30 Agustus 2008

Jalan Raya Itu Tempatku Berzikir


Memasuki ramadhan, ustad, kyai, tukang ceramah selalu mengumandangkan untuk beribadah sebanyak2nya pagi, siang dan malam. Karena satu bulan ramadhan, kebaikannya sama dengan seribu bulan. Terkadang aq iri terhadap mereka yang punya cukup waktu untuk bermunajat kepada-Nya. Hampir 15 jam dari pagi hingga malam waktuku tercurah untuk liputan. Lalu kapan aq bisa bersimpuh di hadapan-Nya. Jika masih ada sisa tenaga, begitu nyampe di rumah pukul 23.00, aq sempatin untuk berzikir. Tentu jika Najwa, anakku yang baru satu bulan itu tak bangun2 lagi saat tengah malam. Biasanya setelah nonton bioskop di tv satu seri sekitar pukul 01.00. Jika burung wit di atas sedang lewat dan memanggil2, tandanya aq harus segera bergegas untuk ambil air wudhu untuk kemudian sholat. Pukul 03.00 biasanya sudah selesai dan bisa langsung istirahat. Itupun jika Najwa tdk bangun. Tapi biasanya sih, pukul 04.30 anakku baru merengek-rengek tanda laper atau bosan tidur. Satu jam setengah itu aq manfaatin untuk benar2 istirahat. Sebab, jika anakku sudah bangun, kecil kemungkinan mau tidur lagi. Kalau mamanya lagi kecapaian, maka praktis aq yang harus menggendongnya hingga matahari terbit.
Sejak memasuki dunia jurnalistik, hidupku memang tidak wajar. Tidak seperti kebanyakan orang yang sudah terjadwal kapan harus berangkat kerja dan kapan harus pulang untuk bercengkerama dengan keluarga dan istirahat. Tapi itu tidak terjadi padaku. Kadang, cukup banyak waktu untuk bersantai2, kadang juga tak ada waktu sama sekali. Itu juga yang dulu sebelum anakku lahir sering menjadi penyebab pertengkaran kecil dalam rumah tanggaku.
Jika badanku sudah tak bisa diajak kompromi lantaran saking capeknya setelah tenaga, otak dan pikiran tercurah habis, mataku tak mau diajak kerjasama untuk bisa tetap standby sepanjang malam. Jika sudah begitu, aq tak lagi punya waktu untuk berzikir. Berzikir itu kata guru ngajiku untuk membersihkan diri. Orang yang banyak berzikir akan bersih hatinya. Orang yang bersih hatinya akan semakin mudah membaca tanda2. Tanda apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Pendek kata, semakin bersih hati seseorang, semakin terbuka komunikasi antara manusia dan penciptanya. Terbuka pintu pengampunan, terbuka kelapangan, terbuka harapan.
Jika dulu saat di pondok atau di tempat kos, aq masih punya cukup waktu untuk bersantai ria dan berzikir. Tidak hanya malam, pagi, siang dan sore aq masih bisa membentangkan sajadah untuk kemudian memutar tasbih. Bahkan, untuk ngapelpun terpaksa aq tunda jika zikir belum selesai. Tapi sekarang kondisinya jauh berbeda. Aq harus berjuang mencari nafkah untuk keluarga.
Jika malam tiba, pikiran dan hatiku selalu mengajak untuk berzikir. Tapi tubuhku yang terkadang bandel. Tubuhku tak sekuat pikiran dan hatiku. Jika kecapaian, pasti langsung ambruk dan tahu2 sudah pagi.
Lalu kapan aq bisa seperti orang lain? bisa bekerja dan pulang tepat waktu untuk kemudian bermunajat. Mungkin orang yang punya banyak waktu tidak akan melewatkan saat-saat penting selama ramadhan. Mencari ampunan dengan bersimpuh sepanjang waktu. Mungkin, mereka yang akan bisa menikmati kemenangan saat ramadhan telah usai. Mungkin mereka yang akan mendapatkan ampunan untuk kemudian dimasukkan ke dalam surga. Tapi bagaimana dengan aq yang tidak punya waktu untuk bermunajat karena keterbatasan tenaga tubuhku?
Jika akhirnya Gusti Allah hanya memilih dan menilai mereka yang paling soleh dan beriman pun aq tidak keberatan. Jika akhirnya mereka yang masuk surga sedangkan aq harus masuk neraka pun aq tidak keberatan. Toh aq selama ini beribadah tidak untuk mencari surga atau takut kepada neraka.
Karena keterbatasan waktu itu, aq berusaha menyucikan hati dan pikiranku dengan caraku sendiri. Jika tidak berzikir saat malam tiba, maka aq pun berusaha untuk bisa tetap berzikir kapanpun aq bisa. Seperti selagi mengendarai motor bututku membelah jalanan Kota Jakarta. Justru, dengan melantunkan zikir dalam hati, aq tidak stress saat terjebak kemacetan. Bahkan, orang2 yang saat di jalan banyak memaki, mengumpat karena terjebak di kemacetan nyaris tak terdengar oleh telingaku. Termasuk raungan motor yang sengaja dibunyikan dengan nada emosi. Jika sudah larut dalam zikir, tahu2 aq sudah nyampe di tujuan. Apakah itu di kantor gubernur di jalan merdeka selatan atau sampai di rumah di kampung ulujami, pesanggrahan, jakarta selatan.
