Pemprov Gagas Jamban Komunal
Pemprov DKI Jakarta mulai menggagas pembangunan jamban komunal yang terintegrasi di lima wilayah DKI. Hal itu menyusul masih banyaknya warga DKI yang tidak memiliki sarana pembuangan limbah tersebut. Diperkirakan, sebanyak 1,7 juta warga DKI tidak memiliki jamban. Akibatnya, seluruh limbah tersebut mencemari 13 sungai yang melintas di DKI. Harian INDOPOS, 15 Agustus 2008.
"Kami akan bangun jamban komunal untuk menggantikan WC-WC helikopter yang ditertibkan. Seperti yang sudah ada di Petojo Binatu," ujar Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo kemarin.
Sejumlah jamban komunal tersebut nantinya akan dibuat terintegrasi dalam satu wilayah. Tidak seperti saat ini. Meskipun warga sudah mulai banyak mengandalkan jamban komunal, limbahnya tetap mengalir ke sungai.
Dengan membangun jaringan terintegrasi, setiap kawasan padat penduduk akan dibuatkan jaring Instalasi Pengelolaan Air limbah (IPAL).
Pembangunan IPAL tersebut sempat dirintis 20 tahun lalu. Namun, terhenti dan tidak ada penambahan di setiap wilayah padat penduduk lantaran terkendala masalah dana dan perilaku masyarakat. Sebab, untuk membangun jaringan jamban komunal yang terintegrasi membutuhkan dana yang cukup besar. Sementara, warga tidak mungkin bersedia membayar untuk setiap kotoran yang mereka buang.
Tak heran jika data dari Departemen Pekerjaan Umum menyebutkan, di DKI, khusus untuk rumah tangga yang membuang limbah dengan saluran terrtutup ada 1.460.079 rumah tangga atau 63,4 persen, yang membuang limbah dengan saluran terbuka ada 784.568 rumah tangga atau 34 persen. Sementara yang membuang limbah tanpa saluran ada 56.139 rumah tangga.
Menurut Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Daerah (BPLHD) DKI Budirama Natakusumah, limbah rumah tangga seperti tinja dari kamar mandi, amonia, BOD (biological oxigen demand) serta COD (chemical Oxigen Demand) saat ini sudah banyak masuk ke saluran 13 sungai di DKI. Pencemaran sudah mencapai 70 persen.
Sebenarnya, untuk meminimalisasi pencemaran tersebut, Pemprov DKI Jakarta telah menerbitkan Pergub no 115 tahun 2005 tentang IPAL. Setiap pengembang yang membangun perumahan di DKI harus menyediakan sistem IPAL komunal. Semua limbah rumah tangga dalam kawasan tertentu dalam satu kawasan perumahan ditampung dalam satu IPAL.
Selain itu, setiap perumahan padat penduduk baik di sepanjang aliran sungai atau perumahan padat penduduk juga akan dibangun IPAL dengan perbandingan 30 rumah dibangun satu IPAL. Proyek percontohan akan dilakukan di Jakarta Timur, Jakarta Barat dan Jakarta Utara.
Saat ini, pihaknya tengah menyiapkan lokasi yang akan menjadi pilot project. Diharapkan, pada November mendatang sudah bisa terealisasi. IPAL yang akan dibangun tersebut memiliki dua saluran. Satu untuk pembuangan tinja yang akan dimanfaatkan sebagai biogas serta untuk pembuangan air. Air tersebut akan melalui tahap penyaringan (filtrasi). Sehingga, air yang dibuang ke sungai sudah bersih.
Diakuinya, saat ini, masih banyaknya limbah rumah tangga yang dibuang ke sungai lantaran minimnya sarana yang tersedia. Sehingga, penegakan hukum juga tidak bisa diberlakukan dengan efektif. Sesuai UU no 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup disebutkan, jika secara sengaja melakukan pencemaran lingkungan diancam pidana penjara 10 tahun atau denda Rp 500 juta. Jika mengakibatkan jatuhnya korban meninggal atau luka berat diancam pidana penjara 15 tahun atau denda Rp 750 juta. Jika terjadinya pencemaran akibat kelalaian diancam pidana penjara 3 tahun atau denda 100 juta. Jika menyebabkan korban meninggal atau luka berat diancam pidana penjara 5 tahun atau denda Rp 150 juta. (aak)
18 Agustus 2008
17 Agustus 2008
KPK Incar Pelayanan Publik DKI
Pemprov Warning SKPD Nakal
Pemprov DKI Jakarta mulai waspada terhadap munculnya indikasi dugaan korupsi di setiap satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang tersebar di lima wilayah DKI. Headline Harian INDOPOS, 13 Agustus 2008. Hal itu menyusul gebrakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang akan memperlebar sayap memeriksa seluruh layanan publik. Salah satunya di DKI.
Menurut ketua KPK Antasari Azhar, pengawasan terhadap layanan publik tersebut sudah lama direncanakan. Namun, banyak kalangan yang mencibir langkah KPK tersebut dianggap kurang greget. "Banyak yang mencemooh saya, masak KPK ngurusi pungli-pungli kayak gitu. Saya bilang, itu justru penting karena banyak dikeluhkan masyarakat," ujarnya usai memberi pengarahan pejabat Pemprov DKI Jakarta di Balai Kota kemarin.
Di antara layanan publik yang bakal dibidik KPK tersebut terkait layanan kesehatan,sekolah, KTP serta sejumlah layanan publik lainnya yang rentan terjadinya korupsi by need. Sebab, meskipun negara tidak dirugikan secara signifikan, masyarakat selalu mengeluhkan layanan publik tersebut. "Ini yang akan kami bimbing dan dibina. Tapi kalau korupsi yang rakus, kami sikat," tegasnya.
Pengawasan melekat itu penting untuk direalisasikan dalam rangka good governance. Bagaimana menciptakan partisipasi publik untuk mencegah terjadinya korupsi. Seperti masalah anggaran harus transparan. Apa, di mana serta jumlahnya berapa. Seluruhnya harus diungkap agar bisa diketahui publik masyarakat Jakarta. Termasuk rencana pembangunan di DKI yang belum terealisasi atau mangkrak. Harus ada ketegasan apakah akan diteruskan atau dihentikan. "Seperti monorel, biar masyarakat tidak bertanya-tanya terus. Soalnya publik banyak tanya ke KPK," ungkapnya.
