Tampilkan postingan dengan label Catatan Buat Keluargakoe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Buat Keluargakoe. Tampilkan semua postingan

16 April 2010

namamu zia

ZIA AHMAD SYIFA..
RS PELNI Petamburan, 13 April 2010 pukul 02.05, kau terlahir ke dunia

02 Februari 2009

Ambonku Pergi untuk Selama-lamanya.. (2)

Kejamnya Lalat-Lalat Rumah Sakit...!

Dua minggu sudah istriku tercinta Shelvia Jaflaun terbujur kaku di TPU Cikoko, Pancoran, Jakarta Selatan. Senin, 19 Januari 2009 pukul 05.30, menjadi hari terakhirmu menatap dunia dengan segala warna kelabunya. Sesal itu seperti tak pernah lekang oleh waktu. Mungkin orang2 melihat aq sudah bisa tertawa, bercanda, tapi tidak di hatiku. Aq masih saja menangis jika mengingat kepergianmu yang tak pernah disangka. Aq tak ingin menggugat takdir Yang Kuasa. Yang aq sesalkan, ternyata ribuan fakta yang pernah aq tulis tentang buruknya pelayanan rumah sakit di Jakarta, bukan isapan jempol belaka.

DISKRIMINATIF! kata2 itu yang selalu saja muncul ketika aq menulis perlakuan yang diberikan kepada kaum papa. Itu pula yang akhirnya menimpaku saat mencoba mencari asa agar kau tetap bisa hidup mendampingiku. Mungkin tampangku memang miskin hingga diperlakukan seperti kaum papa. Yah, aq memang menyadari aq memang bukan kelompok kaum berduit. Selain diriku, mungkin ada juga ribuan warga DKI yang lain yang merasakan kejamnya sifat kebinatangan pekerja rumah sakit itu. Hati kapitalis, otak borjuis. Ini rumah sakit pemerintah bung!.. kalian dibayar dengan uang rakyat. Rumah sakit yang kalian jadikan tumpuan hidup disubsidi Rp 350 miliar dari dana APBD yang diambil dari peluh keringat masyarakat. Apa kalian ga tahu? atau pura2 ga tahu? atau memang kalian sudah terkontaminasi dengan nafsu untuk bisa mengeruk keuntungan terhadap setiap pasien yang dicekam kepanikan!..

Hingga saat ini pun masih kurasakan sesak di dada saat mengingat hari2 yang melelahkan menghadapi orang2 brengsek di rumah sakit. Pelayanan buruk, diskriminatif, perawat dan suster yang judes tak berperasaan ditambah harga resep selangit yang harus ditebus setiap saat pasien akan ditangani. Tanpa menggugat takdir, secara teknis aq ingin menyatakan, istriku korban dari kebobrokan manusia rumah sakit Jakarta. Ya Allah, jika aq boleh meminta, sadarkanlah mereka dengan petunjuk-Mu agar para dokter, perawat, suster dan petinggi2 rumah sakit ada sedikit hati dan punya perasaan untuk bisa merawat mahkluk2mu yang tengah terbaring mencari asa kehidupan. Atau boleh juga Kau beri pelajaran melalui pengalaman yang menyakitkan. Bahwa menjadi korban diskriminasi itu rasanya menyesakkan dada. Apa para dokter, perawat, suster tak pernah merasakan itu semua hingga sampai tak punya hati! aq sebenarnya ingin mengumpat satu per satu kepada mereka... astagfirulah hal adhim.

Ya Allah! maafkan hamba-Mu ini
Hanya Engkau Yang bisa memberiku petunjuk
Hanya kepada Engkau aq berharap
Hanya kepada Engkau aq bersimpuh
Hanya kepada Engkau kupasrahkan semua yang kumiliki

Saat kutermenung sendiri mengenangmu

25 Januari 2009

Ambonku Tlah Pergi untuk Selama-lamanya... (1)

Akhir penyesalan..


Sampai detik ini aq masih tak percaya Ambonku tlah pergi untuk selama-lamanya. Senin, 19 Januari 2009 pukul 05.30, di ruang ICU RSUD Koja tiba2 jantungmu berhenti berdetak. Aq masih tak percaya kau tlah tiada. Kenapa kau meninggalkanku Ambonku. Kenapa kau tinggalkan Najwa malaikat kecilmu. Kenapa..! kenapa..kenapa..! Shelvia Jaflaun namamu. Perempuan keturunan Ambon campuran darah Belanda. Setelah menikah 2006 lalu, aq selipkan nama Zahra di tengah namamu agar kau menjadi harum seperti bunga. Shelvia Zahra Jaflaun.

Aq tak pernah menyangka smua berjalan begitu cepat. Aq masih merasa baru kemarin aq mencintaimu. Baru kemarin qta menikah. Baru kemarin qta menghabiskan bulan madu. Lalu malaikat kecil yang kau harapkan sejak lama hadir ke dunia. Najwa Syifa kuberi nama si mungil itu. Dengan bibir kering dan gemetar, kau masih sempat menerangkan arti Najwa Syifa kepada orang-orang yang menjengukmu di lantai 8 kamar 508 RSUD Koja, Jakarta Utara. Kau sebut Najwa Syifa sebagai rahasia Tuhan yang diturunkan untuk menjadi obat. Obat bagi keluarga. Obat bagi kita berdua. Tapi kenapa kau pergi..

Sampai saat inipun aq masih tak percaya kau telah tiada. Setiap saat aq mengingatmu, aq selalu bertanya, kenapa semua itu berjalan terlalu cepat. Kenapa kau pergi. Kenapa kau tak bernafas lagi. Kenapa smua serba terlambat. Baru dua tahun kau mendampingiku. Yah, cuma dua tahun. Tak lebih. Kau hanya menikahiku untuk melihatmu terbujur kaku lalu ditimbun tanah merah di TPU Cikoko. Sudah puluhan tahun aq tak pernah menangis istriku. Sehebat apapun cobaan itu, aq coba untuk tegar. Tapi kenapa saat kau tiada, aq begitu terpukul. Kesedihan yang tak terkira. Aq merasa kembali menjadi sebatang kara. Tangisku akan kembali meledak ketika kuingat Najwa masih terlalu dini untuk kau tinggalkan. Siapa yang kan mendekapnya selepas kau pergi istriku. Siapa yang kan memberi kasih sayang seperti yang kau berikan.
Jika di alam sana ada internet dan kau bisa buka blog ini, bacalah secara berulang kali agar kau tahu betapa aq tak mau kau tinggalkan. Aq memang ikhlas melepasmu karena itu sudah menjadi kehendak-Nya. Tapi yang aq sesalkan kenapa harus sekarang. Saat Najwa baru saja terlahir ke dunia. Saat malaikat kecil yang kau damba-dambakan telah hadir ke dunia. Kenapa tidak nanti saja kau pergi saat Najwa sudah dewasa. Saat malaikat kecil kita sudah sukses. Sekolah setinggi-tingginya, menjadi dokter gigi lalu menikah. Bukankah kau menginginkan punya anak tiga istriku...ambonku.. cintaku... baru kuberikan satu, kenapa kau buru-buru pergi.

Sebenarnya, di ruang ICU ketika dokter menyatakan kecil kemungkinan kau bisa bertahan, aq masih bisa berfikir rasional. Aq masih cukup tegar. Tapi setelah menyadari bahwa ketika saat-saat terakhirmu tak ada satupun keluarga yang menungguimu, memberi semangat untuk tetap bertahan dan mendoakanmu, aq merasa diiris-iris sembilu. Perih, pilu, tragis dan sangat ngenes. Itu pula yang membuatku sangat terpukul. Aq menangis sejadi2nya. Meskipun tanpa suara dan hanya air mata yang terus menetes tak henti2nya.
Menjelang malaikat mencabut nyawamu di ruang ICU lantai 3, hanya aq, sam sama mbak arie yang sudah empat hari empat malam menungguimu sepanjang waktu tanpa lelah. Aq menangis sesenggukan. Dalam dada terasa sesak ada yang menyumbat. Pilu. Pilu sekali.. sambil menangis setengah marah, kakmino, opi, ina, tante lena, tante fora, kaktutik aq telponin satu per satu. Kenapa saat terakhirmu saja keluarga masih sibuk dengan urusannya masing2. Ini Jakarta bung. Yah, ini memang Jakarta. Tapi apakah rasa kemanusiaan itu harus terkalahkan dengan egoisme pribadi. Apalagi, yang tengah meregang nyawa itu adalah saudaranya sendiri, keluarganya sendiri...
Kerja? smua orang juga kerja. Aq juga kerja.. cari duit buat bayar rumah sakit.. nungguin sepanjang malam di rumah sakit.. kawan Sam yang jelas2 ga ada hubungan darah juga nungguin sepanjang malam juga kerja. Tapi rela meninggalkan kerja karena rasa kemanusiaan itu masih ada. Bahkan, bukan hanya tenaga yang sudah banyak dia curahkan. Tapi juga biaya. Uang jutaan yang tak terhitung jumlahnya.

Di depan ruang ICU aq terus menangis sambil telpon semua yang bisa dihubungi. Kesedihan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Sedih karena melihat nyawa istriku melayang tanpa ada satupun kluarga yang sigap. Bukankah Minggu siang dokter dah bilang nyawa istriku pernah hilang lalu muncul lagi. Jika nafas pernah hilang, artinya ada kemungkinan bakal hilang lagi. Kenapa kluarga hanya datang sebentar lalu pergi lagi. Nungguin kek. doain kek. toh cuman sekali seumur hidup. Bukankah saat dirawat di RS Budi Kasih Ambarawa keluarga Jakarta memaksa agar kau bisa dirawat di sini. Tapi setelah permintaan itu aq penuhi, tak ada satupun yang benar2 konsisten memberimu perhatian penuh. Apa harus terus ngandalin kaktutik? bukankan dia dan keluarganya tlah cukup membantu biaya rumah sakit dan beli obat yang harganya melangit? wajar jika aq tak terlalu berharap. Bantuan itu sudah cukup berarti. Tanpa harus ikut nungguin di rumah sakit, bagiku tak masalah. Tapi bagaimana dengan keluarga jaflaun yang lain? atau trah ngelyaratan yang lain? atau keluarga2 ambon-jakarta yang lain?
Minggu malam memang keluarga sudah datang semua ketika dokter menyatakan kondisi istriku tambah kritis. Tapi begitu malam mulai merayap, satu per satu keluarga pergi semua. Yang tersisa tinggal kami bertiga. Aq, sam sama mbak arie. Air mataku terus mengalir tak bisa kutahan. Aq duduk lemas tak tahu harus berbuat apa. "Pak dipanggil dokter ke ruang ICU," terdengar suara membuyarkan lamunan dan kesedihanku.
Di dalam ruangan, istriku masih terbujur kaku di atas ranjang. Bedanya selang2 infus sudah tak membelit lagi. Sekujur tubuh ditutup dengan kain. "Tolong diisi lengkap data istrinya pak untuk surat kematian," kata perempuan yang duduk di depanku. Setelah mengisi data lengkap, perempuan itu kembali menyodorkan satu kertas yang berisi daftar tagihan biaya perawatan selama di ICU dan obat2an tambahan yang harus segera dibayar sebelum jenazah bisa dibawa pulang. "Bapak selesaiin dulu di bagian administrasi lalu kembali lagi ke sini," katanya singkat. Sambil menengok jasad kaku istriku, aq melangkah keluar ruangan.

Di lantai bawah, tagihan itu tidak aq langsung bayar. Aq masih belum bisa menahan kesedihanku. Karena sejak meninggal pukul 05.30, sampai pukul 08.00 belum ada satupun keluarga istriku yang nongol. Sementara ibu dan maskin yang baru datang dari kampung masih terjebak kemacetan lantaran Kelapa Gading pagi itu banjir. Semua kendaraan harus lewat tol. Tiap detik aq lihat arloji yang berjalan sangat lambat. Aq semakin pilu. Dengan apa aq harus membayar tagihan. Duit bantuan yang dikasih Pak Prijanto Wagub DKI Sabtu (17/1) siang Rp 2 juta sudah terpotong Rp 1,5 juta untuk nebus obat. Tinggal tersisa Rp 500 ribu. Kenapa keluarga tak kunjung datang. Aq cari tempat yang tidak ramai lalu lalang orang. Setelah itu aq telpon Pak Sekda Muhayat. Aq bilang Epi dah ga ada. Aq bilang ga ada orang di rumah sakit. Aq hanya sendirian menanggung kepiluan. Setelah bilang itu, lalu aq menangis sejadi2nya. "Sudah ga papa. Yang sabar, yang tabah Ak. Tuhan pasti memberi jalan yang terbaik," kata Pak Muhayat singkat.

Pukul 08.30, ibu dan maskin akhirnya sampai juga di rumah sakit. Ibu langsung menubrukku lantas menangis. Mungkin kasihan melihatku. Lalu aq antar ke ruang jenazah yang terletak di lantai 1 paling pojok. "Ini Epi bu. Epi dah ga ada," kataku membuka kain yang menutupi wajah istriku. Karena tak kuat, aq akhirnya kembali menangis. Ibu justru aq lihat lebih sedih. Sambil membisikkan lafal thoyyibah la ilaha illallah, ibu mengusap rambut di kening istriku. Tangisnya sesenggukan terasa sangat berat. Tidak beberapa lama, willy, istrinya dan dua anaknya Fadli dan Imar datang. Pukul 08.45, kakmino dan opi sampai rumah sakit. Aq langsung ajak Sam ke depan untuk nyelesain administrasi. Setelah dihitung ternyata cuma Rp 5 juta. Aq langsung ke ATM. Cek saldo ternyata ada Rp 1,5 juta dan aq ambil smua. Duit itu dikirim mas tir redaktur indopos jkt ry yang datang pagi2 sebelum ibu datang. Alhamdulilah. Setelah digabungin ama yang dari orang2 sampai juga Rp 5 juta. Aq langsung suruh sam untuk bayar. Sekaligus biaya ambulan Rp 150 ribu.