Berzikir dan berzikir. Hanya dengan itulah aq bisa tetap ingat kepada yang telah menciptakanku. Mensyukuri segala nikmat dan kebesaran-Nya. Saat aq belajar agama dulu di Ambarawa, pae selalu bilang, menjalankan agama itu harus dilandasi tiga hal. Ikhlas, yakin dan pasrah. Tanpa dengan itu, ibadah akan sia2. Karena biasanya, tanpa tiga hal itu, hati dan pikiran manusia akan dirasuki segala prasangka terhadap penciptanya. Prasangka kenapa sudah beribadah kok tidak diberi nikmat atau rizkinya. Atau prasangka kenapa Tuhan memberi cobaan yang tidak sanggup dipikulnya. Atau prasangka, kenapa sudah berusaha dan berdoa, Tuhan tidak mengabulkan harapannya.
Tapi bagiku, tiga landasan pokok itu masih ada yang perlu ditambah. Yakni, sabar dan menerima. Orang Jawa bilang, nrimo ing pandum. Mensyukuri nikmat yang sudah diterima dan tidak serakah. Sekecil apapun nikmat itu. Sabar berarti juga tidak putus asa. Itu yang ngajari bapak kandungku saleh jauhar. Seorang guru agama di kampung yang nyambi jadi petani untuk menghidupi keluarganya.
Aq ingat betul saat ada saudara sepupu (anaknya saudara ibu) yang bernama zulfa. Rumahnya tepat berdampingan dengan rumahku di kampung. Baru berumur 12 tahun atau baru kelas 4 SD harus sakit berbulan2 dan akhirnya harus menghembuskan nafasnya yang terakhir. Gara2nya disantet oleh orang yang sakit hati yang kebetulan rumahnya masih satu kampung. Meninggalnya zulfa adalah rangkaian cobaan yang diterima keluargaku sejak lama. Santet seperti tak lelah oleh waktu. Bahkan sampai paklek yang di kampungku jadi guru pengajar silat setia hati terate harus meninggal karena santet jahanam itu.
Kondisi itu terus berlanjut hingga aq kelas 2 SMA di Jogja. Gara2 santet jahanam itu aq sampai tak bisa jalan sekitar 3 bulan. Tapi alhamdulillah aq bisa sembuh dan jalan lagi. Saat itu, yang ada dalam hatiku hanya dendam. "Mentang2 aq ga bisa apa2 seenaknya disantet. Apa urusannya ma aq. Toh dari SMP aq dah ga pernah menginjak kampung lagi. Urusan di kampung, ya di kampung. Ngapain aq yang sekolah di jogja dibawa2?. Awas kalau aq punya ilmu, pasti kuhabisi," kataku kesal setengah mati karena setiap jam 3 malam selalu saja datang orang berambut panjang mau mencekikku.
Tapi bapakku selalu bilang. Sabar! jangan dibalas. Gusti Allah tahu mana yang benar dan mana yang salah. Pasrah saja kalau ada apa-apa. Begitu kata bapak selalu menasehatiku. Yang kemudian, ajaran sabar itu diperkuat saat aq belajar agama di Ambarawa. Pae selalu bilang: ojo dendam le! (jangan dendam anakku). Gusti Allah ngerti. Kita ga bales, nanti ada yang bales sendiri. Luwih apik njaluk ngapuro ning gusti Allah. Luwih apik ngresi'i ati nganggo sholat lan zikir. Wong sing sregep zikir kuwi koyo koco. Bening ga iso ditembus opo2. Kata pa'e tak henti2nya menasehatiku untuk bisa sabar dan menghilangkan segala dendam.
Setahun kemudian, aq dengar kabar, orang yang suka nyantet keluargaku masuk rumah sakit. Tiap menjelang magrib selalu teriak minta tolong. Katanya ada ratusan anak kecil yang akan mencekiknya. Masya Allah. Kasian juga ya. Saat orang itu sakit, ibuku yang selalu sabar menunggui di rumah sakit. Tak henti2nya ibu bilang, keluarga sudah memaafkan. Cepat sembuh dan bisa kembali pulang. Tapi orang itu selalu saja minta2 maaf. Katanya badannya menggigil kedinginan. Tapi kadang juga kepanasan.
Yakin, ihlas, pasrah dan sabar. Yakin bahwa segala sesuatu itu pasti terjadi atau tidak terjadi karena Gusti Allah. Ihlas, pasrah dan sabar bahwa segala sesuatu itu terjadi karena Gusti Allah menghendaki untuk kebaikan dan kemanfaatan kita. Jika tidak hari ini, berarti esok atau di masa yang akan datang. Empat landasan itu bagiku sangat pokok. Jika ibadah ritual kita selama bulan suci ramadhan tidak didasari empat hal itu, kita tak lebih seperti mengirimkan surat tanpa prangko.