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menyatakan, masukan dari KPK tersebut akan segera direalisasikan ke seluruh SKPD yang tersebar di lima wilayah DKI. Sehingga, dalam mengelola pemerintahan bisa dilakukan dengan transparan. Saat ini, pihaknya mengaku sudah mengawalinya dan akan terus ditindaklanjuti. Seperti layanan publik sudah bisa diakses lewat internet. Begitu juga dengan anggaran APBD. Dalam waktu dekat, rencana pembangunan kota juga akan dimasukkan dalam internet agar masyarakat bisa mendapat informasi dan ikut berperanserta dalam melakukan pengawasan. Namun, jika dalam layanan publik tersebut masyarakat membutuhkan legalisasi, tentu tidak hanya bisa melalui internet, tapi harus datang dan ada retribusinya. "Begitu juga tender pengadaan barang. Secara bertahap akan diumumkan kepada publik. Sebab, prosesnya memang rumit," ungkapnya.
Untuk memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), tidak bisa dilakukan dengan cara sepihak. Tapi harus melalui sistem. Sehingga, jika sistem telah diperbaiki, tata kelola pemerintahan yang baik bisa diwujudkan.
Diakuinya, KPK sendiri sudah banyak menerima masukan dan keluhan dari masyarakat DKI. Seperti soal pungutan buku sekolah. Pihaknya menyambut baik lantaran itu menyangkut pelayanan publik.
Selain soal pelayanan publik, KPK, ungkap Foke juga menyinggung soal gratifikasi. Jika ada pemberian hadiah dari satu keluarga yang lain, tidak bisa disebut gratifikasi jika tidak ada keterkaitan dengan jabatan. Namun, jika ada kekhawatiran, pejabat terkait wajib lapor kepada KPK.
Pihaknya berharap, dengan pengarahan dan pembinaan dari KPK tersebut, tidak ada lagi SKPD yang takut kepada KPK dalam merealisasikan anggaran. "Sejak awal saya bilang, kalau berpegangan dengan aturan yang berlaku, kenapa harus takut," terangnya.
Di lingkungan Pemprov DKI Jakarta, unit kerja terdiri dari, sekretariat dewan, tujuh badan, 26 dinas, lima samsat, 11 biro, sembilan kantor, 15 UPT serta Kabupaten Kepulauan Seribu.
DKI memang tidak lekang oleh pungli pada layanan publik. Banyak di antara pasien miskin ditolak rumah sakit, pungli KTP, bahkan orang yang meninggal masih terkena pungli makam. Seperti pungli sekolah misalnya.
ICW melaporkan, sedikitnya 130 sekolah diduga melakukan pungli. Jumlah tersebut diperoleh berdasarkan pengaduan dari masyarakat serta survey yang digelar mulai 2004 hingga 2008 yang melibatkan sampel 1.600 sekolah. Khusus DKI Jakarta ada 80 sekolah. Headline INDOPOS, 30 Juli 2008.
Dari temuan ICW, pungli yang terjadi di sekolah dengan berbagai modus. Mulai pembelian buku pelajaran, seragam, administrasi, uang pembangunan gedung, biaya perpisahan, ulang tahun sekolah serta yang lainnya. Besarannya antara Rp 500 ribu hingga Rp 2,5 juta.
Sementara, keluhan adanya pungli yang masuk Dinas Pendidikan Dasar DKI hingga 1.130 aduan. Jumlah tersebut yang sudah ditindaklanjuti sebanyak 300 aduan. Sebanyak 10 kepala sekolah dinyatakan terbukti melakukan pelanggaran tersebut dan telah dijatuhi sanksi.
ICW sendiri berusaha mengawal pemberantasan itu dengan melaporkan ke Kejagung. Sebab, Kejati DKI tak kunjung bergerak. Padahal, dari tahun ke tahun terus meningkat sekitar 10 persen.
Maraknya pungli memang sangat disayangkan. Dana BOS dan BOP cukup signifikan. Dana BOS yang bersumber dari APBN, tingkat SD pada 2008 sebesar Rp 21.166 per bulan per siswa. Jumlah total anggaran mencapai Rp 52 miliar lebih.
Untuk SMP, setiap siswa menerima bantuan sebesar Rp 29.500 per bulan. Total anggaran sebanyak Rp 82,7 miliar.
Untuk alokasi anggaran pendidikan yang bersumber dari APBD melalui BOP, bagi siswa SD sebesar Rp 493,8 miliardan untuk SMP sebesar Rp 327,7 miliar. (aak)
Pemprov DKI Jakarta mulai waspada terhadap munculnya indikasi dugaan korupsi di setiap satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang tersebar di lima wilayah DKI. Headline Harian INDOPOS, 13 Agustus 2008. Hal itu menyusul gebrakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang akan memperlebar sayap memeriksa seluruh layanan publik. Salah satunya di DKI.
Menurut ketua KPK Antasari Azhar, pengawasan terhadap layanan publik tersebut sudah lama direncanakan. Namun, banyak kalangan yang mencibir langkah KPK tersebut dianggap kurang greget. "Banyak yang mencemooh saya, masak KPK ngurusi pungli-pungli kayak gitu. Saya bilang, itu justru penting karena banyak dikeluhkan masyarakat," ujarnya usai memberi pengarahan pejabat Pemprov DKI Jakarta di Balai Kota kemarin.
Di antara layanan publik yang bakal dibidik KPK tersebut terkait layanan kesehatan,sekolah, KTP serta sejumlah layanan publik lainnya yang rentan terjadinya korupsi by need. Sebab, meskipun negara tidak dirugikan secara signifikan, masyarakat selalu mengeluhkan layanan publik tersebut. "Ini yang akan kami bimbing dan dibina. Tapi kalau korupsi yang rakus, kami sikat," tegasnya.
Pengawasan melekat itu penting untuk direalisasikan dalam rangka good governance. Bagaimana menciptakan partisipasi publik untuk mencegah terjadinya korupsi. Seperti masalah anggaran harus transparan. Apa, di mana serta jumlahnya berapa. Seluruhnya harus diungkap agar bisa diketahui publik masyarakat Jakarta. Termasuk rencana pembangunan di DKI yang belum terealisasi atau mangkrak. Harus ada ketegasan apakah akan diteruskan atau dihentikan. "Seperti monorel, biar masyarakat tidak bertanya-tanya terus. Soalnya publik banyak tanya ke KPK," ungkapnya.
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menyatakan, masukan dari KPK tersebut akan segera direalisasikan ke seluruh SKPD yang tersebar di lima wilayah DKI. Sehingga, dalam mengelola pemerintahan bisa dilakukan dengan transparan. Saat ini, pihaknya mengaku sudah mengawalinya dan akan terus ditindaklanjuti. Seperti layanan publik sudah bisa diakses lewat internet. Begitu juga dengan anggaran APBD. Dalam waktu dekat, rencana pembangunan kota juga akan dimasukkan dalam internet agar masyarakat bisa mendapat informasi dan ikut berperanserta dalam melakukan pengawasan. Namun, jika dalam layanan publik tersebut masyarakat membutuhkan legalisasi, tentu tidak hanya bisa melalui internet, tapi harus datang dan ada retribusinya. "Begitu juga tender pengadaan barang. Secara bertahap akan diumumkan kepada publik. Sebab, prosesnya memang rumit," ungkapnya.
