangat kesal.
Untuk bisa menemani istriku berobat memang sangat tidak mungkin mengingat waktuku banyak tersita untuk liputan. Jadi aq hanya bisa nyaranin untuk ke dokter ditemani Najwa putri mungilku. "Naik taksi kan bisa. Panggil aj ke rumah kalo ga kuat jalan ke depan," kataku marah2.
Soalnya kalau istriku sakit aq juga repot. Tidak hanya kepikiran saat liputan, tapi juga kalau dah di rumah harus bantu2 beres2 rumah. Macam nyuci baju, piring, gelas, buang sampah atau beres2in barang2 yang tercecer. Padahal, kalau dah balik dari kantor pukul 22.00, badan capeknya minta ampun. Nonton TV aj kadang2 mpe ketiduran. Tahu2 terdengar suara Najwa nangis tandanya dah pagi. "Dah ma ayah yang beresin, mama istirahat aj," begitu kataku kadang2 kalau dia memaksakan diri beres2 melihat rumah berantakan.
Setelah mengendap selama tiga hari di rumah, siang tadi akhirnya berangkat juga istriku ke dokter Jery di Kebon Nanas, Jakarta Timur. Dokter Jery merupakan dokter langganan istriku sejak kecil. Dia orang Ambon tapi lama tinggal di Jakarta. Orangnya ramah, pasiennya berjubel tiap sore hingga malam hari. Saat sakit dua tahun silam, aq juga selalu ke dokter Jery. Entah karena keyakinan atau karena kecocokan, setiap habis berobat langsung sembuh. Aq dulu sering sakit saat masih floating. Jika musim penghujan tiba, tiap hari harus basah2an. Meskipun pakai mantel. Ditambah angin yang bertiup sangat kencang sering menerobos sela2 mantel. Karena pikiran terforsir, fisik jadi ikut ambruk saat kelelahan. Apalagi saat itu kontraanku masih di Condet. Dari kantor graha pena di Jalan Kebayoran Lama butuh satu jam untuk nyampe rumah. Jika ngebut hanya setengah jam. Jika banjir tiba, aq merasa menjadi orang paling aneh. Sementara keluargaku kebanjiran, aq justru cari tempat banjir yang menimpa orang lain. Bahkan aq sempat berenang untuk menjemput istriku saat banjir di Bidara Cina Cawang Atas. Ga ada perahu, banjir aq ukur hampir di atas kepala lebih. Tapi sejak kami pindah di Pos Pengumben, aq jadi jarang sakit. Aq bilang ke istri, aq hanya sakit jika lagi tak punya uang. Jadi jangan direcokin. Apalagi buat tingkah yang bikin emosi.
Barusan pukul 22.30, istriku dah balik dari berobat di tempat dokter Jery. Dia bilang dokter ga mau bilang sakitnya apa. Hanya disarankan untuk banyak istirahat dan rajin memijat punggung pakai minyak kayu putih. Bagiku, kabar itu menggembirakan sekaligus mencemaskan. Kadang ketidaktahuan itu membuat orang celaka. Meskipun karena tahu justru tambah celaka juga banyak. Tapi bagiku, mengetahui masih lebih baik.
Setidaknya, kemauan istriku untuk berobat sudah 50 persen menuju kesembuhan. Selebihnya tinggal perawatan yang benar serta keyakinan akan mendapat kesembuhan dari Yang di Atas.
Soalnya, kadang2 jika istriku sakit sering tidak mau berpikir rasional. Sakit selalu dihubung2kan dengan mistis. Jika lagi sakit berarti tanda kalau ada keluarga yang terkena musibah. Memang, itu pernah dia alami. Tepatnya saat pertengahan puasa lalu. Saat berkunjung ke Cikoko, baliknya tiba2 menggigil. Lalu berganti kepanasan. Sesampai di rumah, aq hanya memberikan minuman air hangat banyak2. Aq bilang suruh minum dah dikasih bacaan biar cepet sembuh. Istriku buru2 langsung meminumnya hingga habis. Padahal sih ga dibacain apa2. Cuma buat support aj biar dia mau minum air putih. Lalu aq suruh istirahat sambil suruh pakai tasbih buat kalung. Soalnya, kabarnya kayu stigi jika itu asli bisa menyerap atau mentralkan bisa ular. Begitu bisa menyedot panas dalam tubuh atau hawa dingin agar seimbang.