Karena barangkali, Gusti Allah tidak hanya melihat seberapa besar kuantitas kita beribadah, tapi barangkali juga Gusti Allah menilai seberapa besar kualitas kita beribadah. Jadi, bagi kalian yang tidak punya waktu saat pagi, siang atau malam untuk beribadah, kapanpun itu, sekecil apapun itu, jika masih ada kebaikan, Gusti Allah tak pernah lengah mencatatnya. (waman yakmal misqola zarrotin khoiroy yarroh. waman yakmal misqola zarrotin sarroy yaroh).

Cawang, 30 Agustus 2008.

29 Agustus 2008

Jangan Bohongi Agamamu!


Pagi buta istriku Shelvia Jaflaun membangunkanku. "yah..yah..tar jadi beli gas atau ga usah aja. duit di dompet mama tinggal 30 ribu. tapi kalau ga beli nanti anaknya kalau mandi rebus airnya pakai apa," kata perempuan keturunan Ambon itu berulang-ulang. Setengah sadar setengah ngantuk berat, kudengar Najwa Syifa, anakku yang baru berumur 1 bulan merengek-rengek setengah menangis. Tak jelas apakah karena lapar atau karena kepanasan.
Karena masih ngantuk berat, aq menjawab sekenanya. "ga usah beli gas. buat beli makan aja," kataku singkat agar istriku tidak berisik tanya-tanya terus. "kalau mandi tar anaknya gimana yah. pakai air dingin aja?" tanya istriku lagi.
Setengah sadar setengah ngantuk, aq masih sempat mikir, apa tidak kasihan ya anakku yang masih 1 bulan harus mandi dengan air dingin. Spontan aq balik ucapanku. "ya udah, uangnya beliin gas aja buat rebus air. makannya tar aja," kataku lagi.
Setelah benar2 sadar, ada berbagai pertanyaan yang muncul dalam diriku. Semuanya saling bertentangan. Satu sisi ingin mengiba kepada Gusti Allah dengan pertanyaan standar, kenapa tidak Kau beri rizki keluargaku hari ini ya Allah (dengan nada protes). Atau, dengan nada kerendahan, ya Allah, lapangkanlah rizkiku hari ini untuk bisa memenuhi kebutuhan keluargaku.

