Rekam Jejak Alm. Ali Sadikin Membangun Jakarta (2)
Dibangun Susah Payah, Satu Per Satu Fasilitas Publik Raib
Ali Sadikin telah menoreh sejarah panjang dalam membangun Jakarta. Selama menjadi Gubernur DKI Jakarta 1966-1977, dengan susah payah, kota yang awalnya kumuh disulap menjadi pusat investasi. Sayang, gerakan de-Ali Sadikin-isasi merusak segalanya.
IBNUL A'ROBI
Warga Jakarta patut berterimakasih terhadap Bang Ali. Berkat jasanya membangun Jakarta selama periode 1966-1977, kota kumuh itu berubah menjadi kota metropolitan. Jakarta telah menjadi gula bagi semut. Investor, pengusaha, pengangguran, seluruhnya lari ke Jakarta untuk ikut meneguk hasil pembangunan yang ditoreh pria kelahiran Sumedang, 7 Juli 1927 tersebut. Pemerintah pusat yang awalnya memandang "sinis" dengan menolak proyek Bang Ali, kini harus angkat topi atas keberhasilannya. Sebut saja proyek Muhamad Husni Thamrin (MHT) yang mulai dicanangkan pada tahun 1969. Dari kekumuhan, Jakarta berhasil disulap menjadi kota dengan penuh gemerap. Tak heran, atas jasanya itu, bapak lima anak itu menerima Ramon Magsaysay Award untuk Government Service tahun 1971 di Filipina. Kemudian, pada 19 Oktober 2004, Bank Dunia juga memberikan penghargaan khusus atas jasanya dalam proyek perbaikan kampung. Bahkan, tidak tangung-tangung, pada Januari 2006, Institut Kesenian Jakarta menobatkan Bang Ali dengan gelar Empu Peradaban Kota.
Sayangnya, meskipun dianggap telah membawa Jakarta bangkit dari keterpurukan, konsep Bang Ali untuk membangun Jakarta banyak yang dikubur sejak pencetus petisi 50 itu lengser dari jabatan Gubernur DKI Jakarta pada tahun 1977.
"Alasannya, karena saya dianggap menentang pemerintah, pengganti saya (Tjokropranolo 1977-1982,) melakukan de-Ali Sadikin-isasi. Semua program saya dihapus," ungkap suami suami drg Nani Arnasih (alm) dan Linda Mangan.
Munculnya de-Ali Sadikin-isasi lantaran saat itu, Bang Ali bicara keras soal pemerintahan. Bersama Bung Hatta dan Jenderal AH Nasution tahun 1978 mendirikan Yayasan Berkonstitusi. Soeharto dianggap mulai melenceng. Langkah itu kembali dipertajam dengan munculnya petisi 50 tahun 1980. "Itu membuat saya dianggap sebagai musuh pemerintah," akunya.
Akibat proses de-Ali Sadikin-isasi itu, sudah dapat ditebak, hampir seluruh konsep pembangunan Bang Ali ikut dikubur rapat-rapat oleh penerusnya yang "mengekor" pemerintah. Proyek MHT yang awalnya dikenal dengan proyek perbaikan kampung nyaris tak terdengar gaungnya. Jika ada pun, hanya sekadar formalitas dan tidak pernah menyentuh substansi untuk lebih meningkatkan taraf hidup warganya.
Sementara di sisi lain, arus urbanisasi terus berlangsung dan tidak bisa dihentikan. Jakarta dari waktu ke waktu bertambah sesak dan overload. Padahal, meledaknya jumlah penduduk ditengarai sebagai pemicu utama persoalan sosial. "Konsep Bang Ali tidak harus diterjemahkan seperti apa adanya. Jakarta bisa bangkit lagi jika konsep itu diterapkan dengan melihat isi substansi sebenarnya. Bukan justru dikebiri seperti saat ini," ungkap pakar planologi Universitas Trisakti Yayat Supriatna.
Memang, pada zaman Belanda dulu, Jakarta hanya dirancang untuk 800 ribu penduduk. Jumlah itu terus merangkak naik. Saat Ali Sadikin menjabat sebagai Gubernur tahun 1966, jumlah penduduk DKI sudah mencapai 3,5 juta. Kemudian, hingga akhir masa jabatannya tahun 1977, jumlah penduduk Jakarta sudah mencapai 5,5 juta jiwa. Namun, hingga menjelang akhir hayatnya, Bang Ali masih geleng-geleng kepala. Arus urbanisasi yang cukup deras tak mampu disikapi dengan sigap. Bahkan, saat Gubernur DKI Jakarta dijabat Sutiyoso (1997-2007), larangan keras para urban masuk Jakarta tanpa adanya jaminan pekerjaan yang jelas serta tempat tinggal dianggap sudah terlambat. Penduduk Jakarta sudah menembus angka 10 juta lebih. Itu belum termasuk penduduk liar yang tidak pernah tercatat secara resmi.
Sejumlah titik sudah banyak dipenuhi gubuk-gubuk liar. Rel kereta, bantaran kali, kolong tol, terminal serta berbagai fasilitas publik lainnya penuh dengan para urban dan menjadi masalah baru bagi penataan kota. Penertiban yang dilakukan hanya di permukaan saja tanpa ada solusi konkret. "Waktu itu saya habis menertibkan Tanah Abang, Bang Ali bilang, berani ga nertibin Senen," ungkap Sekda Muhayat mengingat kata Bang Ali saat masih menjabat sebagai Walikota Jakarta Pusat.
Tidak optimalnya perhatian pemerintah saat ini juga sempat membuat Bang Ali miris.Banyak di antara hasil pembangunannya praktis mangkrak dan tidak sedikit di antaranya harus ikut terkubur bersama sejarah.
Sebut gelanggang mahasiswa di Soemantri Brodjonegoro Jalan Rasuna Said, Kuningan harus telantar lantaran disulap menjadi pertokoan. Gelanggang remaja di kawasan Bulungan harus disewakan untuk swasta.
Pusat perfilman Usmar Ismail di Kuningan yang awalnya diimpikan menjadi Holiwoodnya Indonesia, tanahnya harus ditukar guling. "Saya merasa sudah dikhianati atas perubahan Jakarta. Pengganti saya hanya mengedepankan idenya sendiri. Tidak ada yang menambah fasilitas untuk rakyat," ungkap Bang Ali kala itu.
Jika pada zamannya, di setiap kecamatan ada balai rakyat, saat ini praktis tak ada lagi. Padahal, sarana publik itu banyak dimanfaatkan warga untuk saling berinteraksi, acara pesta serta kepentingan lainnya.
Bahkan untuk masalah paling krusial seperti pengendali banjir juga dialihfungsikan. Sebut saja ruang terbuka hijau (RTH) telah banyak disulap menjadi real estate. Begitu juga dengan 200 waduk yang dibangun pada Zaman Belanda nyaris hanya tersisa sebagian. Pemimpin daerah Bekasi, Bogor, dan Tangerang hanya mementingkan kepentingannya sendiri. "Jika konsep Bang Ali tidak segera dilanjutkan, Jakarta selamanya akan dikepung persoalan yang tak henti-hentinya membelenggu. Banjir, macet, kemiskinan, akan selalu datang," tegas Yayat Supriyatna.
Selama menjabat menjadi Gubernur DKI Jakarta 1966-1977, Bang Ali memang seorang pelopor pembangunan. Hampir seluruh fasilitas publik saat ini hasil gagasannya. Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Ragunan, Proyek Senen, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Ria Monas, Taman Ria Remaja serta kota Satelit Pluit.