Entah karena faktor apa, esok harinya langsung sembuh. Lalu pagi2 ada kabar dari pae ambarawa katanya pak tri kecelakaan dan meninggal dunia. "Kok mama tiba2 menggigil trus kepanasan kayak kemarin yah. Kira2 ada apa ya," tanya istriku. Dengan cepat aq menjawabnya. "Ada apa gimana. Kamu menggigil kepanasan itu artinya ada yang tidak beres. Tidak beresnya ada di tubuhmu, pikiranmu. Bukan di luar sana. Itu artinya kamu sedang sakit. Sakit itu ya sakit. ga ada hubungannya dengan mistis," kataku menerangkan sok ilmiah. Aq bilang seperti itu karena aq ingin istriku cara berpikirnya bisa sistematis. Jangan semua dihubung2kan dengan mistis. Kecuali jika sakit itu tidak wajar dan setelah dibawa ke berbagai dokter menyatakan tidak menemukan penyakit apapun. Tapi kenyataannya yang bersangkutan kesakitan. Kalau kondisinya seperti itu boleh qta ga berangkat ke dokter dan siap2 rajin2 duduk bersila tengah malam putar tasbih.

Ulujami, 30 Oktober 2008

27 Oktober 2008

Ambonku Jatuh Sakit

Setiap libur tiba, kumanfaatkan mengunjungi keluarga dekat. Kebetulan Sabtu kemarin ada acara temen wartawan balaikota ke pantai anyer, serang. Jadi terpaksa ga bisa mencurahkan waktu buat keluarga kecilku. Najwa anakku yang baru tiga bulan Sabtu itu harus kembali imunisasi. Kebetulan jatah DPT. Aq bilang ke Shelvia Jaflaun istriku untuk berangkat aj ke rumah sakit kartini cipulir meskipun tanpa aq temani. Kan bisa naik taksi. Begitu kataku menyarankan.
Sekitar pukul 13.00, sms masuk ke hp bututku. Istriku tanya apakah Najwa anakku harus diimunisasi pakai yang panas atau dingin. Jika pakai yang panas cukup bayar Rp 300 ribu. Kalau dingin Rp 500 ribu. Konsekuensinya, jika bayi diimunisasi yang panas akan sering menangis karena pengaruh obat. Karena mikir kasian, aq bilang pakai yang dingin aj. Kasian Najwa. Duit kan bisa dicari. Apalagi buat anak. Begitu jawabku via sms.
Karena dokter telat datang, para pasien yang mendapat nomor urut antre belakangan harus rela bersabar. Istriku bilang Najwa baru bisa diimunisasi sekitar pukul 14.00 karena saking banyaknya pasien. Aq bilang asal ga rewel ga masalah.
Selama aq berlibur di pantai anyer, istriku tak bosan2nya sms atau telepon. Apalagi jika Najwa ogah tidur atau nangis merengek2. Kata mamanya, jika sudah dengar suaraku bisa langsung diem dan mau tidur. Syukurlah. Kasian juga istriku jika Najwa rewel terus.
Sabtu sore aq dah nyampe kembali di Merdeka Selatan. Karena saking macetnya, dari balaikota pukul 17.00, nyampe kontraan di pos pengumben pukul 18.30. Ga tahu kenapa libur2 jalanan jakarta masih juga macet. Begitu nyampe rumah, istriku langsung memprogramkan acara kunjungan keluarga. Perempuan Ambon itu bahkan minta malam itu juga meluncur ke Cikoko, Pancoran untuk mengunjungi kakak kandungnya. Kak Mino. Anak ketiganya yang bernama Fabiano memang dua hari lalu terus nanyain Najwa. Dia menyebut adik wawa (jawa) kemana. "ga ada..adik wawa kemana..ga ada," begitu kata kak mino dari telepon menceritakan tingkah Bian yang selalu menanyakan Najwa.
Karena masih capek, aq menolak jika harus meluncur ke cikoko malam itu. Toh masih ada hari esok. Pagi sekitar pukul 10.00, setelah kelar beres2 rumah, istriku ngajak ke acara kawinan tetangga sebelah. Tapi aq bilang kalau harus datang biar dia aj yang berangkat. Atau kalau malu titipin aj amplop ke bude. Tapi istriku membatalkan rencana itu dan kembali konsen untuk mengunjungi keluarga ambon di cawang. Setelah memandikan Najwa, kami bertiga meluncur ke cikoko menggunakan sepeda motor bututku.