Di sisi lain, ada juga pertanyaan, kenapa harus mengiba, kenapa harus meminta. Tidakkah kau bercermin, bahwa dirimu masih begitu kotor untuk diberi rizki melimpah. Apa yang telah kau lakukan untuk berterimasih atas segala nikmat yang telah diberikan oleh-Nya (dalam bahasa sufi). Atau dalam bahasa kapitalis, wajar saja kau kelaparan hari ini karena tak pernah berusaha. Gunakan otak, pikiran, tenaga dan segala kemampuan yang kau miliki dong! jangan hanya bermalas2an.
Barangkali, pertanyaan2 yang muncul dalam diriku menjadi cerminan apa sebenarnya manusia itu. Bagaimana manusia bersikap kepada Penciptanya. Ada yang beribadah karena bersyukur, ada yang beribadah karena ingin mendapat imbalan atau ada juga yang mengabaikan ibadah dan hanya mengejar segala keinginan. Untuk yang terakhir, jika tidak terkontrol, maka timbullah apa yang dinamakan keserakahan dan keangkaramurkaan. Di balik kejadian itu, aq ingin mencoba merefleksi apa sebenarnya ibadah itu? kenapa orang beribadah? (maklum jelang puasa coy, ikut2an latah ngomong soal ibadah).
Ibadah bagiku adalah sadar diri. Sadar kalau kita telah diberi berbagai kenikmatan oleh-Nya. Sadar kalau kita takkan bisa apa-apa tanpa pertolongan-Nya.
Konkretnya, orang disebut sadar ketika tanpa paksaan, ancaman atau perintah dari luar melaksanakan sesuatu yang menjadi kewajibannya. Sadar berarti menjiwai, sadar berarti tergerak hati.
Seperangkat norma agama terpaksa hadir ke dunia karena manusia banyak yang tidak sadar. Keserakahan, keangkaramurkaan merajalela. Manusia lupa kalau telah diciptakan oleh-Nya. Manusia lupa kalau kumpulan daging, tulang, otot, darah, itu bukanlah apa-apa. Tanpa tiupan roh-Nya, sekumpulan organ itu hanya akan terbujur kaku, tidak berguna. Ada dua hal yang membuat keserakahan dan keangkaramurkaan itu terjadi. Karena ketidaktahuan atau karena ketidaksadaran.
Sudah menjadi dasar instink manusia, jika pemenuhan perut, selangkangan serta kekuasaan adalah instrumen yang melekat dalam diri. Semua itu akan menyeruak jika kesadaran terhadap Yang di Atas itu sirna. Kemudian, diturunkanlah norma agama yang dilengkapi sanksi dan imbalan. Dalam bahasa budaya arab, iming-iming itu dikonkretkan dalam bentuk surga yang digambarkan di bawahnya mengalir air yang jernih. (tajri min tahtihal anhar). Mengapa surga digambarkan seperti itu? karena bagi orang arab saat itu, mendapatkan air yang melimpah adalah sebuah kenikmatan yang paling tinggi. Maka muncul pulalah gambaran surga dipenuhi bidadari. Karena orang arab saat itu sangat mengemari wanita menjadi selir, gundik dan pelengkap kenikmatan. Dalam bahasa kawan Sam S Bahri, intelektual muda Jogja, gambaran itu tidak lebih hanya sebuah mitos. Mitos yang berarti cara penyampaian agar bisa dimengerti ketika sesuatu itu tidak bisa dicerna oleh akal. Kemudian neraka digambarkan api yang menyala-nyala karena dianggap hukuman yang paling keras saat itu.

Sebenarnya, ketika manusia itu sadar, norma agama itu tidak perlu ada. Neraka dan surga itu tidak perlu diperkenalkan kepada manusia. Jika manusia sadar kepada Penciptanya, secara otomatis akan melakukan segala sesuatu yang menjadi kewajibannya. Atau melakukan sesuatu karena sangat berterimakasih kepada-Nya. Atau melakukan sesuatu karena mencintai-Nya. Cinta yang tulus tanpa dibayang-bayangi harapan akan mendapat imbalan ketika telah melakukan sesuatu.
Surga dan neraka biarlah menjadi milik orang yang tidak sadar itu. Tapi bagi kita yang sadar, surga dan neraka bukanlah tujuan. Kita telah diberi nikmat, maka sudah selayaknya kita bersyukur, berterimakasih kepada-Nya dengan hati yang ikhlas dan tulus tanpa mengharapkan imbalan baliknya.
Lalu apakah salah berharap mendapat pahala? jawabannya jelas tidak salah. Karena itu bagian dari kompensasi kita menjalankan norma.
Justru yang kita pertanyakan, kenapa bagi mereka yang sudah mengaku beragama tapi masih berbuat angkara murka? jawabannya karena mereka telah membohongi agama. Agama tak lebih hanya kuda troya untuk mencapai pemenuhan insting dasar manusia. Harta, tahta dan selangkangan.
Jika kita tidak sadar, seharusnya minimal kita tidak bohongi agama.