Ambulance meluncur menyisir kemacetan Ibukota menuju kontrakan mungilku di Cikoko, belakang Menara Saidah Cawang. Aq, sam naik sepeda motor di belakangnya. Maskin diboncengin fora suaminya opi. Sampai di rumah, sudah banyak petugas Satpol PP dan Dishub yang berkerumun di jalan depan kontrakan. Suara motor BM petugas meraung2 di sekitar kampung mencari alamatku. Kebetulan saat sms ke semua orang, termasuk Gubernur, Wagub, Sekda, Asisten, Kepala Dinas dan seluruh pejabat DKI, aq tulis alamat sesuai KTP yang kebetulan itu alamatnya kakmino. Berulang kali petugas memastikan alamatku yang banyak orang melayat adalah Shelvia Jaflaun istriku. Aq bilang ya ini kontrakanku. "Untuk memastikan saja pak. Soalnya pejabat DKI mau datang," kata petugas Dishub yang datang ke rumah.

Pukul 10.00, Pak Rinta orang humas tiba di kontrakan langsung tanya jenazah mo dikubur di mana. Aq bilang yang dekat rumah. Kalau bisa di TPU Cikoko saja. Lalu aq diajak ke makam sama Pak Rinta. Setelah aq cek, kata petugas makam ga ada yang kosong. "Gimana makam dah beres belum," kata Pak Muhayat dari telpon. "Sedang dipersiapkan pak," jawab Pak Rinta. Karena ga ada yang kosong, Kepala Dinas Pemakaman lalu ditelpon. "Masih ada yang kosong. Kepala TPU Cikoko Pak Abdurrohim nanti yang kesitu," kata suara dari telpon. Karena perintah dari atas harus beres, akhirnya plang papan TPU dibongkar dan digeser. Sebab, kalau tidak di situ, tak ada tempat lain yang kosong. "Ya udah, bongkar saja plangnya. Saya yang tanggungjawab," kata Pak RW 03 ngasih dukungan. Saat ribut cari tempat makam yang kosong, Hp bututku berbunyi. Katanya Pak Sekda Muhayat sudah nyampe rumah. Aq buru2 balik.
Entah mengapa, air mata yang tadi sudah mengering kembali jatuh ketika melihat Pak Muhayat. Aq langsung salamin dan memeluknya. Aq merasa Pak Muhayat telah menjadi teman sekaligus orangtua yang memberi dukungan bagi anaknya. "Yang sabar Ak. Kamu harus kuat. Tabah. Si kecil masih membutuhkanmu," katanya memberi semangat.
Dengan duduk di kursi depan rumah, aq lalu bercerita seputar sakitnya Epi dan perlakuan rumah sakit yang sangat diskriminatif. Yang selalu bilang ICU penuh, harus dirujuk ke RS Puri Indah yang DPnya Rp 20 juta atau RS Thamrin yang DPnya Rp 15 juta. Meskipun kenyataannya ICU RSUD Koja ada tiga yang kosong. "Ini ga bener. Terlepas meninggalnya Epi sudah menjadi kehendak-Nya, jika pelayanannya seperti itu jelas tidak bener. Ini harus dibenahi," katanya. Dalam kesempatan itu juga aq cerita kalau perawat, suster sangat judes dan tidak berperikemanusiaan. Karena ada kesibukan, Pak Muhayat akhirnya pamit dan tidak bisa ikut mengantar ke makam. "Terima kasih banyak Pak Muhayat, atas semua dukungan, bantuan dan doanya," kataku kemudian.

Awalnya, aq rencanakan jenazah istriku akan dikubur pukul 14.00. Namun, Pak Rinta bilang Pak Prijanto Wagub mo datang pukul 15.30. Akhirnya aq putuskan menunggu. Skalian nanti Pak Pri yang nglepas. Pukul 15.30, rombongan Wagub tiba di kontrakan. Masih menggunakan seragam PNS warna hijau, mantan Aster TNI AD itu langsung berdiri di depan pintu. Aq langsung menyalaminya sambil sesenggukan meneteskan air mata. Lalu aq memeluknya. Sementara jenazah Epi dah dibawa keluar untuk segera diberangkatkan. Kaktutik aq suruh menjadi MC pelepasan. Setelah sambutan perwakilan dari keluarga Jaflaun, Pak Wagub lalu memberikan sambutan skaligus melepas jenazah diberangkatkan ke makam. "Semua yang ada di dunia ini adalah milik-Nya. Tidak ada yang abadi. Karena milik-Nya, kapanpun bisa diambil-Nya. Bagi Aak, saya harap bisa sabar, tabah dan bisa mengasuh anaknya yang masih berumur 6 bulan. Semoga menjadi anak yang sholehah," kata Wagub lalu mengakhiri sambutan.
Setelah itu, rombongan menuju masjid pancasila yang terletak di sebelah rumah. Wagub dan pejabat teras lainnya ikut nyolati di masjid. Tidak beberapa lama, jenazah langsung dibawa pakai ambulan ke makam TPU Cikoko. Andi menantunya tante Lena bertugas azan di liang lahat. Petugas lalu menguruk galian. Air mataku tak henti2nya menetes.
Setelah liang lahat membentuk gundukan, pak ustad memulai memimpin zikir bersama. Sambil tertunduk, air mataku terus keluar tak mampu kutahan. Ada penyesalan yang tiada tara. Sekitar setengah jam, zikir telah selesai. Tapi para pengantar masih berkerumun. Lalu aq taburkan bunga sambil menangis. Lalu kuputuskan untuk zikir lanjutan sendiri. Dalam lamunanku aq melihat istriku terbang dibawa dua orang bersayap. Dia hanya menoleh ke arahku lalu hilang ditelan awan.

Semoga kau damai di sisi-Nya istriku. Aq kan selalu mendoakanmu setiap saat aq mengingatmu. Doakan juga agar ayah bisa mengasuh Najwa hingga dewasa menjadi anak yang sholehah.

Mungkin ini adalah akhir sebuah penyesalan...
Tapi aq berharap, ini bukan benar2 sebuah penyesalan. Karena mungkin gusti Allah punya rencana lain demi kebaikanmu, kebaikan orang2 yang kau tinggalkan.. dan aq kan selalu belajar untuk bisa menerima itu semua..

Jelang 7 hari sejak kau tinggalkan. Cikoko, 24 Januari 2009

07 Januari 2009

Ya Allah, Kemana Harus Kucari Rahasia Obat-Mu

Jumat (1/1) siang, Mbak Nul, Masaris n Ida datang dari Jogja menjenguk istriku di Ambarawa. Kebetulan aq baru saja datang dari Jakarta. Sekitar habis jumatan, Masaris sharing bagaimana kalau Epi dibawa ke rumah sakit saja untuk pemulihan fisiknya. Toh, yang nempel ikut dia sudah pergi. Meskipun kadang sering datang dan pergi lagi. Kata pae, tiap malam kadang kelambu kamar sering bergerak sendiri meski tak ada angin. Ada seperti bayangan sedang mengintip keluar. Tapi setelah dicek ke dalam kamar tidak ada siapa2. Istriku masih tidur nyenyak. "Kuncinya neng awakmu le. Kalau kamu sholat malamnya kuat. berkakas itu ga bakalan berani ikut istrimu. Klo ngandalin dia juga susah. Suruh pantang makanan ga mau. Yang ga boleh malah dimakan. Suruh zikir juga ga mau. Suruh di mushola saja ga mau. Gimana mau sembuh," kata pae cerita seputar istriku selama aq tinggal di Jakarta.
Jika fisiknya agak pulih, rencananya istriku akan dibawa berobat ke Mbah Zarkoni. gurunya pae di Grabakan. Biar berkakas bisa disikat habis dan ga balik2 lagi. Setelah itu tinggal penyembuhan fisiknya. "Tapi kalau memang yang penyakit non fisik dah bisa diatasi atau diatasi sambil jalan. Bagaimana kalau Epi dibawa ke rumah sakit saja. Biar ada kejelasan seberapa sakitnya, seberapa sembuhnya," usul masaris siang itu.
Aq bilang ga papa kalau ada yang bantu biaya rumah sakit. Minimal 50 persen. Sisanya aq yang nyariin. Lalu aq putuskan telpon bapak/ibu di Tuban. Tanya bagaimana jika Epi dibawa ke rumah sakit untuk cek perlu rawat inap atau cukup berobat jalan. Katanya ga papa. Klo terpaksa harus nginap, biaya tar dicariin. Sebab, duit pinjam dari Opi adiknya istriku Rp 400 ribu ama pinjam dari Pak Rinta orang humas pemprov Rp 500 ribu sudah habis untuk akomodasi selama di Ambarawa sebelum masuk rumah sakit.
Aq akhirnya lega dan bersedia jika Epi dibawa ke rumah sakit setelah Ibu Tuban kasih lampu hijau. Tapi bukan di Jakarta. Di Ambarawa saja. Soalnya dari sisi fisik, istriku belum memungkinkan jika dibawa ke Jakarta naik kereta.

***
Dengan naik dokar (andong), istriku aq papah naik angkutan tradisional itu. Di kursi belakang ditemani Ida. Masaris dan zenar duduk dekat pak kusir. Sementara aq, mamat, pae naik motor binter menuntun dari depan pelan2 menyisir pematang sawah yang dikitari rawa pening itu. Begitu masuk UGD, petugas langsung memeriksa berdasarkan keluhan. Aq langsung bilang sakit diabetes. Keluhan lain demam menggigil, batuk, sesak nafas, sering muntah dan kaki lemas. "Gulanya 155 mas. Normalnya 117," kata perawat singkat lalu menawarkan agar istriku rawat inap.
Setelah disodori rincian biaya rumah sakit masing-masing kelas, aq pilih kelas 3. Itung2 murah. Setelah tempat disiapkan, istriku langsung diboyong ke ruangan paling atas. Sore itu ruangan Ratih E berukuran 6x6 di lantai 2 penuh sesak. Pasien aq lihat ada 5 orang. Tapi pengunjungnya itu, masya Allah. Kayak pasar. Untuk bisa lewat saja susah. Satu orang pasien yang antre jenguk ada 10 sampe 15 orang.
Istriku bilang ga mungkin bisa istirahat tenang jika kondisinya seperti itu. Aq langsung ke ruang resepsionis tanya apa masih ada kelas 2 yang kosong. Katanya penuh. Tinggal kelas 1 dan VIP. "Sewa kamar Rp 150 ribu per hari. Biaya penanganan biasa Rp 800 ribu, penanganan khusus Rp 1,3 juta ditambah biaya obat2an atau jika ada keperluan tambahan. Kalau mau diambil, nanti pasien langsung dipindah," kata petugas jaga. Aq bilang Ok ga papa di kelas 1. Pukul 06.00, istriku dah bisa menempati ruang Anjani E yang terletak di lantai 1 paling belakang. Satu kamar hanya ada 2 orang. Lumayanlah ga terlalu ramai. Soal biaya tar dipikir belakangan.

***
Magrib itu, masaris, mbaknul, ida, zenar terpaksa balik jogja. Karena masaris ada tugas kampus. Pae pulang ke rumah. Aq tinggal di rumah sakit sendiri nungguin istriku. Sambil ketak ketik berita, aq tungguin istriku. Kebetulan jumat masih masuk. karena PNS libur aj, jadi ga harus ke balaikota. Kondisi istriku semakin lemah. Jika sebelumnya bisa jalan, begitu masuk rumah sakit langsung drop fisiknya. Jalan sempoyongan, kalau diajak ngomong agak ga nyambung. Suruh makan atau minum obat agak susah. Aq tambah stres karena suster hanya ngantar obat digeletakin begitu saja. "Ini obatnya pak. Diminum setelah makan,". "Ini makanannya pak,". "Ini air panasnya pak,". Kata2 itu selalu saja mluncur tanpa tindakan. Hanya digeletakin di kursi ato meja. Jika pelayanannya seperti itu, tentu harus ada yang nungguin setiap saat. Untuk memastikan makanan disantap dan obat diminum. Apalagi, tiap saat juga istriku harus bolak-balik ke kamar mandi. "Kalau ditinggal, siapa yang tenteng2 infus ke kamar mandi,". aq stres berat malam itu. Semua aq sms telfonin suruh nyariin orang yang bisa jaga di rumah sakit. Ibu Tuban baru bisa dateng hari senin. Sementara tiket argo anggrek sudah aq beli Rp 390 ribu berangkat minggu dini hari karena esoknya aq harus masuk kerja. Aq telfon kluarga Jakarta, smua bilang sibuk. Opi adik kandung istriku mau cariin orang di Jogja, tapi tak kunjung ada kabarnya. Ina adik istriku paling bontot juga bilang ga bisa nemenin mau balik Ambon karena takut bisnis perdananya hilang. Kakmino malam itu telpon agar istriku dibawa ke Jakarta saja. Aq bilang kondisi fisik ga memungkinkan kalau naik kereta. Kecuali jika pakai mobil.

***
Malam itu aq merenung2. Apa langkah jangka pendek yang bisa aq lakukan. Setelah pae menyerah cari orang ga ketemu, kluarga Jakarta juga ga ada yang bisa datang, aq putuskan telpon Ibu Tuban agar bisa datang esok harinya. Agar sore sudah sampai rumah sakit dan gantian nungguin istriku. "Biayanya gimana. Kalau berangkat sekarang, biaya rumah sakit carinya kapan?," kata Ibuku dari telfon. Aq bilang biaya rumah sakit tar aj dipikirin. Yang penting datang dulu ke Ambarawa. Soalnya aq dah bolos kerja dan harus segera balik Jakarta. Sekaligus cari biaya rumah sakit. Sementara kondisi istriku drop banget. Makan minum obat, ke kamar mandi harus selalu dikawal. Malam itu harapanku tinggal ke mbak po yang ikut di rumah pae. Minimal bisa nunggu sampe Ibu Tuban dateng. Astagfirullah hal adhim. Tanpa alasan yang jelas, mbak po malam itu menolak dimintain bantuannya untuk jaga istriku. Meskipun hanya semalam. Aq pun pasrah. Membiarkan tiket kereta Rp 390 ribu hangus dan terpaksa balik ke rumah sakit. Untungnya mas tir redaktur ngerti dan mengijinkan aq ga masuk kerja lagi.
Esoknya, Senin (5/1) sore, Ibu Tuban dan Ida adik kandungku datang ke Ambarawa. Aq langsung buru2 meluncur ke Stasiun Tawang untuk ikut kereta Senja Utama menuju Jakarta. Sebelum meninggalkan rumah sakit, Ibu berpesan agar aq jangan stres dan bisa bersabar. Gusti Allah pasti akan memberi jalan. Semua musibah pasti ada hikmahnya. Aq disarankan agar tetap jaga stamina agar tidak ikut sakit. Jakarta-Ambarawa bukan jarak yang dekat. Kalau aq terus mondar mandir, fisik bisa drop. "Kasian Najwa kalau kamu sakit. Siapa nanti yang cariin biaya rumah sakit kalau kamu sakit," kata Ibu berbisik di depan pintu tempat istriku dirawat. Aq setengah mo menangis. Aq coba menahan agar air mata tidak sampai menetes. Kucium tangan Ibuku dan buru2 kabur agar kereta tidak telat.