Bian, anak ketiga kakmino langsung girang begitu melihat Najwa datang. Adik wawa datang.. Begitu mulut mungilnya bicara terbata2. Sementara istriku, Najwaku bernostalgia, aq mulai menghubungi semua kawan yang hari ini masuk liputan. Sial, ternyata semua libur. Jika ada yang masuk pun tidak ada yang membuat berita. Hanya aq seorang. Justru mereka menunggu hasil tulisanku. Sial..bener2 sial. Aq sangat kesal dalam hati. Otak pun aq putar hingga 180 derajat. Ada kejadian apa hari ini. Ada berita apa yang bagus untuk diangkat esok hari. Siapa yang bisa dihubungi. Pertanyaan2 itu muncul di pikiranku secara berputar2. Sementara di balaikota hanya pak haji darul rakyat merdeka ama pak drajat lampu merah. Dia bilang taruna nihil.
Biasanya, sebelum helmi sindo ama nana republika pindah pos dulu, kami bertiga selalu berbagi isu apa yang akan kita angkat. Kadang2 juga pak bagus media indonesia ikut nyumbang pemikiran hingga mengurangi beban. Maklum, untuk kawan2 yang lain banyak yang libur. Atau jika masuk pun paling2 agak sorean telpon minta dipantulin. Maka, jadilah kita tim buser. Tapi sejak mereka berdua pindah, praktis hanya aq sendiri yang harus berjuang mati2an. Berpikir sendiri, cari narasumber sendiri. Puyeng juga puyeng sendiri.
Cikoko sore itu hujan tak mau berhenti hingga menjelang magrib. Alhamdulillah, sekitar pukul 19.30, semua tugas sudah selesai. Empat brita dah dikirim semua. Selama setengah jam aq tunggu, mas yani atau mas tir tak sms atau telpon. Artinya, halaman sudah aman. Sebab, sejak sis memutuskan libur hari minggu, di jakarta raya yang dua halaman itu hanya ada dua orang. Aq ama eos. Biasanya eos kebagian buat brita feature untuk boks serta brita2 lifestyle. Sisanya tengah, kirian ama HL aq yang harus mati2nya nyiapin.
Istriku bilang badannya ga enak. Dia menggigil. Sementara badannya aq terasa panas. Aneh, jangan2 kena DBD. Tidak berselang beberapa lama, istriku tak lagi menggigil, tapi justru kepanasan. Kakinya aq sentuh sangat dingin. Sebagian ada yang panas. Ni pasti darahnya ga lancar. Pikirku. Aq coba pijak telapak kakinya. Tapi tak banyak kemajuan. Istriku tetap saja mengeluh. Najwaku aq lihat masih tidur pulas setelah tidur sejak sore tadi. Karena ga kuat, istriku ngajak buru2 balik pulang.
Sampai di kontrakan pukul 22.00, istriku langsung rebahan. Aq suruh minum air putih hangat yang banyak lalu aq pijit kakinya kembali. Setelah aq yakin peredaran darah lancar, aq suruh tidur. "Yah, kalau mama sakit Najwa tar gimana," kata istriku mulai berpikir macam2. "Enak aja sakit. Kalau sakit ya ga ada yang ngurus. Kecuali Najwa aq ajak liputan. Mau aq gendong kesana kemari sambil liputan," jawabku sekenanya.
Sampai malam ini pun istriku masih terbaring di tempat tidur.. aq ajak ke dokter ga mau, suruh pijit ga mau, suruh makan ga mau, suruh istirahat ga mau alasan Najwaku rewel terus. Trus gimana mau sembuh.. aq jadi bingung...