Kebayoran Lama, 29 Agustus 2008

25 Agustus 2008

Ketika Warga Miskin Haram Bernafas di Jakarta


Miris. Digusur lagi digusur lagi. Belum usai relokasi ribuan pedagang yang digusur di Taman Ayodya, Jakarta Selatan atau ribuan warga yang tinggal di sepanjang kolong tol, ribuan warga miskin yang tinggal di Taman BMW, Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara kembali digusur. Sedih dan pilu. Di manapun warga miskin tinggal, yang terdengar hanya penggusuran. Soal ini aq tulis jadi headline di Harian INDOPOS, 25 Agustus 2008 dan 26 Agustus 2008.
Ibukota memang lebih kejam dibanding ibu tiri. Kemiskinan merupakan momok bagi keindahan kota. Kemiskinan merupakan biang masalah penataan kota. Tidak ada tempat bagi orang miskin di DKI Jakarta ini. Barangkali itulah yang ada di benak para pejabat kita. Dari mulut mereka mungkin akan terdengar syair lagu betawi yang sangat akrab di stasiun televisi lokal. "siapa suruh datang ke Jakarta".
Penggusuran memang tidak manusiawi. Tapi siapa yang bisa menghalangi. Wakil rakyat yang duduk di kursi DPRD. Jangankan membela, untuk sekadar mendesak Pemprov DKI memberikan solusi pun tidak. "Mereka kan melanggar. Mereka kan ilegal. Wajar jika digusur," kata anggota dewan.
Walhasil, penggusuran pun tidak dapat dihindarkan. Minggu (24/8) pagi buta, ratusan aparat kepolisian dan Satpol PP meringsek ke lokasi. Warga yang menolak berusaha memblokir jalan RE Martadinata yang menjadi pintu masuk Taman BMW. Sunter Agung menjadi mencekam. Perang batu pun terjadi. Warga yang naik pitam melempar petugas sekenanya. Pakai batu, botol minuman, kayu, batubata atau benda-benda keras lainnya. Petugas yang akan menggusur pun tak mau diam. Mereka membalas. Lempar, pukul dan tendang. Warga kocar kacir. Buldoser dan truk Satpol PP terus meringsek. Raungan suara mesin yang mengoyak-oyak bangunan hanya bisa disaksikan dengan isak tangis. Sambil menangis pilu, anak kecil, janda tua renta berusaha menjauh dari lokasi untuk menghindari amukan aparat yang masih naik pitam.
Warga yang lelah melawan atau kalah kekuatan hanya berdiri mematung melihat tempat tinggalnya diratakan dengan tanah.
Lalu kemana mereka akan tinggal? "Ya harus pulang kampung. Mereka kan ilegal," kata Walikota Jakarta Utara Effendi Anas.
Lalu bagaimana jika mereka tidak memiliki keluarga di kampung halaman? jawabannya tetap sama. Tidak mau tahu. Orang sunda bilang bodo teing mereka mau tinggal di mana. Pemkodya Jakarta Utara atau Pemprov DKI tidak akan memberikan atau mencarikan solusi lain seperti mengizinkan mereka tinggal di rusun atau tempat lain yang layak. "Karena sekali lagi mereka ilegal. Kami sudah memperingatkan sejak lama. Tapi tak pernah diindahkan. Jadi ya harus digusur," kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.

Warga yang tinggal di Taman BMW memang tragis. Penggusuran yang dilakukan pemerintah tak dibarengi aksi kemanusiaan lainnya. Apakah itu memberikan uang kerohiman ala kadarnya, mendata mereka untuk kemudian direlokasi ke rusun atau tempat-tempat lain yang layak. Itu tentu saja berbeda dengan nasib warga di Taman Ayodya yang digusur awal tahun lalu. Atau warga yang tinggal di kolong tol Jembatan Tiga yang digusur Desember lalu. Pemberian kompensasi berupa uang kerohiman atau pemberian tempat pengganti lantaran mereka mendapat izin tinggal yang sah oleh pemangku pemerintah terdahulu.
"Kami juga akan jaga ketat sepanjang kolong tol. Agar mereka tidak lari dan tinggal di sana," kata Effendi Anas.
Lalu kemana mereka harus tinggal? "untuk sementara kami tinggal di bantaran rel pak," kata warga dengan nada harapan kosong.
Jika melihat penggusuran tanpa manusiawi itu, aq teringat beberapa bulan lalu saat Parni Hadi selaku koordinator kajian penataan kota menghadap Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.
Foke, sapaan akrab Fauzi Bowo berikrar tidak akan melakukan penggusuran untuk memperluas ruang terbuka hijau (RTH) yang diamanatkan UU. "Kami akan membeli tanah yang masih kosong, atau memperbanyak penghijauan di kelurahan-kelurahan," kata Foke kala itu saat disinggung bagaimana caranya memperluas RTH tanpa menggusur.

