.jpg)
Miris. Digusur lagi digusur lagi. Belum usai relokasi ribuan pedagang yang digusur di Taman Ayodya, Jakarta Selatan atau ribuan warga yang tinggal di sepanjang kolong tol, ribuan warga miskin yang tinggal di Taman BMW, Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara kembali digusur. Sedih dan pilu. Di manapun warga miskin tinggal, yang terdengar hanya penggusuran. Soal ini aq tulis jadi headline di Harian INDOPOS, 25 Agustus 2008 dan 26 Agustus 2008.
Ibukota memang lebih kejam dibanding ibu tiri. Kemiskinan merupakan momok bagi keindahan kota. Kemiskinan merupakan biang masalah penataan kota. Tidak ada tempat bagi orang miskin di DKI Jakarta ini. Barangkali itulah yang ada di benak para pejabat kita. Dari mulut mereka mungkin akan terdengar syair lagu betawi yang sangat akrab di stasiun televisi lokal. "siapa suruh datang ke Jakarta".
Penggusuran memang tidak manusiawi. Tapi siapa yang bisa menghalangi. Wakil rakyat yang duduk di kursi DPRD. Jangankan membela, untuk sekadar mendesak Pemprov DKI memberikan solusi pun tidak. "Mereka kan melanggar. Mereka kan ilegal. Wajar jika digusur," kata anggota dewan.
Walhasil, penggusuran pun tidak dapat dihindarkan. Minggu (24/8) pagi buta, ratusan aparat kepolisian dan Satpol PP meringsek ke lokasi. Warga yang menolak berusaha memblokir jalan RE Martadinata yang menjadi pintu masuk Taman BMW. Sunter Agung menjadi mencekam. Perang batu pun terjadi.
Warga yang naik pitam melempar petugas sekenanya. Pakai batu, botol minuman, kayu, batubata atau benda-benda keras lainnya. Petugas yang akan menggusur pun tak mau diam. Mereka membalas. Lempar, pukul dan tendang. Warga kocar kacir. Buldoser dan truk Satpol PP terus meringsek. Raungan suara mesin yang mengoyak-oyak bangunan hanya bisa disaksikan dengan isak tangis. Sambil menangis pilu, anak kecil, janda tua renta berusaha menjauh dari lokasi untuk menghindari amukan aparat yang masih naik pitam.Warga yang lelah melawan atau kalah kekuatan hanya berdiri mematung melihat tempat tinggalnya diratakan dengan tanah.
Lalu kemana mereka akan tinggal? "Ya harus pulang kampung. Mereka kan ilegal," kata Walikota Jakarta Utara Effendi Anas.
Lalu bagaimana jika mereka tidak memiliki keluarga di kampung halaman? jawabannya tetap sama. Tidak mau tahu. Orang sunda bilang bodo teing mereka mau tinggal di mana. Pemkodya Jakarta Utara atau Pemprov DKI tidak akan memberikan atau mencarikan solusi lain seperti mengizinkan mereka tinggal di rusun atau tempat lain yang layak. "Karena sekali lagi mereka ilegal. Kami sudah memperingatkan sejak lama. Tapi tak pernah diindahkan. Jadi ya harus digusur," kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.
.jpg)
Warga yang tinggal di Taman BMW memang tragis. Penggusuran yang dilakukan pemerintah tak dibarengi aksi kemanusiaan lainnya. Apakah itu memberikan uang kerohiman ala kadarnya, mendata mereka untuk kemudian direlokasi ke rusun atau tempat-tempat lain yang layak. Itu tentu saja berbeda dengan nasib warga di Taman Ayodya yang digusur awal tahun lalu. Atau warga yang tinggal di kolong tol Jembatan Tiga yang digusur Desember lalu. Pemberian kompensasi berupa uang kerohiman atau pemberian tempat pengganti lantaran mereka mendapat izin tinggal yang sah oleh pemangku pemerintah terdahulu.
"Kami juga akan jaga ketat sepanjang kolong tol. Agar mereka tidak lari dan tinggal di sana," kata Effendi Anas.
Lalu kemana mereka harus tinggal? "untuk sementara kami tinggal di bantaran rel pak," kata warga dengan nada harapan kosong.
Jika melihat penggusuran tanpa manusiawi itu, aq teringat beberapa bulan lalu saat Parni Hadi selaku koordinator kajian penataan kota menghadap Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.