Selain membangun fasilitas publik, Bang Ali juga dikenal pelestari budaya Betawi. Pesta rakyat setiap 22 Juni digelar, kontes Abang None dimunculkan. Aneka ragam budaya Betawi yang nyaris punah juga dipertahankan. Seperti kerak telor, ondel-ondel, lenong serta topeng Betawi masih ada saat ini berkat jasa Bang Ali.
Sosok yang tak lekang oleh waktu itu telah bersanding dengan tenang untuk selamanya bersama istri tercinta Nani Arnasih yang lebih dahulu berpulang pada 17 Februari 1986 lalu. Tanah merah di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan akan selalu menjadi saksi bisu atas segala perjuangan yang pernah ditoreh untuk pembangunan Jakarta. (*)
26 Mei 2008
Rekam Jejak Ali Sadikin Membangun Jakarta (1)
Rekam Jejak Ali Sadikin Membangun Jakarta (1)
DKI Bangkit Berkat Legalisasi Perjudian dan Lokalisasi Prostitusi
Ali Sadikin telah pergi selama-lamanya. Banyak hal yang telah dilakukan dalam membangun Jakarta selama menjabat sebagai Gubernur DKI 1966-1977. Ide penuh kontroversial seperti melegalkan perjudian dan lokalisasi prostitusi telah membawa Jakarta bangkit dari keterpurukan.
IBNUL A'ROBI
Bang Ali, begitu Ali Sadikin Akrab Disapa. Pria kelahiran Sumedang, 7 Juli 1927 tersebut namanya masih lekat di hati masyarakat Jakarta. Kepergiannya menghadap Yang Kuasa telah meninggalkan banyak kenangan dari bagi rekan, sahabat, kolega, bahkan lawan politiknya. Satu hal yang banyak dikagumi banyak orang. Sikapnya tegas, berani dan konsisten demi kepentingan masyarakat banyak. Meskipun, hal itu kerap menjadi kontroversi dan ditentang banyak kalangan pada zamannya. Sebut saja soal legalisasi perjudian dan lokalisasi prostitusi.
"Saya ingat betul, saat itu Jakarta kumuh, semrawut. Perjudian menggila, prostitusi marak di jalan-jalan protokol tanpa ada rasa malu lagi," kenang anggota petisi 50, Chrisiner Kewtin yang dikenal dekat dengan Bang Ali.
Pria yang saat ini berumur 68 tahun itu masih ingat betul langkah Bang Ali dalam membangun Jakarta hingga terwujud kota metropolitan seperti saat ini. Saat itu, Bang Ali kebingungan pada saat awal menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta tahun 1966. Betapa tidak, hanya dengan APBD sebesar Rp 66 juta, suami drg Nani Arnasih (alm) dan Linda Mangan itu dituntut bisa menata Jakarta yang amburadul. "Lalu dengan apa saya harus membangun. Begitu Bang Ali saat itu tanya saya kebingungan," ungkapnya.
Namun, bapak lima anak itu tidak kehabisan akal. Dengan kecerdasannya, Bang Ali, berpijak pada realitas kondisi Jakarta saat itu, keberadaan perjudian yang tidak terkendali dan sudah menjadi tradisi masyarakat bisa diolah dan dikendalikan setelah dilegalkan. Begitu juga dengan prostitusi harus ditata dan dilokalisasi agar tidak semrawut hingga menjamah jantung kota. Kejahatan itu seperti air. Jika kanal ditutup, akan meluber ke mana-mana.
Ide dicetuskan. Kontroversi mulai bermunculan. Terutama dari tokoh agama dan pemuka masyarakat. "Tapi beliau kukuh. Toh ini untuk kepentingan masyarakat banyak. Bagaimana Jakarta mau dibangun kalau tidak ada duit. Jalan, sekolah, rumah sakit akhirnya diperbaiki dengan pajak judi tersebut," ungkapnya.
Untuk menetapkan pajak judi sebagai pemasok PAD bukan tanpa pertimbangan. Konsultasi dengan sejumlah tokoh agama dan masyarakat tetap dilakukan. Buya Hamka, tokoh agama terkemuka saat itu menyatakan persetujuannya jika memang pelegalan perjudian itu untuk kepentingan masyarakat banyak.
Akhirnya, meskipun banyak yang menentang, terhitung tahun 1967, judi di DKI dilegalkan. Kasino terbesar se-Asia setelah Macau dibangun di Hailai, Ancol, Jakarta Utara. Lokalisasi prostitusi Kramat Tunggak, Jakarta Utara berdiri. "Awalnya, beliau memang ragu-ragu karena dicap sekuler. Tapi saya bilang sekuler dalam berkebangsaan dengan sekuler dalam kacamata agama berbeda," kata Chrisiner Kewtin.
Setelah legalisasi perjudian itu, pelan tapi pasti, Jakarta mulai bangkit dari keterpurukan. Pembangunan di sejumlah titik terlihat jelas dan banyak memberi kemanfaatan kepada masyarakat. Jalan menjadi mulus, bangunan sekolah yang reot diperbaiki, rumah sakit dibangun. Maklum, dari hasil pajak perjudian itu, mampu diraup pemasukan daerah hingga Rp 40 miliar per tahun. Dari awal kepemimpinannya APBD DKI hanya Rp 66 juta, pada akhir pemerintahanya, APBD DKI mampu didongkrak hingga Rp 90 miliar. "Waktu pembangunan sudah jalan. Ada yang tetap masih protes. Kok bangun pakai uang judi. Bang Ali bilang, yang ga mau menikmati pembangunan hasil judi, jangan lewat jalan di DKI, silakan jalan di angkasa saja," katanya mengingat sikap Bang Ali yang kukuh menghadapi para penentangnya.
Maraknya perjudian di DKI mulai terlihat jelas sejak tahun 1950. Di berbagai tempat dan kesempatan, judi seperti menjadi tradisi baru masyarakat. Bahkan, saking santernya, wabah perjudian merembet hingga ke Jawa dan luar jawa. Setiap ada hajatan di kampung-kampung hingga pelosok terpencil, judi praktis menjadi tradisi baru untuk mengawal prosesi pesta pada saat malam hari. Mulailah berbagai jenis judi bermunculan. Sebut saja dadu sintir, dadu koplok, domino, gaple, cemek atau jenis mahyong, paykiu dan kartu ceki yang banyak digemari warga Tionghoa. Seiring kemajuan zaman, jenis judi pun mulai berkembang. Ada roulette, jackpot, dadu, keno, blackjack serta bakarat.
Meskipun di negeri sendiri legalisasi perjudian ditentang habis-habisan, justru Negara Islam Malaysia justru mulai meniru dan menerapkan ide Bang Ali terkait lokalisasi pusat perjudian di negara tersebut. Atas gagasan Tan Sri Lim Goh Tong, warga keturunan Fujian, China, pembangunan pusat perjudian di Genting Highlands direstui perdana menteri Malaysia pertama Tengku Abdul Rahman Putra Al Haj. Pusat perjudian terbesar di Asia setelah Macau dan Jakarta itu dibangun hanya berjarak 60 km dari Kuala Lumpur.
Bahkan, pada saat krisis moneter menerpa Malaysia, Genting Highlands disebut-sebut sebagai dewa penyelamat negara tersebut.
Meski dilegalkan, warga lokal diberlakukan peraturan ketat. Hanya warga asing yang bisa keluar masuk dengan mudah.
Hal yang sama juga terjadi di Singapura. Untuk bisa masuk, harus investasi pertama sebesar USD 100.