Tapi janji tinggal janji. Jika warga pernah membaca judul atau isi berita yang pernah aq tulis saat itu mungkin juga sudah lupa bahwa pemimpinnya pernah berjanji.
Mungkin Foke punya pertimbangan lain. Menggusur demi menegakkan hukum mungkin dianggap ibadah bagi putra betawi itu. Atau menjalankan kewajiban menata kota yang lebih baik dan lebih indah dipandang mata meski harus menggusur mungkin dianggap lebih bermartabat dibandingkan dengan hanya diam membiarkan warga pendatang itu tinggal di bangunan kumuh berserakan. "Wajar saja dia gusar gusur terus. Dari kecil saja ga pernah miskin. Hidup di keluarga kaya berkecukupan. Gimana bisa merasakan penderitaan orang kecil," kata seorang kawan nyeletuk.
Bagiku, terlepas pemerintah tukang gusur atas nama penegakan hukum atau warga yang kena gusur karena tidak taat hukum, warga yang tinggal di Taman BMW juga manusia. Mereka hanya ingin mencari nafkah di Ibukota. Mereka hanya butuh bernafas untuk bisa bekerja. Mereka hanya butuh tempat berteduh ketika hujan tiba.
Karena, warga miskin itu tidak ingin apa-apa layaknya pejabat kita yang suka mengeruk harta benda masyarakat kita.

Jika kalian termasuk warga miskin, maka siap-siaplah menjadi korban berikutnya. Karena, warga miskin haram bernafas di Jakarta.