Untuk memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), tidak bisa dilakukan dengan cara sepihak. Tapi harus melalui sistem. Sehingga, jika sistem telah diperbaiki, tata kelola pemerintahan yang baik bisa diwujudkan.
Diakuinya, KPK sendiri sudah banyak menerima masukan dan keluhan dari masyarakat DKI. Seperti soal pungutan buku sekolah. Pihaknya menyambut baik lantaran itu menyangkut pelayanan publik.
Selain soal pelayanan publik, KPK, ungkap Foke juga menyinggung soal gratifikasi. Jika ada pemberian hadiah dari satu keluarga yang lain, tidak bisa disebut gratifikasi jika tidak ada keterkaitan dengan jabatan. Namun, jika ada kekhawatiran, pejabat terkait wajib lapor kepada KPK.
Pihaknya berharap, dengan pengarahan dan pembinaan dari KPK tersebut, tidak ada lagi SKPD yang takut kepada KPK dalam merealisasikan anggaran. "Sejak awal saya bilang, kalau berpegangan dengan aturan yang berlaku, kenapa harus takut," terangnya.
Di lingkungan Pemprov DKI Jakarta, unit kerja terdiri dari, sekretariat dewan, tujuh badan, 26 dinas, lima samsat, 11 biro, sembilan kantor, 15 UPT serta Kabupaten Kepulauan Seribu.
DKI memang tidak lekang oleh pungli pada layanan publik. Banyak di antara pasien miskin ditolak rumah sakit, pungli KTP, bahkan orang yang meninggal masih terkena pungli makam. Seperti pungli sekolah misalnya.
ICW melaporkan, sedikitnya 130 sekolah diduga melakukan pungli. Jumlah tersebut diperoleh berdasarkan pengaduan dari masyarakat serta survey yang digelar mulai 2004 hingga 2008 yang melibatkan sampel 1.600 sekolah. Khusus DKI Jakarta ada 80 sekolah. Headline INDOPOS, 30 Juli 2008.
Dari temuan ICW, pungli yang terjadi di sekolah dengan berbagai modus. Mulai pembelian buku pelajaran, seragam, administrasi, uang pembangunan gedung, biaya perpisahan, ulang tahun sekolah serta yang lainnya. Besarannya antara Rp 500 ribu hingga Rp 2,5 juta.
Sementara, keluhan adanya pungli yang masuk Dinas Pendidikan Dasar DKI hingga 1.130 aduan. Jumlah tersebut yang sudah ditindaklanjuti sebanyak 300 aduan. Sebanyak 10 kepala sekolah dinyatakan terbukti melakukan pelanggaran tersebut dan telah dijatuhi sanksi.
ICW sendiri berusaha mengawal pemberantasan itu dengan melaporkan ke Kejagung. Sebab, Kejati DKI tak kunjung bergerak. Padahal, dari tahun ke tahun terus meningkat sekitar 10 persen.
Maraknya pungli memang sangat disayangkan. Dana BOS dan BOP cukup signifikan. Dana BOS yang bersumber dari APBN, tingkat SD pada 2008 sebesar Rp 21.166 per bulan per siswa. Jumlah total anggaran mencapai Rp 52 miliar lebih.
Untuk SMP, setiap siswa menerima bantuan sebesar Rp 29.500 per bulan. Total anggaran sebanyak Rp 82,7 miliar.
Untuk alokasi anggaran pendidikan yang bersumber dari APBD melalui BOP, bagi siswa SD sebesar Rp 493,8 miliardan untuk SMP sebesar Rp 327,7 miliar. (aak)
Mereka Bilang Kita Sudah Merdeka
Mereka Bilang Kita Sudah Merdeka
Malam ini di kampung Ulujami, RT 06/02, Pesanggarahan menggelar syukuran hari kemerdekaan. Mereka bersuka cita. Begitu juga di sejumlah lokasi lain. Berbagai lomba digelar. Mulai anak-anak hingga orangtua. Panggung hiburan juga bermunculan. Mereka bilang Indonesia sudah merdeka 63 tahun. Esok 17 Agustus, tepat di mana Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan di Lapangan Ikada (saat ini jadi taman Monas). Pada saat warga Jakarta dan seluruh pelosok negeri bersuka cita, sebenarnya hatiku miris. Ada yang mengganjal dalam hati. Ada pertanyaan yang selalu muncul. Benarkan kita merdeka seperti yang mereka katakan. Pak RT katakan, Pak lurah katakan, pak camat katakan, pak walikota katakan, pak gubernur katakan, pak presiden katakan. Layakkah mereka bersuka cita atau bahkan berhura-hura. Benarkah kita sudah merdeka. Merdeka dari apa. Penjajahan dari bangsa asing. Itu emang benar. Versus pemerintah kita. Pejabat-pejabat kita.
Tapi apa sepenuhnya benar. Bukankah saat ini kita justru dijajah oleh bangsa sendiri. Tangan-tangan asing bukankah semakin mencengkeram dengan kuat. Penjajahan secara fisik mungkin telah hilang. Tapi penjajahan dalam bentuk yang paling halus bukankah sangat kita rasakan. Kita menjadi pengemis di negeri sendiri. Kekayaan yang melimpah, sumber energi yang melimpah. Tapi kita didoktrin kekurangan energi. Harga BBM melambung tinggi. Harga bahan pokok ikut melangit. Ekonomi semakin mencekik.
Asal tahu saja, sejumlah aset bangsa ini banyak dijual ke bangsa asing. Indosat dijual zaman mega, minyak berharga di Cepu dijual zaman sby. Belum lagi freport yang menghasilkan kekayaan alam luar biasa tapi hanya dinikmati bangsa asing. Gejolak warga setempat lantaran menjadi budak di kampungnya sendiri hanya menjadi perbincangan elit-elit kita sekejap saja lalu kembali terlupakan.
Pejabat kita selalu bilang, harga minyak dunia melambung tinggi. Butuh penyesuaian agar APBN tidak jebol. Bukankah kita punya minyak banyak. Wajar saja harga tinggi. Kita mengekspor minyak mentah ke luar negeri dengan harga murah. Lalu kita beli setelah jadi dengan harga melangit. Alasannya sangat klasik. Kita tidak punya teknologi, tidak kuat beli teknologi. Tapi kita habiskan triliunan hanya untuk program BLT yang katanya sebagai kompensasi kenaikan BBM. Tapi program untuk membungkam gejolak rakyat kecil bukannya menjadi penghibur tapi justru menjadi masalah lantaran banyak disunat pejabat tingkat bawah.