Menurut anggota komisi A DPRD DKI Ahmad Suaidy yang saat itu mengikuti jejak langkah Bang Ali menuturkan, legalisasi perjudian di DKI bukan tanpa alasan. Dewan saat itu menyetujui lantaran untuk kepentingan masyarakat banyak. "Komunikasi dan konsultasi tetap ada. Tapi dewan zaman dulu kan ABS (asal bapak senang). Dulu sangat tertutup, tidak seperti saat ini," ungkapnya.
Ketaatan dewan saat itu lantaran segala fasilitas dicukupi oleh eksekutif. Hingga fungsi kontrol nyaris tidak terlihat.
Namun, sejak setelah dikeluarkannya Keppres tahun 1975 tentang larangan perjudian, KUHP pasal 303 serta PP no 9 tahun 1981 tentang pelaksanaan penertiban perjudian, keberadaan kasino di Jakarta dibubarkan dan ditutup. Perjudian dianggap terlarang. Hal itu ditengarai akibat sikap Ali Sadikin yang kerap menentang kebijakan rezim Orde Baru yang saat itu tengah berkibar. Larangan judi dianggap banyak pihak hanya sebagai persaingan politik antara Soeharto dan Ali Sadikin dan bukan terkait substansi keberadaan perjudian. Sebab, meski ada larangan perjudian, SDSB dan porkas masih "diizinkan" di masa rezim Soeharto.
Ide Bang Ali tentang legalisasi perjudian hingga saat ini masih kontroversial. Namun, sempat pada kepemimpinan Sutiyoso (1997-2007), ide tersebut akan dilanjutkan dengan melokalisasi perjudian di kawasan Pulau Seribu. Saat itu Bupati Pulau Seribu dijabat Abdul Kadir. Sebanyak 35 pulau dicanangkan sebagai kawasan perjudian. Protes keras masyarakat tak mampu membuat niatan tersebut terealisasi. (aak)
DKI Bangkit Berkat Legalisasi Perjudian dan Lokalisasi Prostitusi
Ali Sadikin telah pergi selama-lamanya. Banyak hal yang telah dilakukan dalam membangun Jakarta selama menjabat sebagai Gubernur DKI 1966-1977. Ide penuh kontroversial seperti melegalkan perjudian dan lokalisasi prostitusi telah membawa Jakarta bangkit dari keterpurukan.
IBNUL A'ROBI
Bang Ali, begitu Ali Sadikin Akrab Disapa. Pria kelahiran Sumedang, 7 Juli 1927 tersebut namanya masih lekat di hati masyarakat Jakarta. Kepergiannya menghadap Yang Kuasa telah meninggalkan banyak kenangan dari bagi rekan, sahabat, kolega, bahkan lawan politiknya. Satu hal yang banyak dikagumi banyak orang. Sikapnya tegas, berani dan konsisten demi kepentingan masyarakat banyak. Meskipun, hal itu kerap menjadi kontroversi dan ditentang banyak kalangan pada zamannya. Sebut saja soal legalisasi perjudian dan lokalisasi prostitusi.
"Saya ingat betul, saat itu Jakarta kumuh, semrawut. Perjudian menggila, prostitusi marak di jalan-jalan protokol tanpa ada rasa malu lagi," kenang anggota petisi 50, Chrisiner Kewtin yang dikenal dekat dengan Bang Ali.
Pria yang saat ini berumur 68 tahun itu masih ingat betul langkah Bang Ali dalam membangun Jakarta hingga terwujud kota metropolitan seperti saat ini. Saat itu, Bang Ali kebingungan pada saat awal menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta tahun 1966. Betapa tidak, hanya dengan APBD sebesar Rp 66 juta, suami drg Nani Arnasih (alm) dan Linda Mangan itu dituntut bisa menata Jakarta yang amburadul. "Lalu dengan apa saya harus membangun. Begitu Bang Ali saat itu tanya saya kebingungan," ungkapnya.
Namun, bapak lima anak itu tidak kehabisan akal. Dengan kecerdasannya, Bang Ali, berpijak pada realitas kondisi Jakarta saat itu, keberadaan perjudian yang tidak terkendali dan sudah menjadi tradisi masyarakat bisa diolah dan dikendalikan setelah dilegalkan. Begitu juga dengan prostitusi harus ditata dan dilokalisasi agar tidak semrawut hingga menjamah jantung kota. Kejahatan itu seperti air. Jika kanal ditutup, akan meluber ke mana-mana.
Ide dicetuskan. Kontroversi mulai bermunculan. Terutama dari tokoh agama dan pemuka masyarakat. "Tapi beliau kukuh. Toh ini untuk kepentingan masyarakat banyak. Bagaimana Jakarta mau dibangun kalau tidak ada duit. Jalan, sekolah, rumah sakit akhirnya diperbaiki dengan pajak judi tersebut," ungkapnya.
Untuk menetapkan pajak judi sebagai pemasok PAD bukan tanpa pertimbangan. Konsultasi dengan sejumlah tokoh agama dan masyarakat tetap dilakukan. Buya Hamka, tokoh agama terkemuka saat itu menyatakan persetujuannya jika memang pelegalan perjudian itu untuk kepentingan masyarakat banyak.
Akhirnya, meskipun banyak yang menentang, terhitung tahun 1967, judi di DKI dilegalkan. Kasino terbesar se-Asia setelah Macau dibangun di Hailai, Ancol, Jakarta Utara. Lokalisasi prostitusi Kramat Tunggak, Jakarta Utara berdiri. "Awalnya, beliau memang ragu-ragu karena dicap sekuler. Tapi saya bilang sekuler dalam berkebangsaan dengan sekuler dalam kacamata agama berbeda," kata Chrisiner Kewtin.
Setelah legalisasi perjudian itu, pelan tapi pasti, Jakarta mulai bangkit dari keterpurukan. Pembangunan di sejumlah titik terlihat jelas dan banyak memberi kemanfaatan kepada masyarakat. Jalan menjadi mulus, bangunan sekolah yang reot diperbaiki, rumah sakit dibangun. Maklum, dari hasil pajak perjudian itu, mampu diraup pemasukan daerah hingga Rp 40 miliar per tahun. Dari awal kepemimpinannya APBD DKI hanya Rp 66 juta, pada akhir pemerintahanya, APBD DKI mampu didongkrak hingga Rp 90 miliar. "Waktu pembangunan sudah jalan. Ada yang tetap masih protes. Kok bangun pakai uang judi. Bang Ali bilang, yang ga mau menikmati pembangunan hasil judi, jangan lewat jalan di DKI, silakan jalan di angkasa saja," katanya mengingat sikap Bang Ali yang kukuh menghadapi para penentangnya.
Maraknya perjudian di DKI mulai terlihat jelas sejak tahun 1950. Di berbagai tempat dan kesempatan, judi seperti menjadi tradisi baru masyarakat. Bahkan, saking santernya, wabah perjudian merembet hingga ke Jawa dan luar jawa. Setiap ada hajatan di kampung-kampung hingga pelosok terpencil, judi praktis menjadi tradisi baru untuk mengawal prosesi pesta pada saat malam hari. Mulailah berbagai jenis judi bermunculan. Sebut saja dadu sintir, dadu koplok, domino, gaple, cemek atau jenis mahyong, paykiu dan kartu ceki yang banyak digemari warga Tionghoa. Seiring kemajuan zaman, jenis judi pun mulai berkembang. Ada roulette, jackpot, dadu, keno, blackjack serta bakarat.