Kebayoran Lama, 25 Agustus 2008

23 Agustus 2008

Sweeping itu Mengatasnamakan Agama


Ancaman kerusuhan kembali mengintai. Forum Betawi Rempug (FBR) melalui ketuanya Fadholi El Muhir mengancam akan kembali menggelar sweeping tempat hiburan malam di Jakarta selama bulan puasa. "Karena ini kehendak masyarakat. Perintah agama untuk memerangi kemungkaran," katanya dengan suara meledak-ledak.
Ibukota memang bukan tempat eksklusif. Tidak seperti di kampungku Tuban, Jawa Timur. Yang hanya dipenuhi kaum bersarung dan berkopyah. Aktivitas sehari-hari masih sangat sederhana. Datang ke masjid untuk sholat dan berzikir saat azan menyapa, atau datang ke tempat tetangga untuk slametan saat ada hajatan kematian atau kawinan. Selain menjalankan rutinitas keagamaan (untuk tidak menyebut agama karena ada unsur sosial budaya di dalamnya), warga di kampungku hanya datang ke sawah untuk bertani atau ke pasar untuk berdagang. Semuanya serba terukur. Ini merupakan perpaduan unik yang Clifford Geert tulis antara Islam abangan versus santri. Perpaduan unik itu direkatkan oleh simbol budaya Jawa yang oleh Frans Magnis Suseno sebut sebagai harmonisasi sosial. Dalam berinteraksi sosial, simbol budaya bahkan lebih dinomorsatukan daripada mengedepankan simbol agama yang diadopsi dari budaya arab jahiliyah. Bisa menghindari konflik dianggap prestasi untuk bisa disebut sebagai Wong Jowo. Sebaliknya, terjerumus dalam konflik bisa disebut gagal menjadi bagian dari entitas etnis budaya. Kowe ra Njowo, kata orang Jawa Timur. Atau kalau di Jogja sering terdengar "wagu". Semua bermakna kontrol sosial yang hadir dari budaya untuk menciptakan harmonisasi sosial.
Jika melihat kondisi tersebut,Jakarta sebagai Ibukota sangat jauh berbeda. Jakarta menjadi gula bagi semut. Semua entitas ada di sini. Yang menjadi tujuan bukan lagi menjalankan rutunitas keagamaan atau menciptakan harmonisasi sosial. Tesis Clifford Geert sudah tidak berlaku lagi. Tesis Frans Magnis Suseno hanya berlaku untuk sebagian kecil masyarakat saja. Di Ibukota, agama baru adalah kekayaan, kekuasaan serta prestise. Siapa yang kuat menggerus yang lemah. Tidak hanya pemegang kekuasaan struktural, tapi juga ormas yang dibentuk atas nama etnis budaya setempat.
Aq tidak tahu persis bagaimana kedalaman budaya Betawi. Apakah ada nilai sosial yang luhur seperti harmonisasi sosial bagi orang Jawa atau tidak. Tapi dari berbagai buku dan penuturan warga setempat, nilai itu jelas masih ada. Cuma banyak tergerus pengaruh luar. Tak heran, bagi yang tidak mengetahui inti budaya Betawi, yang terlintas dalam pikiran selalu negatif. Maklum, itu terlihat dari sejumlah ormas Betawi yang kerap bertindak anarkis dalam menyikapi setiap persoalan.
FBR misalnya. Ormas yang didirikan berlatarbelakang Betawi itu terhitung ormas garis keras. Anggotanya dari kalangan awam tapi di tingkat elit didominasi kelompok santri. Itu terbukti banyak kyai di dalamnya.
Perpaduan itu menghasilkan warna abu-abu. Perjuangan yang digembor-gemborkan demi masyarakat justru meresahkan lantaran tidak sedikit diwarnai aksi anarkhisme. "Itu oknum," kata Fadholi.
Tapi bagaimana jika seruan untuk bertindak anarkhisme disorong oleh pimpinan ormas yang notabene mengenal lebih dalam masalah agama. Seperti rencana sweeping tempat hiburan saat Ramadhan. Amar makruf nahi munkar. Islam harus ditegakkan. Kemaksiatan harus diberantas. Begitu kata Fadholi untuk membenarkan aksinya. Kuatnya dorongan untuk bertindak semakin dipicu banyaknya hiburan malam yang tidak menghormati bulan Ramadhan. Tarian telanjang, panti pijat plus, spa plus yang banyak mengumbar syahwat dengan mudah didapati di diskotik, bar, pub, kafe remang-remang dan bahkan di pinggir jalan sekalipun. "Karena mereka juga dibekingi aparat, kami siap bentrok," kata Fadholi yang tidak percaya i'tikad baik aparat keamanan.
Lagi-lagi aq mencoba membandingkan dengan kondisi realitas sosial di kampung-kampung Jawa. Isin, malu dan sungkan. Nilai sosial itu di Jakarta bukan menjadi landasan untuk terjadinya harmonisasi. Isin, malu dan sungkan justru menjadi pangkal terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme. Pelanggaran akan menjadi kebenaran jika ada yang bayar (jika tidak terbongkar di hadapan publik). Tidak hanya di tingkat pebisnis, tapi juga aparatur pemerintahan.
Afsus salam bainakum. Sebarkanlah salam kedamaian kepada sesamamu barangkali bagi Fadholi dan anak buahnya sulit diimplementasikan ketika melihat pelanggaran dan kebenaran dijungkirbalikkan. "Alah itu alasan mereka saja untuk dapat setoran," kata seorang kawan nyeletuk.
Terlepas ada atau tidak misi negatif, nilai sosial budaya Betawi dan nilai ajaran Islam ditafsirkan dengan cara yang paling luar. Hanya mengadopsi kulitnya saja yang notabene warisan budaya jahiliah.
Jihad Nabiyullah Muhammad SAW yang sebenarnya adalah jihad melawan diri sendiri. Insting dasar manusia untuk memberontak atau menguasai yang lain, nafsu untuk memenuhi kebutuhan perut semata atau untuk memenuhi kebutuhan selangkangan. Atau yang lebih tinggi untuk mendapatkan prestis sosial. Hadza jihadul akbar (ini adalah jihad yang lebih besar dan jihad sebenarnya) kata Nabi. Perang di zaman nabi terpaksa dilakukan kepada kaum kafirin dan munafikin karena tidak menghormati kedamaian. Nabi sangat hormat terhadap golongan lain non Islam yang menghormati kedamaian (kafir dzimmi). Mengganggu mereka berarti mengganggu Nabi.
Lalu apakah bisa dibenarkan jika ormas-ormas garis keras itu kemudian melakukan sweeping mengatasnamakan agama demi menjaga kedamaian? jawabannya jelas tidak. Sebab, masih ada i'tikad baik aparat keamanan dan pemerintah setempat.
Bagiku, jika mengacu perkataan Nabi, melakukan kekerasan di tengah kedamaian adalah kedholiman di atas kedholiman. Terlepas mereka Islam atau tidak, berbuat maksiat atau tidak. Wallahu a'lam bishowab.