Foke, sapaan akrab Fauzi Bowo berikrar tidak akan melakukan penggusuran untuk memperluas ruang terbuka hijau (RTH) yang diamanatkan UU. "Kami akan membeli tanah yang masih kosong, atau memperbanyak penghijauan di kelurahan-kelurahan," kata Foke kala itu saat disinggung bagaimana caranya memperluas RTH tanpa menggusur.

Tapi janji tinggal janji. Jika warga pernah membaca judul atau isi berita yang pernah aq tulis saat itu mungkin juga sudah lupa bahwa pemimpinnya pernah berjanji.
Mungkin Foke punya pertimbangan lain. Menggusur demi menegakkan hukum mungkin dianggap ibadah bagi putra betawi itu. Atau menjalankan kewajiban menata kota yang lebih baik dan lebih indah dipandang mata meski harus menggusur mungkin dianggap lebih bermartabat dibandingkan dengan hanya diam membiarkan warga pendatang itu tinggal di bangunan kumuh berserakan. "Wajar saja dia gusar gusur terus. Dari kecil saja ga pernah miskin. Hidup di keluarga kaya berkecukupan. Gimana bisa merasakan penderitaan orang kecil," kata seorang kawan nyeletuk.
Bagiku, terlepas pemerintah tukang gusur atas nama penegakan hukum atau warga yang kena gusur karena tidak taat hukum, warga yang tinggal di Taman BMW juga manusia. Mereka hanya ingin mencari nafkah di Ibukota. Mereka hanya butuh bernafas untuk bisa bekerja. Mereka hanya butuh tempat berteduh ketika hujan tiba.
Karena, warga miskin itu tidak ingin apa-apa layaknya pejabat kita yang suka mengeruk harta benda masyarakat kita.
Jika kalian termasuk warga miskin, maka siap-siaplah menjadi korban berikutnya. Karena, warga miskin haram bernafas di Jakarta.
Kebayoran Lama, 25 Agustus 2008

3 komentar:
Pemerintah Jakarta terlalu berambisi. Ambisi untuk menyamai keindahan kota-kota di negara tetangga. Demi mewujudkan ambisi itu, penggusuran adalah kata kuncinya. Tempat yang dianggap mengganggu keindahan atau kurang menjanjikan bagi bisnis komersial akan digusur. Jika perlu, bangunan bersejarah juga digusur. Ah, saya rasa bukan hanya di Jakarta, kawan. Di Jogja juga demikian adanya. Kawan tahu, beberapa bangunan bersejarah di kota pendidikan ini tidak luput dari penggusuran? atas nama bisnis tentunya. Gedung ORI (Oeang Repoeblik Indonesia) gedung pencetak uang di masa kolonial itu dirombak dan kini menjadi mall Jogjatronik. Pesanggerahan Gendhok Tengen, bangunan tua di masa Hamengkubuwono IX dipangkas separuh untuk bangunan Ambarrukmo Plaza. Beginilah kenyataannya kawan. Kekuasaan modal dapat menggerus apa saja. Saya dengar, lokasi perumahan taman BMW digusur untuk bangunan tempat olahraga berskala internasional... Harusnya, pembangunan jangan terpusat di Jakarta. Bukankah di luar Jawa masih banyak tempat menjanjikan yang dapat dibuat sebagai arena olah raga berskala internasional?
Ambisi tetap ambisi... bagian akhir tulisan kawan terasa menyengat "warga miskin tidak ingin apa-apa, layaknya pejabat kita yang gemar mengeruk harta..." Hati-hati, kawan. Siapa tahu lantaran tulisan ini, kawan bisa jadi sasaran penggusuran... Tapi semoga pemerintah Jakarta masih punya hati...
Sori kawan, mungkin aq terbawa emosi. Karena aq tahu betul bagaimana hidup menjadi orang tak punya di Jakarta. (Baca: kolom ketika itu). Aq tidak tahu bagaimana pilunya perasaan mereka ketika mesin buldoser itu menggerus tempat tinggal mereka satu2nya. Jangankan untuk menumpuk harta atau memikirkan bagaimana hari esok, untuk bisa bertahan hari ini saja terkadang harus terseok-seok.
Jika kawan pernah mengalami ketidakberdayaan, ketidakpunyaan, sementara tak ada teman atau sanak kerabat yang bisa membantu kita, mungkin hanya rasa pasrah yang ada. Hanya permohonan datangnya pertolongan Tuhan yang hadir dalam diri kita saat itu. Asal tahu saja, di Jakarta tak ada yang namanya SUPERMEN atau apapun namanya dewa penyelamat yang tiba-tiba datang ketika ada kejahatan. Ini Jakarta BUNG!