Penggusuran terjadi hampir setiap hari. Pengemis, pengamen, pemulung dan ribuan warga miskin yang rata-rata pendatang digusur di setiap titik dengan berbagai alasan. Tangis janda tua, anak-anak kecil seperti tak lekang oleh waktu.
Dalam pidatonya di parlemen, sby menyebut kemiskinan jauh telah berkurang. Bangsa ini telah makmur. Apakah dia tidak tahu, tetangganya di cikeas saja banyak yang kelaparan. Apalagi di Jakarta ini. Jangankan mendapat bantuan, untuk diberi kesempatan mencari nafkah saja masih sering digusur-gusur. Seperti ada pepatah di negeri ini. Tidak ada tempat untuk orang miskin. Orang miskin hanya menjadi beban. Sampah masyarakat. Hanya bebani APBN, hanya bebani APBD. Hanya bikin ruwet kota ini.
Lalu kenapa mereka yang disalahkan. Toh mereka tidak pernah makan uang rakyat seperti pejabat-pejabat kita. Sudah digaji dari pajak hasil keringat rakyat, masih juga korupsi. Belum lagi berbagai pungutan liar. Tidak ada urusan yang bakal beres jika belum membayar. Benar-benar penjajah.
Lalu apakah kita pantas mengatakan bahwa kita telah merdeka. Merdeka dari apa. Bukankah penjajahan dalam bentuk saat ini lebih kejam. Tidak bisa dilawan dengan bambu runcing tapi mencekik setiap saat. Hal itu belum lagi penjajahan dari negara asing. Tidak hanya mengeruk kekayaan negeri secara terang-terangan yang diamini segelintir elit dalam negeri, tapi juga penjajahan dalam bentuk tekanan ekonomi dan sejumlah intervensi dalam bentuk yang lain.
Sekali lagi, apakah benar kita sudah merdeka. Merdeka dari apa, merdeka dari siapa?
Tapi, setidaknya, rasa suka cita, hura-hura saat menyambut datangnya hari kemerdekaan bisa membuat mereka yang kesusahan, mereka yang dibelenggu oleh sistem yang korup, mereka yang kelaparan di bawah terik matahari, atau mereka yang menangis karena sering digusur sejenak lupa. Sejenak lupa kalau mereka susah. Sejenak lupa kalau mereka sedang dijajah.
Ulujami, malam 17 Agustus 2008
Malam ini di kampung Ulujami, RT 06/02, Pesanggarahan menggelar syukuran hari kemerdekaan. Mereka bersuka cita. Begitu juga di sejumlah lokasi lain. Berbagai lomba digelar. Mulai anak-anak hingga orangtua. Panggung hiburan juga bermunculan. Mereka bilang Indonesia sudah merdeka 63 tahun. Esok 17 Agustus, tepat di mana Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan di Lapangan Ikada (saat ini jadi taman Monas). Pada saat warga Jakarta dan seluruh pelosok negeri bersuka cita, sebenarnya hatiku miris. Ada yang mengganjal dalam hati. Ada pertanyaan yang selalu muncul. Benarkan kita merdeka seperti yang mereka katakan. Pak RT katakan, Pak lurah katakan, pak camat katakan, pak walikota katakan, pak gubernur katakan, pak presiden katakan. Layakkah mereka bersuka cita atau bahkan berhura-hura. Benarkah kita sudah merdeka. Merdeka dari apa. Penjajahan dari bangsa asing. Itu emang benar. Versus pemerintah kita. Pejabat-pejabat kita.
Tapi apa sepenuhnya benar. Bukankah saat ini kita justru dijajah oleh bangsa sendiri. Tangan-tangan asing bukankah semakin mencengkeram dengan kuat. Penjajahan secara fisik mungkin telah hilang. Tapi penjajahan dalam bentuk yang paling halus bukankah sangat kita rasakan. Kita menjadi pengemis di negeri sendiri. Kekayaan yang melimpah, sumber energi yang melimpah. Tapi kita didoktrin kekurangan energi. Harga BBM melambung tinggi. Harga bahan pokok ikut melangit. Ekonomi semakin mencekik.
Asal tahu saja, sejumlah aset bangsa ini banyak dijual ke bangsa asing. Indosat dijual zaman mega, minyak berharga di Cepu dijual zaman sby. Belum lagi freport yang menghasilkan kekayaan alam luar biasa tapi hanya dinikmati bangsa asing. Gejolak warga setempat lantaran menjadi budak di kampungnya sendiri hanya menjadi perbincangan elit-elit kita sekejap saja lalu kembali terlupakan.
Pejabat kita selalu bilang, harga minyak dunia melambung tinggi. Butuh penyesuaian agar APBN tidak jebol. Bukankah kita punya minyak banyak. Wajar saja harga tinggi. Kita mengekspor minyak mentah ke luar negeri dengan harga murah. Lalu kita beli setelah jadi dengan harga melangit. Alasannya sangat klasik. Kita tidak punya teknologi, tidak kuat beli teknologi. Tapi kita habiskan triliunan hanya untuk program BLT yang katanya sebagai kompensasi kenaikan BBM. Tapi program untuk membungkam gejolak rakyat kecil bukannya menjadi penghibur tapi justru menjadi masalah lantaran banyak disunat pejabat tingkat bawah.
Penggusuran terjadi hampir setiap hari. Pengemis, pengamen, pemulung dan ribuan warga miskin yang rata-rata pendatang digusur di setiap titik dengan berbagai alasan. Tangis janda tua, anak-anak kecil seperti tak lekang oleh waktu.
Dalam pidatonya di parlemen, sby menyebut kemiskinan jauh telah berkurang. Bangsa ini telah makmur. Apakah dia tidak tahu, tetangganya di cikeas saja banyak yang kelaparan. Apalagi di Jakarta ini. Jangankan mendapat bantuan, untuk diberi kesempatan mencari nafkah saja masih sering digusur-gusur. Seperti ada pepatah di negeri ini. Tidak ada tempat untuk orang miskin. Orang miskin hanya menjadi beban. Sampah masyarakat. Hanya bebani APBN, hanya bebani APBD. Hanya bikin ruwet kota ini.
Lalu kenapa mereka yang disalahkan. Toh mereka tidak pernah makan uang rakyat seperti pejabat-pejabat kita. Sudah digaji dari pajak hasil keringat rakyat, masih juga korupsi. Belum lagi berbagai pungutan liar. Tidak ada urusan yang bakal beres jika belum membayar. Benar-benar penjajah.