Depan Kantor Graha Pena saat menunggu tukang sate ngipas2, 27 Oktober 2008

Melepas Penat ke Pantai Anyer


Terakhir aq mengunjungi pantai ini sekitar tiga tahun lalu. Saat masih bertugas di Bogor. Tiga tahun berlalu, pantai Anyer masih seperti dulu. Tidak banyak yang berubah. Hanya bangunan yang kulihat menjamur sepanjang pantai. Sejak kawasan pabrik baja krakatau steel hingga karang bolong. Villa, cottage, hotel atau gubuk2 sederhana banyak dibangun untuk tujuan komersil. Nyaris, sisi kanan dan kiri jalan tak ada lagi lahan yang tersisa. Kawasan pantai pun tidak seluruhnya bebas untuk umum. Setiap pemilik villa, cottage, atau hotel memberi batas pantai sebagai wilayahnya dengan cara ditembok. Jika ada yang mencoba menerobos, harus membayar sebagai kompensasi. Aneh..! baru kali ini pantai dikotak2 jadi milik privat. Demi kepentingan komersil tentunya.
Setelah berangkat dari Jakarta pukul 22.00, pukul 00.30 kami nyampe pantai carita, Anyer. Lumayan jauh juga. Padahal, kami menggunakan bus enjoy Jakarta. Tapi perjalanan tak terasa karena kuhabiskan sambil chating dengan kawan sam di Bogor. Sementara kawan2 yang lain dengan riangnya bernyanyi di dalam bis sambil teriak2. Memang perjalanan ke Anyer untuk liburan melepas penat tugas harian yang membosankan.
Sampai di Anyer, pemilik villa langsung mempersilakan santap malam. Suasana cukup cair malam itu. Karena sambil makan, ada potan ben radio yang gile itu terus menerus melucu mencari simpati. Jika sudah kehabisan bahan lawakan, giliran si billy CTV yang menjadi bahan ledekan. Sesekali aq ikut tertawa lepas sambil sesekali menghisap rokok dalam2.

Usai santap malam, anak2 banyak yang nongkrong di pantai. Suara tawa lepas masih terdengar bersahut2an atau bergantian di depan warung si mak. Isi pembicaraan masih seputar topik di meja makan. Tapi ada saja yang bikin bahan tertawaan. Sebagian anak2 aq lihat ada juga yang berlari2an di pantai sekedar nendang2 bola. Ada heru bisnis indonesia, guruh poskota and entah siapa lagi. Pokoknya tendang sana tendang sini. Semua cukup hepy malam itu. Semua tertawa lepas. Semua bergerak bebas. Lari kencang dan menendang bola sekuat2nya.
Aq memilih duduk di kursi menghadap pantai. Air laut tak terlalu jelas terlihat. Hanya suara deburan ombak yang membahana. Sementara pak harto investor daily samar2 terlihat seperti melakukan ritual menghadap laut. Tangannya gerak2 diayunkan pelahan dari atas ke bawah. kata anak2 biar di jakarta sukses. "Kamu kok diem sendiri ak. Inget anak ya," kata seorang kawan tiba2 menyapa.
Malam itu memang pikiranku terbelah dua. Satu sisi ingin menumpahkan seluruh kepenatan pikiran, satu sisi bayang2 anakku si Najwa selalu saja muncul. Aq membayangkan malaikat kecilku duduk di pangkuanku. Sementara mamanya duduk di sampingku. Angin sepoi2 lalu menerpa kami bertiga disertai suara deburan ombak. Lamunanku buyar ketika hp bututku terdengar melantunkan ayat2 suci. Satu pesan singkat sedang masuk. Melalui sms istriku bilang Najwa rewel terus ga mau tidur. Padahal, arloji aq lihat sudah mendekati pukul 02.00. Buru2 aq menelfonnya.
Mendengar suaraku, Najwaku langsung diem dan mau tidur. Dasar anak manja..
