Selasa, 23 Desember 2008. Memasuki hari kedua di Ambarawa, istriku sudah menunjukkan progres report yang menggembirakan. Jika waktu datang praktis tak bisa jalan, sejak tadi malam sudah mulai bisa jalan. Dari kamar tidur ke kamar mandi mau berjalan bolak balik sendiri tanpa dituntun. Panas tubuhnya juga mulai turun pelan2. Wajah yang pucat juga mulai berangsur normal tak sepucat saat baru tiba Senin subuh lalu. Sebab, ibu istrinya Pae selalu maksa agar istriku menghabiskan makan yang disuguhkan dan minum air putih sebanyak2nya. Alhamdulillah, satu piring bisa habis. Pepaya, jeruk dll juga dimakan dengan lahap. Meskipun batuknya masih terdengar sesekali memecahkan kesunyian malam. Begitu bangun tadi pagi, aq langsung paksain agar berjemur di halaman rumah. Kaki menapak di tanah bergantian di rumput. Dengan cara itu saraf kaki sekaligus bisa terefleksi. Jika malam, telapak kaki juga aq pijit untuk menetralkan urat saraf yang terjepit. Air Ampel yang disediain Pae aq suruh minum. Sebelum dipijit dan usai dipijit serta setelah makan. Air Ampel itu diambil dari masjid Sunan Ampel Surabaya. Biasanya, Pae menggunakan air tersebut untuk ngobati para pasien. Mulai dari penyakit fisik hingga non fisik. Dengan air itu pula, Pae berusaha membantu orang memecahkan persoalan mulai pertengkaran rumah tangga hingga masalah yang dihadapi para pejabat elit. Percaya atau tidak, sumber air Ampel diyakini memiliki jalur secara langsung dengan air zam-zam di Makah. Sebenarnya, air di sumber2 lain juga memiliki jalur serupa. Namun, tidak setiap saat. Hanya pukul 03.00 dini hari hingga sebelum subuh. Secara ilmiah, aq belum sempat menelusuri kebenarannya. Di kalangan kedokteran, tidak ada perbedaan pendapat soal air. Semuanya sepakat, air memang memiliki peran menyembuhkan. Sebab, mampu membantu metabolisme tubuh.
Selain berusaha mengobati secara fisik, tiap malam Pae menggenjot zikir untuk menetralkan hawa negatif yang ada. Usai memijit telapak kaki istriku lalu menyuruh minum air, aq ikut gabung sholat dan memutar tasbih. Pukul 01.00 sudah bisa selesai, merokok satu batang, minum kopi lalu aq putuskan istirahat di kamar sebelah. Najwa sendiri aq lihat sudah terlelap di pelukan mamanya.
Di Ambarawa memang suasananya beda dengan Jakarta. Dengan dikitari deretan perbukitan, areal sawah yang menghijau dan rawa pening yang menghampar, praktis kota kecil yang dikenal luas dengan Tugu Palagannya itu hawanya sangat dingin. Tidak hanya malam hari, tapi juga saat siang. Matahari hanya sesekali muncul lalu tertutup awan kembali.
Tadi malam aq cukup kedinginan. Lupa ga bawa jaket pelapis dan celana tebal. Dengan hanya pakai celana pendek, aq terpaksa tidur meringkuk kedinginan hingga pagi menjelang.
Dengan hawa yang sejuk dan suasana tenang, aq berharap bisa membantu secara psikologis upaya penyembuhan istriku. Minimal, perempuan keturunan Ambon itu bisa istirahat dengan tenang. Sebab, malaikat kecilku telah dijaga oleh istrinya Pae. Mulai memandikan, menemani untuk bercanda hingga menggendong jika nangis. Hanya jika istriku kangen dan teriak2 panggil Najwa baru si kecil di sandingkan di pelukannya untuk disusui.
Pagi2, Ida adik kandung yang kuliah di Jogja sms akan menjenguk ke Ambarawa jika tugas2 kuliah dah kelar. Masaris malamnya juga sms ngasih saran agar suplai gizi bisa tercukupi. Sebab, aktivitas menyusui membutuhkan tenaga ekstra.
Kawan Sam dari Bogor tadi pagi juga telpon kaget setelah membaca blog. Katanya kok dadakan ke Ambarawanya. Beberapa kawan liputan kemarin juga sms dan telpon tanyain kok seharian ga nongol di Balaikota. Aq bilang izin dulu bentar nganter istri ke Ambarawa. "Wahai kawanku semua, saudaraku smua, aq hanya mengharapkan doa kalian smua. Moga2 Gusti Allah ngasih kesembuhan istriku, menjaga istri, si kecilku dari segala penyakit dan mara bahaya". Aq rela berkorban apapun demi kesembuhannya. Jika ada dokter, paramedis, atau apapun namanya yang bisa menyembuhkan istriku, dengan apapun caranya, ilmiah, non ilmiah, atau tidak masuk akal sekalipun aq sangat berterimakasih. Yang penting istriku bisa sembuh. DUH Gusti Allah, sembuhkanlah istriku. Angkatlah penyakitnya dan turunkanlah obat untuknya. Hanya kepada Engkau kami berserah diri. dan hanya kepada Engkau pula kami minta pertolongan. Tiada kekuatan apapun yang bisa menandingi Kekuatan-Mu. dan tiada apapun yang bisa mencegah jika Engkau berkehendak.
Rawa Pening, 23 Desember 2008
23 Desember 2008
22 Desember 2008
Kereta Menuju Ambarawa
Suara gemuruh gerbong melintas di atas rel baja terus terdengar sepanjang perjalanan. Arloji aq lihat pukul 22.30. Entah sampai mana aq tak tahu. Dari cendela, yang terlihat hanya gelap. Lampu-lampu kecil yang jauh di sana terlihat samar-samar. Aq kembali ke bangku no 15 C dan 15 D yang terletak di barisan sebelah kiri. Malaikat kecilku aq lihat terlelap di atas bangku lusuh kereta. Mungkin Najwa tengah menikmati mimpi indahnya. Sementara istriku Shelvia Jaflaun terlihat makin tak berdaya menopang tubuhnya yang tengah diterpa sakit. Dengan menggelar kain sarung di bawah bangku, aq sarankan untuk pejamkan mata biar ada sedikit tenaga saat turun dari kereta pukul 03.00 dini hari nanti.
Pandanganku mencoba menyisir setiap bangku yang diisi para penumpang. Rata-rata sudah pada terlelap dalam mimpinya masing-masing. Petugas yang menawarkan kopi, rokok, nasi goreng, hilir mudik setiap saat. Aq tak menghiraukan mereka yang mencoba curi-curi pandang kepadaku. Aq terus menulis blog ini sambil menjaga Najwa di atas bangku agar tidak terjatuh jika sewaktu-waktu bergerak tiba-tiba.
Kereta Fajar Utama terus melaju untuk bisa mengantarkan penumpang tepat waktu ke Semarang. Lewat kereta ini pula aq mencoba mencari asa bagi kesembuhan istriku yang tengah dilanda penyakit aneh sejak kepindahan kontrakanku dari Ulujami ke Cawang dua bulan lalu. Perempuan keturunan Ambon yang tinggi gempal itu kini makin kurus dan pucat. Konsultasi dan berobat ke berbagai dokter telah aq lakukan. Tapi keinginanku untuk mengetahui apa penyakit istriku gagal. Hasil pemeriksaan negatif. Termasuk hasil ronsen minggu lalu di RS AURI juga negatif. Aq sudah lelah mencari pengobatan ke dokter ilmiah atau pengobatan alternatif.
Demi kesembuhan istriku, aq terpaksa ambil cuti tiga hari untuk bisa ke Ambarawa. Niat itu sangat kuat ketika Kakmino, kakak iparku juga melihat keanehan penyakit yang diderita adiknya. Sorot mata dan tingkah laku yang ditunjukkan istriku lain dari biasanya. Tatapan kosong dan tindak tanduk seorang renta yang telah bungkuk.
Nyonya Klementin yang sudah berumur dan tinggal di Bekasi juga terkaget ketika dijenguk ama istriku. Dia bilang ada yang menempel di punggungnya. Aq sendiri baru sadar penyakit istriku tak wajar dua pekan terakhir. Saat Fauzi, muridnya Pae yang tugas di Mabes TNI AD beberapa waktu lalu ketemu di Balaikota dan melihat keanehan dalam diri istriku. Fauzi yang pangkatnya baru balok kuning dua di pundaknya itu awalnya mo minta saran atas kepindahan tugasnya. Tapi justru berbalik ngasih saran agar sakitnya istriku ditelaah lebih lanjut. "Coba smsin pae di Ambarawa," katanya setelah aq bercerita hasil pemeriksaan semua dokter negatif.
Setelah dikasih saran itu, aq langsung sms pae di Ambarawa. Pukul 22.30, pae balas sms. Isinya perintah agar aq bisa sholat malam lalu memutar tasbih. "Deloen le mengko bengi. Tak bantu soko kene. Memang ono sing ga wajar. Sakno bojomu nek ngono terus," kata pae melalui sms.
Karena saking capeknya liputan, tanpa sadar aq tertidur pulas. Padahal aq janji pukul 00.00 atau pukul 01.00 tengah malam akan sholat malam. Pukul 03.00 aq terkaget ketika istriku membangunkanku sambil mengeluh kakinya sakit ga bisa digerakkan. Badannya kepanasan sambil batuk2. Aq teringat perintah Pae. Lalu aq ambilkan air putih agar diminum istriku. Dalam kulkas aq ambil jeruk dan kubuatkan susu coklat agar bisa diminum untuk tambah tenaga. Lalu aq tinggal sholat dan berzikir. Begitu sampai setengah perjalanan, Masya Allah, baru kali ini aq menemui makhluk Gusti Allah segalak itu. Bulu kudukku berdiri. Badanku merinding. Tasbih terasa begitu berat aq putar. Seorang nenek tua renta berambut putih menunjuk2 ke arahku sambil teriak marah besar. Aq jadi emosi. Ingin kuteriak saat itu juga agar makhluk itu bisa kembali ke tempatnya dan tidak mengganggu istriku. Toh selama ini qta saling hidup berdampingan dan tak saling mengganggu. "Jika tak mau main kasar. Saya yang minta tolong agar sudi kiranya menjauh dari istriku," kataku kemudian. Dia bilang mau kembali ke tempat asalnya jika diantar.