Lalu apakah kita pantas mengatakan bahwa kita telah merdeka. Merdeka dari apa. Bukankah penjajahan dalam bentuk saat ini lebih kejam. Tidak bisa dilawan dengan bambu runcing tapi mencekik setiap saat. Hal itu belum lagi penjajahan dari negara asing. Tidak hanya mengeruk kekayaan negeri secara terang-terangan yang diamini segelintir elit dalam negeri, tapi juga penjajahan dalam bentuk tekanan ekonomi dan sejumlah intervensi dalam bentuk yang lain.
Sekali lagi, apakah benar kita sudah merdeka. Merdeka dari apa, merdeka dari siapa?
Tapi, setidaknya, rasa suka cita, hura-hura saat menyambut datangnya hari kemerdekaan bisa membuat mereka yang kesusahan, mereka yang dibelenggu oleh sistem yang korup, mereka yang kelaparan di bawah terik matahari, atau mereka yang menangis karena sering digusur sejenak lupa. Sejenak lupa kalau mereka susah. Sejenak lupa kalau mereka sedang dijajah.
Ulujami, malam 17 Agustus 2008
16 Juli 2008
Selamat Datang Malaikat Kecilku
Siang itu mataku berkaca-kaca. Seperti ada butiran air mata yang bakal jatuh dari kelopak mataku. Siang yang terik semakin membuat hatiku sunyi. Sedih campur bahagia. Namun, khawatir aq nanti benar-benar tak mampu menahan dan akhirnya menangis, kuputuskan untuk menghisap sisa rokokku dalam-dalam. Kutarik nafas panjang lalu kulepas bersamaan asap rokok yang kuhembuskan pelan-pelan. Ada beban berat campur kesedihan yang kutanggung, ada kebahagiaan yang tak terkira yang baru saja hadir. Aq sedih karena kusendiri. Tak ada keluarga yang ikut menunggu istriku tergeletak di kamar kelas 3 Melati I. Dengan apa aq harus membayar biaya rumah sakit jika tak ada yang menolongku. Tapi aq juga bahagia karena ada malaikat kecilku yang baru terlahir.
Aq duduk di kursi lusuh pojok ruang parkir RS bersalin Kartini Cipulir, Jakarta Selatan. Tidak banyak aktivitas pasien yang keluar masuk rumah sakit. Pandanganku menerawang menembus hiruk pikuk ratusan kendaraan yang saling berebut melintas di depan rumah sakit.
Beban berat itu begitu terasa. Aq telah menjadi bapak. Perjuangan berat yang dilakukan istriku sejak Sabtu (13/7) pagi pukul 08.00 hingga tengah malam pukul 23.30 akhirnya melahirkan sesosok putri mungil dengan berat 3,5 kg panjang 50 cm.
Dari dalam ruang persalinan keluar seorang perawat. "Suami atau keluarga nyonya Shelvia Jaflaun?," tanyanya seraya membuka pintu ruang persalinan yang sejak tadi tertutup untuk umum termasuk diriku. "Ya, saya suaminya," buru-buru aq menjawab.
Aq sangat terharu terasa ingin menangis. Tubuh dan hatiku bergetar hebat. Aq lihat sesosok manusia mungil sedang melihat-lihat dengan tajam sekeliling seperti mencari sesuatu. "Assalamu alaikum anakku. Gimana kabarmu di alam rahim. Kenapa kamu memandang seperti itu. Ni ayahmu sayang. Kita memang sudah saling kenal lama, cuma tidak bisa saling melihat dengan mata kepala, tapi hati kita selalu bicara," kataku dalam hati lalu kucium anakku dengan sepenuh hati.
Aneh, dia tidak menangis. Justru dia terus memandangku dengan seksama. Matanya yang jernih itu juga terlihat terbuka sangat lebar. Seperti ingin memastikan bahwa orang yang di depannya adalah orang yang diberi kepercayaan oleh Yang di Atas untuk mengasuhnya hingga tumbuh dewasa.
Darah bekas persalinan masih terlihat jelas tersisa di kepala anakku. Setelah puas kuciumi. Kutempelkan bibirku di telinga kananya. Kulantunkan suara adzan dengan sepenuh hati. Lima menit kemudian kugeser ke kuping kirinya dan kulantunkan iqomah.
Opi Jaflaun, adik kandung istriku tiba-tiba membuyarkan lamunanku bernostalgia bersama malaikat kecilku. Perawat pun mendekat akan mengambil anakku. "Suster, difoto dulu boleh ga," tanyaku. Lalu kamera poket aq serahkan kepada Opi untuk bisa mengambil saat-saat pertama pasukan perangku terlahir di dunia itu. Jepret..jepret.. blitz kilap kamera menyilaukan mata selama dua kali.
Stres yang menimpaku sejak pagi hingga tengah malam itu hilang sudah dan berganti dengan kebahagiaan.
Beban berat yang menimpaku malam itu memang kurasakan seperti tak mampu kutanggung. Betapa tidak, istriku yang keras kepala membuat ulah saat kelahiran di ruang praktik bidan Ana. Mau jongkok, mau nungging, mau duduk, mau berdiri. Pokoknya hal yang menurutku tidak lazim. Dua bidan yang membantu persalinan di ruang praktik bidan Ana hanya geleng-geleng kepala. "Ga papa bu. Mau cara apapun boleh-boleh saja. Asalkan kalau lagi kontraksi jangan ditahan, dilepas saja seperti mau beol," kata bidan sore itu. Jam dinding aq lihat pukul 06.00. Darah terus mengalir dari selangkangan istriku. Suara rintihan menahan sakit tak bosan-bosannya keluar dari mulut istriku. Karena istriku banyak maunya sesuka hatinya, bidan menyuruhku untuk membantu memegangi pahanya dan menariknya ke atas. Tujuannya, jalan keluar bayi tidak kembali tertutup.
Tapi usaha itu sia-sia. Bahkan istriku sempat marah-marah. Karena aq bilangin ga usah aneh-aneh. Yang penting lahir normal. Ingat ayah ga punya duit. Kamu orang Ambon malu-maluin ga bisa lahirin normal. Begitu kataku. Masak di tengah hutan sendirian saja bisa lahirin, kamu ga bisa. Kataku lagi dan membuat istriku emosi. "Ayah keluar aja dech," katanya kemudian.
Aq pun putus asa dan langsung keluar dari ruang persalinan. Bagiku justru itu bisa aq manfaatkan untuk sejenak menghirup udara segar sambil merokok sebatang.