Pagi harinya, cuaca sangat cerah. Semua bersenang2 di pantai. Untuk menambah semarak, bapak2 nelayan menawari kami naik perahu karet yang ditarik boat. Sekali angkut untuk lima orang. Semua dibekali pelampung. Di depan tempat duduk disediakan sebuah tali untuk berpegangan. Pelan2 boat menarik tali yang telah dikaitkan. Perahu karet yang kami tumpangi melaju dengan kencangnya. Kanan kiri berpacu dan menabrak dengan ombak. Kamipun pontang panting atas bawah menyesuaikan deburan ombak. Setelah satu putaran habis, boat melaju dengan kencangnya ke kanan lalu tiba2 dibanting ke kiri. Hasilnya, kami semua terjungkal. Mata, hidung, kuping, terasa pengab kemasukan air. Untungnya kami mengapung karena memakai pelampung. Setelah berusaha naik ke perahu karet, boat kembali menarik kami memutar. Setelah dua putaran, kamipun dibanting kembali dengan kerasnya. Semua terdorong ke depan lalu tercebur ke laut tanpa ada yang tersisa. Secara bergantian, kawan2 bergantian merasakannya. Ada yang shock berat kembali ke pantai dengan mata merah sambil muntah2. "Sialan lu ga nolongin gw. Gw ga bisa berenang tahu gelagapan," kata salah seorang kawan setiap balik dari pantai. Jawaban yang munculpun tak pernah berubah. "Ngapain juga ditolong, kan dah ada pelampung. paling2 juga ngapung. bodoh, dasar penakut".
Jika kuingat kejadian sepele di pantai pagi itu, aq langsung teringat malapetaka kapal levina 2006 dulu. Kenapa juga kawan2 yang dulu meliput levina yang terbakar tak ada yang memakai pelampung. Benar2 bodoh. Atau barangkali sok bisa berenang kali. atau tak tahulah.. karena kadang2 kita memang sok angkuh padahal sebenarnya kita tak mampu. Jika kuingat, saat itu aq sendiri selamat berkat uang 10 ribu. Karena setiap yang akan ikut kapal harus bayar 10 ribu per orang. Hampir smua anak tv ikut pada naik. Hanya yang cetak, radio ama online yang enggan ikut naik. Itung2 daripada untuk liat bangkai kapal mending buat beli kopi sambil merokok menunggu kabar dari kapal KRI. Sapa tahu ada kabar ditemukannya mayat baru. Karena hanya itu yang kami tunggu. Tapi nahas, yang kami dengar bukannya jasad kaku para penumpang kapal levina yang hanyut tiga hari lalu itu. Tapi jasad kawan2 kita yang dua jam lalu masih sempat bersenda gurau dan tanya sudah ada kabar apa dari levina yang terbakar. Tapi jawaban itu mereka sendiri yang jawab. Karena mereka datang kembali ke pelabuhan sudah menjadi mayat. Semoga kebodohan2 seperti itu tak pernah terulang kembali.

18 Oktober 2008

Kemacetan di Tengah Kepulan Asap Sate Rawabelong

Kemacetan di Jakarta seperti sudah menyatu dalam kesibukan warganya. Hampir selama 12 jam penuh, kemacetan tidak pernah berhenti. Sejak jantung kota berdenyut dengan kencangnya pada pukul 06.00 pagi, hingga pukul 00.00 malam nyaris tak ada jalan yang tak macet. Paling tidak, jika tengah malam, kemacetan akibat ulah angkot2 yang ngetem sembarangan atau sengaja berhenti di tengah jalan sembari sopirnya tengok kiri kanan cari penumpang.
Jalur Kebayoran Lama, Rawabelong, Kemanggisan, Palmerah, Petamburan, Jatibaru, nyebrang Sudirman Thamrin tembus Kebon Sirih sudah ribuan kali aq lewati. Sebelumnya memang setiap kali akan meluncur ke kantor Gubernur DKI di Jalan Merdeka Selatan, aq selalu menggunakan jalur Palmerah, Slipi. Tapi saat ini, kemacetan di daerah itu sudah sangat parah. Angkot yang ngetem berjajar kiri, tengah, kanan sudah tidak tidak manusiawi lagi. Makian, cercaan tidak lantas merubah keadaan. Satu angkot yang berhenti menghadang di tengah jalan menyingkir, datang lagi angkot di belakangnya dan berhenti di tempat yang sama. Anehnya, mereka