***
Kususuri sepanjang jalan di Ambarawa tuk cari ATM. Arloji aq lihat sudah pukul 18.15. Padahal, bus terakhir ke Semarang pukul 18.30. Dapat ATM depan pasar ternyata rusak. Padahal, di dompet sama sekali aq ga pegang duit. Setengah putus asa, aq terus berlari kecil menyisir kanan kiri jalan siapa tahu ada ATM. Tapi setiap ada ATM, mesin rusak. Astagfirullah, ada apa lagi ini. Keluhku. Sementara Fauzi, muridnya pae yang mau bareng ke semarang sudah telpon2 agar aq buruan biar ga telat ngejar kereta pukul 20.00. "Pae, ATM rusak sedanten. Kulo mboten mbeto duit. Mboten gadah ongkos naik bis ke Stasiun Tawang," kataku akhirnya memutuskan telpon pae yang berada di rumah sakit. Setelah telpon, aq terus menyusuri jalanan di Ambarawa. Akhirnya di ujung jalan, depan alfa mart ketemu atm mandiri. ternyata bisa ngluarin uang. Alhamdulillah. aq langsung lega. Pada saat yang bersamaan, pae tiba di tempatku dan langsung mengantarkanku ke tempat Fauzi yang menunggu di pertigaan. Jam menunjukkan pukul 18.30. Lima menit menunggu, bus terakhir melintas. Aq langsung naik. Bus berjalan sangat lambat karena sambil cari penumpang. Bahkan sempat ngetem. Fauzi yang kerja di TNI AD itu sempat marah2 agar tidak ngetem lama2. Bus akhirnya meluncur dan tiba di Stasiun Tawang pukul 20.15. Bunyi kereta mo berangkat terdengar keras. Aq berlari sekencang2nya. Beli tiket langsung naik. Kebetulan kereta masih persiapan meluncur.
Selasa (6/1) subuh, aq nyampe di Jakarta. Fauzi muridnya pae yang kerja di TNI AD yang nemenin selama perjalanan di kereta ga mau diajak mampir rumah. Alasannya, pagi itu ada apel. Sampai rumah, Sam ternyata ada di rumah lagi tidur pulas. Nungguin sejak kemarin.

***
Setelah tidur sebentar, pukul 10.00, aq mluncur ke balaikota tuk liputan. Alhamdulillah, satu hari masuk kerja, ternyata temen2 liputan di balaikota tahu musibah yang menimpa keluarga kecilku dan bersedia saweran. Dari hasil patungan terkumpul Rp 500 ribu. "Ini ak dari temen2. Moga cepat sembuh istrimu. Yang sabar," kata pak Jaber dari nonstop yang mewakili temen2 seraya menyodorkan amplop warna coklat. Aq bilang ga usah pak Jaber, aq dah cukup ngrepotin temen2. Dulu waktu anakku lahir dan terpaksa dicesar, temen2 sudah cukup membantu. "Udah ga papa," katanya meninggalkan amplop di depanku.
Pukul 19.30, aq mo cabut dari presroom. Karena kakmino kakaknya istriku telpon pingin ketemu. Karena kluarga istriku pengin tahu bagaimana kondisi sebenarnya istriku. Saat aq mo nyalain motor, pak haji darul panggil2. Ternyata mo ngasih bantuan dari koordinatoriat wartawan balaikota untuk biaya rumah sakit istriku. "Yang sabar ya ak. Ini ada titipan," katanya sambil mengeluarkan uang Rp 4 juta. Alhamdulillah. Serasa aq pingin menangis malam itu. Terima kasih kawanku smua. You are my family. Trima kasih Gusti Allah. Sepanjang perjalanan pulang aq tak henti2nya mengucap syukur seraya berdoa agar istriku cepat sembuh n bisa cepat kluar rumah sakit. Cobaan itu terasa berat kutanggung.
Sampai di rumah nenek di Cikoko, ketemu kakmino dan langsung cerita seputar kondisi istriku terakhir. Waktu mo pamit pulang, Kakmino nyodorin uang Rp 500 ribu. Katanya titipan dari Kak Tutik untuk tambahan biaya rumah sakit. Alhamdulillah. Malam itu aq tak henti2nya mengucap syukur. Malam itu juga aq telfon pae Ambarawa dan bilang besok biaya rumah sakit langsung ditransfer. Paginya, Ibu yang jagain istriku di rumah sakit juga aq bilangin biaya rumah sakit Rp 5 juta langsung ditransfer. kalau kurang agar dicarikan tambahin sambil aq nyari2 lagi. Sambil nanyain kondisi terakhir, aq bilang agar smua kluarga ikut bantu doa moga2 minggu2 ini istriku bisa keluar rumah sakit. Agar biaya cukup dan tidak membengkak. "Dari hasil tes darah dan ronsen, kata Pak Susanto (ahli penyakit dalam), istrimu cuma kena bronkitis. Penyakit lain tidak ada. Mungkin minggu2 ini bisa dibawa pulang. Tapi pak Susanto bilang harus ada yang jamin," kata pae dari telpon. "Ga papa pae. Jumat besok aq ke Ambarawa lagi," jawabku. "Ga usah le. Mengko nek wis kondisinya membaik awakmu tak kabari. Kalau kamu ga bisa ke sini, pae yang akan nganter ke Jakarta. Awakmu konsentrasi kerja ae," kata pae lalu memutus telpon.
Ya Allah, sembuhkanlah istriku. Aq tahu ini adalah cobaan. Peringatan kalau aq malas untuk bersujud kepadamu. Malam yang seharusnya waktu untuk mengingat-Mu justru aq malah tidur terlelap.
Jika aq boleh curhat ya Allah, itu karena fisikku ga mau diajak kompromi. Lelah seharian liputan dan selalu ketiduran hingga pagi menjelang. Dalam hati kecilku, keinginan untuk selalu memutar tasbih di tengah malam yang sunyi selalu menyala2 dan tak pernah padam. Di atas motor di tengah kemacetan Jakarta pun aq selalu menyebut nama-Mu. Karena hanya Engkau yang pantas untuk selalu diingat. Hanya Engkau yang pantas untuk selalu disebut nama-Nya. Karna, hanya Engkau yang bisa dijadikan tempat bertumpu segala harapan.

Malam sunyi, di presroom balaikota usai ngetik brita, 7 Januari 2009.

23 Desember 2008

Duh Gusti Allah, Sembuhkanlah Istriku

Selasa, 23 Desember 2008. Memasuki hari kedua di Ambarawa, istriku sudah menunjukkan progres report yang menggembirakan. Jika waktu datang praktis tak bisa jalan, sejak tadi malam sudah mulai bisa jalan. Dari kamar tidur ke kamar mandi mau berjalan bolak balik sendiri tanpa dituntun. Panas tubuhnya juga mulai turun pelan2. Wajah yang pucat juga mulai berangsur normal tak sepucat saat baru tiba Senin subuh lalu. Sebab, ibu istrinya Pae selalu maksa agar istriku menghabiskan makan yang disuguhkan dan minum air putih sebanyak2nya. Alhamdulillah, satu piring bisa habis. Pepaya, jeruk dll juga dimakan dengan lahap. Meskipun batuknya masih terdengar sesekali memecahkan kesunyian malam. Begitu bangun tadi pagi, aq langsung paksain agar berjemur di halaman rumah. Kaki menapak di tanah bergantian di rumput. Dengan cara itu saraf kaki sekaligus bisa terefleksi. Jika malam, telapak kaki juga aq pijit untuk menetralkan urat saraf yang terjepit. Air Ampel yang disediain Pae aq suruh minum. Sebelum dipijit dan usai dipijit serta setelah makan. Air Ampel itu diambil dari masjid Sunan Ampel Surabaya. Biasanya, Pae menggunakan air tersebut untuk ngobati para pasien. Mulai dari penyakit fisik hingga non fisik. Dengan air itu pula, Pae berusaha membantu orang memecahkan persoalan mulai pertengkaran rumah tangga hingga masalah yang dihadapi para pejabat elit. Percaya atau tidak, sumber air Ampel diyakini memiliki jalur secara langsung dengan air zam-zam di Makah. Sebenarnya, air di sumber2 lain juga memiliki jalur serupa. Namun, tidak setiap saat. Hanya pukul 03.00 dini hari hingga sebelum subuh. Secara ilmiah, aq belum sempat menelusuri kebenarannya. Di kalangan kedokteran, tidak ada perbedaan pendapat soal air. Semuanya sepakat, air memang memiliki peran menyembuhkan. Sebab, mampu membantu metabolisme tubuh.
Selain berusaha mengobati secara fisik, tiap malam Pae menggenjot zikir untuk menetralkan hawa negatif yang ada. Usai memijit telapak kaki istriku lalu menyuruh minum air, aq ikut gabung sholat dan memutar tasbih. Pukul 01.00 sudah bisa selesai, merokok satu batang, minum kopi lalu aq putuskan istirahat di kamar sebelah. Najwa sendiri aq lihat sudah terlelap di pelukan mamanya.
Di Ambarawa memang suasananya beda dengan Jakarta. Dengan dikitari deretan perbukitan, areal sawah yang menghijau dan rawa pening yang menghampar, praktis kota kecil yang dikenal luas dengan Tugu Palagannya itu hawanya sangat dingin. Tidak hanya malam hari, tapi juga saat siang. Matahari hanya sesekali muncul lalu tertutup awan kembali.
Tadi malam aq cukup kedinginan. Lupa ga bawa jaket pelapis dan celana tebal. Dengan hanya pakai celana pendek, aq terpaksa tidur meringkuk kedinginan hingga pagi menjelang.
Dengan hawa yang sejuk dan suasana tenang, aq berharap bisa membantu secara psikologis upaya penyembuhan istriku. Minimal, perempuan keturunan Ambon itu bisa istirahat dengan tenang. Sebab, malaikat kecilku telah dijaga oleh istrinya Pae. Mulai memandikan, menemani untuk bercanda hingga menggendong jika nangis. Hanya jika istriku kangen dan teriak2 panggil Najwa baru si kecil di sandingkan di pelukannya untuk disusui.
Pagi2, Ida adik kandung yang kuliah di Jogja sms akan menjenguk ke Ambarawa jika tugas2 kuliah dah kelar. Masaris malamnya juga sms ngasih saran agar suplai gizi bisa tercukupi. Sebab, aktivitas menyusui membutuhkan tenaga ekstra.
Kawan Sam dari Bogor tadi pagi juga telpon kaget setelah membaca blog. Katanya kok dadakan ke Ambarawanya. Beberapa kawan liputan kemarin juga sms dan telpon tanyain kok seharian ga nongol di Balaikota. Aq bilang izin dulu bentar nganter istri ke Ambarawa. "Wahai kawanku semua, saudaraku smua, aq hanya mengharapkan doa kalian smua. Moga2 Gusti Allah ngasih kesembuhan istriku, menjaga istri, si kecilku dari segala penyakit dan mara bahaya". Aq rela berkorban apapun demi kesembuhannya. Jika ada dokter, paramedis, atau apapun namanya yang bisa menyembuhkan istriku, dengan apapun caranya, ilmiah, non ilmiah, atau tidak masuk akal sekalipun aq sangat berterimakasih. Yang penting istriku bisa sembuh. DUH Gusti Allah, sembuhkanlah istriku. Angkatlah penyakitnya dan turunkanlah obat untuknya. Hanya kepada Engkau kami berserah diri. dan hanya kepada Engkau pula kami minta pertolongan. Tiada kekuatan apapun yang bisa menandingi Kekuatan-Mu. dan tiada apapun yang bisa mencegah jika Engkau berkehendak.