Belum juga teh botol kuminum, suami bidan Ana buru-buru menghampiriku di warung. "Mas dicari tuh?," katanya yang membuatku semakin stres. Tadi diusir, sekarang dicari. Kataku dalam hati setengah jengkel setengah marah. Ternyata yang manggil aq bukan istriku. Tapi bidan Ana. Dia bilang tidak mungkin meneruskan persalinan secara normal dengan kondisi istriku seperti itu. Dia bilang, tensi darah terus naik hingga tembus 180. Jika diteruskan bisa mengancam jiwanya dan jiwa calon anakku. Mau tidak mau, bidan terpaksa merujuk proses kelahiran ke rumah sakit. Itu lantaran dia gagal memberi arahan kepada istriku. Dengan kondisi emosi, darah terus naik. Sementara istriku juga banyak ulahnya. "Ya udah ibu bidan. Jika ke rumah sakit demi kebaikan anak dan istriku ga masalah," kataku lemas.
Dalam hati, aq pun memaki-maki. Sialan. Coba kalau istriku bisa mengontrol diri dan tidak keras kepala, mungkin akan lain jadinya. Dalam keadaan berdarah, istriku dibopong ke dalam sedan. Didampingi bude rasimin (pemilik kontraan yang aq tempati), sedan warna hitam itu meluncur ke rumah sakit. Bidan meminta menawari agar bisa dirujuk ke RS Muhammadiyah, Blok M. Tapi aq bilang yang paling dekat aja. Itu berarti RS Kartini Cipulir. Sepanjang perjalanan,anganku kembali melayang. Ada dua hal yang membayangi pikiranku. Memikirkan keselamatan istri dan anakku yang saat ini terancam, kedua soal biaya. Kemana aq harus mencarinya. Jika harus masuk rumah sakit, itu artinya kondisi sudah gawat. Mau tidak mau harus operasi. Padahal, sekali operasi dibutuhkan minimal Rp 4,8 juta. Itupun bisa lebih jika ada kondisi yang tidak biasa. Sementara di dompetku tinggal Rp 600 ribu. Astagfirullah hal adzim. Siapa yang akan membantuku. Aq putus asa. Tapi Tuhan punya rencana lain yang tak aq mengerti.
Sampai di rumah sakit pukul 19.30. Istriku langsung dibawa ke ruang persalinan. Setelah diperiksa sebentar ditambah laporan dari bidan, dokter bilang tidak bisa berbuat banyak. Operasi cesar terpaksa dilakukan. Kondisi istriku sudah sangat menghawatirkan. Tensi darah 180 ditambah demam. "Maaf bapak, kami tidak berani menolong proses kelahiran secara normal. Terlalu beresiko terhadap keselamatan ibu dan bayinya. Jalan satu-satunya hanya operasi, itupun jika bapak setuju, kalau ya silakan tanda tangan," kata dokter singkat lalu meninggalkanku.
Aq pun tidak ada jalan lain. Demi calon anakku dan keselamatan istriku, tawaran operasi terpaksa aq setujui. Usai mengisi formulir, aq tertunduk lesu duduk di lantai sambil bersandar di tembok di depan ruang persalinan. Pikiranku sudah tak jelas kemana arahnya. Dua persoalan berat tengah melandaku. Pertanyaan yang selalu muncul, bagaimana keadaan istriku, bagaimana calon anakku. Pikiranku tambah stres, sejak masuk ke rumah sakit tersebut, dokter bilang belum bisa melakukan operasi. Sebab, masih harus menunggu dokter bedah dan dokter bius. Keduanya masih di RS Fatmawati. "Sebentar mas, tadi sudah ditelpon. Sekarang masih dalam perjalanan," katanya santai setiap aq tanya kenapa istriku tak kunjung ditangani.
Padahal, istriku sejak magrib tadi ketubannya sudah pecah. Darah terus mengucur. "Kurang ajar sekali rumah sakit ini. Membiarkan istriku telantar. Awas kalau terjadi apa-apa," kataku dalam hati mengancam.
Pukul 23.00, tiga mobil datang di halaman rumah sakit secara bergantian. Tukang parkir bilang itu mobilnya dokter bedah dan dokter bius. Aq buru-buru ke dalam. Ternyata operasi belum juga dilaksanakan. Aq pun frustasi. Pada saat panik itu, kluarga besar Ambon sudah pada berdatangan. Mereka mencoba memberikan semangat. Karena saking frustasinya, aq kembali keluar. Kunyalain rokok dan kuhisap dalam-dalam. Setengah jam kemudian, perawat memanggilku. "Bapak silakan masuk ruang bedah," kata salah seorang perawat kemudian menghilang entah kemana.
Kubuka pintu ruang persalinan. Sesosok bayi mungil diam membisu di atas meja yang dibungkus kain. "Itu bayinya bapak, agamanya apa. Kalau Islam silakan diazanin," kata perawat. Melihat sosok mungil aq bergetar hebat. Anakku yang kunantikan akhirnya terlahir ke dunia setelah melalui jalan panjang berliku.
Kuucapkan salam. Bayi itu menatap tajam. Matanya yang jernih mencari-cari tempatku berada. "Assalamu alaikum anakku. Ini ayah nak. Ini ayahmu," kataku.
Setelah kuazani di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri, kucium anakku sambil kubacain surah al qodr. Aq keluar ruang persalinan menuju kerumunan keluarga besar istriku sambil menunjukkan foto anakku. Putih bersih dan cantik. Semua bergantian melihatnya. Sementara istriku usai operasi langsung masuk UGD. Kata dokter harus menginap di tempat itu selama 24 jam. Baru esoknya dipindah di ruang perawatan.
Untuk bisa menjenguknya, tidak diperkenankan beramai-ramai. Hanya satu per satu secara bergiliran. Sementara keluarga melihat keadaan istriku di UGD, aq ama Tatho (adik sepupu) langsung meluncur mencari perlengkapan untuk mengubur ari-ari. Tujuh jenis bunga aq beli. Bapak tua penjual bunga minta Rp 20 ribu. Tidak banyak protes, aq kasih aja duit langsung buru-buru kembali ke rumah sakit.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 02.30. Keluarga pada pamit pulang. Aq pun ikut pulang ke rumah kontraan untuk mencuci ari-ari anakku. Satu jam lebih kucuci saudara kembar anakku sampai bersih. Lalu kutaburkan garam, asam jawa, gula dan diaduk dengan bunga tujuh jenis. Lalu kumasukkan dalam kendil yang terlebihdahulu kulapisi dengan kain kafan. Kumasukkan ari-ari dan kututup lagi dengan kain kafan sisanya. Di atasnya aq taruh kertas yang telah ditulisi surat luqman dan beberapa ayat. Aq sendiri juga tidak memperhatikan persis apa bunyinya. Sebab, itu titipan dari keluarga Tuban. Setelah itu, kuketok-ketok rumah bude untuk minta izin membongkar lantai ubin di depan kontraan sambil minta minyak tanah untuk penerangan. Setelah dibongkar pakai martil, pukul 04.00 tepat kukubur ari-ari anakku. Karena kecapaian, tahu-tahu hari sudah siang. Badan terasa pegal semua. Istriku sudah misqol tanda aq harus kembali lagi ke rumah sakit. Begitu mata terbangun, aq kembali pusing. Sebab, malam tadi, dokter minta agar uang DP Rp 2,5 juta harus dibayarkan terlebihdahulu. Tapi aq sudah pasrah, apa yang terjadi, terjadilah. Semua sudah ditentukan oleh-Nya.