Lalu bagaimana jika kondisi memprihatinkan itu ditambah adanya serangan dari pihak luar semacam penggusuran?
Tentu jawabannya adalah perlawanan. Mungkin bagi mereka, jika tidak mempertimbangkan kelangsungan hidup anak istrinya, melawan hingga titik darah penghabisan adalah sebuah keharusan.
Aq mencoba menulis untuk merefleksi bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi. Barangkali saat ini kita yang berkuasa, tapi siapa tahu esok kita bukanlah apa-apa. Bahkan, tak menutup kemungkinan para penguasa itu bisa menjadi bagian yang tergusur entah kapan suatu saat nanti. Bukan maksud mendoakan, tapi roda itu pasti berputar. Kekuasaan adalah amanat alias titipan. Suatu saat pasti akan diambil oleh si pemberi amanat.
Kenapa aq menulis sangat emosional, itu lantaran hak kemanusiaan adalah hak yang paling dasar untuk dihormati.
Menginjak hak dasar kemanusiaan bagiku sama saja melecehkan Yang di Atas sebagai Sang Pencipta.
Apakah menggusur demi hukum lantas bisa dibenarkan? belum tentu. Siapa yang tidak tahu mafia peradilan. Hukum hanya mainan yang bisa dibentuk sedemikian rupa. (memang tdk semua, tapi aq tahu persis bagaimana jaringan antara pengacara, jaksa dan hakim saling kompak memeras korban dan pelaku).
Yah, yang namanya ambisi tetap ambisi. Jika Sutiyoso sanggup membuat icon busway melekat dalam dirinya, mungkin Fauzi Bowo juga tak mau kalah. Meskipun caranya harus menggusur sekalipun.
Tiap hari aq menulis ribuan kata karena aq tak bisa berbuat banyak untuk menghentikan ketidakadilan itu. Setidaknya, masyarakat bisa sadar dan lebih cerdas kalau mereka punya hak dasar kemanusiaan yang harus dihormati. Setidaknya masyarakat tahu kalau di APBD ada proyek miliaran rupiah yang jadi rebutan para pejabat tukang gusur itu.
Atau setidaknya, agar masyarakat tahu dan sadar kalau mereka juga bisa melawan ketika dinjak-injak oleh penguasa. Bukan dengan cara anarkhisme, tapi dengan cara yang lebih cerdas, elegan dan menjunjung tinggi hak dasar kemanusiaan.
Karena aq, kamu, mereka atau siapapun tidak ada yang menginginkan dalam keadaan susah masih harus digusur-gusur oleh orang yang tak pernah memberi arti apapun bagi kehidupan kita. Apakah pemerintah sudah berbuat untuk mereka? jawabannya tanya ama rumput yang bergoyang. Atau cukup gelengkan kepala.
Setiap hari ketemu gubernur tak pernah bosan-bosannya aq tanyain kenapa harus ada penggusuran. Jawabannya tetap sama. "Siapa yang gusur". Atau jika sudah terdesak dan tak punya jawaban klise, gubernur akan selalu jawab sekenanya. "Itu bukan urusan saya. Tanya walikota,". Atau "ini kan negara hukum,".
Kasian amat ya, warga miskin kita. Lalu pertanyaannya? jika penguasa kita tak pernah ada yang peduli terhadap rakyatnya, siapa yang akan membantu mereka? hanya hati kita yang paling dalam yang bisa menjawabnya.
Kok jadi serius sih, ha..ha..
Jogja gimana kawan? aman-aman sajakah? kapan gabung kita lawan penindasan. Atau sudah kerasan di jogja jadi seniman
Irama hidup di kota Gudeg ini terlampau lambat, kawan. Kami nyaris tidak dapat merasakan perubahan di sini. Tapi pelan-pelan saat ini Jogja tengah merangkak menjadi kota yang bisa saya katakan "Kota Puber Konsumsi". Dunia konsumsi mendominasi apa saja. Bahkan dunia pendidikan sudah tidak dapat dibedakan dengan dunia konsumsi. Di Mall orang bisa seminar ilmiah. Di kampus juga orang bisa kuliah sambil menikmati tawaran produk. Saat ini, Kapitalisme merambah di semua lini. Termasuk di dunia pendidikan.
Poskan Komentar