Usai berzikir, aq keluar rumah sambil menyalakan rokok sebatang. Lalu aq telepon Pae di Ambarawa. "Pae nek piyambaan kulo mboten sanggup. Sing derek Epi niku ketua geng teng kontrakan lama," kataku via telepon. "Yo le. Iku ga tandinganmu. Bojomu cepet2 gowo mrene. Mengko tak antere no nggone mbah zarkoni," kata Pae lalu memutus percakapan.
Setelah malam itu, Kakmino ke rumah. Pukul 21.00 tiba2 telepon. Saat mengaji di rumah katanya listrik padam berulang kali. Padahal ga nyalain apa2. Lalu terlihat bayangan terbang keluar rumah. Mendapat informasi, aq langsung buru2 pulang. Aq lalu sms Pae. Aq bilang kata Kakmino makhluk yang nempel di punggung istriku dah keluar. Lalu aq disarankan ambil air dari Ampel. Lalu dikasih minyak dan dikasih bacaan sahadat 7 kali, fatihah 7 kali dan al ihlas 7 kali. Lalu disiramkan di depan dan belakang rumah.
Aq memang sudah bosan dengan segala hal yang berbau mistis. Kakiku lumpuh selama tiga bulan saat SMA kelas 2 dulu bagiku sudah cukup. Aq tak mau ada dendam. Setiap perbuatan jahat, biarlah Gusti Allah yang membalasnya. Tak perlu tahu siapa yang berbuat jahat pada istriku, yang penting istriku bisa kembali sembuh.
Benar apa kata kawan Sam. Terkadang, qta perlu kembali ke zaman yang paling tradisional sekalipun untuk sejenak mencari kearifan yang tak mampu ditembus oleh rumus2 ilmiah.
Pukul 24.00 tengah malam. Dalam Kereta Fajar Utama menuju Semarang, 22 Desember 2008.
Pandanganku mencoba menyisir setiap bangku yang diisi para penumpang. Rata-rata sudah pada terlelap dalam mimpinya masing-masing. Petugas yang menawarkan kopi, rokok, nasi goreng, hilir mudik setiap saat. Aq tak menghiraukan mereka yang mencoba curi-curi pandang kepadaku. Aq terus menulis blog ini sambil menjaga Najwa di atas bangku agar tidak terjatuh jika sewaktu-waktu bergerak tiba-tiba.
Kereta Fajar Utama terus melaju untuk bisa mengantarkan penumpang tepat waktu ke Semarang. Lewat kereta ini pula aq mencoba mencari asa bagi kesembuhan istriku yang tengah dilanda penyakit aneh sejak kepindahan kontrakanku dari Ulujami ke Cawang dua bulan lalu. Perempuan keturunan Ambon yang tinggi gempal itu kini makin kurus dan pucat. Konsultasi dan berobat ke berbagai dokter telah aq lakukan. Tapi keinginanku untuk mengetahui apa penyakit istriku gagal. Hasil pemeriksaan negatif. Termasuk hasil ronsen minggu lalu di RS AURI juga negatif. Aq sudah lelah mencari pengobatan ke dokter ilmiah atau pengobatan alternatif.
Demi kesembuhan istriku, aq terpaksa ambil cuti tiga hari untuk bisa ke Ambarawa. Niat itu sangat kuat ketika Kakmino, kakak iparku juga melihat keanehan penyakit yang diderita adiknya. Sorot mata dan tingkah laku yang ditunjukkan istriku lain dari biasanya. Tatapan kosong dan tindak tanduk seorang renta yang telah bungkuk.
Nyonya Klementin yang sudah berumur dan tinggal di Bekasi juga terkaget ketika dijenguk ama istriku. Dia bilang ada yang menempel di punggungnya. Aq sendiri baru sadar penyakit istriku tak wajar dua pekan terakhir. Saat Fauzi, muridnya Pae yang tugas di Mabes TNI AD beberapa waktu lalu ketemu di Balaikota dan melihat keanehan dalam diri istriku. Fauzi yang pangkatnya baru balok kuning dua di pundaknya itu awalnya mo minta saran atas kepindahan tugasnya. Tapi justru berbalik ngasih saran agar sakitnya istriku ditelaah lebih lanjut. "Coba smsin pae di Ambarawa," katanya setelah aq bercerita hasil pemeriksaan semua dokter negatif.
Setelah dikasih saran itu, aq langsung sms pae di Ambarawa. Pukul 22.30, pae balas sms. Isinya perintah agar aq bisa sholat malam lalu memutar tasbih. "Deloen le mengko bengi. Tak bantu soko kene. Memang ono sing ga wajar. Sakno bojomu nek ngono terus," kata pae melalui sms.
Karena saking capeknya liputan, tanpa sadar aq tertidur pulas. Padahal aq janji pukul 00.00 atau pukul 01.00 tengah malam akan sholat malam. Pukul 03.00 aq terkaget ketika istriku membangunkanku sambil mengeluh kakinya sakit ga bisa digerakkan. Badannya kepanasan sambil batuk2. Aq teringat perintah Pae. Lalu aq ambilkan air putih agar diminum istriku. Dalam kulkas aq ambil jeruk dan kubuatkan susu coklat agar bisa diminum untuk tambah tenaga. Lalu aq tinggal sholat dan berzikir. Begitu sampai setengah perjalanan, Masya Allah, baru kali ini aq menemui makhluk Gusti Allah segalak itu. Bulu kudukku berdiri. Badanku merinding. Tasbih terasa begitu berat aq putar. Seorang nenek tua renta berambut putih menunjuk2 ke arahku sambil teriak marah besar. Aq jadi emosi. Ingin kuteriak saat itu juga agar makhluk itu bisa kembali ke tempatnya dan tidak mengganggu istriku. Toh selama ini qta saling hidup berdampingan dan tak saling mengganggu. "Jika tak mau main kasar. Saya yang minta tolong agar sudi kiranya menjauh dari istriku," kataku kemudian. Dia bilang mau kembali ke tempat asalnya jika diantar.
Usai berzikir, aq keluar rumah sambil menyalakan rokok sebatang. Lalu aq telepon Pae di Ambarawa. "Pae nek piyambaan kulo mboten sanggup. Sing derek Epi niku ketua geng teng kontrakan lama," kataku via telepon. "Yo le. Iku ga tandinganmu. Bojomu cepet2 gowo mrene. Mengko tak antere no nggone mbah zarkoni," kata Pae lalu memutus percakapan.
Setelah malam itu, Kakmino ke rumah. Pukul 21.00 tiba2 telepon. Saat mengaji di rumah katanya listrik padam berulang kali. Padahal ga nyalain apa2. Lalu terlihat bayangan terbang keluar rumah. Mendapat informasi, aq langsung buru2 pulang. Aq lalu sms Pae. Aq bilang kata Kakmino makhluk yang nempel di punggung istriku dah keluar. Lalu aq disarankan ambil air dari Ampel. Lalu dikasih minyak dan dikasih bacaan sahadat 7 kali, fatihah 7 kali dan al ihlas 7 kali. Lalu disiramkan di depan dan belakang rumah.
Aq memang sudah bosan dengan segala hal yang berbau mistis. Kakiku lumpuh selama tiga bulan saat SMA kelas 2 dulu bagiku sudah cukup. Aq tak mau ada dendam. Setiap perbuatan jahat, biarlah Gusti Allah yang membalasnya. Tak perlu tahu siapa yang berbuat jahat pada istriku, yang penting istriku bisa kembali sembuh.
Benar apa kata kawan Sam. Terkadang, qta perlu kembali ke zaman yang paling tradisional sekalipun untuk sejenak mencari kearifan yang tak mampu ditembus oleh rumus2 ilmiah.
Pukul 24.00 tengah malam. Dalam Kereta Fajar Utama menuju Semarang, 22 Desember 2008.
01 Desember 2008
Perempuan dari Tanah Seberang
Perempuan dari Tanah Seberang
Kehidupan malam di Ibukota kembali menggeliat begitu sang surya kembali ke peraduannya. Sisi lain kehidupan malam di kota besar mulai tampak. Di sebuah tempat karaoke yang terletak di bilangan Jakarta Pusat, mobil-mobil mewah mulai berdatangan. Setiap mobil datang di pintu masuk, rata-rata yang turun anak usia tanggung. Mereka rombongan lebih dari dua orang. Dengan gaya perlente namun santai, remaja-remaja itu terlihat dari kelas atas. Pakai celana pendek, t-shirt warna cerah dan bersepatu. Di tangan kanannya menggenggam sebuah telepon selular. Model-model N 90 atao experia keluaran terbaru.
Begitu tiba, mereka langsung masuk ke lobi dan terus naik ke lantai dua. Perkiraanku, mereka telah sering datang ke tempat tersebut. Itu terlihat dari sikapnya yang tak terlihat canggung. Seorang petugas keamanan menegur. Rupannya, salah satu dari mereka ada yang membawa tas. "Mas dititipkan di pos keamanan saja tasnya," kata pria berbadan tegap sambil menenteng HT. "Tar langsung ke atas ye. Room dah diboking," kata salah satu dari mereka yang berjalan paling depan memberi aba-aba temennya yang harus turun kembali ke bawah untuk menitipkan tasnya. Sejenak, petugas keamanan menyuruh membuka isi tasnya. "Isinya apa mas," kata petugas keamanan. Setelah memastikan isi dalam tas bukan barang yang membahayakan, tas langsung diletakkan di ruang keamanan yang letaknya persis di pintu masuk. Lantas, remaja tanggung itu menyusul kawan-kawannya di lantai atas. Jakarta memang rawan usai eksekusi Amrozi Cs beberapa waktu lalu. Ancaman bom memang tak pernah berhenti. Mulai dari hotel, apartemen, mall, kedutaan, kantor pemerintah hingga fasilitas publik.