Satu hari terlewati. Ternyata rumah sakit tak menagih uang DP. Mas hatta yang tadi malam akan meminjami uang untuk DP juga tak kunjung dikirim. Aq tambah stres. Pada saat kebingunganku mencari dana talangan, sms ucapan selamat mulai masuk satu per satu. Mulai Sekda Pemprov DKI Muhayat, Kepala Dinas Tramtib dan Linmas Harianto Badjoeri, Kepala Dinas Pendidikan Dasar Sukesti Martono, Kepala Dinas Bintal Kesos Maman Achdiat, Kepala Dinas Pariwisata Arie Budhiman, Kepala Dinas UKM Ade Soeharsono, mantan Astapraja Moerdiman Reksomarnoto, Kahumas PTKA Daops I Sujadi, PLN Azwar Lubis, Kahumas PT Pelni Edi Haryadi serta sejumlah pejabat lainnya. Sms ucapan selamat dari kawan-kawan Indopos juga terus berdatangan. Begitu juga teman liputan di balaikota serta sejumlah kolega.
Tuhan memang punya rencana lain. Dua hari istriku dirawat, saudara dan kolega mulai menjenguk. Ada yang membawa baju bayi, ada juga yang ikut menyisihkan saku untuk menyumbang biaya rumah sakit. Dari seberang, maskin kakak kandungku telepon katanya sudah dikirim Rp 2,5 juta. Pak Edi Pelni dan istrinya juga ikut nyumbang Rp 300 ribu. Opi adik iparku dan suaminya Fora juga ikut nyumbang Rp 300 ribu. Dela anaknya tante Lena dan suaminya juga ikut nyumbang. Malam harinya, kawan-kawan balaikota berdatangan menjenguk menggunakan mobilnya pak Indra Nonstop. Mereka berempat mewakili temen-temen balaikota. Ada Bagus Media Indonesia, Drajat Lampu Merah dan Opik Posmetro. Mereka bilang temen-temen yang lain juga akan menyusul tunggu waktu yang tepat. Dari hasil patungan diperoleh Rp 1 juta dan disumbangkan untuk menambah biaya rumah sakit. Alhamdulillah ya Allah. Maha Besar Engkau Pemberi Rezeki dan Pembuka anugerah. Terima kasih kawan-kawanku semua, saudaraku semua. Tanpa kalian, tak tahu lagi nasib keluarga kecilku ini. Dari hasil patungan itu terkumpul Rp 4,2 juta. Aq langsung bayarkan siang harinya. Aq tanya kasir, biaya hingga hari keempat habis Rp 4.840.000. Artinya, masih kurang Rp 840 ribu. Aq perkirakan, hingga istriku bisa dibawa pulang, biaya habis Rp 5 juta. Mudah-mudahan semua bisa beres.
Memang soal biaya aq sangat kerepotan. Sebab, sejak ditetapkan bukaan I tiga pekan lalu, mas hatta sudah meminjami Rp 1 juta. Kemudian keluarga Tuban juga mengirim Rp 500 ribu. Jumlah itu aq perkirakan lebih dari cukup karena istriku yakin bisa lahiran secara normal. Tapi siapa yang menyangka, Tuhan punya kehendak lain. Aq harus berangkat ke Malaysia selama lima hari. Uang tabungan ikut ludes untuk ngurus paspor dan biaya sana sini selama di Johor. Hanya tinggal uang pinjaman untuk lahiran. Itupun akhirnya juga kepotong-potong dan hingga hari H tinggal Rp 600 ribu.
Menjelang istriku pulang besok, barusan Leksin telepon. Katanya akan mentransfer biaya kekurangan rumah sakit. Rencana mo dikirim Rp 2 juta. Tapi aq bilang ga usah banyak-banyak. Rp 800 ribu atau maksimal Rp 1 juta saja untuk menutup kekurangannya. Hal itu dengan pertimbangan agar pengembaliannya nanti juga tidak terlalu berat.
Kini, aq semakin lega. Beban yang membelenggu sudah separo lebih hilang berganti kebahagiaan seutuhnya. Sekali lagi terimakasih saudaraku semua, terima kasih kawan-kawanku semua yang telah memberikan dukungan dan doanya. Hingga istriku selamat, anakku selamat dan utamanya, biaya rumah sakit tertutupi.
Oh ya, masih ada tugasku yang belum selesai. Nama apa yang pantas aq berikan kepada malaikat kecilku. Pa'e Ambarawa dua hari lalu mengusulkan agar disisipkan nama Ratna atau Sari atau Dewi. Sementara keluarga Tuban mengusulkan apapun asalkan bukan nama Jawa. Lalu siapa?
Aq bersama istri akhirnya merenung-renung. Bahwa kami mendapat momongan berkat kuasa dan keajaiban Tuhan. Dua kali permintaan dan doaku terkabul. Aq ingin istriku hamil setelah lebaran berikutnya setelah satu tahun menikah. Ternyata istriku benar-benar hamil. Kedua, aq ingin anakku lahir hari Sabtu bertepatan dengan hari liburku. Ternyata juga terkabul.
Maka, bersama istri aq putuskan nama anakku "Najwa Syifa".
Najwa berarti bisikan rahasia. Syifa berarti obat penyembuh dari segala macam penyakit. Dengan memberi nama itu, aq ingin putri mungilku kelak menjadi obat setiap penyakit yang ada di dunia ini yang menurut orang lain tidak mungkin lagi disembuhkan. Penyakit kesedihan, penyakit ketidakadilan, penyakit keangkaramurkaan, penyakit kesombongan, penyakit kesewenang-wenangan serta ribuan penyakit lain bisa dikikis habis kelak oleh putri mungilku. Sementara Najwa berarti simbol percakapan secara rahasia antara sang anak manusia dan penciptanya setelah melalui penempaan diri yang mendalam secara ruhaniah. "Man arofa nafsahu, arofa robbahu,". Siapa yang faham dan mengerti atas dirinya, maka dia akan mengetahui terhadap Tuhannya.
Karena, Najwa Syifa, proses kelahiranmu banyak hal yang dipertaruhkan. Terutama nyawa ibumu.