Rawa Pening, 23 Desember 2008

22 Desember 2008

Kereta Menuju Ambarawa

Suara gemuruh gerbong melintas di atas rel baja terus terdengar sepanjang perjalanan. Arloji aq lihat pukul 22.30. Entah sampai mana aq tak tahu. Dari cendela, yang terlihat hanya gelap. Lampu-lampu kecil yang jauh di sana terlihat samar-samar. Aq kembali ke bangku no 15 C dan 15 D yang terletak di barisan sebelah kiri. Malaikat kecilku aq lihat terlelap di atas bangku lusuh kereta. Mungkin Najwa tengah menikmati mimpi indahnya. Sementara istriku Shelvia Jaflaun terlihat makin tak berdaya menopang tubuhnya yang tengah diterpa sakit. Dengan menggelar kain sarung di bawah bangku, aq sarankan untuk pejamkan mata biar ada sedikit tenaga saat turun dari kereta pukul 03.00 dini hari nanti.
Pandanganku mencoba menyisir setiap bangku yang diisi para penumpang. Rata-rata sudah pada terlelap dalam mimpinya masing-masing. Petugas yang menawarkan kopi, rokok, nasi goreng, hilir mudik setiap saat. Aq tak menghiraukan mereka yang mencoba curi-curi pandang kepadaku. Aq terus menulis blog ini sambil menjaga Najwa di atas bangku agar tidak terjatuh jika sewaktu-waktu bergerak tiba-tiba.
Kereta Fajar Utama terus melaju untuk bisa mengantarkan penumpang tepat waktu ke Semarang. Lewat kereta ini pula aq mencoba mencari asa bagi kesembuhan istriku yang tengah dilanda penyakit aneh sejak kepindahan kontrakanku dari Ulujami ke Cawang dua bulan lalu. Perempuan keturunan Ambon yang tinggi gempal itu kini makin kurus dan pucat. Konsultasi dan berobat ke berbagai dokter telah aq lakukan. Tapi keinginanku untuk mengetahui apa penyakit istriku gagal. Hasil pemeriksaan negatif. Termasuk hasil ronsen minggu lalu di RS AURI juga negatif. Aq sudah lelah mencari pengobatan ke dokter ilmiah atau pengobatan alternatif.
Demi kesembuhan istriku, aq terpaksa ambil cuti tiga hari untuk bisa ke Ambarawa. Niat itu sangat kuat ketika Kakmino, kakak iparku juga melihat keanehan penyakit yang diderita adiknya. Sorot mata dan tingkah laku yang ditunjukkan istriku lain dari biasanya. Tatapan kosong dan tindak tanduk seorang renta yang telah bungkuk.
Nyonya Klementin yang sudah berumur dan tinggal di Bekasi juga terkaget ketika dijenguk ama istriku. Dia bilang ada yang menempel di punggungnya. Aq sendiri baru sadar penyakit istriku tak wajar dua pekan terakhir. Saat Fauzi, muridnya Pae yang tugas di Mabes TNI AD beberapa waktu lalu ketemu di Balaikota dan melihat keanehan dalam diri istriku. Fauzi yang pangkatnya baru balok kuning dua di pundaknya itu awalnya mo minta saran atas kepindahan tugasnya. Tapi justru berbalik ngasih saran agar sakitnya istriku ditelaah lebih lanjut. "Coba smsin pae di Ambarawa," katanya setelah aq bercerita hasil pemeriksaan semua dokter negatif.
Setelah dikasih saran itu, aq langsung sms pae di Ambarawa. Pukul 22.30, pae balas sms. Isinya perintah agar aq bisa sholat malam lalu memutar tasbih. "Deloen le mengko bengi. Tak bantu soko kene. Memang ono sing ga wajar. Sakno bojomu nek ngono terus," kata pae melalui sms.
Karena saking capeknya liputan, tanpa sadar aq tertidur pulas. Padahal aq janji pukul 00.00 atau pukul 01.00 tengah malam akan sholat malam. Pukul 03.00 aq terkaget ketika istriku membangunkanku sambil mengeluh kakinya sakit ga bisa digerakkan. Badannya kepanasan sambil batuk2. Aq teringat perintah Pae. Lalu aq ambilkan air putih agar diminum istriku. Dalam kulkas aq ambil jeruk dan kubuatkan susu coklat agar bisa diminum untuk tambah tenaga. Lalu aq tinggal sholat dan berzikir. Begitu sampai setengah perjalanan, Masya Allah, baru kali ini aq menemui makhluk Gusti Allah segalak itu. Bulu kudukku berdiri. Badanku merinding. Tasbih terasa begitu berat aq putar. Seorang nenek tua renta berambut putih menunjuk2 ke arahku sambil teriak marah besar. Aq jadi emosi. Ingin kuteriak saat itu juga agar makhluk itu bisa kembali ke tempatnya dan tidak mengganggu istriku. Toh selama ini qta saling hidup berdampingan dan tak saling mengganggu. "Jika tak mau main kasar. Saya yang minta tolong agar sudi kiranya menjauh dari istriku," kataku kemudian. Dia bilang mau kembali ke tempat asalnya jika diantar.
Usai berzikir, aq keluar rumah sambil menyalakan rokok sebatang. Lalu aq telepon Pae di Ambarawa. "Pae nek piyambaan kulo mboten sanggup. Sing derek Epi niku ketua geng teng kontrakan lama," kataku via telepon. "Yo le. Iku ga tandinganmu. Bojomu cepet2 gowo mrene. Mengko tak antere no nggone mbah zarkoni," kata Pae lalu memutus percakapan.
Setelah malam itu, Kakmino ke rumah. Pukul 21.00 tiba2 telepon. Saat mengaji di rumah katanya listrik padam berulang kali. Padahal ga nyalain apa2. Lalu terlihat bayangan terbang keluar rumah. Mendapat informasi, aq langsung buru2 pulang. Aq lalu sms Pae. Aq bilang kata Kakmino makhluk yang nempel di punggung istriku dah keluar. Lalu aq disarankan ambil air dari Ampel. Lalu dikasih minyak dan dikasih bacaan sahadat 7 kali, fatihah 7 kali dan al ihlas 7 kali. Lalu disiramkan di depan dan belakang rumah.
Aq memang sudah bosan dengan segala hal yang berbau mistis. Kakiku lumpuh selama tiga bulan saat SMA kelas 2 dulu bagiku sudah cukup. Aq tak mau ada dendam. Setiap perbuatan jahat, biarlah Gusti Allah yang membalasnya. Tak perlu tahu siapa yang berbuat jahat pada istriku, yang penting istriku bisa kembali sembuh.
Benar apa kata kawan Sam. Terkadang, qta perlu kembali ke zaman yang paling tradisional sekalipun untuk sejenak mencari kearifan yang tak mampu ditembus oleh rumus2 ilmiah.

Pukul 24.00 tengah malam. Dalam Kereta Fajar Utama menuju Semarang, 22 Desember 2008.

30 Oktober 2008

Sakit Itu Bukan Mistis

Sejak istriku sakit mulai Minggu (26/10) kemarin, aq jadi terbebani. Antara mikir liputan dan menjaga perempuan Ambon itu. Belum lagi anakku Najwa Syifa yang selalu atraktif ogah terus2an dibiarkan di atas kasur. Maunya gerak sana, gerak sini. Kakinya nendang2 tanpa henti. Mulut mungilnya terus saja ngoceh tanpa habisnya. Sementara mamanya tak bisa berbuat banyak untuk meladeninya. Jika sudah capek bergerak dan tak ada yang meladeni, biasanya Najwa langsung rewel. Jika sudah begitu, istriku hanya bisa beri ASI sambil terbaring lemas di atas tempat tidur. Soalnya, badannya menggigil, lalu kepanasan, kepalanya terasa pening. Jika tidak dikontrol, seharian pasti ogah2an untuk makan. "Gimana mau sembuh kalau makan aj ga mau. Orang sakit bisa sembuh kalau suplai gizi tercukupi. Paling penting lagi, cairan harus terjaga. Makanya minum air putihnya banyakin. Jangan nurutin mulut yang pahit. Yang penting masuk perut," kataku berceramah panjang.
Soalnya, setelah aq buka2 situs di internet, gejala panas dingin kepala pening bisa jadi gejala DBD. Tapi kulit istriku aq lihat tidak ada tanda2 kemerah2an. Aq hanya bisa menebak2 sakit apakah istriku gerangan. Sebelum sempat ke dokter, aq hanya memastikan cairan dalam tubuh istriku harus tetap terjaga. Begitu pelajaran yang sempat aq ambil saat dulu sering liputan di IDI. Istriku memang agak bandel. Untuk pergi ke dokter aj alasannya buanyak banget. ga mau berangkat karena inilah itulah. Ada aj alasannya. Kemarin aq paksa ke dokter jery tapi alasannya ujan ga berhenti2. Aq bilang ya udah ga papa. Tapi awas kalo besok ga berangkat. Kataku sangat kesal.
Untuk bisa menemani istriku berobat memang sangat tidak mungkin mengingat waktuku banyak tersita untuk liputan. Jadi aq hanya bisa nyaranin untuk ke dokter ditemani Najwa putri mungilku. "Naik taksi kan bisa. Panggil aj ke rumah kalo ga kuat jalan ke depan," kataku marah2.
Soalnya kalau istriku sakit aq juga repot. Tidak hanya kepikiran saat liputan, tapi juga kalau dah di rumah harus bantu2 beres2 rumah. Macam nyuci baju, piring, gelas, buang sampah atau beres2in barang2 yang tercecer. Padahal, kalau dah balik dari kantor pukul 22.00, badan capeknya minta ampun. Nonton TV aj kadang2 mpe ketiduran. Tahu2 terdengar suara Najwa nangis tandanya dah pagi. "Dah ma ayah yang beresin, mama istirahat aj," begitu kataku kadang2 kalau dia memaksakan diri beres2 melihat rumah berantakan.
Setelah mengendap selama tiga hari di rumah, siang tadi akhirnya berangkat juga istriku ke dokter Jery di Kebon Nanas, Jakarta Timur. Dokter Jery merupakan dokter langganan istriku sejak kecil. Dia orang Ambon tapi lama tinggal di Jakarta. Orangnya ramah, pasiennya berjubel tiap sore hingga malam hari. Saat sakit dua tahun silam, aq juga selalu ke dokter Jery. Entah karena keyakinan atau karena kecocokan, setiap habis berobat langsung sembuh. Aq dulu sering sakit saat masih floating. Jika musim penghujan tiba, tiap hari harus basah2an. Meskipun pakai mantel. Ditambah angin yang bertiup sangat kencang sering menerobos sela2 mantel. Karena pikiran terforsir, fisik jadi ikut ambruk saat kelelahan. Apalagi saat itu kontraanku masih di Condet. Dari kantor graha pena di Jalan Kebayoran Lama butuh satu jam untuk nyampe rumah. Jika ngebut hanya setengah jam. Jika banjir tiba, aq merasa menjadi orang paling aneh. Sementara keluargaku kebanjiran, aq justru cari tempat banjir yang menimpa orang lain. Bahkan aq sempat berenang untuk menjemput istriku saat banjir di Bidara Cina Cawang Atas. Ga ada perahu, banjir aq ukur hampir di atas kepala lebih. Tapi sejak kami pindah di Pos Pengumben, aq jadi jarang sakit. Aq bilang ke istri, aq hanya sakit jika lagi tak punya uang. Jadi jangan direcokin. Apalagi buat tingkah yang bikin emosi.
Barusan pukul 22.30, istriku dah balik dari berobat di tempat dokter Jery. Dia bilang dokter ga mau bilang sakitnya apa. Hanya disarankan untuk banyak istirahat dan rajin memijat punggung pakai minyak kayu putih. Bagiku, kabar itu menggembirakan sekaligus mencemaskan. Kadang ketidaktahuan itu membuat orang celaka. Meskipun karena tahu justru tambah celaka juga banyak. Tapi bagiku, mengetahui masih lebih baik.
Setidaknya, kemauan istriku untuk berobat sudah 50 persen menuju kesembuhan. Selebihnya tinggal perawatan yang benar serta keyakinan akan mendapat kesembuhan dari Yang di Atas.
Soalnya, kadang2 jika istriku sakit sering tidak mau berpikir rasional. Sakit selalu dihubung2kan dengan mistis. Jika lagi sakit berarti tanda kalau ada keluarga yang terkena musibah. Memang, itu pernah dia alami. Tepatnya saat pertengahan puasa lalu. Saat berkunjung ke Cikoko, baliknya tiba2 menggigil. Lalu berganti kepanasan. Sesampai di rumah, aq hanya memberikan minuman air hangat banyak2. Aq bilang suruh minum dah dikasih bacaan biar cepet sembuh. Istriku buru2 langsung meminumnya hingga habis. Padahal sih ga dibacain apa2. Cuma buat support aj biar dia mau minum air putih. Lalu aq suruh istirahat sambil suruh pakai tasbih buat kalung. Soalnya, kabarnya kayu stigi jika itu asli bisa menyerap atau mentralkan bisa ular. Begitu bisa menyedot panas dalam tubuh atau hawa dingin agar seimbang.
Entah karena faktor apa, esok harinya langsung sembuh. Lalu pagi2 ada kabar dari pae ambarawa katanya pak tri kecelakaan dan meninggal dunia. "Kok mama tiba2 menggigil trus kepanasan kayak kemarin yah. Kira2 ada apa ya," tanya istriku. Dengan cepat aq menjawabnya. "Ada apa gimana. Kamu menggigil kepanasan itu artinya ada yang tidak beres. Tidak beresnya ada di tubuhmu, pikiranmu. Bukan di luar sana. Itu artinya kamu sedang sakit. Sakit itu ya sakit. ga ada hubungannya dengan mistis," kataku menerangkan sok ilmiah. Aq bilang seperti itu karena aq ingin istriku cara berpikirnya bisa sistematis. Jangan semua dihubung2kan dengan mistis. Kecuali jika sakit itu tidak wajar dan setelah dibawa ke berbagai dokter menyatakan tidak menemukan penyakit apapun. Tapi kenyataannya yang bersangkutan kesakitan. Kalau kondisinya seperti itu boleh qta ga berangkat ke dokter dan siap2 rajin2 duduk bersila tengah malam putar tasbih.