tidak menurunkan atau menaikkan penumpang. Tapi hanya sekadar ngobrol dengan sopir angkot lain yang terlebihdahulu ngetem di pinggir jalan. Alhasil, seluruh ruas jalan terhadang. Suara klakson, makian hampir menjadi rutinitas. Itu selalu terjadi setiap waktu sepanjang Palmerah depan Polsek, sepanjang pasar hingga Slipi. Belum lagi ditambah pedagang sayur yang sudah siang bolong tak kunjung bubar setelah berdagang sejak pagi buta atau bahkan tengah malam. Berhasil lepas terjebak kemacetan di Palmerah-Slipi, kemacetan di Petamburan siap menanti. Kemacetan semakin parah terus terjadi sepanjang pasar hingga stasiun Tanah Abang. Bukan hanya angkot yang ikut menambah runyam jalanan, para pedagang kaki lima hampir menghabiskan separoh jalan. Siapapun yang pernah lewat situ, pasti akan ngrasain yang namanya jengkel dan marah. Memang sekali melewati jalur itu, tidak ada pilihan lain. Sebab, pertigaan Petamburan yang biasanya terbuka tiba2 ditutup portal oleh Dinas Perhubungan DKI. Berulangkali kita kritik, bebal juga pejabat Dishub itu. Kasian juga yang tinggal di sepanjang Petamburan. Jika mengikuti aturan harus memutar jauh hingga jalan S Parman. Alih2 menghilangkan kemacetan di pertigaan itu, justru kemacetan di titik-titik lain semakin banyak dan menyebar. Penduduk setempat pun tak ambil pusing. Meskipun diportal, terjang saja daripada harus memutar jauh. Akibatnya, saat ini, pertigaan Petamburan justru menjadi kemacetan baru lantaran banyak warga yang nyelonong potong kompas. Tidak hanya bikin macet, tapi juga sering hampir terjadi tabrakan. "Sudah kami kaji secara mendalam," kata pejabat Dishub. Tapi dalam hatiku bilang "Mbel gedes. Trima laporan anak buah yang ABS doang ga tahu kondisi lapangan. Sekali kali dong terjun langsung pelototin seharian biar tahu kalau kebijakan menutup dengan portal adalah kebijakan bodoh,".
Lho, kok jadi marah2 sih...gimana ga marah kalau setiap hari harus telat hadiri acara gubernur gara2 terjebak kemacetan. Bayangin aj, masak dari Kebayoran Lama hingga ke Merdeka Selatan satu jam lebih. Edan tenan. Kembali ke cerita kemacetan.
Setelah kapok lewat Slipi, haluan kuputar arah. Kemanggisan adalah alternatif terakhir. Lumayan sih, jika macet paling2 setengah jam. Jika lancar, 15 menit sudah sampai. Tapi kadang2 di jalur tersebut juga sangat menjengkelkan. Terutama di setiap pertigaan. Jarak antar pertigaan tidak lebih dari 50 meter. Kemacetan paling parah ada di pertigaan Binus. Gara2nya, pak ogah yang nyambi cari duit dengan cara membantu mobil mewah menyeberang atau potong kompas setelah parkir. Dari kanan ke kiri, dari kiri ke kanan. Bahkan dari depan putar arah ke belakang. Yang lebih menjengkelkan lagi, sudah sabar ditunggu untuk menyeberangkan mobil mewah, masih saja tak tahu diri. Mobil mewah selanjutnya didahulukan dan berikutnya dan berikutnya. Padahal, kemacetan di belakang sudah 100 meter lebih. Jika satu macet, seluruhnya jadi macet. Sebab, kendaraan yang datang terus bertambah. Tidak hanya dari arah Kebayoran Lama tapi juga dari arah Kemanggisan. Pak ogah baru bersedia minggir setelah raungan klakson bersahut-sahutan memekakkan telinga. Belum lagi yang emosi pasti akan mengumpat keras2. Yang sudah terbiasa paling2 hanya melihat2 jam tangan terus menerus sambil mencari2 celah siapa tahu bisa mendahului mobil di depannya.
Dari sejumlah pertigaan yang berada di sepanjang kawasan itu, menurutku, pertigaan Binus yang paling keterlaluan. Masih mending kalau pagi ada satpam kampus yang secara telaten mengatur jalan. Jika matahari sudah terbenam, praktis pak ogah yang berkuasa.