Meskipun di negeri sendiri legalisasi perjudian ditentang habis-habisan, justru Negara Islam Malaysia justru mulai meniru dan menerapkan ide Bang Ali terkait lokalisasi pusat perjudian di negara tersebut. Atas gagasan Tan Sri Lim Goh Tong, warga keturunan Fujian, China, pembangunan pusat perjudian di Genting Highlands direstui perdana menteri Malaysia pertama Tengku Abdul Rahman Putra Al Haj. Pusat perjudian terbesar di Asia setelah Macau dan Jakarta itu dibangun hanya berjarak 60 km dari Kuala Lumpur.
Bahkan, pada saat krisis moneter menerpa Malaysia, Genting Highlands disebut-sebut sebagai dewa penyelamat negara tersebut.
Meski dilegalkan, warga lokal diberlakukan peraturan ketat. Hanya warga asing yang bisa keluar masuk dengan mudah.
Hal yang sama juga terjadi di Singapura. Untuk bisa masuk, harus investasi pertama sebesar USD 100.
Menurut anggota komisi A DPRD DKI Ahmad Suaidy yang saat itu mengikuti jejak langkah Bang Ali menuturkan, legalisasi perjudian di DKI bukan tanpa alasan. Dewan saat itu menyetujui lantaran untuk kepentingan masyarakat banyak. "Komunikasi dan konsultasi tetap ada. Tapi dewan zaman dulu kan ABS (asal bapak senang). Dulu sangat tertutup, tidak seperti saat ini," ungkapnya.
Ketaatan dewan saat itu lantaran segala fasilitas dicukupi oleh eksekutif. Hingga fungsi kontrol nyaris tidak terlihat.
Namun, sejak setelah dikeluarkannya Keppres tahun 1975 tentang larangan perjudian, KUHP pasal 303 serta PP no 9 tahun 1981 tentang pelaksanaan penertiban perjudian, keberadaan kasino di Jakarta dibubarkan dan ditutup. Perjudian dianggap terlarang. Hal itu ditengarai akibat sikap Ali Sadikin yang kerap menentang kebijakan rezim Orde Baru yang saat itu tengah berkibar. Larangan judi dianggap banyak pihak hanya sebagai persaingan politik antara Soeharto dan Ali Sadikin dan bukan terkait substansi keberadaan perjudian. Sebab, meski ada larangan perjudian, SDSB dan porkas masih "diizinkan" di masa rezim Soeharto.
Ide Bang Ali tentang legalisasi perjudian hingga saat ini masih kontroversial. Namun, sempat pada kepemimpinan Sutiyoso (1997-2007), ide tersebut akan dilanjutkan dengan melokalisasi perjudian di kawasan Pulau Seribu. Saat itu Bupati Pulau Seribu dijabat Abdul Kadir. Sebanyak 35 pulau dicanangkan sebagai kawasan perjudian. Protes keras masyarakat tak mampu membuat niatan tersebut terealisasi. (aak)
Selamat Jalan Bang Ali
Selamat Jalan Bang Ali
Indonesia kembali berkabung. Putra terbaik bangsa mantan Gubernur DKI Jakarta periode 1996-1977 Letjen (Purn) Ali Sadikin, tutup usia pada umur 81 di Rumah Sakit Glen Eagles, Singapura, tadi malam
18.30 waktu setempat. Jenazah Bang Ali, sapaan akrabnya, rencananya akan diterbangkan dari Singapura dengan menggunakan pesawat GA 823 dan diperkirakan sampai di Jakarta pukul 07.00 dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir, siang ini sekitar pukul 14.00.
Pria kelahiran Sumedang, 7 Juli 1927 itu menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah mengalami komplikasi lantaran gagal ginjal dan empedu.
Menurut anak sulung Bang Ali, Boy Bernadi Sadikin, 53, sebelum dirawat di Singapura, mantan Ketua Umum PSSI periode 1977-1980 tersebut sempat menjalani pemeriksaan
menyeluruh (general check up) di Rumah Sakit Carolus Jakarta pada 10 April 2008. "Bapak memang orangnya seperti itu. Sakitnya tidak pernah dirasakan. Sakit tapi seperti tidak sakit. Baru setelah sakitnya parah, benar-benar dirasakan," ungkapnya di rumah duka Jalan Borobudur no 2, Menteng, Jakarta Pusat disela-sela menerima para pelayat tadi malam.
Penerima Bintang Mahaputera Adipradana pada 12 Agustus 2003 kali pertama merasakan sakit pada 2003 lalu dan sempat dirawat selama tujuh bulan di Rumah Sakit militer di Ghuang Zhou, Cina.
Dua ginjal Bang Ali dinyatakan dokter Negeri Tirai Bambu tidak berfungsi dua-duanya. Namun, dokter hanya mencangkok satu ginjalnya saja. Atas saran dokter setempat, penggagas petisi 50 itu disarankan rutin melakukan check up di negeri tersebut. Jika tidak, disarankan untuk berobat ke Singapura. Sebab, selain gagal ginjal, Bang Ali juga mengalami gangguan empedu. Namun, Bang Ali keberatan. "Sekembali dari Cina, kesehatan bapak naik turun. Sempat juga dirawat di Rumah Sakit Pondok Indah delapan hari sebelum akhirnya dibawa ke Singapura," beber Bernadi.
Almarhum meninggalkan satu istri satu istri, lima orang anak serta 13 cucu.
Semasa hidupnya, suami drg Nani Arnasih (alm) dan Linda Mangan itu memang banyak berjasa. Selama menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 1966-1977, dikenal sebagai berdirinya Taman Mini Indonesia Indah, pendiri Taman Ismail Marzuki, Taman Impian Jaya Ancol, Pekan Raya Jakarta serta pelopor berdirinya sejumlah gelanggang. Seperti Gelanggang Mahasiswa, Gelanggang Remaja serta Pusat Perfilman Usmar Ismail.
Bang Ali juga sangat berjasa atas berdirinya sejumlah museum seperti Museum Fatahillah, Museum Tekstil, Museum Keramik serta Museum Wayang. Selain itu juga dikenal sebagai sosok yang mampu mengembalikan fungsi gedung-gedung bersejarah seperti Gedung Juang 1945 dan Gedung Sumpah Pemuda.
Tak heran jika atas jasanya menata Kota Jakarta menjadi kota metropolitan, Bang Ali mendapatkan penghargaan Bintang Bintang Mahaputera Adipradana pada 12 Agustus 2003.
Sikapnya tegas dan bertanggungjawab sempat membawanya menduduki sejumlah pos jabatan strategis sebelum menjadi Gubernur DKI. Di antaranya, Deputi II Panglima Angkatan Laut (1959-1963), Menteri Perhubungan Laut Kabinet Kerja (1963-1964), Menko Kompartimen Maritim/Menteri Perhubungan Laut Kabinet Dwikora yang disempurnakan (1964-1966) dan terakhir menjabat sebagai Gubernur KDH DKI Jakarta (1966-1977).
Setelah turun dari jabatan gubernur, namanya semakin berkibar setelah memelopori keluarnya Petisi 50 yang secara kritis menentang sejumlah kebijakan kontraproduktif yang yang dikeluarkan rejim Soeharto.