Ulujami, 30 Oktober 2008

27 Oktober 2008

Ambonku Jatuh Sakit

Setiap libur tiba, kumanfaatkan mengunjungi keluarga dekat. Kebetulan Sabtu kemarin ada acara temen wartawan balaikota ke pantai anyer, serang. Jadi terpaksa ga bisa mencurahkan waktu buat keluarga kecilku. Najwa anakku yang baru tiga bulan Sabtu itu harus kembali imunisasi. Kebetulan jatah DPT. Aq bilang ke Shelvia Jaflaun istriku untuk berangkat aj ke rumah sakit kartini cipulir meskipun tanpa aq temani. Kan bisa naik taksi. Begitu kataku menyarankan.
Sekitar pukul 13.00, sms masuk ke hp bututku. Istriku tanya apakah Najwa anakku harus diimunisasi pakai yang panas atau dingin. Jika pakai yang panas cukup bayar Rp 300 ribu. Kalau dingin Rp 500 ribu. Konsekuensinya, jika bayi diimunisasi yang panas akan sering menangis karena pengaruh obat. Karena mikir kasian, aq bilang pakai yang dingin aj. Kasian Najwa. Duit kan bisa dicari. Apalagi buat anak. Begitu jawabku via sms.
Karena dokter telat datang, para pasien yang mendapat nomor urut antre belakangan harus rela bersabar. Istriku bilang Najwa baru bisa diimunisasi sekitar pukul 14.00 karena saking banyaknya pasien. Aq bilang asal ga rewel ga masalah.
Selama aq berlibur di pantai anyer, istriku tak bosan2nya sms atau telepon. Apalagi jika Najwa ogah tidur atau nangis merengek2. Kata mamanya, jika sudah dengar suaraku bisa langsung diem dan mau tidur. Syukurlah. Kasian juga istriku jika Najwa rewel terus.
Sabtu sore aq dah nyampe kembali di Merdeka Selatan. Karena saking macetnya, dari balaikota pukul 17.00, nyampe kontraan di pos pengumben pukul 18.30. Ga tahu kenapa libur2 jalanan jakarta masih juga macet. Begitu nyampe rumah, istriku langsung memprogramkan acara kunjungan keluarga. Perempuan Ambon itu bahkan minta malam itu juga meluncur ke Cikoko, Pancoran untuk mengunjungi kakak kandungnya. Kak Mino. Anak ketiganya yang bernama Fabiano memang dua hari lalu terus nanyain Najwa. Dia menyebut adik wawa (jawa) kemana. "ga ada..adik wawa kemana..ga ada," begitu kata kak mino dari telepon menceritakan tingkah Bian yang selalu menanyakan Najwa.
Karena masih capek, aq menolak jika harus meluncur ke cikoko malam itu. Toh masih ada hari esok. Pagi sekitar pukul 10.00, setelah kelar beres2 rumah, istriku ngajak ke acara kawinan tetangga sebelah. Tapi aq bilang kalau harus datang biar dia aj yang berangkat. Atau kalau malu titipin aj amplop ke bude. Tapi istriku membatalkan rencana itu dan kembali konsen untuk mengunjungi keluarga ambon di cawang. Setelah memandikan Najwa, kami bertiga meluncur ke cikoko menggunakan sepeda motor bututku.
Bian, anak ketiga kakmino langsung girang begitu melihat Najwa datang. Adik wawa datang.. Begitu mulut mungilnya bicara terbata2. Sementara istriku, Najwaku bernostalgia, aq mulai menghubungi semua kawan yang hari ini masuk liputan. Sial, ternyata semua libur. Jika ada yang masuk pun tidak ada yang membuat berita. Hanya aq seorang. Justru mereka menunggu hasil tulisanku. Sial..bener2 sial. Aq sangat kesal dalam hati. Otak pun aq putar hingga 180 derajat. Ada kejadian apa hari ini. Ada berita apa yang bagus untuk diangkat esok hari. Siapa yang bisa dihubungi. Pertanyaan2 itu muncul di pikiranku secara berputar2. Sementara di balaikota hanya pak haji darul rakyat merdeka ama pak drajat lampu merah. Dia bilang taruna nihil.
Biasanya, sebelum helmi sindo ama nana republika pindah pos dulu, kami bertiga selalu berbagi isu apa yang akan kita angkat. Kadang2 juga pak bagus media indonesia ikut nyumbang pemikiran hingga mengurangi beban. Maklum, untuk kawan2 yang lain banyak yang libur. Atau jika masuk pun paling2 agak sorean telpon minta dipantulin. Maka, jadilah kita tim buser. Tapi sejak mereka berdua pindah, praktis hanya aq sendiri yang harus berjuang mati2an. Berpikir sendiri, cari narasumber sendiri. Puyeng juga puyeng sendiri.
Cikoko sore itu hujan tak mau berhenti hingga menjelang magrib. Alhamdulillah, sekitar pukul 19.30, semua tugas sudah selesai. Empat brita dah dikirim semua. Selama setengah jam aq tunggu, mas yani atau mas tir tak sms atau telpon. Artinya, halaman sudah aman. Sebab, sejak sis memutuskan libur hari minggu, di jakarta raya yang dua halaman itu hanya ada dua orang. Aq ama eos. Biasanya eos kebagian buat brita feature untuk boks serta brita2 lifestyle. Sisanya tengah, kirian ama HL aq yang harus mati2nya nyiapin.
Istriku bilang badannya ga enak. Dia menggigil. Sementara badannya aq terasa panas. Aneh, jangan2 kena DBD. Tidak berselang beberapa lama, istriku tak lagi menggigil, tapi justru kepanasan. Kakinya aq sentuh sangat dingin. Sebagian ada yang panas. Ni pasti darahnya ga lancar. Pikirku. Aq coba pijak telapak kakinya. Tapi tak banyak kemajuan. Istriku tetap saja mengeluh. Najwaku aq lihat masih tidur pulas setelah tidur sejak sore tadi. Karena ga kuat, istriku ngajak buru2 balik pulang.
Sampai di kontrakan pukul 22.00, istriku langsung rebahan. Aq suruh minum air putih hangat yang banyak lalu aq pijit kakinya kembali. Setelah aq yakin peredaran darah lancar, aq suruh tidur. "Yah, kalau mama sakit Najwa tar gimana," kata istriku mulai berpikir macam2. "Enak aja sakit. Kalau sakit ya ga ada yang ngurus. Kecuali Najwa aq ajak liputan. Mau aq gendong kesana kemari sambil liputan," jawabku sekenanya.
Sampai malam ini pun istriku masih terbaring di tempat tidur.. aq ajak ke dokter ga mau, suruh pijit ga mau, suruh makan ga mau, suruh istirahat ga mau alasan Najwaku rewel terus. Trus gimana mau sembuh.. aq jadi bingung...

Depan Kantor Graha Pena saat menunggu tukang sate ngipas2, 27 Oktober 2008

14 Oktober 2008

Belajar Jadi Orangtua Bijak...


Pagi-pagi keributan kecil terjadi di kontraan kecilku. Antara sadar dan tidak sadar, terdengar tangisan bayi tepat di sebelah tempat aq tidur. Semakin lama, suaranya semakin keras. Karena masih terasa ngantuk, mataku hanya sempat melihat sekilas istriku lagi menyuapi Najwa anakku yang baru berumur tiga bulan. Suap demi suap terus dijejalkan dalam mulut mungil anakku. Tangis tanda pemberontakan terdengar semakin keras. Aq mencoba kembali memejamkan mata kembali. Tapi suara tangisan terus menderu dan menyayat hati.
Kubuka mataku lebar-lebar dan aq langsung bangun dari peraduan. Terlihat jelas Najwaku disuapin bubur ama mamanya. Tapi makanan itu seperti tidak bisa ditelan. Penuh di mulut anakku. Sambil terus menangis, Najwa mencoba meyakinkan mamanya dengan tangisannya tersedu-sedu. Agar mamanya segera menghentikan suapannya.Tapi malaikat kecilku seperti tak berdaya. Setiap bubur yang meleleh di mulut anakku kembali dimasukkan. Coba dipaksakan agar bisa tertelan. Anakku terus mengiba. Suaranya terdengar menyayat hati. Melihat itu, akupun langsung naik pitam. "Kalau ga mau ya jangan dipaksain. Toh makan bubur kan bukan saatnya. Baru setelah empat bulan ga papa disuapin terus. Udah hentikan," kataku setengah membentak istriku.
Istriku masih mencoba membereskan sisa-sisa bubur di mulut anakku yang belum tertelan. "Udah mama...udah..! jangan diterusin lagi. Kalau satu sendok ga papa. Wong ga mau kok dipaksain. Emang romusha yang dipaksa-paksa," kataku semakin kesal. Melihat kemarahanku meledak, istriku lalu menghentikan aksinya. "Ini juga satu sendok ayah," katanya membela diri.
Setelah diletakkan dari pangkuan ke tempat tidur, Najwa langsung aq gendong ke luar rumah. Aq ciumin, aq peluk dengan penuh kasih sayang. "Ayah sayang kamu nak. Apapun akan ayah lakukan demi kamu," kataku berbisik di telinga mungilnya. Najwaku hanya diam. Dia mencoba melihat sekeliling lewat mata lentiknya. Aq melihat ada sesuatu kebebasan di matanya. Dia mulai mau berbicara dengan bahasanya sendiri. Meracau entah apa artinya. Aq pun membalas kata-katanya dengan kata apapun yang bernada kasih sayang. "Najwa sekarang sudah gede. Cantik, pinter. Ga boleh rewel. Najwa anaknya ayah. Harus pintar. Harus bisa jagain mama," kataku lagi membalas racauannya.
Dari luar rumah, aq lihat mamanya beres2 di dapur. Terdengar sesuatu sedang digoreng. "Kasihan mamanya. Mungkin karena terlalu capek ngasih asi. Jadi untuk membantu terpaksa dikasih bubur untuk tambahan makanan," kataku dalam hati setelah kemarahanku reda. Aq ajak Najwa masuk kembali masuk rumah kontraan. Aq letakkan di karpet dengan bantal kecil di kepalanya. Aq nyalain TV. Sambil melihat berita di TVone, aq mencoba membaca koran hari ini. Tidak beberapa lama, mamanya datang. "Sini nak. Ayo mandi biar seger," katanya seperti kangen setengah kehilangan setelah aq marah-marahin.
Memang, sejak balik ke Jakarta usai mudik dari kampung, Najwaku semakin kuat minum asi. Sekali mimik, dia bisa berjam-jam. Jika dilepas selalu rewel. Praktis, jika sudah manja seperti itu, mamanya tidak bisa kemana-mana. Jangankan keluar rumah, untuk beres-beres rumah saja tidak sempat.

Jika sudah begitu, sepulang kerja pukul 22.00, dan aq melihat rumah masih berantakan, aq langsung beres2in sendiri. Baju, sampah aq angkut2in ke belakang. Aq ambil sapu lalu kubersihkan lantai rumah. Terkadang, melihat kelakuanku, istriku marah2. "Biarin tar mama yang beresin. Emang mama ga kerja apa. Seharian anakmu tuh netek mulu. Kalau dilepas nangis. Tidur harus ditemenin. Ditinggal rewel," katanya mencoba protes.
Apapun kondisi rumahku, aq males ribut. Apalagi untuk hal-hal yang kecil yang menurutku tidak ada gunanya diributin. Jika istriku sudah protes, semua langsung aq tinggal. Terkadang, jika terlalu capek, istriku jadi kesal. "Ayah ini, bentar-bentar ganti baju. Ini baru satu menit dipakai, dah ganti lagi. Mama capek. Dah kerjaan banyak, anak rewel-rewel terus," katanya menerangkan kondisinya. Jika sudah bilang begitu, aq menjadi ikut kesal. "Udah ga usah banyak ngomong. Apa yang bisa dikerjakan, kerjakan. Kalau ga bisa ya ga usah dikerjakan. Kerja itu yng penting ikhlas. Tanpa paksaan. Kalau ga bisa, tar aq sendiri yang ngerjain. Yang penting kamu ngurusin anak," kataku.
Biasanya, usai bertengkar seperti itu, setiap ada sesuatu yang ga beres di rumahku, langsung aq tangani sendiri. Nyuci, ngepel, beresin barang2 yang tercecer di kamar tidur, ruang tamu atau buang sampah ke belakang. Biasanya, juga kondisi sudah pulih seperti semula, istriku tidak lagi capek, kondisi lagi fit, perempuan ambon itu mulai bermanja2 lagi. "Ayah, tar Najwa dapat adik lagi kan," katanya merajuk. Mendengar itu, singkat aq langsung jawab. "Gak. Ogah. Gimana mau dapat adik lagi kalau ngurus Najwa aja masih belum beres. Kalau dah bisa buat najwa ga nangis, baru boleh ada adik," jawabku.
Untuk mengurus malaikat kecilku memang hanya ada istriku yang menjaganya di rumah. Sebab, untuk mencari pembantu susah. Si mbah yang pernah bantu2 di rumah hanya bertahan dua minggu. Karena sakit lalu izin ga bisa ke rumah lagi. Praktis, hanya istriku yang mengasuh anakku. Termasuk beres2 rumah.
Najwaku sendiri, jika kondisinya lagi fit tidak terlalu rewel. Setiap dibilangin jangan nangis kecuali lapar, dia menurutinya. Habis dikasih asi langsung tertidur pulas. Guling kecil dipeluknya erat. Badan mungilnya tertidur miring. Persis layaknya orang dewasa. Jika habis dimandiin sore hari, dikasih mimik, langsung tidur hingga tengah malam. Jika sepulang kerja belum bangun2 juga, aq ciumin hingga terbangun. Supaya mimik dulu biar ga bangun lagi sampai pagi.
Jika tidurnya lelap banget, pukul 04.30, baru bangun. Padahal aq sendiri masih terlelap. Soalnya terkadang, jika habis sholat n zikir, aq baru tidur pukul 03.00 dini hari. Jika pagi buta anakku sudah menendang2, lalu suaranya meracau, kami pun tidak bisa tidur lagi. Sebisa mungkin anakku mencoba membangunkan mamanya. Nendang2 ke kanan dan ke kiri. Jika tidak mempan, dia menggunakan trik pura2 menangis. "hu..uuu..uuu,". Begitu aq bangkit dari tidur dan melihatnya, Najwaku malah tersenyum dan bicara meracau. "Udah deh kalau dah ngajak ngobrol pasti ga mau tidur lagi," kata istriku. Jika aq masih ngantuk banget. Aq bilang ke istriku untuk melilingnya. Atau jika mamanya kebetulan lagi capek, aq terpaksa bangkit dari tidur sambil mendekatkan wajahku ke mukanya. Karena saking ngantuknya, sesekali mataku aq buka, lalu terpejam lagi. Hanya untuk memastikan anakku ada teman untuk diajak bicara.
Najwa...Najwa...moga jadi anak pintar ya nak...semua harapan ayah, mama, jika saat ini belum kesampaian, semoga engkau bisa mewujudkannya kelak..

Ulujami, 15 Oktober 2008

06 Oktober 2008

Perjalanan Panjang Malaikat Kecilku


Sejak kelahiran anakku yang pertama, istriku Shelvia Jaflaun gembira luar biasa. Setelah lama ditunggu, akhirnya malaikat kecil yang didambakan lahir juga ke dunia. Saking bangganya, sejak anakku mulai bisa berumur satu bulan, mamanya terus merengek-rengek ngajak bepergian dengan membawa malaikat kecilku.Terutama untuk berkunjung ke sejumlah sanak keluarga dekat. Mulai dari Cawang, Jakarta Timur, Ciledug hingga Bekasi. Maklum, sejak kami menikah 2006 lalu, aq hanya bilang setelah satu tahun baru akan punya anak. Tahun 2007, istriku kembali menagih kenapa tak kunjung punya anak. Istriku semakin sedih saat periksa ke dokter dinyatakan kandungannya lemah. Tapi aq bilang dokter hanya manusia. Anak itu pemberian Tuhan. Jika Dia menghendaki, tak ada siapapun yang bisa menghalanginya. Begitu juga jika Dia tidak menghendaki sesuatu, maka tak ada siapapun yang bisa menolaknya. "Gusti Allah itu Maha Kuasa istriku," kataku meyakinkan. Tapi istriku tetap ngotot mencari cara agar bisa cepat hamil. Mulai minum ramuan, makanan ini itu, rajin ke bidan dan ke dokter hingga pijat urut kandungan di Bekasi yang suruh bolak balik bawa kelapa hijau. Saat itu, aq cuekin dan ternyata memang hasilnya tetap nol. Setiap telat datang bulan, tidak beberapa lama pasti haid lagi.
Setiap kami berkunjung ke tempat keluarga atau ketemu dengan kawan, istriku selalu ditanya-tanya kapan punya momongan. Jika pertanyaan itu muncul, aq buru-buru menjawabnya. "Habis lebaran kami baru akan punya anak,". Pertanyaan itu selalu saja terulang-ulang hingga ratusan kali. Aq pun menjawabnya dengan jawaban yang sama berulang-ulang kali. Lebaran 2007, saat pulang ke kampung, istriku gembira bukan main karena saat itu sudah telat sekitar dua minggu. Tapi, aq bilang itu bukan hamil tapi telat biasa. Dia ngamuk dan ngotot mengklaim kalau hamil. Tapi begitu balik ke Jakarta, istriku kembali datang bulan. "Tu akibatnya kalau tidak yakin ama gusti Allah. Udahlah, ga usah neko-neko, kalau gusti Allah menghendaki pasti terjadi. Kalau dihekendaki punya anak, ya punya anak. Kalau tidak ya tidak. Gitu aja kok repot," kataku untuk meredam kekecewaannya.