Di pintu masuk lantai atas, sebuah lorong panjang terlihat membujur. Lampu redup menghiasai sepanjang koridor tersebut. Di pintu masuk, sisi kanan dan kiri terpasang sebuah meja dan kursi tempat untuk transaksi. Seperti model kasir jika di pusat perbelanjaan. Perempuan-perempuan muda yang jumlahnya sekitar lima orang berdiri di samping kiri kanan pintu mengeluarkan senyum ramah sedikit nakal. Perempuan-perempuan itu menggunakan pakaian yang sangat seksi. Rok hanya sampai pangkal paha. Sementara belahan dadanya seperti didesain agar sedikit terlihat. Putih mulus dan menyembul mengundang gairah. "Silakan mas," sapa manja salah satu perempuan. Jika setiap tamu yang datang belum boking room terlebihdahulu, begitu sampai di pintu lantai atas itu akan langsung melakukan transaksi. Sewa room sekaligus pesan perempuan pendamping jika menginginkan.
Menyusuri sepanjang koridor, setiap room berdiri seorang perempuan. Dari baju yang dipakai, perempuan ini sepertinya mendapat tugas yang berbeda. Bukan sebagai penghibur, tapi service room jika ada tamu yang pesan minuman, makanan atau keperluan lainnya.
Memasuki salah satu room, ruangan ukuran 7x5 meter menghampar. Kursi dipasang memutar bentuk huruf U. Di tengahnya meja kecil berjajar. Di barisan paling depan, 3 unit TV terpasang berikut asesorisnya. TV yang paling tengah ukurannya paling besar. Di samping kiri dan kanannya hanya ukuran 21 inci. Dari layar tampak stasiun HBO tengah memutar sebuah film action. Sementara yang satunya life report CNN. "Disamain aj mas. Buat karaoke semuanya," salah salah sorang tamu meminta kepada operator. Di tempat itu, tamu tidak memilih lagu sendiri lewat keyboard di meja atau remote kontrol. Tapi melalui reques kepada operator.
Para tamu mulai memesan kudapan beserta minuman yang tertera di daftar yang diletakkan dalam meja. "Tiga picher mbak, kentang, rokok malboro, jarum ama sampoerna. Jangan lupa air mineralnya," kata salah satu tamu. Usai perempuan service room meninggalkan ruangan, musik mulai berdentum. Lampu ruangan mulai diganti yang redup. Asap rokok mulai mengepul. Habis satu lagu, perempuan service room sudah masuk kembali membawa pesanan. Gelas-gelas yang berisi es mulai dituang minuman. Teriakan salah seorang tamu yang tengah menyanyikan lagu membahana. Tampak begitu menghayati terlihat dari gerakan tubuhnya. Jika melihat ekspresinya, barangkali nyanyian, tamu tersebut tengah mengeluarkan kegundahan hatinya. Stres akibat kerjaan di kantor, bertengkar ama bininya di rumah atao barangkali habis putus ama pacarnya. Raut muka kegundahan itu semakin terlihat ketika menyanyikan lagi bintang di langit padi. Begitu lagu usai, sepuluh perempuan muda bertubuh seksi masuk ruangan. Satu orang yang dipanggil mami ira menyuruh perempuan-perempuan dibalut pakaian seksi itu berjajar di depan para tamu. Kaki jenjang, kulit putih mulus tanpa ada bekas luka sedikitpun terlihat hingga pangkal paha. Sebagaian ada yang memperlihatkan belahan payudaranya. Di pinggangnya sebelah kanan tertulis nomor urut dengan huruf besar. Ada 350, 200, 300, 400, 575. "Silakan mas mo pilih yang mana," kata mami ira. Para tamu memelototkan matanya memandangi satu per satu perempuan penghibur tersebut tanpa berkedip. Dari ujung kaki hingga ujung kepala. Pemandangan itu persis di tempat pelacuran gang dolly Surabaya. Bedanya, jika di gang dolly, perempuan dipajang di sebuah ruangan persis aquarium yang dilapisi kaca riben. Para tamu bisa melihat secara leluasa perempuan mana yang akan dipilih. Tapi si perempuan tidak bisa melihat tamunya. Di tempat karaoke itu, antara tamu dan perempuan penghibur saling berhadap-hadapan secara langsung. "300...350..400..," kata para tamu memberi aba-aba pilihannya. Tiga perempuan muda seksi yang dipilih langsung menghampiri pria yang menunjuknya. Sementara perempuan-perempuan yang tidak dipilih para tamu langsung keluar ruangan.
Malam semakin larut. Dari musik syahdu berganti musik yang menimbulkan hasrat berjingkrak. Semua turun melantai. Perempuan yang dipilih para tamu langsung berkenalan sekadar basa basi. Musik terus berdentum. Kepulan asap rokok membumbung memenuhi ruangan seperti tak mampu disedot exhaus yang tertempel di dinding paling ujung. Suara tawa lepas menghiasi setiap minuman keras yang dituang dan beradu menimbulkan suara benturan kecil. Tiga perempuan muda yang masing-masing bernama Nia, Fany dan Dewi itu sudah terlelap bersama pelukan mesra para tamu. "Kalau belum puas di sini bisa dilanjut di luar mas. Syaratnya tinggalkan bon dikasir. Cuma Rp 400 ribu. Kalau tips kencan di luar tergantung kesepakatan aj," kata perempuan yang dipanggil temen2nya Fany itu to the point.
Itu lantaran jika hanya mengandalkan menemani para tamu di tempat karaoke, pemasukan dianggap tidak cukup. Berbeda jika ada yang boking ke luar, dari bos besar dapat bonus, dari pelanggan dapat tips hasil servisnya. Dalam satu malam, maksimal bisa menemani tujuh orang tamu. Itupun dari persaingan yang cukup ketat. Jika dalam semalam, setelah berulang-ulang dipajang tapi tak laku, omelan bos akan menjadi menu dini hari sebelum perempuan malam itu diizinkan meninggalkan lokasi. "Saya sih baru mas di sini. Baru dua bulan. Tapi karena setiap hari selalu tertekan, rasanya seperti sudah bertahun-tahun," kata Fany.
Tekanan yang dirasakan perempuan asal Padang itu bukan hanya dari bos. Tapi juga sesama perempuan penghibur lainnya. Untuk bisa "nyambi" bersama tamu terkadang harus makan hati. Jika satu cewek diboking sementara yang lain tidak, adu urat syaraf bakal terjadi. "Baru kemarin malam kami bentrok gara2 ada tamu yang boking salah satu dari kami. Tapi yang lain ga diajak. Daripada ada yang iri, akhirnya dibatalin," tuturnya.
Dituturkan Nia, di tempat karaoke tersebut ada 30 perempuan penghibur. Jika masih baru, kupu-kupu malam itu akan dipelihara dengan baik. Tinggal di apartemen mewah dan digaji tinggi. Rata-rata, satu malam Fany dan sejawatnya yang masih baru bisa mengantongi Rp 2 juta. Itu belum termasuk jika ada tamu yang boking keluar. Untuk tetap menjaga kecantikan para perempuan penghibur yang baru tersebut, tiap usai pulang dari tempat karaoke pukul 05.00 pagi, bos besar yang dipanggil mami Ira akan melakukan absen. Memastikan "stok" barunya kembali ke kandang. Petugas keamanan yang disewa mami Ira juga akan memeloloti apakah piaraan bosnya itu aman sampai penjara emasnya atau belum. Jika ada yang terlihat layu, mami Ira langsung mengeluarkan perintah dadakan. "Seringnya habis kerja gini, bos menyuruh kami ke rumahnya. Kami tidak bisa menolak. Karena kalau tidak didamprat habis," akunya. Lalu di rumah mami tersebut, daun muda itu dimandiin, dilulur, dipijat agar kecantikan dan kemulusan tubuh tetap terjaga. Untuk urusan satu ini, mami Ira memang tak mau kelewatan. Sebab, besar kecilnya omset tergantung kiprah stok-stok baru tersebut.
Perlakuan itu sangat berbeda dengan perempuan lain yang yang telah lama direkrut. Mereka diberi kebebasan asal tetap menyetor kepada bos. "Kalau kami yang baru-baru ini kayak dipenjara. Kemana-mana tidak boleh. Gerak-gerik selalu diawasi. Pulang kerja harus langsung pulang ke apartemen. Emang sih sewa apartemen sudah dibayar bos, tapi tetap saja rasannya seperti dipenjara," keluhnya lalu menghisap rokok di tangan kanannya dalam-dalam.
Setelah menenggak satu gelas minuman, Fany kembali bertutur. Dia bersama tiga temannya termasuk stok baru. Mereka "disekap" di sebuah apartemen "M" di Jakarta Barat. Tidak hanya dalam bergaul dengan orang luar yang dilarang keras, untuk bisa sekadar refresing keluar jalan-jalan di luar jam kerja juga dilarang. Jika libur hari Minggu, tetap saja harus mengkal di tempat karaoke meskipun tidak melayani tamu.
Perasaan untuk memberontak bisa lepas dari tempat tersebut terkadang muncul jika perlakuan sang bos sudah keterlaluan. Namun, niat itu kembali pupus jika teringat bahwa untuk kembali pada kehidupan normal sudah tidak mungkin. Apalagi, kehidupan malam yang ditekuninya itu awalnya sebagai pelarian setelah dijodohkan orangtuanya dengan orang yang tidak dicintai di kampung halamannya.
Lari dari kampung halaman di Padang, Fany mencoba mengadu nasib di Jakarta. Suatu ketika di sebuah mall di bilangan Jakarta Pusat, Fany bertemu dengan mami Ira yang menawarkan pekerjaan sebagai pelayanan di tempat karaoke. Lantaran terdesak kebutuhan hidup setelah lama menganggur, tawaran itu akhirnya diterima. "Jadi dengan kondisi terpenjara seperti itu kami hanya bisa pasrah aj mas. Jangan untuk cek kesehatan untuk memastikan positif atau ga, untuk sekedar menghirup udara segar saja kami dilarang. Apalagi persaingan di antara perempuan di sini juga sangat ketat. Salah menempatkan diri dikit bisa berabe," katanya.