Di mata sahabatnya, Bang Ali dikenal sebagai tokoh tak lekang oleh waktu. Marie Muhamad misalnya. Selama hidupnya, Bang Ali dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan penuh kesederhanaan. Terutama saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sebab, untuk menata Kota Jakarta yang kumuh dan semrawut saat itu diperlukan penegakan hukum. "Beliau itu sosok pemimpin yang kuat. Menjadi Gubernur Jakarta itu tidak gampang dimana urbanisasi terjadi besar-besaran. Dikerasin dianggap tidak manusiawi, dibiarkan juga salah," ungkapnya.
Tapi berkat kepemimpinan Bang Ali, Jakarta mampu ditata dengan baik. "Secara pribadi, yang paling berkesan, pernah dulu beliau bilang yang paling cocok jadi presiden Marie Muhammad," katanya bercanda.
Lain lagi dengan pengakuan sahabat dekat Bang Ali di petisi 50, Chrisiner Kewtin, 68.
Bang Ali dikenal sebagai seorang prajurit sejati dan negarawan sejati. Hal itu terlihat dari karirnya di militer. Ketika ditugaskan sebagai prajurit dalam penumpasan Permesta tahun 1960 di Manado. Bang Ali diberi deadline selama dua bulan. Tapi tugas itu mampu diselesaikan hanya dua minggu tanpa banyak korban di kedua belah pihak. "Yang paling jelas sebagai negarawan, saat menjadi Gubernur DKI. Dia bilang, saya ini bukan gubernurnya Golkar, tapi gubernurnya masyarakat. Dia itu pejuang masyarakat dan bukan alat dari pemerintah," bebernya.
Jasa yang tidak terkira itu juga tampak saat menata Jakarta dari APBD Rp 66 juta mampu mewujudkan Jakarta menjadi kota metropolitan."Waktu itu yang dipakai uang pajak judi. Banyak yang menentang. Tapi beliau bersikukuh, ini untuk kepentingan masyarakat banyak. Jalan, sekolah, rumah sakit dibangun hingga Jakarta maju pesat," bebernya. (aak)
Indonesia kembali berkabung. Putra terbaik bangsa mantan Gubernur DKI Jakarta periode 1996-1977 Letjen (Purn) Ali Sadikin, tutup usia pada umur 81 di Rumah Sakit Glen Eagles, Singapura, tadi malam
18.30 waktu setempat. Jenazah Bang Ali, sapaan akrabnya, rencananya akan diterbangkan dari Singapura dengan menggunakan pesawat GA 823 dan diperkirakan sampai di Jakarta pukul 07.00 dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir, siang ini sekitar pukul 14.00.
Pria kelahiran Sumedang, 7 Juli 1927 itu menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah mengalami komplikasi lantaran gagal ginjal dan empedu.
Menurut anak sulung Bang Ali, Boy Bernadi Sadikin, 53, sebelum dirawat di Singapura, mantan Ketua Umum PSSI periode 1977-1980 tersebut sempat menjalani pemeriksaan
menyeluruh (general check up) di Rumah Sakit Carolus Jakarta pada 10 April 2008. "Bapak memang orangnya seperti itu. Sakitnya tidak pernah dirasakan. Sakit tapi seperti tidak sakit. Baru setelah sakitnya parah, benar-benar dirasakan," ungkapnya di rumah duka Jalan Borobudur no 2, Menteng, Jakarta Pusat disela-sela menerima para pelayat tadi malam.
Penerima Bintang Mahaputera Adipradana pada 12 Agustus 2003 kali pertama merasakan sakit pada 2003 lalu dan sempat dirawat selama tujuh bulan di Rumah Sakit militer di Ghuang Zhou, Cina.
Dua ginjal Bang Ali dinyatakan dokter Negeri Tirai Bambu tidak berfungsi dua-duanya. Namun, dokter hanya mencangkok satu ginjalnya saja. Atas saran dokter setempat, penggagas petisi 50 itu disarankan rutin melakukan check up di negeri tersebut. Jika tidak, disarankan untuk berobat ke Singapura. Sebab, selain gagal ginjal, Bang Ali juga mengalami gangguan empedu. Namun, Bang Ali keberatan. "Sekembali dari Cina, kesehatan bapak naik turun. Sempat juga dirawat di Rumah Sakit Pondok Indah delapan hari sebelum akhirnya dibawa ke Singapura," beber Bernadi.
Almarhum meninggalkan satu istri satu istri, lima orang anak serta 13 cucu.
Semasa hidupnya, suami drg Nani Arnasih (alm) dan Linda Mangan itu memang banyak berjasa. Selama menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 1966-1977, dikenal sebagai berdirinya Taman Mini Indonesia Indah, pendiri Taman Ismail Marzuki, Taman Impian Jaya Ancol, Pekan Raya Jakarta serta pelopor berdirinya sejumlah gelanggang. Seperti Gelanggang Mahasiswa, Gelanggang Remaja serta Pusat Perfilman Usmar Ismail.
Bang Ali juga sangat berjasa atas berdirinya sejumlah museum seperti Museum Fatahillah, Museum Tekstil, Museum Keramik serta Museum Wayang. Selain itu juga dikenal sebagai sosok yang mampu mengembalikan fungsi gedung-gedung bersejarah seperti Gedung Juang 1945 dan Gedung Sumpah Pemuda.
Tak heran jika atas jasanya menata Kota Jakarta menjadi kota metropolitan, Bang Ali mendapatkan penghargaan Bintang Bintang Mahaputera Adipradana pada 12 Agustus 2003.
Sikapnya tegas dan bertanggungjawab sempat membawanya menduduki sejumlah pos jabatan strategis sebelum menjadi Gubernur DKI. Di antaranya, Deputi II Panglima Angkatan Laut (1959-1963), Menteri Perhubungan Laut Kabinet Kerja (1963-1964), Menko Kompartimen Maritim/Menteri Perhubungan Laut Kabinet Dwikora yang disempurnakan (1964-1966) dan terakhir menjabat sebagai Gubernur KDH DKI Jakarta (1966-1977).
Setelah turun dari jabatan gubernur, namanya semakin berkibar setelah memelopori keluarnya Petisi 50 yang secara kritis menentang sejumlah kebijakan kontraproduktif yang yang dikeluarkan rejim Soeharto.
Di mata sahabatnya, Bang Ali dikenal sebagai tokoh tak lekang oleh waktu. Marie Muhamad misalnya. Selama hidupnya, Bang Ali dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan penuh kesederhanaan. Terutama saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sebab, untuk menata Kota Jakarta yang kumuh dan semrawut saat itu diperlukan penegakan hukum. "Beliau itu sosok pemimpin yang kuat. Menjadi Gubernur Jakarta itu tidak gampang dimana urbanisasi terjadi besar-besaran. Dikerasin dianggap tidak manusiawi, dibiarkan juga salah," ungkapnya.
Tapi berkat kepemimpinan Bang Ali, Jakarta mampu ditata dengan baik. "Secara pribadi, yang paling berkesan, pernah dulu beliau bilang yang paling cocok jadi presiden Marie Muhammad," katanya bercanda.
Lain lagi dengan pengakuan sahabat dekat Bang Ali di petisi 50, Chrisiner Kewtin, 68.
Bang Ali dikenal sebagai seorang prajurit sejati dan negarawan sejati. Hal itu terlihat dari karirnya di militer. Ketika ditugaskan sebagai prajurit dalam penumpasan Permesta tahun 1960 di Manado. Bang Ali diberi deadline selama dua bulan. Tapi tugas itu mampu diselesaikan hanya dua minggu tanpa banyak korban di kedua belah pihak. "Yang paling jelas sebagai negarawan, saat menjadi Gubernur DKI. Dia bilang, saya ini bukan gubernurnya Golkar, tapi gubernurnya masyarakat. Dia itu pejuang masyarakat dan bukan alat dari pemerintah," bebernya.