Waktu terus berjalan, lambat laun istriku sudah mulai melupakan obsesinya punya anak. Kepasrahannya sudah mulai tumbuh pelan tapi pasti. Setiap aq suruh sholat untuk berdoa agar dikaruniai anak, Shelvia Jaflaun istriku selalu manut. Suatu malam istriku muntah-muntah. Aq bilang, mama hamil kali. Begitu mendengar aq mulai merestui dia punya anak, istriku girang bukan main. Malam itu juga dia minta dibeliin sensitif untuk tes kehamilan. Tapi aq bilang besok aj sekalian berangkat kerja. Diapun luluh dan rela menunggu. Esok harinya sepulang dari liputan pukul 22.30, istriku gembira sekali aq belikan sensitif. Malam itu istriku ngajak cerita terus seputar rencana nanti kehamilannya dan rencana-rencana setelah punya anak. Karena dah capek, aq males membahasnya panjang lebar. "Cara pakainya habis tidur. Sekarang tidur dulu sana," kataku malam itu. Karena capek, habis sholat, nonton tv bentar, aq langsung tidur. Pukul 03.00 dini hari, istriku membangunkanku. "Yah..yah..mama hamil yah..mama positif..lihat ini," katanya menggoyang-goyang badanku yang masih tidur pulas.
Istriku pun melonjak-lonjak kegirangan. Setengah ngantuk aq masih sempat berpikir. Pasti istriku tidak tidur semalaman sejak dibeliin sensitif. Tapi ga papa lah kasian juga dia tak kunjung punya anak. Meskipun saat itu, yang ada dalam pikiranku hanya satu. Aq pingin punya anak setelah gajiku naik. Karena ga mungkin membiayai keluarga sementara gajiku masih pas-pasan.
Tapi begitu istriku hamil, harapanku mulai aq pompa. "Toh rezeki dari Gusti Allah," kataku. Alhamdulillah, memasuki tiga bulan kehamilan, tepatnya 1 Mei 2008, seluruh karyawan gajinya naik. Termasuk diriku. "Itu rezeki anak," kata istriku.
Sejak saat itu, kampanye istriku untuk mengabarkan calon anakku terus dilakukan. Tetangga dekat, tetangga jauh, keluarga dekat, keluarga jauh. Praktis, tidak ada waktu luang untuk istirahat selama hari liburku. "Mungkin karena saking bangganya punya anak. Wajarlah," kataku dalam hati.

Maka, begitu Lebaran tiba, bayangan istriku sudah ada di kampung halamanku. Bagaimana nanti malaikat kecilku yang dibangga-banggakan akan dikenalkan ke seluruh keluarga besar Tuban. Tapi rencana untuk pulang kampung itu banyak ditentang. Baik tetangga, keluarga maupun teman. Alasannya sederhana. Anakku masih terlalu dini untuk diajak bepergian jauh. Sangat riskan jika harus naik angkutan umum berdesak-desakan dengan orang lain. "Kamu bisa bayangin bagaimana jika anakmu berkumpul dengan orang-orang yang memiliki riwayat penyakit berbeda-beda. Ya kalau sehat semua. Bagaimana jika ada yang sakit lantas menularkan lewat udara. Kalau mau mudik masih bisa ditoleransi jika naik kendaraan pribadi," saran seorang teman. Tapi saran apapun yang melarang membawa anakku mudik ke kampung tak membuat istriku goyah. Aq sendiri juga memberi masukan untuk mempertimbangkan bagaimana jika tak mudik saja. Toh itu justru menguntungkan. Biaya transportasi Jakarta-Tuban PP yang menghabiskan sekitar Rp 3 juta bisa ditabung. Apalagi nyari tiket kereta juga susah. "Ga ah..pulang aja. Tar nenek ama uyutnya nyari-nyari. Kan belum lihat Najwa. Mereka kan mau nggendong," kata istriku tetap ngotot. Dalam hati, aq berpikir, apakah ini keegoisan orangtua atau justru bentuk kasih sayang sekaligus pembelajaran bagi anakku. Pertanyaan itu aq biarkan mengambang tanpa jawaban.
Senin (29/9) kami akhirnya mluncur naik KA Gumarang eksekutif dari Stasiun Gambir. Kami dapat kursi paling belakang, gerbong paling belakang kursi duduk 13C dan 13D. Pukul 18.00, kereta melaju dengan pelan. Untungnya, malam itu, penumpang KA masih wajar dan tidak terlalu membeludak. Sehingga tidak ada yang duduk di bawah atau di lorong-lorong. Selama perjalanan, Najwa seperti baru menyesuaikan diri. Maklum, perjalanan itu termasuk yang pertama sejak dia lahir. Kereta terus melaju, gerbong paling belakang terus bergoyang-goyang keras. Kulihat mata lentiknya hanya terpejam sesaat lalu terbuka kembali. Begitu seterusnya hingga tengah malam. Mungkin dia membayangkan kenapa ada goyangan terus menerus. Padahal, saat tidur di rumah, hal itu tidak pernah terjadi. Tapi Najwa tidak rewel lantaran gerbong sangat sejuk dilengkapi AC. Selama 12 jam perjalanan, kami bergantian menggendongnya. Jika terbangun dan nangis, mamanya langsung menepuk2 badannya atau jika tidak mempan langsung memberinya ASI. Lalu kami gantian menggendongnya di pangkuan. Selama perjalanan, kami selalu membisiki kupingnya. "Jangan rewel ya nak. Kita mo mudik pulang kampung. Najwa harus kuat, harus sehat. Biar nanti bisa ketemu uyut di kampung. Kalau adek kuat, nanti gantian pulang kampungnya ke Ambon," kataku dan istri memberikan spirit.

Alhamdulillah, pukul 05.00, kami kereta sudah masuk di Stasiun Bojonegoro. Sesaat kami menunggu karena jemputan belum tiba. Setengah jam kemudian, de tatho (adik sepupu), Ida (adik kandung) ama pak ten ira (paman) jemput kami dengan tiga sepeda motor. Sampai di rumah, semua keluarga menyambut dengan hangat untuk melihat malaikat kecilku. Semua bergantian menciuminya lalu menggendongnya. Oleh-oleh lebaran berupa baju koko, sarung, jilbab, baju langsung dibagikan habis. Istriku terlihat sangat gembira dan bangga anaknya dilihatin banyak orang.
Memasuki hari kedua di kampung, Najwa nangis tak henti-hentinya. Bukan nagis biasa, tapi histeris. Semua kaget. Ibu bapak yang tidak biasa melihat tingkah sang bayi panik luar biasa. Begitu juga Shelvia Jaflaun istriku. "Biasanya di Jakarta tak pernah nangis seperti itu," kata istriku kehabisan akal menenangkan Najwa Syifa anakku yang dari siang hingga sore tak henti-hentinya menangis.
Memang hari kedua lebaran, panas terik matahari di kampungku Prambon, Soko, Tuban, Jawa Timur panasnya luar biasa. Kipas angin yang dipasang tak mampu menepis hawa panas yang merasuk hingga ke dalam rumah. Najwa terus menangis dan menunjukkan sikap gelisah yang luar biasa. Semua bergantian untuk menggendongnya. Tapi tak satupun yang berhasil menghentikan tangis histeris Najwa kecilku. Saking lamanya menangis, muka anakku menjadi keluar bintik-bintik merah. Aq mencoba membawanya ke belakang rumah. Siapa tahu dengan mendapat angin segar karena banyak pohon bisa menenangkannya. Tapi Najwa hanya berhenti menangis sebentar. Lalu rewel lagi. "Ga papa. Merah2 di keningnya itu hanya karena kepanasan. Tar juga hilang," kataku menenangkan istriku yang ikut panik.
Karena udara sangat panas, Najwa menjadi sensitif. Memasuki hari ketiga, anakku sudah mulai bisa menyesuaikan diri. Tapi, dia terlihat manja. Jika ada yang mengusiknya sedikit saja, nangisnya luar biasa dan tak mau berhenti. Apalagi, jika mamanya menyedot ingus di hidungnya atau kelamaan memakaikan bajunya. "Siapa yang ngajari begitu. Mama tidak pernah mengajari cengeng," kata istriku terkadang kesal.
Tapi aq bilang ke istriku. Najwa itu sensitif seperti ayahnya. Badan boleh body Ambon, tapi hati dan perasaannya seperti orang Jawa. "Ya kayak ayahnya itu. Makanya kalau apa-apa jangan kasar. Pelan-pelan, yang halus, jangan dikasarin, jangan dibentak. Ayahnya juga sama, jangan digituin," kataku setengah ngomel.

Sabtu (4/9) kami memutuskan kembali ke Jakarta. Setelah menghadiri reuni keluarga Maskur-Maslehah di rumahnya Kakmuh Tuban, kami langsung meluncur ke Stasiun Bojonegoro menunggu KA Gumarang yang akan meluncur ke Gambir. Kabetulan kami dapat tiket bisnis. Karena eksekutif ludes semua sampai tanggal 13 Oktober.
Dalam kereta, suasananya memang sangat tidak nyaman. Panas, ditambah penumpang berjubel. Ada yang lesehan di lantai, ada yang tiduran di lorong-lorong, ada juga yang berdiri bersandar bangku tempat duduk. Najwaku mulai rewel2. Rambut kepalanya sebentar penuh keringat setelah dilap dengan tangan. Tidurnya pun tidak tenang. Sebentar-bentar bangun dan menangis. Yang lebih membuat istriku marah-marah, kereta setiap stasiun berhenti. Meskipun itu stasiun kecil sekalipun. Praktis, perjalanan ke Jakarta terasa sangat lama. Hal itu baru pertama kali terjadi. Sebab, tahun2 sebelumnya, KA Gumarang melaju dengan kencang. Hanya berhenti ketika memasuki stasiun besar. Seperti Purwokerto, Tegal, Semarang dan Cirebon. Selain itu hanya lewat saja.
Meskipun telat tiga jam, akhirnya kami sampai juga di Jakarta. Jika sesuai jadwal, KA Gumarang sampai di Gambir pukul 06.30. Tapi baru tiba pukul 08.30. "Ya memang semua kereta telat mas. Soale harus antre dengan kereta di depannya. Banyak KA ekonomi yang diluncurkan," kata Kahumas PT KA Daops 1 Jabotabek Ahmad Sujadi ketika kami bertemu di pintu keluar stasiun.
Perjalanan itu memang sangat melelahkan. Terutama pada anakku. Tapi alhamdulilah, Najwa sampai di rumah tidak menunjukkan gejala yang tidak mengenakkan. Semoga itu bisa menjadi pembelajaran bagi anakku di masa yang akan datang. Terlepas karena keegoisan orangtuanya atau karena kasih sayangnya.

You are all that we need Najwa Syifa.

Saat teringat cerita mudik malaikat kecilku, 6 Oktober 2008

13 September 2008

Demi Oma, Najwa Kecilku Naik Angkot Ngebul..


Seharian kemarin aq mengajak si kecil Najwa Syifa jenguk omanya di Bekasi. Dari sejak Kamis (11/9) pagi hingga sore, telepon terus berbunyi yang mengabarkan mama sakit. Nyonya Klementin adalah mama kandung istriku Shelvia Jaflaun. Usianya kini sekitar 80 tahunan. Suaminya sendiri, ayah kandung istriku pak Arie Arche Jaflaun sudah lama dipanggil Yang Kuasa. Tepatnya setelah pak Frans Seda lengser dari Menteri Perhubungan. Kebetulan saat itu pak Arie adalah sekprinya. Sejak lengser itulah, pak Arie mulai sakit-sakitan. Tidak hanya karena usia, tapi juga karena kecapaian barangkali. Bisnis kopra yang sejak lama dirintis pun mulai ambruk karena ga ada yang ngurusi. Semasa hidupnya, pak Arie menikahi empat perempuan. Hingga saat ini, yang masih bertahan hidup hanya dua orang. Mama Bogor yang menjadi istri ketiga dan mama Bekasi yang menjadi istri keempat atau terakhir. Dari istri terakhir itulah lahir istriku Shelvia Jaflaun, Marselino Meluwar, Olivia Jaflaun dan Irene Jaflaun. Yang aq salut, dari dua perempuan istri pak Arie itu, keduanya sangat akrab.
Meskipun sudah tua renta, cintanya kepada suaminya masih terlihat menyala-nyala. "Itu pak arie arche datang," kata mama Bogor mengigau suatu waktu saat kami berkunjung ke Pagelaran, Ciomas, Bogor. Ucapan itu terus menjadi bayang2 pikirannya di saat memasuki usia uzur. Bahkan, saking cintanya, surat cinta yang dikirimkan pak arie hingga saat ini masih disimpan rapat2.
Begitu juga dengan mama Bekasi. Cintanya kepada pak Arie juga tak pernah memudar. Setiap kami datang, ingatan yang terbayang selalu lelaki kriting berwajah indo itu. Maklum, konon kabarnya, kakek istriku dari Belanda. Sedangkan istrinya dari penduduk lokal Ambon.
"Ibu harus datang ke Bekasi secepatnya. Nyonya Klementin darahnya naik terus," kata suara dari seberang lewat telepon kepada istriku. Suara pagi hari itu kembali dipertegas pada sore harinya.
Mendengar kabar mamanya sakit, istriku panik. Tapi aq bilang, ga papa ke Bekasi. Tapi harus ada temannya. "Telpon ina atau kakmino biar nemenin. Masak tega si kecil sendirian naik bus kota ke Bekasi," kataku. "Bilangin, tar qta yang ongkosin transport dan biaya obatnya mama. Cuma nemenin doang," kataku lagi. Sebab, pada hari biasa, aq belum bisa beranjak kemana2 sebelum brita beres. Biasanya sekitar pukul 18.30. Tapi ga mungkin jam segitu harus ke Bekasi nemenin istriku.