RS Kartini Cipulir, 15 Juli 2008
12 Juli 2008
Malaikat Kecilku Lahir ke Dunia
Pukul 08.00, istriku teriak-teriak. "Yah, perut mama sakit. Mules banget," katanya membangunkanku. Maklum, hari Sabtu bagiku merupakan hari istimewa. Sebab, setelah sepekan penuh kerja keras liputan, baru dapat libur. Seperti hari-hari biasanya, menjelang hari Sabtu, malamnya aq buat spend all night nonton film keluaran terbaru bersama Shelvia Jaflaun istriku keturunan Ambon itu di rmh kontraan kecilku yang sempit.
Pagi harinya kesempatan untuk istirahat atau jalan-jalan mengunjungi kerabat terdekat. "Tiap hari ayah pergi pagi pulang malam. Sekarang hari Sabtu, giliran waktumu untukku, untuk keluarga," kata istriku selalu protes ketika aq coba untuk molor menikmati hari libur. "Kalau Sabtu kau tagih jatah untukmu, untuk diriku sendiri kapan?," begitu biasanya aq protes kalau lagi males keluar rumah.
Memang, liputan sepekan penuh di Jakarta cukup melelahkan. Segala persoalan yang membelenggu Ibu Kota ini tak boleh luput dari perhatianku. Hampir tiap hari aq harus mengisi satu halaman penuh (dua halaman malahan. Soalnya ditambah halaman sambungan. Untuk menulis satu berita minimal harus 450 kata atau 3000 karakter). Satu halaman minimal ada tujuh berita. Satu headline, tiga berita tengah, dua kirian serta satu boks yang berisi tulisan features. Berat memang, apalagi jika Eos atau Sis (pasukan Jakarta Raya) pada libur atau lagi sepi berita.Jika keduanya masuk, Eos kebagian mencari berita lifestyle+boks, Sis ma aq bertanggungjawab berita tengah+HL. Jika keduanya lagi keok, mau ga mau, aq harus bertanggungjawab untuk mengisi penuh satu halaman. "Ak.. HL-nya belum ada, ak..beritanya kurang, ak..boksnya belum ada..," itulah kata-kata redaktur yang sangat akrab kudengar.
Tapi aq ga menyesal. Jika di TNI ada kopassus atau sniper yang bertugas di medan berat, barangkali jika di redaksi, aq adalah salah satu bagian dari tim itu. Seluruh medan perang harus dikuasai dengan baik. Setiap target harus tepat sasaran. Sekali meleset, waktu tidak akan terulang. Sore hari, saat-saat jam deadline maka akan pusing jadinya. Stres dan kalut. Telpon berdering terus. Jika tidak sigap sejak pagi, sisa beberapa menit harus bisa digunakan dengan baik. Tidak ada alasan tidak bisa. Hanya kata siap dan oke bentar lagi kirim. Itulah kata-kata yang harus keluar dari mulutku saat redaktur mengeluh halaman masih kosong.
Detik-detik kelahiran anakku yang pertama akhirnya datang. Setelah dua pekan lalu dinyatakan bukaan satu saat diperiksa, semua kerabat, teman, sahabat, pada bertanya. Kapan lahir, kok ga lahir-lahir. Begitu kata-kata yang selalu terucap. Maklum, waktu itu karena istriku panik, aq jadi izin libur ga liputan. "Insya Allah Sabtu depan," begitu aq selalu menjawab. Soalnya, jika Sabtu aq libur. Jika hari biasa tak mungkin bisa cepat pulang jika sewaktu-waktu istriku mo lahiran. Paling cepat pukul 22.30. Itupun jika tidak ada rapat di kantor. Tetanggalah yang akhirnya harus menggantikanku jika sewaktu-waktu anakku tiba-tiba akan lahir.
Bahkan aq sama istri sempat bersitegang saat ada tugas liputan di Malaysia selama lima hari pada 1 Juli hingga 5 Juli lalu. Saat itu sudah sepekan setelah dinyatakan bukaan satu. Artinya, tidak lama lagi anakku akan lahir. Sementara di rumah tidak ada pembantu atau saudara yang menunggui istriku. Tapi mau apa lagi, tugas tetap tugas. Aq harus tetap berangkat ke Johor, Malaysia. Istriku ngotot akan minum obat perangsang agar bayi yang di kandungnya cepat lahir. Tapi aq saranin lebih baik jangan minum. Khawatir mulesnya terlalu sakit. "Ya udah minum saja. Tapi kalau terasa sakit jangan mengeluh. Karena itu pilihanmu," kataku kesal setelah istriku merengek-rengek minta minum obat perangsang sambil menangis.
Aq pun kembali menyarankan, jika harus minum obat perangsang agar cepat lahir, agar sekembali dari Malaysia saja. Aq pun menemui bidan yang menanganinya. Justru di depanku bidan mengatakan lebih baik jangan minum obat perangsang. "Sakit mas. Kalau bisa alami, alami saja. Kalau saatnya lahir juga lahir," kata bidan yang akhirnya membuat istriku yakin dan tidak merengek-rengek lagi.
Lima hari aq di Malaysia. Tiap hari aq hubungi istriku. Anakku tak kunjung lahir. Hingga aq kembali ke Jakarta. Dua pekan sejak kepergianku dari Malaysia, Sabtu (12/7) hari ini, anakku tiba-tiba mau lahir. Mungkin Tuhan tahu, anakku tahu, kalau ayahnya hanya punya waktu hari Sabtu. Di luar hari itu, waktuku full untuk liputan. Aq pun bersyukur waktunya pas hari libur.
Pagi pukul 10.00 diperiksa, istriku dinyatakan bukaan tiga. Bidan menyuruh agar pulang ke rumah ambil segala perlengkapan untuk lahiran. Pukul 12.00, istriku kembali berdarah dan mengajak cepet-cepet balik ke bidan. Diperiksa lagi sudah bukaan lima. Kemudian suruh jalan-jalan lagi agar cepat sampai bukaan 10. Semua kerabat sudah aq hubungi. Termasuk para redaktur kantor Indopos. Supaya, jika anakku lahir, sudah ada penambahan pasukan di Jakarta Raya. Soalnya mau ga mau aq harus libur minimal tiga hari nungguin istriku. Redaktur pun bisa persiapan konsolidasi dengan tim Jakarta Raya yang lain agar tidak gelagapan saat aq libur. Maklum, di Jakarta Raya saat ini tinggal aq sama Sis. Jika aq harus libur, praktis hanya Sis yang bertanggungjawab untuk mengisi penuh satu halaman.
Menanti dan menanti. Sudah dua jam lebih istriku mondar mandir jalan perlahan di depan rumah bidan. Kata bidan agar bukaannya cepat bertambah menjadi 10. Arlojiku sudah menunjukkan pukul 14.15. Hampir satu bungkus rokok aq habiskan sejak pagi sambil menunggui istriku
Langganan:
Postingan (Atom)