Malam itu kebetulan aq dah kelar liputan. Brita sudah dikirim semua. Arloji aq lihat sudah pukul 20.00. Artinya harus segera meluncur ke kantor. Apalagi saat baru beranjak meninggalkan Balaikota mas tir redaktur jakarta raya minta dibuatin brita lagi. Malam itu, sejak keluar dari kantor gubernur, jalanan sudah mulai macet. Merdeka Selatan, Indosat, KPUD, Hotel Milenium hingga perempatan Jatibaru hanya bisa merayap. Sekali jalan, berhenti lagi. Jalan sebentar berhenti lagi. Itu terus terjadi sepanjang jalan hingga Kemanggisan. Brita kemacetan sudah ribuan kali kita tulis bersama kawan2 yang lain. Dua bulan lebih, hampir setiap hari ada brita soal kemacetan. Ujung2nya, sadar juga gubernur ama kapolda. Operasi jala jaya untuk mengurai kemacetan pun digelar. 15 ribu personel diterjunkan. Tapi itu crita lama. Hanya berjalan tiga bulan. Setelah itu tak ada kelanjutannya hingga saat ini.
Back to pertigaan Rawabelong. Setelah berhasil berjalan merayap, motor bututku praktis tak bisa jalan lagi. Untuk menyelip ke kiri, dihadang angkot. Buntu ces. Untuk menyalip lewat kanan nyaris tak ada ruang mengingat kendaraan dari arah yang berbeda sangat mepet. Cukup untuk lewat satu mobil. Sebab, jika malam tiba, jalur tersebut nyaris hampir kepotong dua ruas dari arah utara. Dari selatan hanya tersisa cukup satu mobil. Jika angkot berhenti satu menit saja, kemacetan semakin tambah panjang.
Jika sudah begitu, klakson akan terdengar bersahut2an. Jika tidak sabar, suara2 sumbang akan terdengar. "Hoi, gantian hoi..". Dari samping teriakan terdengar. Disusul lagi teriakan di belakangnya yang memaki2 pakai bahasa indonesia dengan baik dan benar. Busyet deh. Jadi ikut2an emosi nih. Setelah berhasil menelikung ke kanan dan ke kiri mencari sela2 yang kosong sampai juga di ujung kemacetan. Pertigaan Rawa Belong. Malam itu asap sate mengepul menutupi hampur seluruh jalan. Baunya menyengat sekali. Pak ogah yang berdiri menghadang di tengah pertigaan persis tak henti2nya mencoba mengeruk keuntungan dari macetnya jalanan. Satu mobil mewah dikendarai seorang mahasiswi mencoba potong belok arah. Tapi terhadang. Pak ogah langsung sigap mengawal seraya menyetop kendaraan yang mencoba melintas. Selesai menyebarang, pak ogah terlihat mengintip di balik kaca pengemudi. Siapa tahu pemilik mobil memberikan recehan. Tapi yang didapat justru lambaian tangan. Dari wajahnya aq lihat kesal sekali dia. Lewatnya mobil tersebut aq coba gunakan untuk menerobos, tapi pak ogah dengan sigap lagi menghentikan laju motorku. Persis di samping tubuhnya hanya berjarak 30 cm. Untungnya aq langsung rem mendadak. Setelah kali ini, mobil dari arah sebaliknya dipersilakan melintas. Lagi2 usai menyebarangkan mobil itu, pak ogah hanya geleng2 kepala. Kaca samping kemudi yang diketok2 hanya dibalas lambaian tangan. Aq pun jadi marah sekaligus kasian. "Orang kaya pelit lo belain. Giliran motor lo hadang2. Emang ga tahu macetnya di belakang sana berapa panjangnya," kataku akhirnya kesal. Aq mencoba merogoh kantong jaketku. Siapa tahu ada uang ribuan yang bisa kuberikan pada pak ogah itu. Biar dia punya sadar dikit. Jangan hanya orang kaya yang diprioritaskan. Apalagi kalau pelit kayak gitu. Udah macetnya minta ampun, dibela2in, ngasih gopek aja kagak. Keterlaluan..!
Asap sate di pertigaan Rawabelong aq lihat masih terus mengepul. Ada yang menutup hidung, ada juga yang justru menghirupnya dalam2. Lumayan dapat bau sate.
Setelah berhasil melewati pertigaan Rawabelong, hatiku langsung lega. Sejauh mata memandang tak ada kemacetan lagi. Sementara di belakang sana, suara2 klakson masih aq dengar sayup2 sampai. Selamat jalan kemacetan. Sampai ketemu esok hari lagi. Busyet..pagi2 hari libur masih macet..untungnya si kecil ga rewel. Jakarta..Jakarta..

Penas, 18 Oktober 2008