Tapi apa mau dikata. Dari hasil percakapan di telepon, kakmino katanya ga bisa karena harus masuk pagi mpe sore. Irene alias ina gendut juga bilang ga da waktu karena lagi syuting jadi figuran di Puncak karena nutup biaya kontrak rumahnya. Sementara Opi sangat ga mungkin karena baru saja melahirkan. "Trus piye, kalau anaknya ga ada yang punya waktu, saudara-saudara kandungnya ga ada yang peduli, ya siapa lagi kalau bukan qta yang harus ke sana," kataku singkat. Awalnya istriku mau nekad berangkat ke Bekasi sendirian ditemani si kecilku Najwa Syifa yang baru berumur 1,5 bulan. Tapi aq bilang jangan. "Tar ayah usahain. Habis door stop gubernur ato wagub langsung qta mluncur ke Bekasi," kataku mencoba mencarikan solusi.
Sialnya, Jumat pagi itu, semua pejabat Pemprov DKI lagi pergi ke Pulau Seribu. Dari Pak Kumis (sebutan gubernur), wagub hingga sekda. Balaikota sepi melompong. Trus piye?
Kuputuskan untuk menunggu seraya memilah2 isu apa yang teraktual hari ini yang bisa dirunning tanpa menunggu mereka. Pukul 14.00, semua bahan brita sudah beres. Aq langsung meluncur balik arah ke Ulujami untuk jemput istriku. Kami memutuskan naik bus metromini 609 jurusan Meruya-Blok M. Bus melaju sangat pelan dengan suara yang cukup bersik. Tidak hanya karena jalan yang bergelombang, tapi juga karena sejumlah komponen bus yang menurutku sudah banyak yang tidak layak. Sebentar-bentar bus berhenti. Sopir pun begitu cuek berhenti di tengah jalan sambil mencari2 penumpang seraya mengobrol dengan orang yang duduk di bangku paling depan. Sementara di belakang bus, sepeda motor, mobil terus mengklakson kesal. Dalam bus, aq sendiri juga ingin emosi. Oh seperti ini kelakuan para sopir bus kota atau angkot yang tiap hari bikin macet Jakarta itu. Inginku mengumpat, tapi kutahan. Aq mencoba menengok Najwa Syifa anakku. Dari balik gendongan tertidur pulas. Istriku hanya ketawa kecil. "Ini namanya bus kota anakku. Berisik, berasap, panas dan berdesakan," katanya.
Sepanjang perjalanan menyusuri jalan raya Ciledug-Blok M, kemacetan seperti tak pernah henti2nya. Yang membuat jengkel, begitu sampai di flyover Pasar Kebayoran Lama, semua penumpang disuruh turun dan dioper dengan bus di belakangnya. Tidak hanya aq atau istriku yang tambah kesal, seluruh penumpang juga pada protes. Pukul 15.00, kami sampai di terminal Blok M. Bau asap bus kota mulai tercium. Dari paling belakang hingga di ujung paling depan, semua bus saling berlomba mengeluarkan asap tebal diiringi raungan suara bus yang memekakkan telinga. Dari trotoar, kami berlari2 kecil mencoba menghindari asap, berhasil melewati satu bus, di depan bus sudah menunggu dengan asap menyengat. Jika dihitung ada sekitar 30 barisan bus di sisi kanan yang semuanya mengeluarkan suara bising dan asap tebal.
Kulihat sekeliling, para calon penumpang lain yang juga tengah berjalan kaki mencari bus tujuannya juga pada tutup hidung. Aq langsung menegur istriku untuk mempercepat jalannya seraya menutup rapat wajah anakku. Rambut anakku juga terlihat basah dengan keringat. Aq hanya mengusapnya dengan tangan. Tapi tampaknya Najwa kecilku tak terganggu dengan berantakannya Kota Jakarta. Setelah naik bus besar, perasaan sedikit lega. Tapi baru 5 menit perjalanan, dua orang preman masuk ke dalam bus. Tangannya bertato, suaranya cadel. Bukan untuk mengamen, tapi menurutku untuk merampok secara halus. "Saya tidak ingin ada penumpang di bus ini yang menyombongkan diri. Saya tidak mau mengemis, tapi saya meminta kerelaan para penumpang sekalian menyisihkan recehannya," katanya dengan diselingi racauan tak jelas. "Daripada saya merampok bapak ibu sekalian, lebih baik saya meminta baik2," katanya lagi setengah mengancam.
Emosiku mendadak naik drastis mendengar ancaman itu. Inginku berdiri untuk menggampar wajah dua preman itu. Kalau perlu kutikam biar mampus. Tapi niat itu aq urungkan setelah melihat Najwa kecilku terengah2 kepanasan dalam bus. Istriku yang mengalah dengan memberinya uang ribuan. "Kemana Pak Chairul(Kapolres Jaksel). Mahasiswa demo aj dibabat, preman2 setan seperti ini dibiarkan berkeliaran. Ato jangan2 die takut.. ato justru emang dipelihara!, " kataku dalam hati geram. Satu jam perjalanan, sekitar pukul 16.30, kami sampai di Bekasi. Di kamar, mama terlihat sangat lemas. Istriku langsung menubruk mamanya dan menciuminya. Anakku juga langsung didekatkan ke wajah omanya yang sedang terbaring di atas ranjang. Senyum mulai mengembang di bibir perempuan rambut putih itu. Istriku langsung menyerahkan uang untuk beli obat kepada perempuan yang merawatnya. Sementara Najwa aq gendong dan bercanda2 dengan omanya. "Rambutnya keliting kayak omanya...persis banget...," kata istriku memecah suasana.

Kami pun gantian, selama istri dan anakku bersenda gurau dengan omanya, aq keluar untuk menuntaskan brita yang belum aq ketik. Begitu azan magrib tiba, aq hanya minum air mineral dan mengambil sebatang rokok untuk kemudian melanjutkan ngetik via hp kembali. Pukul 20.00, kami memutuskan untuk pamit kembali ke Jakarta. Bergantian kami pamitan dengan mama. Istriku mendekatkan anakku di dada omanya. Anakku tidak banyak bergerak dengan menendang2kan kakinya seperti biasa. Omanya memeluk dengan erat. Dari bibir mungil anakku terdengar suara meracau seperti mengatakan sesuatu. Setelah pamitan, kami terpaksa ke terminal naik ojek. Soalnya, jam segitu angkot sudah tak ada yang lewat. Berbeda dengan saat berangkat, saat pulang itu, suasana terasa sangat nyaman. Para pengamen yang datang silih berganti terlihat sangat sopan. Lagu2 yang dinyanyikan juga banyak yang hit. Salah satu lagu yang aq suka dan dinyanyikan oleh pengamen lagunya ST 12. Kontan para penumpang tak henti2nya mengulurkan recehannya seraya memberi komentar. "Untungnya bukan Aris (indonesian idol)...coba kalo aris, gw kasih lebih dech," kata salah seorang penumpang. Dengan suara mendayu2 dan penuh penghayatan, membuat anganku melayang. Perempuan cantik yang duduk di depanku yang sedang bercakap2 dengan pacarnya semakin menambah warna dalam lamunanku. Teringat saat jatuh cinta dulu. Begitu syahdu, bahagia, senang bukan kepalang, sedih banget atau putus asa.
Tak terasa, bus sudah sampai di terminal Blok M. Kami turun dan kembali berjalan menuju tempat pintu keluar bus. Kali ini, asap bus lebih ganas. Baunya sangat menyengat, kebulannya terlihat di mana2. Hampir satu jam lebih kami harus berkubang dengan asap hitam itu. Pukul 22.00, kami baru dapet bus 609 jurusan Meruya. Buru2 kami masuk dan mencari tempat duduk. Bukannya lebih nyaman, justru di dalam bus kami semakin tersisa. Bus hanya melaju beberapa jengkal dan berhenti lagi. Asap tebal mengepul ke sisi kanan dan kiri bus yang kami tumpangi. Saking banyaknya, mata terasa sangat pedih. Para penumpang yang berada di dalam bus atau yang baru masuk bus juga menutup hidungnya dengan sampu tangan seraya mengernyitkan matanya atau sesekali mengusap matanya. Ada juga yang batuk2.
"Keterlaluan...terminal apa ini!" kataku mulai emosi lagi karena aq lihat anakku mulai rewel karena mungkin matanya ikut terasa pedih. "Katanya Dishub udah uji kir. Semua angkutan umum sudah lolos, bulshit...boooooong besaaaaaaaaaaar!...ngedabus, pejabat tukang tipu," kataku dalam hati marah besar.
Ada kurang lebih setengah jam kami harus bersabar dalam suasana yang sangat menjengkelkan itu. Apalagi ditambah perilaku sopir yang sengaja mengulur2 keberangkatan meski sudah gilirannya. Pukul 23.00 kami sampai rumah. Badan terasa pegal semua. Anakku masih tertidur pulas. Aq cium dan kubisikkan di telingannya. Jangan pernah lagi naik angkot atu bis kota nak. Jakarta sudah rusak. Rusak semuanya. Rusak bus kotanya, rusak pengusaha busnya, rusak juga pejabat yang mengeluarkan izin busnya. Astagfirullah hal adzim..kenapa aq ingin mengumpat terus. Maafkan aq ya Allah. Aq marah karena melihat bumi-Mu di rusak oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab..

Ulujami, 13 September 2008

08 September 2008

Selamat Jalan Pak Tri !


Pukul 22.30 tadi ada sms yang masuk. Bunyinya sungguh mengejutkan. "Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Pak Tri Semarang telah dipanggil Yang Kuasa siang tadi karena kecelakaan. Jasadnya langsung dikubur di Semarang,". Aq langsung lemas. Sejurus kemudian aq langsung telpon pae Ambarawa. Dari balik telepon aq dengar pae juga ikut lemas. "Mau diapain lagi le. Ancen wis wayahe,". (mau diapain lagi, kalau sudah waktunya). Kata pae singkat. Usaha pun tetap saja tak mampu menghentikan takdir Gusti Allah itu. Pak Tri harus menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah kecelakaan di tol Semarang siang tadi. Gara-garanya, sopir yang mengemudikan mobil dinasnya ngantuk. Pak Tri gagal diselamatkan dan langsung meninggal di tempat kejadian. Mobil ambulance yang membawanya ke rumah sakit hanya membawa kabar duka dengan mengangkut jasad tak bernyawa yang berlumuran darah. Sementara sopirnya hingga saat ini masih koma di rumah sakit.
Aq sungguh sangat menyesal belum sempat ketemu lagi sejak pertemuan terakhir di rumahnya saat lebaran 2006 lalu. Saat itu aq mau memperkenalkan Shelvia Jaflaun ke keluarga Tuban. Tapi karena Pae Ambarawa menyuruh mampir di Ambarawa, kami berdua terpaksa turun Stasiun Tawang. Saat itu azan subuh baru berkumandang. Hujan rintik-rintik menyapa stasiun tua itu. Penghuni stasiun juga terlihat masih banyak yang meringkuk di sejumlah bangku stasiun. Hanya mak tua di pintu keluar yang terlihat aktiv berjualan nasi gudek dengan lauk ayam kampung. Kata mak, kami cukup bayar Rp 18 ribu untuk berdua. Setelah makan, kami jalan buru-buru mencari komplek perumahan pegawai kereta api. Hanya berjalan beberapa blok ke arah selatan, persis di belakang masjid, rumah Pak Tri berada. "Patokannya ada kijang warna coklat le," kata pae waktu itu.
Dengan mata masih ngantuk, Pak Tri membukakan pintu dan menerima kami dengan hangat. Setelah menunggu subuh selesai, kami diantar ke Ambarawa tempat pae tinggal. Karena buru2, kami menolak untuk menunggu dibuatkan sarapan. Dalam perjalanan menunju Ambarawa, kami sempat makan ketan dan soto gading di warung di dekat pematang sawah. Kami saling berebut menghabiskan sate usus dan sate daging. Waktu itu aq bilang kalau aq mau memperistri Shelvia Jaflaun. Tapi sebelum menikah, aq bilang biar perempuan Ambon itu belajar agama di Ambarawa dulu. Setelah menguasai agama biar pae yang memperkenalkan kepada orangtuaku di Tuban. Saat itu Pak Tri hanya mengangguk-anggukkan kepala seraya mengelus2 jenggkot tiga biji kesayangannya. "Ya, bagus itu," katanya singkat.
Untuk memberikan support atas niatku, Pak Tri bahkan sempat cerita bagaimana dia ditentang mertuanya selama bertahun2. Bahkan, karena perkawinannya, musibah datang silih berganti. Pasti ada saja yang meninggal atau sakit2an tak wajar. Gara2 mo nemui calon istri pernah nyaris mau digilas kereta api. Tapi selamat karena terpeleset. Tuturnya saat itu.
Sosok Pak Tri memang sangat sederhana. Dia selalu menyebut dirinya kiai gatak. Atau orang yang suka keluyuran. Dia juga suka menyebut dirinya sunan kalijogo versi baru. Di antara murid2 pae yang ada, Pak Tri termasuk senior. Atau sahabat dekatnya pae bersama Pak Zaenal. Bersama Pak Zaenal, Pak Tri selalu mendampingi perjuangan pae menyebarkan agama kepada orang-orang yang dulu rata-rata mantan tahanan yang baru keluar dari penjara. Pak Tri termasuk murid yang paling cerdas, paling rajin dan memiliki loyalitas yang cukup tinggi. Rasa pasrahnya kepada Yang di Atas melebihi murid2 pae yang lain. Yang aq salut dari Pak Tri, mudah membaca tanda2 alam. "Kalau begini, itu artinya seperti ini".Contoh, kalau kemana2 lihat mobil merek nissan, atau kok sering mau menabrak mobil nissan saat di jalan, itu artinya suruh hati2. Peringatan, kalau bepergian dilarang jauh2. Karena, jika tidak akan menemui nissan di kuburan. Yang berarti meninggal.
Jika qta lagi ngumpul2, Pak Tri banyak membagi ilmunya kepada kami. Bagaimana cara membaca tanda yang dikirimkan Gusti Allah. Karena, dalam keyakinan Pak Tri, tanda yang dikirimkan itu bentuknya sangat konkret. Melalui malaikatnya. Malaikat dalam bentuk nyata. Bagi Pak Tri, malaikat itu bukan hanya seperti yang sering diajarkan di pesantren2 atau mushola2. Bahkan, di alam nyata pun, banyak malaikat betebaran. Yang disebutkan dalam pelajaran agama itu malaikat yang memiliki derajat yang paling tinggi. Sementara malaikat yang memiliki derajat di bawahnya ada di dunia ini. Apakah itu, pohon, tumbuh2an, binatang, hujan, angin, batu dan apapun yang ada di dunia ini. "Maka jangan dikira mereka itu tidak bisa bicara. Mereka juga hidup dengan caranya sendiri. Moko soko iku, ojo pernah ngremehno," katanya menasehati.
Pak Tri selalu menasehati, Gusti Allah itu ga akan menyesatkan hambanya. Semakin bersih hati seseorang, akan semakin mudah membaca pesan yang dikirim Gusti Allah. Jika qta bisa membaca tanda2, insya allah kita akan selamat. Begitu kata Pak Tri.
Waktu masih tugas di Bogor tahun 2005 dulu, semalaman aq sama Pak Tri begadang belajar memahami tanda2 alam. Saat itu dia bercerita kalau aq sedang dicari seorang perempuan paroh baya bersama putrinya. Mereka dari keluarga keraton yang memiliki rumah panggung. Kata Pak Tri, mereka telah mencariku sejak lama. Dia tahu aq, tapi aq ga tahu dia. Begitu kata Pak Tri bikin aq pusing. Belakangan aq ketahui, yang dimaksud keluarga keraton itu adalah keluarga istriku yang di Ambon masih ada darah keraton dengan wilayah kekuasaannya key kecil. Istriku juga pernah bercerita saat kali pertama menginjakkan kakinya di kampung halamannya dulu, langsung disambut hujan petir. Padahal, langit sedang terik2nya. Itu kata orang sana, hanya terjadi ketika ada orang baru masuk kampung ada keturunan keraton.
.
Pak Tri pernah berpesan, suatu saat aq pasti juga akan mengemban beban berat untuk menjadi penyebar agama. Tentunya dengan cara yang berbeda. Mbah Ran, gurunya maskin juga bilang begitu. Tapi berulang2 aq bilang, seumur2 aq ga bakalan mau jadi kiai. Aq cuma mau jadi diriku sendiri. Bisa mendekatkan diri dengan Gusti Allah, menjadi orang yang bersih, kaya raya, bisa membantu orang lain, punya panti asuhan dan sekolahan, tapi yang mengelola orang lain. Sementara aq sebagai donatur utamanya. Itu juga yang pernah aq ucapkan ke Udin, adik sepupuku yang jebolan pesantren. "Besok kalau aq kaya raya, kamu aq buatin pesantren tapi kamu yang jadi kiainya ya Din," kataku saat itu. Khayalanku selalu aq setting seperti itu karena banyak orang bilang ada darah dalam diriku menjadi seorang ulama besar. Tapi setiap ada orang bilang, aq selalu menjawab, no way!.
Kini Pak Tri telah tiada. Banyak kenangan yang tertinggal. Banyak pelajaran yang belum sempat aq serap. Banyak pelajaran yang belum aq mengerti. Tapi sesal tiada guna. Aq harus bisa meneruskan amanat perjuangannya.
Terima kasih Pak Tri atas rokok Djarum 76-nya. Di akherat kelak nanti kita akan nyete (rokok yang diolesi ampas kopi) bareng lagi. Tapi saat ini, doakanlah aq bisa hidup seribu tahun lagi. Agar perjuangan yang belum tertuntaskan bisa segera dibereskan. Terima kasih Pak Tri atas nasehatnya and jok2 religinya. Terima kasih Pak Tri atas dukungannya. Semoga engkau bahagia di sisi-Nya. Amin.