Dari hati yang paling dalam, Fany tetap berharap suatu ketika bisa keluar dari kehidupan malam. Itu setelah cukup mampu mandiri untuk membuka usaha sendiri atau dapat pekerjaan baru yang lebih baik. Lantaran untuk menekuni kehidupan malam, banyak resiko yang harus diambil. Tidak hanya rawan dari sisi kesehatan rentan tertular penyakit HIV/AIDS atau penyakit seksual lainnya, tapi juga rentan dari sisi keamanan.
(Tulisan ini aq terbitin di Indopos untuk menyambut hari HIV/AIDS se-dunia yang jatuh pada 1 Desember. Versi koran setelah diedit aq beri judul: Melihat Sisi Terdalam Perempuan Malam yang Dituding Penyebar HIV/AIDS: Disekap di Apartemen, Usai Kerja Dimandikan dan Dilulur)
Saat hujan mengguyur, Menara Saidah, 1 Desember 2008
Kehidupan malam di Ibukota kembali menggeliat begitu sang surya kembali ke peraduannya. Sisi lain kehidupan malam di kota besar mulai tampak. Di sebuah tempat karaoke yang terletak di bilangan Jakarta Pusat, mobil-mobil mewah mulai berdatangan. Setiap mobil datang di pintu masuk, rata-rata yang turun anak usia tanggung. Mereka rombongan lebih dari dua orang. Dengan gaya perlente namun santai, remaja-remaja itu terlihat dari kelas atas. Pakai celana pendek, t-shirt warna cerah dan bersepatu. Di tangan kanannya menggenggam sebuah telepon selular. Model-model N 90 atao experia keluaran terbaru.
Begitu tiba, mereka langsung masuk ke lobi dan terus naik ke lantai dua. Perkiraanku, mereka telah sering datang ke tempat tersebut. Itu terlihat dari sikapnya yang tak terlihat canggung. Seorang petugas keamanan menegur. Rupannya, salah satu dari mereka ada yang membawa tas. "Mas dititipkan di pos keamanan saja tasnya," kata pria berbadan tegap sambil menenteng HT. "Tar langsung ke atas ye. Room dah diboking," kata salah satu dari mereka yang berjalan paling depan memberi aba-aba temennya yang harus turun kembali ke bawah untuk menitipkan tasnya. Sejenak, petugas keamanan menyuruh membuka isi tasnya. "Isinya apa mas," kata petugas keamanan. Setelah memastikan isi dalam tas bukan barang yang membahayakan, tas langsung diletakkan di ruang keamanan yang letaknya persis di pintu masuk. Lantas, remaja tanggung itu menyusul kawan-kawannya di lantai atas. Jakarta memang rawan usai eksekusi Amrozi Cs beberapa waktu lalu. Ancaman bom memang tak pernah berhenti. Mulai dari hotel, apartemen, mall, kedutaan, kantor pemerintah hingga fasilitas publik.
Di pintu masuk lantai atas, sebuah lorong panjang terlihat membujur. Lampu redup menghiasai sepanjang koridor tersebut. Di pintu masuk, sisi kanan dan kiri terpasang sebuah meja dan kursi tempat untuk transaksi. Seperti model kasir jika di pusat perbelanjaan. Perempuan-perempuan muda yang jumlahnya sekitar lima orang berdiri di samping kiri kanan pintu mengeluarkan senyum ramah sedikit nakal. Perempuan-perempuan itu menggunakan pakaian yang sangat seksi. Rok hanya sampai pangkal paha. Sementara belahan dadanya seperti didesain agar sedikit terlihat. Putih mulus dan menyembul mengundang gairah. "Silakan mas," sapa manja salah satu perempuan. Jika setiap tamu yang datang belum boking room terlebihdahulu, begitu sampai di pintu lantai atas itu akan langsung melakukan transaksi. Sewa room sekaligus pesan perempuan pendamping jika menginginkan.
Menyusuri sepanjang koridor, setiap room berdiri seorang perempuan. Dari baju yang dipakai, perempuan ini sepertinya mendapat tugas yang berbeda. Bukan sebagai penghibur, tapi service room jika ada tamu yang pesan minuman, makanan atau keperluan lainnya.
Memasuki salah satu room, ruangan ukuran 7x5 meter menghampar. Kursi dipasang memutar bentuk huruf U. Di tengahnya meja kecil berjajar. Di barisan paling depan, 3 unit TV terpasang berikut asesorisnya. TV yang paling tengah ukurannya paling besar. Di samping kiri dan kanannya hanya ukuran 21 inci. Dari layar tampak stasiun HBO tengah memutar sebuah film action. Sementara yang satunya life report CNN. "Disamain aj mas. Buat karaoke semuanya," salah salah sorang tamu meminta kepada operator. Di tempat itu, tamu tidak memilih lagu sendiri lewat keyboard di meja atau remote kontrol. Tapi melalui reques kepada operator.
Para tamu mulai memesan kudapan beserta minuman yang tertera di daftar yang diletakkan dalam meja. "Tiga picher mbak, kentang, rokok malboro, jarum ama sampoerna. Jangan lupa air mineralnya," kata salah satu tamu. Usai perempuan service room meninggalkan ruangan, musik mulai berdentum. Lampu ruangan mulai diganti yang redup. Asap rokok mulai mengepul. Habis satu lagu, perempuan service room sudah masuk kembali membawa pesanan. Gelas-gelas yang berisi es mulai dituang minuman. Teriakan salah seorang tamu yang tengah menyanyikan lagu membahana. Tampak begitu menghayati terlihat dari gerakan tubuhnya. Jika melihat ekspresinya, barangkali nyanyian, tamu tersebut tengah mengeluarkan kegundahan hatinya. Stres akibat kerjaan di kantor, bertengkar ama bininya di rumah atao barangkali habis putus ama pacarnya. Raut muka kegundahan itu semakin terlihat ketika menyanyikan lagi bintang di langit padi. Begitu lagu usai, sepuluh perempuan muda bertubuh seksi masuk ruangan. Satu orang yang dipanggil mami ira menyuruh perempuan-perempuan dibalut pakaian seksi itu berjajar di depan para tamu. Kaki jenjang, kulit putih mulus tanpa ada bekas luka sedikitpun terlihat hingga pangkal paha. Sebagaian ada yang memperlihatkan belahan payudaranya. Di pinggangnya sebelah kanan tertulis nomor urut dengan huruf besar. Ada 350, 200, 300, 400, 575. "Silakan mas mo pilih yang mana," kata mami ira. Para tamu memelototkan matanya memandangi satu per satu perempuan penghibur tersebut tanpa berkedip. Dari ujung kaki hingga ujung kepala. Pemandangan itu persis di tempat pelacuran gang dolly Surabaya. Bedanya, jika di gang dolly, perempuan dipajang di sebuah ruangan persis aquarium yang dilapisi kaca riben. Para tamu bisa melihat secara leluasa perempuan mana yang akan dipilih. Tapi si perempuan tidak bisa melihat tamunya. Di tempat karaoke itu, antara tamu dan perempuan penghibur saling berhadap-hadapan secara langsung. "300...350..400..," kata para tamu memberi aba-aba pilihannya. Tiga perempuan muda seksi yang dipilih langsung menghampiri pria yang menunjuknya. Sementara perempuan-perempuan yang tidak dipilih para tamu langsung keluar ruangan.
Malam semakin larut. Dari musik syahdu berganti musik yang menimbulkan hasrat berjingkrak. Semua turun melantai. Perempuan yang dipilih para tamu langsung berkenalan sekadar basa basi. Musik terus berdentum. Kepulan asap rokok membumbung memenuhi ruangan seperti tak mampu disedot exhaus yang tertempel di dinding paling ujung. Suara tawa lepas menghiasi setiap minuman keras yang dituang dan beradu menimbulkan suara benturan kecil. Tiga perempuan muda yang masing-masing bernama Nia, Fany dan Dewi itu sudah terlelap bersama pelukan mesra para tamu. "Kalau belum puas di sini bisa dilanjut di luar mas. Syaratnya tinggalkan bon dikasir. Cuma Rp 400 ribu. Kalau tips kencan di luar tergantung kesepakatan aj," kata perempuan yang dipanggil temen2nya Fany itu to the point.
Itu lantaran jika hanya mengandalkan menemani para tamu di tempat karaoke, pemasukan dianggap tidak cukup. Berbeda jika ada yang boking ke luar, dari bos besar dapat bonus, dari pelanggan dapat tips hasil servisnya. Dalam satu malam, maksimal bisa menemani tujuh orang tamu. Itupun dari persaingan yang cukup ketat. Jika dalam semalam, setelah berulang-ulang dipajang tapi tak laku, omelan bos akan menjadi menu dini hari sebelum perempuan malam itu diizinkan meninggalkan lokasi. "Saya sih baru mas di sini. Baru dua bulan. Tapi karena setiap hari selalu tertekan, rasanya seperti sudah bertahun-tahun," kata Fany.
Tekanan yang dirasakan perempuan asal Padang itu bukan hanya dari bos. Tapi juga sesama perempuan penghibur lainnya. Untuk bisa "nyambi" bersama tamu terkadang harus makan hati. Jika satu cewek diboking sementara yang lain tidak, adu urat syaraf bakal terjadi. "Baru kemarin malam kami bentrok gara2 ada tamu yang boking salah satu dari kami. Tapi yang lain ga diajak. Daripada ada yang iri, akhirnya dibatalin," tuturnya.