Jasa yang tidak terkira itu juga tampak saat menata Jakarta dari APBD Rp 66 juta mampu mewujudkan Jakarta menjadi kota metropolitan."Waktu itu yang dipakai uang pajak judi. Banyak yang menentang. Tapi beliau bersikukuh, ini untuk kepentingan masyarakat banyak. Jalan, sekolah, rumah sakit dibangun hingga Jakarta maju pesat," bebernya. (aak)
10 Mei 2008
Banjir Surut Bukan Berarti Aman
Banjir Tol Bandara Masih Mengancam
Pemprov Prioritaskan Jakarta Utara
Banjir yang terjadi di Tol Sedyatmo KM 25 hingga KM 26 yang menghubungkan Jakarta menuju Bandara Soekarno-Hatta sudah surut. Ruas jalan sepanjang 1,8 km yang sebelumnya terendam hingga satu meter sudah tidak terlihat lagi air yang menggenang. Lalu lintas juga terlihat lancar. Akibatnya, kendaraan yang sebelumnya menumpuk di jalan alternatif tidak lagi terkonsentrasi dan sudah bisa melalui ruas tol. Namun, banjir akibat limpasan air laut tersebut belum seluruhnya kembali ke laut setelah dipompa. Beberapa kawasan, terutama di Penjaringan RT 16 hingga 19 RW 17, Jakarta Utara masih tergenang rob. Ketinggian masih berkisar antara 30 cm hingga 45 cm. Sementara di kawasan Muara Baru serta Pluit, air secara pelan sudah mulai surut. Namun, berdasarkan analisis sejumlah pakar, kemungkinan rob masih akan datang kembali. Sementara baik di tanggul di tol Bandara maupun di Jakarta Utara masih dibangun dengan geronjong serta karung pasir. Sehingga, banjir tidaknya kawasan Jakarta Utara dari rob sangat tergantung selesainya pembangunan tujuh tanggul sebagai pintu masuk air laut. Sedangkan untuk tol Bandara, masih ada kemungkinan banjir lagi jika ruas jalan tidak segera ditinggikan. Maklum, di sepanjang ruas KM 24 hingga KM 26 terletak di dataran rendah atau cekungan. Peninggian ruas jalan sepenuhnya tanggungjawab PT Jasa Marga serta pemerintah pusat.
Rencana peninggian ruas jalan tol tersebut memang sudah dijadwalkan saat banjir sebelumnya. Dimulai pada Mei dan diperkirakan selesai pada Juli. Namun, tidak terlihat realisasinya hingga saat ini.
Sementara itu, untuk mengantisipasi rob tersebut, Pemprov DKI Jakarta lebih memprioritaskan pembangunan tujuh tanggul di Jakarta Utara secara permanen. Di antaranya, tanggul Pompa Pluit, tanggul Pelabuhan Muara Baru, tanggul Dermaga Muara Baru, tanggul PLN, tanggul Muara Angke, tanggul Pelindo serta tanggul Luar Batang. Khusus untuk tanggul PLN dan Pelindo menjadi tanggungjawab masing-masing institusi.
Menurut Sekda Pemprov DKI Jakarta Muhayat, untuk mencegah banjir rob di jalur Bandara sudah dilakukan penanggulan sementara. Tanggul yang jebol sudah diberi tumpukan karung pasir untuk mencegah air masuk ke ruas tol. Namun, untuk penanggulangan permanen diserahkan PT Jasa Marga.
Sementara, Pemprov DKI masih punya pekerjaan rumah untuk segera menuntaskan perbaikan secara permanen tujuh tanggul yang menjadi pintu masuk air laut di Jakarta Utara itu. Targetnya, hingga akhir tahun ini sudah bisa diselesaikan. Termasuk di dalamnya penertiban 8 ribu warga yang tinggal di seputaran Waduk Pluit. "Kami optimis selesai," ujarnya saat ditemui usai salat Jumat di Balaikota kemarin.
Menurut Asisten Pembangunan Sarwo Handayani, penanganan banjir tetap akan menjadi prioritas Pemprov DKI. Jika sebelumnya ada anggaran perbaikan tanggul yang dipangkas, akan dianggarkan lagi pada anggaran perubahan. Seluruhnya ditargetkan bisa selesai akhir tahun ini.
Sementara itu, akibat banjir rob yang mulai menggulung sejak Selasa (6/5) malam, hingga saat ini kawasan Penjaringan tak kunjung surut. Sehingga, sejumlah aparat masih berjaga-jaga di sekitar lokasi. Perahu karet serta obat-obatan disiagakan. Meskipun, dilaporkan, di kawasan Penjaringan tidak tercatat adanya pengungsi.
"Petugas tetap disiagakan untuk mengantisipasi jika rob kembali datang," terang Manager Krisis Center Pemprov DKI Heru Joko Santoso.
Ancaman rob untuk kembali menggulung kawasan Jakarta memang masih ada kemungkinan terjadi. Berdasarkan analisis
Jawatan Hidro Oseanografi TNI AL, air laut pasang masih akan terjadi lagi pada Sabtu (10/5) sekitar pukul 22.00 hingga 23.00 dengan ketinggian gelombang sekitar 90 cm.
Setelah itu, air pasang akan berhenti dan akan mulai lagi pada pertegahan Mei dengan ketinggian rata-rata satu meter.
Menurut Kasubdis Penerapan Lingkungan Jawatan Hidro Oseanografi TNI AL Kolonel Dede Yuliadi, air pasang dalam satu bulan biasanya terjadi selama dua kali. Pertama saat bulan purnama serta bulan baru.
Jika pada saat air pasang terjadi hujan deras, gelombang pasang dipastikan akan lebih tinggi lagi. Gelombang bisa mencapai 1,4 meter. "Tapi itu jarang sekali terjadi. air pasang tertinggi hanya mencapai 1,26 meter," terangnya.
Sementara itu, prediksi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menyatakan, kondisi cuaca lima wilayah DKI rata-rata cerah dan berawan. Meskipun, pada malam hari ada kemungkinan hujan ringan hingga sedang.
Hal yang sama juga terjadi di kawasan pinggiran. Seperti Bogor, Depok, Bekasi dan Tangerang diprediksikan berawan dari pagi hingga sore hari. Khusus malam hari, rata-rata kawasan itu hujan ringan hingga sedang.
Menurut Kasubid Meterologi Publik BMG Kukuh Rubiyanto menyatakan, untuk prediksi tinggi gelombang, antara 1,25 meter hingga 2 meter terjadi di Perairan barat Aceh hingga Bengkulu, Selat Sunda, Selat Malaka sebelah timur Aceh, Laut Natuna, Laut Jawa bagian timur, Laut Bali, Laut Flores, Perairan selatan Sulawesi Tenggara serta Perairan timur Sulawesi Tenggara hingga Sulawesi Tengah. Selain itu, Laut Sulawesi bagian timur, Laut Seram serta Laut Maluku yang berbahaya bagi perahu nelayan.