Ulujami, saat terkenang seorang guru, kawan, sahabat dan orangtua yang telah dipanggil oleh-Nya, 7 September 2008.

30 Agustus 2008

Jalan Raya Itu Tempatku Berzikir


Memasuki ramadhan, ustad, kyai, tukang ceramah selalu mengumandangkan untuk beribadah sebanyak2nya pagi, siang dan malam. Karena satu bulan ramadhan, kebaikannya sama dengan seribu bulan. Terkadang aq iri terhadap mereka yang punya cukup waktu untuk bermunajat kepada-Nya. Hampir 15 jam dari pagi hingga malam waktuku tercurah untuk liputan. Lalu kapan aq bisa bersimpuh di hadapan-Nya. Jika masih ada sisa tenaga, begitu nyampe di rumah pukul 23.00, aq sempatin untuk berzikir. Tentu jika Najwa, anakku yang baru satu bulan itu tak bangun2 lagi saat tengah malam. Biasanya setelah nonton bioskop di tv satu seri sekitar pukul 01.00. Jika burung wit di atas sedang lewat dan memanggil2, tandanya aq harus segera bergegas untuk ambil air wudhu untuk kemudian sholat. Pukul 03.00 biasanya sudah selesai dan bisa langsung istirahat. Itupun jika Najwa tdk bangun. Tapi biasanya sih, pukul 04.30 anakku baru merengek-rengek tanda laper atau bosan tidur. Satu jam setengah itu aq manfaatin untuk benar2 istirahat. Sebab, jika anakku sudah bangun, kecil kemungkinan mau tidur lagi. Kalau mamanya lagi kecapaian, maka praktis aq yang harus menggendongnya hingga matahari terbit.
Sejak memasuki dunia jurnalistik, hidupku memang tidak wajar. Tidak seperti kebanyakan orang yang sudah terjadwal kapan harus berangkat kerja dan kapan harus pulang untuk bercengkerama dengan keluarga dan istirahat. Tapi itu tidak terjadi padaku. Kadang, cukup banyak waktu untuk bersantai2, kadang juga tak ada waktu sama sekali. Itu juga yang dulu sebelum anakku lahir sering menjadi penyebab pertengkaran kecil dalam rumah tanggaku.
Jika badanku sudah tak bisa diajak kompromi lantaran saking capeknya setelah tenaga, otak dan pikiran tercurah habis, mataku tak mau diajak kerjasama untuk bisa tetap standby sepanjang malam. Jika sudah begitu, aq tak lagi punya waktu untuk berzikir. Berzikir itu kata guru ngajiku untuk membersihkan diri. Orang yang banyak berzikir akan bersih hatinya. Orang yang bersih hatinya akan semakin mudah membaca tanda2. Tanda apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Pendek kata, semakin bersih hati seseorang, semakin terbuka komunikasi antara manusia dan penciptanya. Terbuka pintu pengampunan, terbuka kelapangan, terbuka harapan.
Jika dulu saat di pondok atau di tempat kos, aq masih punya cukup waktu untuk bersantai ria dan berzikir. Tidak hanya malam, pagi, siang dan sore aq masih bisa membentangkan sajadah untuk kemudian memutar tasbih. Bahkan, untuk ngapelpun terpaksa aq tunda jika zikir belum selesai. Tapi sekarang kondisinya jauh berbeda. Aq harus berjuang mencari nafkah untuk keluarga.
Jika malam tiba, pikiran dan hatiku selalu mengajak untuk berzikir. Tapi tubuhku yang terkadang bandel. Tubuhku tak sekuat pikiran dan hatiku. Jika kecapaian, pasti langsung ambruk dan tahu2 sudah pagi.
Lalu kapan aq bisa seperti orang lain? bisa bekerja dan pulang tepat waktu untuk kemudian bermunajat. Mungkin orang yang punya banyak waktu tidak akan melewatkan saat-saat penting selama ramadhan. Mencari ampunan dengan bersimpuh sepanjang waktu. Mungkin, mereka yang akan bisa menikmati kemenangan saat ramadhan telah usai. Mungkin mereka yang akan mendapatkan ampunan untuk kemudian dimasukkan ke dalam surga. Tapi bagaimana dengan aq yang tidak punya waktu untuk bermunajat karena keterbatasan tenaga tubuhku?
Jika akhirnya Gusti Allah hanya memilih dan menilai mereka yang paling soleh dan beriman pun aq tidak keberatan. Jika akhirnya mereka yang masuk surga sedangkan aq harus masuk neraka pun aq tidak keberatan. Toh aq selama ini beribadah tidak untuk mencari surga atau takut kepada neraka.
Karena keterbatasan waktu itu, aq berusaha menyucikan hati dan pikiranku dengan caraku sendiri. Jika tidak berzikir saat malam tiba, maka aq pun berusaha untuk bisa tetap berzikir kapanpun aq bisa. Seperti selagi mengendarai motor bututku membelah jalanan Kota Jakarta. Justru, dengan melantunkan zikir dalam hati, aq tidak stress saat terjebak kemacetan. Bahkan, orang2 yang saat di jalan banyak memaki, mengumpat karena terjebak di kemacetan nyaris tak terdengar oleh telingaku. Termasuk raungan motor yang sengaja dibunyikan dengan nada emosi. Jika sudah larut dalam zikir, tahu2 aq sudah nyampe di tujuan. Apakah itu di kantor gubernur di jalan merdeka selatan atau sampai di rumah di kampung ulujami, pesanggrahan, jakarta selatan.
Berzikir dan berzikir. Hanya dengan itulah aq bisa tetap ingat kepada yang telah menciptakanku. Mensyukuri segala nikmat dan kebesaran-Nya. Saat aq belajar agama dulu di Ambarawa, pae selalu bilang, menjalankan agama itu harus dilandasi tiga hal. Ikhlas, yakin dan pasrah. Tanpa dengan itu, ibadah akan sia2. Karena biasanya, tanpa tiga hal itu, hati dan pikiran manusia akan dirasuki segala prasangka terhadap penciptanya. Prasangka kenapa sudah beribadah kok tidak diberi nikmat atau rizkinya. Atau prasangka kenapa Tuhan memberi cobaan yang tidak sanggup dipikulnya. Atau prasangka, kenapa sudah berusaha dan berdoa, Tuhan tidak mengabulkan harapannya.
Tapi bagiku, tiga landasan pokok itu masih ada yang perlu ditambah. Yakni, sabar dan menerima. Orang Jawa bilang, nrimo ing pandum. Mensyukuri nikmat yang sudah diterima dan tidak serakah. Sekecil apapun nikmat itu. Sabar berarti juga tidak putus asa. Itu yang ngajari bapak kandungku saleh jauhar. Seorang guru agama di kampung yang nyambi jadi petani untuk menghidupi keluarganya.
Aq ingat betul saat ada saudara sepupu (anaknya saudara ibu) yang bernama zulfa. Rumahnya tepat berdampingan dengan rumahku di kampung. Baru berumur 12 tahun atau baru kelas 4 SD harus sakit berbulan2 dan akhirnya harus menghembuskan nafasnya yang terakhir. Gara2nya disantet oleh orang yang sakit hati yang kebetulan rumahnya masih satu kampung. Meninggalnya zulfa adalah rangkaian cobaan yang diterima keluargaku sejak lama. Santet seperti tak lelah oleh waktu. Bahkan sampai paklek yang di kampungku jadi guru pengajar silat setia hati terate harus meninggal karena santet jahanam itu.
Kondisi itu terus berlanjut hingga aq kelas 2 SMA di Jogja. Gara2 santet jahanam itu aq sampai tak bisa jalan sekitar 3 bulan. Tapi alhamdulillah aq bisa sembuh dan jalan lagi. Saat itu, yang ada dalam hatiku hanya dendam. "Mentang2 aq ga bisa apa2 seenaknya disantet. Apa urusannya ma aq. Toh dari SMP aq dah ga pernah menginjak kampung lagi. Urusan di kampung, ya di kampung. Ngapain aq yang sekolah di jogja dibawa2?. Awas kalau aq punya ilmu, pasti kuhabisi," kataku kesal setengah mati karena setiap jam 3 malam selalu saja datang orang berambut panjang mau mencekikku.
Tapi bapakku selalu bilang. Sabar! jangan dibalas. Gusti Allah tahu mana yang benar dan mana yang salah. Pasrah saja kalau ada apa-apa. Begitu kata bapak selalu menasehatiku. Yang kemudian, ajaran sabar itu diperkuat saat aq belajar agama di Ambarawa. Pae selalu bilang: ojo dendam le! (jangan dendam anakku). Gusti Allah ngerti. Kita ga bales, nanti ada yang bales sendiri. Luwih apik njaluk ngapuro ning gusti Allah. Luwih apik ngresi'i ati nganggo sholat lan zikir. Wong sing sregep zikir kuwi koyo koco. Bening ga iso ditembus opo2. Kata pa'e tak henti2nya menasehatiku untuk bisa sabar dan menghilangkan segala dendam.
Setahun kemudian, aq dengar kabar, orang yang suka nyantet keluargaku masuk rumah sakit. Tiap menjelang magrib selalu teriak minta tolong. Katanya ada ratusan anak kecil yang akan mencekiknya. Masya Allah. Kasian juga ya. Saat orang itu sakit, ibuku yang selalu sabar menunggui di rumah sakit. Tak henti2nya ibu bilang, keluarga sudah memaafkan. Cepat sembuh dan bisa kembali pulang. Tapi orang itu selalu saja minta2 maaf. Katanya badannya menggigil kedinginan. Tapi kadang juga kepanasan.
Yakin, ihlas, pasrah dan sabar. Yakin bahwa segala sesuatu itu pasti terjadi atau tidak terjadi karena Gusti Allah. Ihlas, pasrah dan sabar bahwa segala sesuatu itu terjadi karena Gusti Allah menghendaki untuk kebaikan dan kemanfaatan kita. Jika tidak hari ini, berarti esok atau di masa yang akan datang. Empat landasan itu bagiku sangat pokok. Jika ibadah ritual kita selama bulan suci ramadhan tidak didasari empat hal itu, kita tak lebih seperti mengirimkan surat tanpa prangko.

Karena barangkali, Gusti Allah tidak hanya melihat seberapa besar kuantitas kita beribadah, tapi barangkali juga Gusti Allah menilai seberapa besar kualitas kita beribadah. Jadi, bagi kalian yang tidak punya waktu saat pagi, siang atau malam untuk beribadah, kapanpun itu, sekecil apapun itu, jika masih ada kebaikan, Gusti Allah tak pernah lengah mencatatnya. (waman yakmal misqola zarrotin khoiroy yarroh. waman yakmal misqola zarrotin sarroy yaroh).

Cawang, 30 Agustus 2008.