Dituturkan Nia, di tempat karaoke tersebut ada 30 perempuan penghibur. Jika masih baru, kupu-kupu malam itu akan dipelihara dengan baik. Tinggal di apartemen mewah dan digaji tinggi. Rata-rata, satu malam Fany dan sejawatnya yang masih baru bisa mengantongi Rp 2 juta. Itu belum termasuk jika ada tamu yang boking keluar. Untuk tetap menjaga kecantikan para perempuan penghibur yang baru tersebut, tiap usai pulang dari tempat karaoke pukul 05.00 pagi, bos besar yang dipanggil mami Ira akan melakukan absen. Memastikan "stok" barunya kembali ke kandang. Petugas keamanan yang disewa mami Ira juga akan memeloloti apakah piaraan bosnya itu aman sampai penjara emasnya atau belum. Jika ada yang terlihat layu, mami Ira langsung mengeluarkan perintah dadakan. "Seringnya habis kerja gini, bos menyuruh kami ke rumahnya. Kami tidak bisa menolak. Karena kalau tidak didamprat habis," akunya. Lalu di rumah mami tersebut, daun muda itu dimandiin, dilulur, dipijat agar kecantikan dan kemulusan tubuh tetap terjaga. Untuk urusan satu ini, mami Ira memang tak mau kelewatan. Sebab, besar kecilnya omset tergantung kiprah stok-stok baru tersebut.
Perlakuan itu sangat berbeda dengan perempuan lain yang yang telah lama direkrut. Mereka diberi kebebasan asal tetap menyetor kepada bos. "Kalau kami yang baru-baru ini kayak dipenjara. Kemana-mana tidak boleh. Gerak-gerik selalu diawasi. Pulang kerja harus langsung pulang ke apartemen. Emang sih sewa apartemen sudah dibayar bos, tapi tetap saja rasannya seperti dipenjara," keluhnya lalu menghisap rokok di tangan kanannya dalam-dalam.
Setelah menenggak satu gelas minuman, Fany kembali bertutur. Dia bersama tiga temannya termasuk stok baru. Mereka "disekap" di sebuah apartemen "M" di Jakarta Barat. Tidak hanya dalam bergaul dengan orang luar yang dilarang keras, untuk bisa sekadar refresing keluar jalan-jalan di luar jam kerja juga dilarang. Jika libur hari Minggu, tetap saja harus mengkal di tempat karaoke meskipun tidak melayani tamu.
Perasaan untuk memberontak bisa lepas dari tempat tersebut terkadang muncul jika perlakuan sang bos sudah keterlaluan. Namun, niat itu kembali pupus jika teringat bahwa untuk kembali pada kehidupan normal sudah tidak mungkin. Apalagi, kehidupan malam yang ditekuninya itu awalnya sebagai pelarian setelah dijodohkan orangtuanya dengan orang yang tidak dicintai di kampung halamannya.
Lari dari kampung halaman di Padang, Fany mencoba mengadu nasib di Jakarta. Suatu ketika di sebuah mall di bilangan Jakarta Pusat, Fany bertemu dengan mami Ira yang menawarkan pekerjaan sebagai pelayanan di tempat karaoke. Lantaran terdesak kebutuhan hidup setelah lama menganggur, tawaran itu akhirnya diterima. "Jadi dengan kondisi terpenjara seperti itu kami hanya bisa pasrah aj mas. Jangan untuk cek kesehatan untuk memastikan positif atau ga, untuk sekedar menghirup udara segar saja kami dilarang. Apalagi persaingan di antara perempuan di sini juga sangat ketat. Salah menempatkan diri dikit bisa berabe," katanya.
Dari hati yang paling dalam, Fany tetap berharap suatu ketika bisa keluar dari kehidupan malam. Itu setelah cukup mampu mandiri untuk membuka usaha sendiri atau dapat pekerjaan baru yang lebih baik. Lantaran untuk menekuni kehidupan malam, banyak resiko yang harus diambil. Tidak hanya rawan dari sisi kesehatan rentan tertular penyakit HIV/AIDS atau penyakit seksual lainnya, tapi juga rentan dari sisi keamanan.
(Tulisan ini aq terbitin di Indopos untuk menyambut hari HIV/AIDS se-dunia yang jatuh pada 1 Desember. Versi koran setelah diedit aq beri judul: Melihat Sisi Terdalam Perempuan Malam yang Dituding Penyebar HIV/AIDS: Disekap di Apartemen, Usai Kerja Dimandikan dan Dilulur)
Saat hujan mengguyur, Menara Saidah, 1 Desember 2008
21 November 2008
Gemericik Air yang Menakutkan
Tengah malam pukul 23.28, maskoko cawang sms. "Kondisi cawang mencapai 1 m lebih.pintu air katulampa 16O .depok 24O manggarai 75O.kemungkinan banjir lebih dari kemarin,". Pagi buta, Najwa malaikat kecilku teriak-teriak meracau tak jelas. Ternyata bangunin qta yang masih terlelap.
Tiba2 dari luar rumah terdengar suara teriak memanggil2 najwa. "Najwa bangun, banjir..banjir..,". Aq langsung terbangun. Karena itu suara bude rasimin yang punya kontrakan. Aq langsung bangun keluar rumah untuk mengecek halaman belakang. Air mengalir dengan deras. Suara gemericik tak henti2nya menabrak dinding2 batu drainase yang dibangun di belakang rumah persis. Air terus mengalir memenuhi pelataran halaman belakang rumah sebelah.
Shelvia Jaflaun istriku langsung aq suruh ajak Najwa keluar. Sementara aq langsung mengemasi seluruh barang yang ada dalam rumah. Smua diangkatin ke tempat yang lebih tinggi. Yang ga mungkin diangkat ke atas kayak lemari, kasur, mesin cuci langsung aq seret kluar rumah satu per satu. Kabel listrik langsung aq cabut, meja ditinggiin agar tv tidak sampai kena air. Hampir sharian aq kemas2, jam menunjukkan pukul 12 siang. Air mulai deras mengalir ke dalam rumah melewati dapur. Lambat tapi pasti.
Rumahnya rendi yang di sebelah masih juga tertutup. Setelah airnya mulai beranjak baru datang dan mulai bingung untuk angkat2 barang. Suaminya sendiri tak jelas kemana perginya. Bersama pakde, aq bantu2 angkat2 sembari ngecek di belakang rumah. Air terus mengeluarkan suara gemiricik. Tanah kosong yang berada di samping rumah telah penuh air dan mulai masuk di dapur rumah sebelah.
Setelah memastikan semua barang aman, aq langsung mencarikan taksi untuk mengevakuasi Najwa kecilku ama istriku ke Cawang untuk berlindung sementara di rumah kakaknya. Hampir tiga hari aq mondar mandir balaikota-cawang untuk liputan dan jenguk anak dan istriku. Setelah ga pulang dua hari, aq putuskan untuk pulang. Bude bilang banjir sudah surut. Apalagi ada pae ambarawa yang datang ke jakarta, ga mungkin aq ajak nginap di rumah orang. Terpaksa malam itu aq putuskan pulang. Smua tampak lusuh dan berantakan.
Entah berapa kali aq bilang ke Gubernur DKI Fauzi Bowo. Jika banjir di kampung Ulujami karena ada bangunan elit di bantaran kali. Akibatnya, rawa-rawa yang dulunya jadi daerah resapan, kini berubah menjadi perumahan elit. "Nanti akan saya cek. Kalau benar melanggar pasti dibongkar," katanya.
Entah berapa lama, setelah banjir tak pernah datang lagi dan terlupakan, tiba-tiba ada telepon berdering yang menanyakan di mana letak perumahan elit di bantaran Sungai Pesanggrahan. "Bapak siapa," tanyaku. "Saya petugas P2B kecamatan mas. Saya disuruh ngecek katanya ada bangunan di bantaran kali," jawabnya. "Tapi setelah saya cari-cari kok ga ada,". "Loh, bapak kan petugas kecamatan situ. Kok sampe ga tahu di daerahnya ada bangunan elit. Izinnya bagaimana," jawabku lagi setengah protes. Lalu, melalui telepon, aq pandu petugas itu sampai di lokasi. "Ya mas, ada. dah ketemu," katanya kemudian.
Telepon pun langsung diputus. Setahun sejak kejadian itu, kabar aksi yang mau membongkar bangunan elit di bantaran kali pun hanya isapan jempol belaka. Justru yang ada klarifikasi. "Saya sudah cek. ternyata izinnya lengkap," kata Kepala Dinas P2B Hari Sasongko.
Loh kok?....(jangan bilang ada tikus berkeliaran..)
Sesuai peraturan, bantaran kali harus bebas dari bangunan. Ketentuan tersebut berlaku untuk semua bangunan di DKI. Apakah itu bangunan elit atau bangunan biasa. Idealnya, lebar sungai antara 55 meter hingga 60 meter. Tapi saat ini tinggal 6 meter. Lalu apakah dibenarkan jika lantas DIBETON!..Sebenarnya, warga ikhlas kebanjiran jika aturan itu ditegakkan. Jika bangunan elit di bantaran kali sudah dihancurkan, tapi masih tetap banjir, bolehlah pejabat berkilah 'itu karena mereka tinggal di dataran rendah'.
Sesuai Permen PU no 63 tahun 1993 tentang
Garis Sepadan Sungai, Daerah Manfaat Sungai, Daerah Penguasaan Sungai, dan Bekas Sungai dinyatakan, sungai yang memiliki tanggul tengah kota harus mempunyai sepadan sungai 3 meter yang diukur dari kaki tanggul. Sungai yang memiliki tanggul di luar kota harus mempunyai sepadan sungai 5 meter dari kaki tanggul. Sungai besar tanpa pengaman memiliki sepadan sungai 100 meter serta Sungai kecil tanpa pengaman memiliki sepadan sungai 50 meter. "Tidak hanya di bantaran Kali Pesanggrahan bangunan elit berdiri, di bantaran Kali Krukut juga banyak. Aneh, kok bisa ya mereka dapat izin," kata Direktur Eksekutif Walhi Jakarta Slamet Daroyni.
Karena untuk menyelamatkan malaikat kecilku, aq terpaksa hengkang dari Kampung Ulujami dan pindah kontrakan di Cawang, Jakarta Timur. Memang, terkadang apapun bisa dikalahkan dengan segepok rupiah. Barangkali, keadilan pun kini sudah menjadi barang yang murah meriah karena diperjualbelikan.
Bagi kalian yang menjadi korban ketidakadilan, angkatlah tangan kiri ke atas sambil mengepal. Lalu mari kita lantunkan lagu perjuangan itu. "Mereka dirampas haknya..tergusur dan lapar..Tuhan, relakan darah juang kami...