Ulujami, 23 Agustus 2008

22 Agustus 2008

Ramadhan Tanpa Sweeping


FBR Siap Lawan Aparat

Pemprov DKI Jakarta memastikan selama bulan puasa mendatang tidak akan ada sweeping tempat-tempat hiburan dari organisasi masyarakat (ormas). Pasalnya, sweeping yang menjadi rutinitas tahunan itu banyak dikeluhkan masyarakat. Sebagai gantinya, Pemprov DKI Jakarta akan mengundang seluruh pemilik tempat hiburan untuk menaati jam buka tutup tempat hiburan selama puasa berlangsung.
Menurut Kepala Dinas Pariwisata DKI Arie Budhiman, sweeping tempat hiburan dari ormas yang mengatasnamakan agama memang kerap berujung pada perusakan. Untuk memastikan tidak adanya sweeping, pihaknya membentuk tim terpadu bersama aparat kepolisian yang akan mengamankan Jakarta selama puasa. Tim tersebut untuk memastikan tidak ada pelanggaran yang dilakukan sejumlah tempat hiburan. Selain juga untuk mengamankan tidak ada aksi anarkis yang dilakukan ormas selama bulan puasa.
Sebab, Pemprov DKI sudah punya aturan jelas yang mengatur hiburan malam. Ketentuan tersebut diatur dalam Perda no 10 tahun 2004 tentang Kepariwisataan. Selain itu juga SK Gubernur DKI no 87 tahun 2004 tentang jam buka tempat hiburan malam ketika bulan Ramadhan. "Aturan itu yang akan diperketat. Jadi tidak perlu ada sweeping lagi," ujarnya kemarin.
Untuk meminimalisasi pelanggaran yang memicu terjadinya sweeping, pihaknya akan mengumpulkan seluruh pemilik tempat hiburan pada Selasa mendatang. Sosialisasi akan kembali digencarkan. Agar tidak ada lagi alasan pemilik tempat hiburan tidak mengatahui aturan yang ada.
Pihaknya menghimbau, jika ada warga masyarakat yang mendapatkan ada hiburan malam yang melanggar, bisa segera melaporkan ke sudin pariwisata di masing-masing wilayah serta Dinas Pariwisata. Segala keluhan akan ditindaklanjuti aparat Dinas Tramtib dan Linmas. Jika terbukti melanggar, akan dikenakan sanksi. Mulai teguran hingga penyegelan. "Ini tentunya untuk mengurangi tindakan anarkis itu," katanya.
Menurut Sekda Pemprov DKI Muhayat, sweeping dari ormas tidak diizinkan lantaran bisa memicu terjadinya bentrokan atau perusakan. Sebab, untuk menjaga keamanan Ibu Kota, sudah aparat kepolisian. Apalagi, di DKI juga sudah ada aturan yang mengatur jam buka tutup hiburan malam. Jika warga resah akibat ulah hiburan malam, cukup melaporkan kepada aparat terkait tanpa harus bertindak main hakim sendiri.
Di tingkat internal Pemprov DKI, aparat di lima wilayah juga siap bergerak mengamankan tempat hiburan malam itu. "Ada juga Dinas Bintal Kesos dan Tramtib. Jadi cukup melapor nanti ditindaklanjuti," katanya.
Diakuinya, selama 2004 hingga 2008, pelanggaran memang masih terjadi. Namun, jumlahnya sudah jauh menurun. Sanksi yang sudah pernah dijatuhkan seperti teguran hingga penyegelan.
Sementara itu, ketua Forum Betawi Rempug Fadholi El Muhir menyatakan tidak akan mengindahkan ketentuan yang diberlakukan Pemprov DKI dan kepolisian. Sebab, selama ini, meskipun aparat kepolisian telah berjanji mengamankan bulan puasa, buktinya masih banyak pelanggaran. Begitu bulan puasa dimulai, sweeping tetap akan dilakukan di lima wilayah DKI. Seperti di Jelambar, Jakarta Barat; Mangga Besar, Jakarta Barat serta Tanjung Priok, Jakarta Utara. "Begitu juga tempat hiburan yang lain. Termasuk di Depok, Tengerang dan Bekasi," tegasnya.
Meskipun dilarang, FBR tetap akan melakukan sweeping tersebut dan siap bentrok dengan sejumlah aparat yang selama ini membekingi tempat-tempat hiburan malam. "Karena ini kehendak masyarakat. Kami akan tetap maju untuk menertibkan tempat hiburan itu," ungkapnya. (aak)