Untuk gelombang antara 2 meter hingga 3 meter terjadi di Perairan utara dan barat laut Aceh, Perairan barat Lampung, Perairan selatan Jawa hingga NTB, Laut Sawu, Laut Timor, Perairan Kepulauan Sangihe Talaud serta Laut Halmahera. Selain itu juga Perairan utara Papua, Laut Banda serta Perairan Kepulauan Aru yang berbahaya bagi perahu nelayan dan tongka
Pemprov Prioritaskan Jakarta Utara
Banjir yang terjadi di Tol Sedyatmo KM 25 hingga KM 26 yang menghubungkan Jakarta menuju Bandara Soekarno-Hatta sudah surut. Ruas jalan sepanjang 1,8 km yang sebelumnya terendam hingga satu meter sudah tidak terlihat lagi air yang menggenang. Lalu lintas juga terlihat lancar. Akibatnya, kendaraan yang sebelumnya menumpuk di jalan alternatif tidak lagi terkonsentrasi dan sudah bisa melalui ruas tol. Namun, banjir akibat limpasan air laut tersebut belum seluruhnya kembali ke laut setelah dipompa. Beberapa kawasan, terutama di Penjaringan RT 16 hingga 19 RW 17, Jakarta Utara masih tergenang rob. Ketinggian masih berkisar antara 30 cm hingga 45 cm. Sementara di kawasan Muara Baru serta Pluit, air secara pelan sudah mulai surut. Namun, berdasarkan analisis sejumlah pakar, kemungkinan rob masih akan datang kembali. Sementara baik di tanggul di tol Bandara maupun di Jakarta Utara masih dibangun dengan geronjong serta karung pasir. Sehingga, banjir tidaknya kawasan Jakarta Utara dari rob sangat tergantung selesainya pembangunan tujuh tanggul sebagai pintu masuk air laut. Sedangkan untuk tol Bandara, masih ada kemungkinan banjir lagi jika ruas jalan tidak segera ditinggikan. Maklum, di sepanjang ruas KM 24 hingga KM 26 terletak di dataran rendah atau cekungan. Peninggian ruas jalan sepenuhnya tanggungjawab PT Jasa Marga serta pemerintah pusat.
Rencana peninggian ruas jalan tol tersebut memang sudah dijadwalkan saat banjir sebelumnya. Dimulai pada Mei dan diperkirakan selesai pada Juli. Namun, tidak terlihat realisasinya hingga saat ini.
Sementara itu, untuk mengantisipasi rob tersebut, Pemprov DKI Jakarta lebih memprioritaskan pembangunan tujuh tanggul di Jakarta Utara secara permanen. Di antaranya, tanggul Pompa Pluit, tanggul Pelabuhan Muara Baru, tanggul Dermaga Muara Baru, tanggul PLN, tanggul Muara Angke, tanggul Pelindo serta tanggul Luar Batang. Khusus untuk tanggul PLN dan Pelindo menjadi tanggungjawab masing-masing institusi.
Menurut Sekda Pemprov DKI Jakarta Muhayat, untuk mencegah banjir rob di jalur Bandara sudah dilakukan penanggulan sementara. Tanggul yang jebol sudah diberi tumpukan karung pasir untuk mencegah air masuk ke ruas tol. Namun, untuk penanggulangan permanen diserahkan PT Jasa Marga.
Sementara, Pemprov DKI masih punya pekerjaan rumah untuk segera menuntaskan perbaikan secara permanen tujuh tanggul yang menjadi pintu masuk air laut di Jakarta Utara itu. Targetnya, hingga akhir tahun ini sudah bisa diselesaikan. Termasuk di dalamnya penertiban 8 ribu warga yang tinggal di seputaran Waduk Pluit. "Kami optimis selesai," ujarnya saat ditemui usai salat Jumat di Balaikota kemarin.
Menurut Asisten Pembangunan Sarwo Handayani, penanganan banjir tetap akan menjadi prioritas Pemprov DKI. Jika sebelumnya ada anggaran perbaikan tanggul yang dipangkas, akan dianggarkan lagi pada anggaran perubahan. Seluruhnya ditargetkan bisa selesai akhir tahun ini.
Sementara itu, akibat banjir rob yang mulai menggulung sejak Selasa (6/5) malam, hingga saat ini kawasan Penjaringan tak kunjung surut. Sehingga, sejumlah aparat masih berjaga-jaga di sekitar lokasi. Perahu karet serta obat-obatan disiagakan. Meskipun, dilaporkan, di kawasan Penjaringan tidak tercatat adanya pengungsi.
"Petugas tetap disiagakan untuk mengantisipasi jika rob kembali datang," terang Manager Krisis Center Pemprov DKI Heru Joko Santoso.
Ancaman rob untuk kembali menggulung kawasan Jakarta memang masih ada kemungkinan terjadi. Berdasarkan analisis
Jawatan Hidro Oseanografi TNI AL, air laut pasang masih akan terjadi lagi pada Sabtu (10/5) sekitar pukul 22.00 hingga 23.00 dengan ketinggian gelombang sekitar 90 cm.
Setelah itu, air pasang akan berhenti dan akan mulai lagi pada pertegahan Mei dengan ketinggian rata-rata satu meter.
Menurut Kasubdis Penerapan Lingkungan Jawatan Hidro Oseanografi TNI AL Kolonel Dede Yuliadi, air pasang dalam satu bulan biasanya terjadi selama dua kali. Pertama saat bulan purnama serta bulan baru.
Jika pada saat air pasang terjadi hujan deras, gelombang pasang dipastikan akan lebih tinggi lagi. Gelombang bisa mencapai 1,4 meter. "Tapi itu jarang sekali terjadi. air pasang tertinggi hanya mencapai 1,26 meter," terangnya.
Sementara itu, prediksi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menyatakan, kondisi cuaca lima wilayah DKI rata-rata cerah dan berawan. Meskipun, pada malam hari ada kemungkinan hujan ringan hingga sedang.
Hal yang sama juga terjadi di kawasan pinggiran. Seperti Bogor, Depok, Bekasi dan Tangerang diprediksikan berawan dari pagi hingga sore hari. Khusus malam hari, rata-rata kawasan itu hujan ringan hingga sedang.
Menurut Kasubid Meterologi Publik BMG Kukuh Rubiyanto menyatakan, untuk prediksi tinggi gelombang, antara 1,25 meter hingga 2 meter terjadi di Perairan barat Aceh hingga Bengkulu, Selat Sunda, Selat Malaka sebelah timur Aceh, Laut Natuna, Laut Jawa bagian timur, Laut Bali, Laut Flores, Perairan selatan Sulawesi Tenggara serta Perairan timur Sulawesi Tenggara hingga Sulawesi Tengah. Selain itu, Laut Sulawesi bagian timur, Laut Seram serta Laut Maluku yang berbahaya bagi perahu nelayan.
Untuk gelombang antara 2 meter hingga 3 meter terjadi di Perairan utara dan barat laut Aceh, Perairan barat Lampung, Perairan selatan Jawa hingga NTB, Laut Sawu, Laut Timor, Perairan Kepulauan Sangihe Talaud serta Laut Halmahera. Selain itu juga Perairan utara Papua, Laut Banda serta Perairan Kepulauan Aru yang berbahaya bagi perahu nelayan dan tongka
08 Mei 2008
Bandara Tenggelam Satu Meter
.jpg)
Tanggul Cuma Tanah, 15 Pompa Tambahan Sia-sia
Banjir yang terjadi di tol Bandara Soekarno-Hatta KM 26 setinggi satu meter dipastikan masih akan terus berlanjut. Pasalnya, jebolnya tanggul tol penahan air yang berbatasan dengan laut hanya dibangun dari tanah. Tanggul tersebut dibuat sementara sambil menunggu perbaikan tanggul permanen. Praktis, seluruh pompa yang disiagakan tidak berfungsi sama sekali.