Menara Saidah, 21 November 2008
09 November 2008
Kemenangan Obama dan Eksekusi Amrozi Cs
Aq hanya ingin ngasih judul itu karena dua peristiwa itu berlangsung dalam satu rangkaian bersamaan. Kemenangan Obama yang jadi simbol kemenangan kaum minoritas. Sekaligus harapan baru bagi perubahan iklim perpolitikan dan kebijakan Amerika dan dunia di masa mendatang. Karena juga munculnya aksi terorisme di Indonesia tak lepas dari aksi untuk menentang kebijakan Amerika yang dianggap timpang dan selalu mengekspansi negara2 Islam dan menganggap ajaran Islam telah menciptakan para teroris.
***
Kemenangan Obama menuju Gedung Putih yang disambut meriah jutaan warga dunia. Tak terkecuali anak2 sekolah di berbagai kota di Indonesia. Seperti SD Menteng yang karena saking meriahnya hingga dikutip New York Time headline halaman utama. Maklum saja, kemenangan kaum "the black skin" yang tertindas selama ratusan tahun dianggap kemenangan bagi semua. Dunia sudah bosan dengan aksi2 rejim Bush yang selalu menebarkan teror. Ribuan bahkan jutaan umat manusia tewas sia2 akibat kebijakan yang tidak pro kemanusiaan itu. Palestina, Afganistan, Lebanon dan seluruh negara timur tengah pernah merasakan betapa menyakitkan imbas dari perang yang diklaim untuk menjaga perdamaian dunia itu. Tidak hanya negara Islam yang akhirnya menjadi benci, tapi juga negara2 komunis macam Rusia ato negara2 Eropa. Bahkan, paska penyerbuan Irak, warga Amerika sendiri semakin sadar bahwa peperangan yang ditebarkan Bush adalah sebuah kesalahan. Dan rame2 mereka mengutuk elit pemegang kebijakan negeri Paman Sam itu. Apalagi staf ahli gedung putih membeberkan fakta bahwa penyerbuan ke Irak ternyata bukan karena di negeri seribu malam itu telah ditemukan senjata pemusnah umat manusia. Alasan yang digembor2kan Bush di hadapan senat dan negara2 sekutunya itu tak lebih hanya kebohongan belaka. Senjata pemusnah itu tak benar2 ada. Tapi ribuan tentara telah dikirimkan. Ribuan peluru kendali telah diluncurkan. Ribuan umat manusia akhirnya menjadi korban. Tak terkecuali juga para tentara yang dikirimkan. Ribuan perempuan Amerika menjadi janda. Ribuan anak2 menjadi yatim piatu hanya karena orangtuanya menjadi bagian dari tim eksekutor kebijakan yang salah. "Stop war in Irak". Kata2 itu tak pernah lekang disuarakan ribuan aktivis pecinta kedamaian. Termasuk para janda yang suaminya meninggal di medan perang dan anak2 yatim yang kehilangan ayahnya. Peperangan hanya menebarkan kebencian, peperangan hanya menabur penderitaan tak ada habisnya.
Akhirnya, setelah sekian lama keluarga Bush menguasai Gedung Putih, masyarakat dunia menjadi lelah. Warga Amerika menjadi lelah. Tampilnya sosok Obama dianggap angin baru bagi perubahan Amerika dan dunia. Tapi apa benar begitu? pada saat semua orang histeris keadilan bakal datang, kedamaian bakal tiba setelah pria kulit hitam itu menguasai gedung putih, aq justru bertanya sekali lagi. Apa benar?
Boleh dong beda pendapat. Keraguan itu muncul karena ada kata2 Obama yang menjadi slilit. "Saya memang akan menarik pasukan dari Irak. Tapi saya akan menambah pasukan ke Afganistan,". What the hell is this?.. Tidaklah disebut perubahan jika pemimpin Amerika hanya berganti kulit. Perubahan hanya akan terjadi jika ada paradigma baru pemimpin Amerika. Begitu kata Ketua Parlemen Iran Ali Larijani yang dirilis sejumlah media internasional seperti AP, AFP dan CNN.
Obama memang jagonya pasar modal. Anjloknya ekonomi Amerika yang berimbas pada ekonomi dunia banyak yang optimistis bakal selesai setelah Obama naik ke Gedung Putih. Tapi bagaimana dengan kebijakan perang...perang...perang...yang dibenci semua orang itu, yang ternyata masih belum akan berhenti itu?..bagi yang tahu jawaban ini, silakan jawab...boleh dong qta berpikir beda.
***
Mari sejenak kita tinggalkan soal Obama. Eksekusi Amrozi CS. Tadi pukul 00.00, TV One dan Global TV live soal eksekusi trio bomber Bali I 12 Oktober 2002 itu. Lapas Nusakambangan, Serang, Banten tempatnya Imam Samudra dan Lamongan tempatnya Amrozi menjadi perhatian utama sorotan kamera. Dari layar kaca TV seorang reporter melaporkan Amrozi CS telah dibawa keluar dari Lapas pukul 23.00 untuk dieksekusi. Tapi hingga pukul 00.30 belum ada kabar apakah benar sudah dieksekusi atau belum lantaran jasad kaku para bomber belum sampai di klinik lapas yang sudah disiapkan. Di Serang, simpatisan Amrozi CS dari JI berduyun2 datang dengan meneriakkan kata2 kecaman yang diiringi gema suara takbir. Sementara di Lamongan, ribuan aparat kepolisian dari Polwil Bojonegoro tengah malam didatangkan untuk menjaga rumah Amrozi dan seluruh titik rawan di Lamongan. Malam itu, suasana rumah Amrozi sendiri sunyi senyap. Ponpes sendiri telah dinyatakan tertutup bagi kalangan wartawan. Sehari sebelumnya, para tetangga, simpatisan, kiai, ulama hingga tokoh partai datang silih berganti ke rumah bomber Bali I yang menunggu ajal untuk memberi dukungan moril kepada keluarganya.
Belum juga laporan dari TV memastikan Amrozi CS sudah dieksekusi atau belum, sebuah pesan singkat masuk di HP bututku. Jam dinding aq lihat sudah pukul 02.15 dini hari. Isinya begini: "Teman2, pagi ini jam 9 akan ada doa bersama dr teman2 Yayasan Anand Ashram,serentak d beberapa kota,atas eksekusi mati amrozi cs.Doa ini brtujuan agar arwah mrk d ampuni & d terima Tuhan Yang Maha Kuasa & agar tindakan seperti mereka tdk trulang lagi d Indonesia tercinta.Kt jg mndoakn bg para korban agar tenang & damai.tks,". Sms itu ga aq edit biar persis seperti aslinya yang dikirim. Begitu bangun tidur, hampir seluruh stasiun TV menyiarkan Amrozi CS telah dieksekusi pukul 00.15 dinihari. Jasadnya langsung diterbangkan ke rumah duka di Serang dan Lamongan. Suasana riuh menyambut jasad bomber tersebut. Teriakan takbir para simpatisan tak henti2nya diselingi kata2 trio bomber bukan teroris tapi mujahid.
***
Jika melihat suasana tersebut dan tidak tahu latarbelakang kenapa ketiganya dieksekusi mati, orang akan bertanya2. Mereka itu sebenarnya siapa sih. Pahlawan atau penghianat? bukankah tujuannya memborbardir Amerika. Tapi kenapa yang jadi korban warga setempat. Jika yang jadi korban turis asing, toh mereka juga tidak tahu menahu dan tidak ada kaitannya dengan kebijakan politik. Lalu kenapa harus dikorbankan? Apakah mereka tidak berpikir bagaimana nasib para anak yatim piatu yang orangtuanya tewas akibat bom yang mereka ledakkan. Siapa yang akan mengurus mereka, bagaimana masa depan anak2 tak berdosa itu tumbuh tanpa orangtua? wahai para martir, di mana hati nuranimu? bukankah Alquran dan ucapan Nabi Muhammad SAW telah sangat jelas. "Tidaklah diterima sholat seseorang jika menyia-nyiakan anak yatim". Lalu bagaimana dengan anak yatim di Bali? akibat bom, mereka tidak saja diciptakan menjadi yatim, tapi juga disia-siakan setelah menjadi yatim. Jihadul akbar, jihadun nafsi. Jihad yang paling besar adalah jihad melawan hawa nafsu. Nafsu untuk membunuh, merusak, atau menebar teror. Justru, disebut jihad jika seseorang mampu menebar kedamaian. Afsus salam bainakum. Sebarkanlah salam di antara sesamamu. Salam bukan hanya diartikan secara sempit dengan mengucapkan assalamualaikum. Salam lebih diartikan bagaimana seseorang bisa menjaga keselamatan sesamanya. Menjaga dan membantu. Mengentaskan kemiskinan, memberantas pengangguran, menjaga anak yatim, menularkan ilmu pengetahuan atau skill. Bukankah agama itu rahmatan lil alamin!
***
Ada dua kelompok besar ketika Amrozi CS dieksekusi mati. Pertama para korban. Jelas mereka mengecam keras aksi pengeboman itu dan menuntut agar trio bomber segera dihukum mati. Jika tidak, pemerintah dianggap lelet, ga punya sikap, ga pro kemanusiaan dan sebagainya. Kelompok lainnya, tindakan eksekusi mati yang dijatuhkan kepada trio bomber salah kaprah. Pemerintah dianggap kaki tangan Amerika. Ato kepanjangan tangan negara kafir. Isu teroris tak lebih hanya pesanan politik Amerika. Agar Indonesia tidak diembargo atau tidak diblacklist oleh Amerika layaknya Irak yang berujung munculnya klaim sahnya sebuah penyerbuan. Mengorbankan segelintir orang demi menjaga hubungan dengan Amerika (untuk tidak menyebut dunia) dianggap lebih nasionalis. Bahkan, ada kabar yang beredar, setiap ada penangkapan, Amerika bakal memberi bonus 100 juta US dolar. Tapi bukankah itu zaman Bush yang menyatakan Islam telah menciptakan para teroris. Tapi bagaimana jika kepemimpinan telah berganti kepada Obama yang dianggap kemenangan kaum minoritas, kemenangan kaum tertindas? wahai para martir, haruskah kalian tetap akan menebarkan teror sementara elit Amerika telah berganti? kebijakan politiknya barangkali? semoga jawabannya TIDAK alias cukup sudah pengeboman itu.
Dua sisi itu selalu muncul di dua kelompok yang bersebarangan. Para korban bom dan para simpatisan bomber yang dieksekusi mati. Dua2nya tak lebih hanya menebarkan kebencian satu sama lain. Jika mata dibalas dengan mata, yang ada hanya dendam. Lalu jika begitu, kapan negeriku ini akan damai?..
***
Aq sebenarnya ingin berpikir, eksekusi mati yang dilakukan pemerintah bukannya memutus mata rantai para teroris. Justru, eksekusi mati itu semakin mengobarkan dendam para simpatisan atau pengikut Amrozi CS. Eksekusi mati dianggap luka yang harus dibalas. Apalagi, media memblow up besar-besaran. Jika anda melihat suasana di rumah Imam Samudera di Serang atau Amrozi di Lamongan akan tampak betapa eksekusi itu telah memancing emosi. Teriakan takbir yang tak henti2nya, blokade pengikut Amrozi di pintu gerbang masjid atau pemakaman dengan tidak mengizinkan aparat memasuki areal tersebut adalah bukti nyata yang betapa amarah itu telah tersulut.
Sinyal itu jelas terlihat dari pernyataan Menlu Australia Stephen Smith yang melarang warganya berkunjung ke Indonesia dengan alasan dikhawatirkan ada aksi balasan dari kelompok atau simpatisan Amrozi CS. Bahkan sejak kabar Amrozi CS akan dieksekusi, para pengikutnya sudah berancang2 akan meledakkan sejumlah gedung yang menjadi pusat keramaian. Bukti nyata pada 23 Oktober lalu dengan ditemukannya 3 kg bahan peledak beserta alat2 lain di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Pelakunya yang bernama Wahyu itu siap akan meledakkan depo pertamina dan membalas elit negeri ini yang memerangi terorisme. Lagi2, kekerasan akan selalu dibalas dengan kekerasan. Teori spiral kekerasan itu memang tak pernah lekang oleh waktu.
Bagiku, untuk menghentikan terorisme di negeri ini tidak perlu ada hukuman mati yang bisa menyulut amarah para martir2 lain. Atau justru menciptakan martir2 baru. Apalagi tayangan media memblow up tak henti2nya. Justru, jika mau menghentikan terorisme, setelah pelaku ditangkap, hukumlah seumur hidup. Diasingkan ke tempat terpencil jauh dari jangkauan media dan masyarakat dan dijaga ketat. Dengan begitu, para teroris telah mati secara sosial. Terputus hubungan komunikasi dengan pengikutnya dan masyarakat luas. Tidak ada ekspose besar2an oleh media yang bisa menyulut amarah para pengikutnya atau menciptakan para martir2 baru.
Sementara untuk pencegahan dini, seluruh pemuka agama, rohaniwan harus bergerak secara intensif ke masyarakat menjelaskan apa sebenarnya inti agama itu. Termasuk menggandeng sejumlah ponpes yang ditengarai berhaluan garis keras agar secara sadar elit agama setempat juga bersedia memberi pemahaman kepada santrinya bahwa tidak ada agama yang mengizinkan adanya kekerasan. Jika itu dilakukan secara terus menerus, massal dan massif, bisa menjadi alat rekayasa sosial pencegah terorisme secara ampuh. Untuk bisa mencegah terorisme bukan dengan cara hukuman mati, tapi bagaimana mencuci kembali otak mereka, pikiran mereka dengan ajaran yang pro kemanusiaan, ajaran yang pro terhadap kedamaian. Ajaran tanpa kekerasan.
Dan kunci terakhir yang juga sangat menentukan, pemerintah juga harus konsisten dalam menegakkan keadilan. Jangan hanya kaum miskin, kelompok bawah di luar sistem yang diberangus, tapi juga elit2 politik jika terbukti bersalah juga harus dibabat habis. Intinya, jangan lagi ada diskriminasi.
Kemudian, dari sisi sosial, pemerintah harus memprioritaskan bagaimana memperkecil jurang kesenjangan antara yang kaya dan miskin. Pemberian kesempatan kerja seluas2nya bagi warga miskin, minoritas harus diutamakan. Pemberdayaan masyarakat bagi kelompok yang tidak mampu harus terus dilakukan hingga mereka bisa mandiri dari segi ekonomi. Yang lebih penting lagi, kebijakan yang tidak berpihak masyarakat banyak harus dihentikan.
Karena, kesenjangan itu juga bisa memicu tumbuh suburnya bom2 waktu yang bisa menjelma menjadi apapun. Apakah itu terorisme, premanisme hingga kerusuhan sosial.
Bukankah itu yang telah diterapkan Eropa. Buktinya mereka mampu mencegah munculnya aksi terorisme meskipun hukuman mati telah dihapuskan. Karena hukuman mati itu sendiri juga dianggap budaya jahiliyah yang mengebiri hak asasi manusia yang paling dasar. Yakni hak untuk hidup. Maka, negara yang pro kemanusiaan pun tak heran jika menghapuskannya. Karena, itu juga bisa mencegah aksi balas dendam atau aksi kekerasan susulan jika yang ditangkap merupakan pemimpin yang memiliki massa dalam jumlah besar. "Mencegah itu lebih baik daripada mengobati".
***
Kemenangan Obama menuju Gedung Putih yang disambut meriah jutaan warga dunia. Tak terkecuali anak2 sekolah di berbagai kota di Indonesia. Seperti SD Menteng yang karena saking meriahnya hingga dikutip New York Time headline halaman utama. Maklum saja, kemenangan kaum "the black skin" yang tertindas selama ratusan tahun dianggap kemenangan bagi semua. Dunia sudah bosan dengan aksi2 rejim Bush yang selalu menebarkan teror. Ribuan bahkan jutaan umat manusia tewas sia2 akibat kebijakan yang tidak pro kemanusiaan itu. Palestina, Afganistan, Lebanon dan seluruh negara timur tengah pernah merasakan betapa menyakitkan imbas dari perang yang diklaim untuk menjaga perdamaian dunia itu. Tidak hanya negara Islam yang akhirnya menjadi benci, tapi juga negara2 komunis macam Rusia ato negara2 Eropa. Bahkan, paska penyerbuan Irak, warga Amerika sendiri semakin sadar bahwa peperangan yang ditebarkan Bush adalah sebuah kesalahan. Dan rame2 mereka mengutuk elit pemegang kebijakan negeri Paman Sam itu. Apalagi staf ahli gedung putih membeberkan fakta bahwa penyerbuan ke Irak ternyata bukan karena di negeri seribu malam itu telah ditemukan senjata pemusnah umat manusia. Alasan yang digembor2kan Bush di hadapan senat dan negara2 sekutunya itu tak lebih hanya kebohongan belaka. Senjata pemusnah itu tak benar2 ada. Tapi ribuan tentara telah dikirimkan. Ribuan peluru kendali telah diluncurkan. Ribuan umat manusia akhirnya menjadi korban. Tak terkecuali juga para tentara yang dikirimkan. Ribuan perempuan Amerika menjadi janda. Ribuan anak2 menjadi yatim piatu hanya karena orangtuanya menjadi bagian dari tim eksekutor kebijakan yang salah. "Stop war in Irak". Kata2 itu tak pernah lekang disuarakan ribuan aktivis pecinta kedamaian. Termasuk para janda yang suaminya meninggal di medan perang dan anak2 yatim yang kehilangan ayahnya. Peperangan hanya menebarkan kebencian, peperangan hanya menabur penderitaan tak ada habisnya.
Akhirnya, setelah sekian lama keluarga Bush menguasai Gedung Putih, masyarakat dunia menjadi lelah. Warga Amerika menjadi lelah. Tampilnya sosok Obama dianggap angin baru bagi perubahan Amerika dan dunia. Tapi apa benar begitu? pada saat semua orang histeris keadilan bakal datang, kedamaian bakal tiba setelah pria kulit hitam itu menguasai gedung putih, aq justru bertanya sekali lagi. Apa benar?
Boleh dong beda pendapat. Keraguan itu muncul karena ada kata2 Obama yang menjadi slilit. "Saya memang akan menarik pasukan dari Irak. Tapi saya akan menambah pasukan ke Afganistan,". What the hell is this?.. Tidaklah disebut perubahan jika pemimpin Amerika hanya berganti kulit. Perubahan hanya akan terjadi jika ada paradigma baru pemimpin Amerika. Begitu kata Ketua Parlemen Iran Ali Larijani yang dirilis sejumlah media internasional seperti AP, AFP dan CNN.
Obama memang jagonya pasar modal. Anjloknya ekonomi Amerika yang berimbas pada ekonomi dunia banyak yang optimistis bakal selesai setelah Obama naik ke Gedung Putih. Tapi bagaimana dengan kebijakan perang...perang...perang...yang dibenci semua orang itu, yang ternyata masih belum akan berhenti itu?..bagi yang tahu jawaban ini, silakan jawab...boleh dong qta berpikir beda.
***
Mari sejenak kita tinggalkan soal Obama. Eksekusi Amrozi CS. Tadi pukul 00.00, TV One dan Global TV live soal eksekusi trio bomber Bali I 12 Oktober 2002 itu. Lapas Nusakambangan, Serang, Banten tempatnya Imam Samudra dan Lamongan tempatnya Amrozi menjadi perhatian utama sorotan kamera. Dari layar kaca TV seorang reporter melaporkan Amrozi CS telah dibawa keluar dari Lapas pukul 23.00 untuk dieksekusi. Tapi hingga pukul 00.30 belum ada kabar apakah benar sudah dieksekusi atau belum lantaran jasad kaku para bomber belum sampai di klinik lapas yang sudah disiapkan. Di Serang, simpatisan Amrozi CS dari JI berduyun2 datang dengan meneriakkan kata2 kecaman yang diiringi gema suara takbir. Sementara di Lamongan, ribuan aparat kepolisian dari Polwil Bojonegoro tengah malam didatangkan untuk menjaga rumah Amrozi dan seluruh titik rawan di Lamongan. Malam itu, suasana rumah Amrozi sendiri sunyi senyap. Ponpes sendiri telah dinyatakan tertutup bagi kalangan wartawan. Sehari sebelumnya, para tetangga, simpatisan, kiai, ulama hingga tokoh partai datang silih berganti ke rumah bomber Bali I yang menunggu ajal untuk memberi dukungan moril kepada keluarganya.