Menurut Kasubdin Pengendalian Sumber Daya Air dan Pantai Dinas PU DKI Jakarta I Gede Nyoman Soewandi, jebolnya tanggul penahan luapan air itu lantaran tanggul hanya dibangun dari tanah. Tanggul tersebut setelah diteliti jebol sepanjang 7 meter. Akibatnya, air meluber di ruas tol. Tepatnya di KM 26.
"Jadi tanggul yang dibangun tersebut lebih tinggi air laut. Apalagi tanggul hanya berasal dari tanah. Luberan air kemana-mana," ujarnya kemarin.
Dengan jebolnya tanggul tersebut, sebanyak 12 pompa yang berada di tempat serta tambahan tiga pompa mobile dari Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta tidak berfungsi maksimal. Pemompaan air yang dibuang kembali ke laut hanya sia-sia belaka. Hal itu lantaran besarnya arus luberan rob. "Jadi air hanya muter-muter saja," terangnya.
Untuk mengantisipasi terjadinya banjir rob lanjutan, pihaknya telah melakukan penanggulan kembali tanggul dari tanah yang jebol tersebut dengan geronjong dan dibuat lebih tinggi di atas luapan 2,2 meter.
Saat disinggung kenapa tanggul tol Bandara hanya dibuat dari tanah? Nyoman menyatakan, pihaknya tidak tahu persis. Sebab, itu tanggungjawab PT Jasa Marga. Termasuk jaminan apakah luapan rob yang diprediksikan konsultan Belanda bakal terjadi lagi hari ini (9/5), pihaknya juga tergantung bagaimana upaya PT Jasa Marga itu. "Selama tanggul tidak jebol, pompa yang kami kerahkan baru bisa maksimal," ungkapnya.
Menurut Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto, banjir rob diperkirakan masih akan terjadi beberapa hari ke depan. Pihaknya mengaku belum bisa berbuat banyak kecuali membuat tanggul sementara hingga proses lelang selesai dua bulan ke depan. Kemudian pembangunan baru bisa dilaksanakan dan diperkirakan tanggul permanen selesai Oktober mendatang.
Untuk sementara, Pemprov DKI Jakarta lebih mengoptimalkan upaya evakuasi warga yang terkena banjir rob di Jakarta Utara serta memberi bantuan angkutan tambahan untuk para penumpang Bandara yang terjebak banjir. "Kami sudah koordinasi dengan Pangarmabar, Pangdam dan Kasal. Mereka katanya oke akan memberikan bantuan evakuasi di Jakarta Utara dan memberi tambahan angkutan," terangnya.
Banjir rob yang datang tiba-tiba itu memang tidak diperkirakan sebelumnya. Sebab, analisis dari konsultan Belanda, rob terjadi Kamis (9/5). Tapi rob sudah datang Selasa (6/5) malam. Hal itu ditambah dengan ketinggian air yang di luar perkiraan. "Kami juga ikut prihatin. Dengan ditanggul dengan geronjong dan karung pasir, air bisa dicegah masuk. Kemudian akan dipompa keluar," bebernya.
Menurut Kepala Cabang Cawang-Cengkareng-Grogol PT Jasa Marga David Wijayatno, sekitar pukul 03.00 pagi, air pasang mulai masuk ke jalan tol. Tingginya banjir rob lantaran tanggul di KM 26 jebol hingga sepanjang lima meter. "Air sempat mencapai puncaknya setinggi satu meter," terangnya.
Hingga sore, air masih menggenang setinggi 80 cm hingga 90 cm. Untuk membuang air yang menggenangi jalan tol, pihaknya bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta dengan mengoperasikan 13 pompa air. Empat pompa permanen dipasang di jalan tol dan delapan pompa portable milik Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta.
Selama banjir masih berlangsung di Jalan Tol Sedyatmo, akan diberlakukan pengalihan arus lalu lintas ke Bandara dengan bantuan TNI. Sembilan truk tronton disiapkan untuk mengangkut penumpang dari Bandara menuju Jakarta dan sebaliknya. Truk disiagakan di gerbang tol Kapuk. Dari tempat tersebut, para penumpang akan dibawa ke Gerbang Tol Cengkareng. Selanjutnya, para penumpang akan dibawa ke Bandara Soekarno-Hatta menggunakan Bus Damri. Selain itu, PT Angkasa Pura II bersama PT Jasa Marga juga menyiapkan enam bus untuk antar jemput penumpang.
Untuk menangani rob di masa mendatang, akan dilakukan peninggian jalan tol. Saat ini, sudah dilakukan pemasangan tiang pancang. "Peninggian jalan tol akan memakan waktu delapan bulan. Panjang jalan tol yang ditinggikan delapan KM. Mulai KM 20 hingga KM 28," bebernya.
Banjir yang terjadi di tol Bandara itu tidak hanya membuat ruas tol KM 26 terganggu. Sejumlah jalur alternatif yang disiapkan juga ikut macet total. Bahkan, akibat membeludaknya penumpang, busway koridor III jurusan Kalideres-Harmoni juga ikut terjebak macet. Sebab, aparat kepolisian setempat mengambil kebijakan jalur busway bisa dilalui kendaraan umum. Angkutan masal itu terpaksa ikut bermacet ria dengan ratusan kendaraan lainnya. "Itu kan kebijakan polisi, jadi kami tidak punya hak untuk melarang," ungkap Manager Operasional Busway Transjakarta Rene Nunumete.
Macet jalur busway terjadi di kawasan Grogol-Daan Mogot. Dari jarak tempuh rata-rata 50 menit. Akibat macet, jarak tempuh menjadi 60 menit hingga 75 menit. Namun, begitu, jumlah penumpang, kata dia, tidak berkurang signifikan. Sebanyak 25 ribu penumpang mampu diangkut per hari. "Seperti biasanya pagi dan sore ramai. Kalau siang memang sepi. Jadi hanya jarak tempuh saja yang berkurang," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata DKI Arie Budhiman menyatakan, banjir yang terjadi di tol Bandara harus segera dituntaskan. Sebab, jika terus berlanjut, image kepada turis mancanegara bisa buruk. Hal itu tentu saja akan berpengaruh terhadap promosi wisata di Indonesia, khususnya Jakarta. Tapi, jika banjir tersebut hanya terjadi tiga jam, image banjir terhadap wisman tidak akan terlalu berpengaruh. Wisman yang datang dari Bandara Soekarno-Hatta masih bisa diangkut dengan bus. "Tapi, ini jangan terjadi terus menerus. Kalau bisa segera ditangani pihak-pihak terkait. Memang tidak bisa instan, tapi kami berharap bisa secepatnya," harapnya.
Sementara itu, akibat gelombang pasang di pantai utara Jakarta, pasokan sembako ke Pulau Seribu belum terganggu.
Bupati Pulau Seribu Joko Ramadhan menyatakan, pasokan dari tiga pintu masing-masing Muara Angke, Jakarta Utara; Tanjung Pasir, Tangerang serta Rawasaban, Pulau Tidung masih berjalan lancar. Setiap hari pasokan sembako masuk ke kawasan itu. "Kebutuhan beras ada 21 ribu KK. Masing-masing 300 gram per KK. Minyak tanah juga masih disuplai seminggu dua kali. Konversi tahun depan," ungkapnya.
Berbeda dengan Februari lalu, pasokan terhambat dan terpaksa diangkut dengan kapal TNI lantaran gelombang pasang sangat tinggi. Sementara, saat ini, gelombang pasang masih memungkinkan perahu bisa melintas. (aak)
Langganan:
Postingan (Atom)