Belum juga laporan dari TV memastikan Amrozi CS sudah dieksekusi atau belum, sebuah pesan singkat masuk di HP bututku. Jam dinding aq lihat sudah pukul 02.15 dini hari. Isinya begini: "Teman2, pagi ini jam 9 akan ada doa bersama dr teman2 Yayasan Anand Ashram,serentak d beberapa kota,atas eksekusi mati amrozi cs.Doa ini brtujuan agar arwah mrk d ampuni & d terima Tuhan Yang Maha Kuasa & agar tindakan seperti mereka tdk trulang lagi d Indonesia tercinta.Kt jg mndoakn bg para korban agar tenang & damai.tks,". Sms itu ga aq edit biar persis seperti aslinya yang dikirim. Begitu bangun tidur, hampir seluruh stasiun TV menyiarkan Amrozi CS telah dieksekusi pukul 00.15 dinihari. Jasadnya langsung diterbangkan ke rumah duka di Serang dan Lamongan. Suasana riuh menyambut jasad bomber tersebut. Teriakan takbir para simpatisan tak henti2nya diselingi kata2 trio bomber bukan teroris tapi mujahid.
***
Jika melihat suasana tersebut dan tidak tahu latarbelakang kenapa ketiganya dieksekusi mati, orang akan bertanya2. Mereka itu sebenarnya siapa sih. Pahlawan atau penghianat? bukankah tujuannya memborbardir Amerika. Tapi kenapa yang jadi korban warga setempat. Jika yang jadi korban turis asing, toh mereka juga tidak tahu menahu dan tidak ada kaitannya dengan kebijakan politik. Lalu kenapa harus dikorbankan? Apakah mereka tidak berpikir bagaimana nasib para anak yatim piatu yang orangtuanya tewas akibat bom yang mereka ledakkan. Siapa yang akan mengurus mereka, bagaimana masa depan anak2 tak berdosa itu tumbuh tanpa orangtua? wahai para martir, di mana hati nuranimu? bukankah Alquran dan ucapan Nabi Muhammad SAW telah sangat jelas. "Tidaklah diterima sholat seseorang jika menyia-nyiakan anak yatim". Lalu bagaimana dengan anak yatim di Bali? akibat bom, mereka tidak saja diciptakan menjadi yatim, tapi juga disia-siakan setelah menjadi yatim. Jihadul akbar, jihadun nafsi. Jihad yang paling besar adalah jihad melawan hawa nafsu. Nafsu untuk membunuh, merusak, atau menebar teror. Justru, disebut jihad jika seseorang mampu menebar kedamaian. Afsus salam bainakum. Sebarkanlah salam di antara sesamamu. Salam bukan hanya diartikan secara sempit dengan mengucapkan assalamualaikum. Salam lebih diartikan bagaimana seseorang bisa menjaga keselamatan sesamanya. Menjaga dan membantu. Mengentaskan kemiskinan, memberantas pengangguran, menjaga anak yatim, menularkan ilmu pengetahuan atau skill. Bukankah agama itu rahmatan lil alamin!
***
Ada dua kelompok besar ketika Amrozi CS dieksekusi mati. Pertama para korban. Jelas mereka mengecam keras aksi pengeboman itu dan menuntut agar trio bomber segera dihukum mati. Jika tidak, pemerintah dianggap lelet, ga punya sikap, ga pro kemanusiaan dan sebagainya. Kelompok lainnya, tindakan eksekusi mati yang dijatuhkan kepada trio bomber salah kaprah. Pemerintah dianggap kaki tangan Amerika. Ato kepanjangan tangan negara kafir. Isu teroris tak lebih hanya pesanan politik Amerika. Agar Indonesia tidak diembargo atau tidak diblacklist oleh Amerika layaknya Irak yang berujung munculnya klaim sahnya sebuah penyerbuan. Mengorbankan segelintir orang demi menjaga hubungan dengan Amerika (untuk tidak menyebut dunia) dianggap lebih nasionalis. Bahkan, ada kabar yang beredar, setiap ada penangkapan, Amerika bakal memberi bonus 100 juta US dolar. Tapi bukankah itu zaman Bush yang menyatakan Islam telah menciptakan para teroris. Tapi bagaimana jika kepemimpinan telah berganti kepada Obama yang dianggap kemenangan kaum minoritas, kemenangan kaum tertindas? wahai para martir, haruskah kalian tetap akan menebarkan teror sementara elit Amerika telah berganti? kebijakan politiknya barangkali? semoga jawabannya TIDAK alias cukup sudah pengeboman itu.
Dua sisi itu selalu muncul di dua kelompok yang bersebarangan. Para korban bom dan para simpatisan bomber yang dieksekusi mati. Dua2nya tak lebih hanya menebarkan kebencian satu sama lain. Jika mata dibalas dengan mata, yang ada hanya dendam. Lalu jika begitu, kapan negeriku ini akan damai?..
***
Aq sebenarnya ingin berpikir, eksekusi mati yang dilakukan pemerintah bukannya memutus mata rantai para teroris. Justru, eksekusi mati itu semakin mengobarkan dendam para simpatisan atau pengikut Amrozi CS. Eksekusi mati dianggap luka yang harus dibalas. Apalagi, media memblow up besar-besaran. Jika anda melihat suasana di rumah Imam Samudera di Serang atau Amrozi di Lamongan akan tampak betapa eksekusi itu telah memancing emosi. Teriakan takbir yang tak henti2nya, blokade pengikut Amrozi di pintu gerbang masjid atau pemakaman dengan tidak mengizinkan aparat memasuki areal tersebut adalah bukti nyata yang betapa amarah itu telah tersulut.
Sinyal itu jelas terlihat dari pernyataan Menlu Australia Stephen Smith yang melarang warganya berkunjung ke Indonesia dengan alasan dikhawatirkan ada aksi balasan dari kelompok atau simpatisan Amrozi CS. Bahkan sejak kabar Amrozi CS akan dieksekusi, para pengikutnya sudah berancang2 akan meledakkan sejumlah gedung yang menjadi pusat keramaian. Bukti nyata pada 23 Oktober lalu dengan ditemukannya 3 kg bahan peledak beserta alat2 lain di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Pelakunya yang bernama Wahyu itu siap akan meledakkan depo pertamina dan membalas elit negeri ini yang memerangi terorisme. Lagi2, kekerasan akan selalu dibalas dengan kekerasan. Teori spiral kekerasan itu memang tak pernah lekang oleh waktu.
Bagiku, untuk menghentikan terorisme di negeri ini tidak perlu ada hukuman mati yang bisa menyulut amarah para martir2 lain. Atau justru menciptakan martir2 baru. Apalagi tayangan media memblow up tak henti2nya. Justru, jika mau menghentikan terorisme, setelah pelaku ditangkap, hukumlah seumur hidup. Diasingkan ke tempat terpencil jauh dari jangkauan media dan masyarakat dan dijaga ketat. Dengan begitu, para teroris telah mati secara sosial. Terputus hubungan komunikasi dengan pengikutnya dan masyarakat luas. Tidak ada ekspose besar2an oleh media yang bisa menyulut amarah para pengikutnya atau menciptakan para martir2 baru.
Sementara untuk pencegahan dini, seluruh pemuka agama, rohaniwan harus bergerak secara intensif ke masyarakat menjelaskan apa sebenarnya inti agama itu. Termasuk menggandeng sejumlah ponpes yang ditengarai berhaluan garis keras agar secara sadar elit agama setempat juga bersedia memberi pemahaman kepada santrinya bahwa tidak ada agama yang mengizinkan adanya kekerasan. Jika itu dilakukan secara terus menerus, massal dan massif, bisa menjadi alat rekayasa sosial pencegah terorisme secara ampuh. Untuk bisa mencegah terorisme bukan dengan cara hukuman mati, tapi bagaimana mencuci kembali otak mereka, pikiran mereka dengan ajaran yang pro kemanusiaan, ajaran yang pro terhadap kedamaian. Ajaran tanpa kekerasan.
Dan kunci terakhir yang juga sangat menentukan, pemerintah juga harus konsisten dalam menegakkan keadilan. Jangan hanya kaum miskin, kelompok bawah di luar sistem yang diberangus, tapi juga elit2 politik jika terbukti bersalah juga harus dibabat habis. Intinya, jangan lagi ada diskriminasi.
Kemudian, dari sisi sosial, pemerintah harus memprioritaskan bagaimana memperkecil jurang kesenjangan antara yang kaya dan miskin. Pemberian kesempatan kerja seluas2nya bagi warga miskin, minoritas harus diutamakan. Pemberdayaan masyarakat bagi kelompok yang tidak mampu harus terus dilakukan hingga mereka bisa mandiri dari segi ekonomi. Yang lebih penting lagi, kebijakan yang tidak berpihak masyarakat banyak harus dihentikan.
Karena, kesenjangan itu juga bisa memicu tumbuh suburnya bom2 waktu yang bisa menjelma menjadi apapun. Apakah itu terorisme, premanisme hingga kerusuhan sosial.
Bukankah itu yang telah diterapkan Eropa. Buktinya mereka mampu mencegah munculnya aksi terorisme meskipun hukuman mati telah dihapuskan. Karena hukuman mati itu sendiri juga dianggap budaya jahiliyah yang mengebiri hak asasi manusia yang paling dasar. Yakni hak untuk hidup. Maka, negara yang pro kemanusiaan pun tak heran jika menghapuskannya. Karena, itu juga bisa mencegah aksi balas dendam atau aksi kekerasan susulan jika yang ditangkap merupakan pemimpin yang memiliki massa dalam jumlah besar. "Mencegah itu lebih baik daripada mengobati".
Langganan:
Postingan (Atom)
